
“Bik! Bik!”
“Iya ada apa?”
“Itu---Tuan Amran kenapa ya bik? Dari tadi di kamar terus ketawa-ketaw terus menangis.” kata seorang pelayan berusia tiga puluhan pada Bibik.
“Saya juga tidak tahu. Mungkin Tuan sedih karena Nyonya Andini ditangkap polisi.”
“Aduh, kasihan sekali ya bik. Tempo hari anaknya yang ditangkap polisi, nah sekarang istrinya yang ditangkap polisi. Memangnya kenapa bik?” tanya pelayan itu penasaran.
“Huss….sana balik kerja. Tak baik membicarakan majikan.” kata bibik yang sudah bekerja di kediaman Amran cukup lama. Pelayan yang masih muda itupun pergi karena ditatap dengan tajam oleh si Bibik.
“Kasihan sih. Tapi heran ya kenapa nyonya Andini ditangkap juga? Ada apa?” bertanya sendiri.
Bibik itupun berjalan menuju kamar Amran dan mengetuk pintu kamar. “Tuan! Tuan baik-baik saja? Apakah mau saya bawakan makanan untuk tuan?” namun tak ada jawaban. Bibik mendekatkan telinganya ke pintu, samar-samar dia mendengar suara pecahan barang-barang. Matanya membelalak terkejut, karena suara seperti barang dibanting diiringi dengan suara teriakan marah bercampur tangis dari majikannya.
“Aduh, kasihan Tuan Amran. Pasti tertekan sekali, masalah tak henti-hentinya datang ke keluarga ini. Tapi den Rico memang salah, masa mau memperkosa kakak iparnya. Apalagi Tuan Amran itu sudah dicoreng dari keluarga Ceyhan, nekat banget tuh anak. Sekarang ibunya yang bermasalah, apa bentar lagi Tuan Amran yang ikutan bermasalah ya.” si Bibik bicara sendirian sambil meremas dadanya dna menghela napas. Apa daya dia cuma seorang pelayan dirumah itu.
__ADS_1
Hingga hari menjelang sore pun Amran tak kunjung keluar dari kamarnya. Berulang kali pelayan dirumahnya mengetuk pintu dan tak mendapat respon. Mereka takut jika Amran kenapa-napa, tapi saat mereka mendengar ada suara-suara dari dalam kamar, mereka pun merasa lega kalau Amran masih hidup.
Sementara di dalam kamar, penampakan Amran berantakan, rambutnya acak-acakan, wajahnya kusut, kamar berantakan. Sejak penangkapan Andini, pria prauh baya itu tak bisa tidur. Ucapan-ucapan sang papa Yahya seakan terus tergiang-giang di kepalanya. “Apakah ini karmaku? Papa selalu mengutukku akan mendapat karma. Dulu aku bersumpah tidak akan pernah menginjakkan kaki kerumah utama, tapi aku sudah melanggar sumpahku. Aku malah datang kesana bersama Andini. Lihat apa yang terjadi padaku sekarang, semua berantakan…..hidupku kacau...aarrrhhh…….” Amran kembali berteriak sambil menjambak-jambak rambutnya.
Istri dan anaknya kini mendekam di penjara. Hatinya berusaha menolak kenyataan bahwa Andini melakukan semua tindak kejahatan itu. “Mereka semua berbohong! Tak mungkin Andini membunuh orang! Darma pasti bohong! Istriku tak mungkin melakukan itu…..arrgg…..arggg…..” kembali dia membanting barang yang ada didekatnya. Sementara diluar kamar dua orang pelayan menguping, sudah seharian majikannya tak makan dan hanya mengurung diri didalam kamar saja.
“Akan kulenyapkan kau pria tua sialan!” gumam Amran berapi-api. Dia merasa jika semua yang terjadi pada keluarganya akibat Yahya. “Kalau orangtua itu kulenyapkan, bagaimana dengan Verrel? Dia pasti tahu, tak mungkin dia akan berdiam diri saja. Apalagi pengawalan mereka sangat ketat, bagaimana caranya aku bisa melenyapkan pria tua itu.” gumam Amra. Kepalanya terasa pening memikirkan semuanya, jika dia mencoba membunuh Yahya itu berarti bunuh diri. Jangankan untuk membunuh Yahya, mendekati pria tua itu saja sangat mustahil.
“Ini semua gara-gara Rico! Jika dia tak mencoba memperkosa istri Verrel, tak mungkin mereka semua ingin menghancurkan keluargaku. Arrgggg….” Amran meremas rambutnya frustasi. Ingin sekali dia mengutuk dirinya sendiri tak pergi ke luar negeri bersama istri dan anaknya. Jika saja waktu itu dia mengajak Rico dan Andini lari ke luar negeri, takkan seperti ini kejadiannya.
“Harusnya kau mendengar nasihat papa Rico, harusnya kau tak menolak ajakan papa untuk pergi keluar negri waktu itu. Ini semua takkan terjadi, kini semua hancur berantakan. Sudah kuperingatkan kau Rico untuk tidak bersinggungan dengan Verrel.” racau Amran yang kini tak bisa lagi berpikir jernih. Kini dia malah tertawa tertawa teerbahak-bahak seperti orang gila.
Mendengar teriakan kencang majikannya, si Bibik langsung menyahut “Iya, baik Tuan. Saya bawakan sekarang.” dengan langkah teergese-gesa pergi ke dapur dan mengambil makanan untuk majikannya.
“Ini makanannya Tuan. Apakah Tuan baik-baik saja?” tanya si Bibik sambil meletakkan nampan berisi makanan diatas meja di kamar majikannya itu. Amran hanya menatapnya dengan tatapan kosong.
“Kenapa kau tanya ha? Kau tidak lihat semua orang sudah masuk penjara? Apa kau mau masuk penjara juga seperti yang lain?” teriak Amran berdiri hendak mendekati pelayan tua itu yang saking ketakutannya langsung berlari menuju pintu dan keluar.
__ADS_1
“Bik! Bibik! Kenapa denganmu? Kok seperti ketakutan begitu?” tanya pelayan lain.
“I—itu tadi saya antar makanan tuan ke kamarnya. Issss…..takut. Tuan Amran menakutkan dia mau mencekikku, makanya aku langsung lari.”
“Ha? Apa? Mau mencekik bibik? Memangnya kenapa? Bibik buat salah ya yang bikin tuan marah?” cecar mereka dengan pertanyaan.
“Tidak ada. Aku hanya nanya apa tuan baik-baik saja, eh dia malah mengamuk dan mau mencekikku. Hiiii….aku takut. Lama-lama tuan bisa gila.” sahut si bibik bergidik lalu mencuci wajahnya di wastafel dapur. Dua orang pelayan berbisik-bisik, wajah mereka seperti ketakutan.
...*...
Amran datang menjenguk Rico di penjara. Wajah kusutnya menunjukkan betapa frustasinya dirinya saat ini, sendirian dan tak punya siapapun untuk berbagi. Saat dia menjenguk Rico tiba-tiba dia mendapat telepon dari polisi yang mengabarkan jika Andini mati bunuh diri di selnya. Polisi mengatakan bahwa Andini sempat ribut dengan napi wanita lainnya, petugas memindahkannya ke sel lain dan hanya Andini sendiri berada di sel itu untuk menghindari keributan lagi. Ternyata Andini yang stress dan frustasi karena masuk penjara akhirnya memutuskan bunuh diri dengan membenturkan kepalanya ke dinding sel. Kepala bagian keningnya pecah karena terkena besi sel.
Amran beerlari secepatnya ke ruang Unit Gawat Darurat setelah mendapat telepon dari polisi. Petugas sempat membawa Andini kerumah sakit namun nyawanya sudah tak tertolong. Pria paruh baya itu terengah-engah dan wajahnya berantakan tampak bingung memasuki ruangan itu.
“Suster…..istri saya...” tangisnya meledak melihat istri tercintanya terbaring kaku.
“Tenang pak,” ucap perawat itu.
__ADS_1
Wanita yang sangat dicintainya itu kini membeku dengan wajah pucat tak bernyawa dengan kepala bagian depan dijahit. Tenggorokannya tercekat “Andini.” gumamnya lirih setelah ia menggenggam tangan istrinya yang terkulai. “Ayo bangun Andini sayang. Jangan pergi tinggalkan aku Andini.” Pria itu tergugu, menangis dan air matanya membasahi tangan istrinya.
“Kau sudah janji takkan meningalkanku, kenapa kau pergi Andini? Aku tak peduli dengan semua omongan mereka asal kau jangan tinggalkan aku. Ayo bangun Andini. Kita akan pergi jauh meninggalkan semuanya bersama putra kita.” Amran menahan rasa perih dihatinya.