TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 85. SESEORANG DARI MASA LALU


__ADS_3

Mobil sport warna putih itu memasuki halaman rumah utama. Dengan cepat Verrel turun dari mobilnya, seperti biasa para pelayan berdiri memberi penghormatan pada sang tuan besar. Tapi Verrel hanya mengangguk.


"Dimana istriku?" teriaknya dengan kencang.


"Nyonya ada di kolam renang, tuan." jawab Yuna.


"Apa? Siapa yang ijinkan dia berenang?"


"Bukan bere--" Yuna belum lagi menyelesaikan kalimatnya, Verrel sudah pergi tergesa-gesa menuju halaman samping rumah yang terdapat kolam renang. Yuna setengah berlari mengikuti dari belakang.


Terdengar tawa seorang wanita yang tak asing baginya. Sedang duduk di dipan ditepi kolam renang bersama kedua pelayannya. Melihat sang tuan besar datang, kedua pelayan yang tadinya duduk disamping majikannya sontak berdiri.


"Kenapa? Ada apa dengan kalian?" tanya Deandra yang segera menoleh mengikuti arah mata pelayannya.


Senyum manis tersungging begitu melihat pria tampan yang dirindukannya datang mendekat lalu memeluk dan menciumnya.


"Sedang apa kau disini?"


"Menunggumu. Tadi pagi aku tidak melihatmu," jawabnya manja sambil memasukkan kepalanya kedada bidang yang terbalut kemaja itu.


"Maaf, sayang. Tadi malam aku harus ke kantor."


Deandra menarik diri dari pelukan suaminya, mendonggakkan kepala memandang mata Verrel. Mencari sebuah kejujuran namun yang dilihatnya adalah mata hitam kelam mempesona yang terlihat memancarkan kecemasan.


"Mau bicara denganku? Mungkin aku bisa bantu?"


"Jangan khawatir, semua sudah terkendali." jawab Verrel. "Kau masih mau duduk disini?"


Deandra menggeleng, "Aku belum makan. Aku menunggumu," jawabnya.


Tanpa basa basi, Verrel langsung mengendong istrinya ala bridal dan berjalan menuju kamar. "Yuna! Suruh pelayan bawa makanan ke kamar."


"Baiklah, Tuan."


...**...


Setelah menyuapi istrinya dan memastikan Deandra tertidur, maka Verrel pun pergi ke ruang kerjanya. Suasana hening, Verrel memperhatikan dengan teliti.  Jarinya menyusuri layar ipad dan meneliti setiap detail yang diberikan oleh asistennya. Dahinya mengeryit menatap instens, hmmm.....sangat menarik pikirnya.


Tiba-tiba dia teringat sesuatu. “Bagaimana dengan si bajingan itu?” tanya Verrel tiba-tiba yang membuat Frans mengeryitkan dahinya. Sang asisten yang sedang tak fokus bingung mendengar pertanyaan Verrel, namun segera dia mengerti siapa yang dimaksud.

__ADS_1


“Sudah ada klarifikasi tentang pernikahannya yang diumumkan oleh Tuan Amran dan istri keduanya, Pernikahan akan digelar besok, sepertinya pernikahannya mendadak mengingat banyaknya gosip miring di media yang membuat kedua pihak resah,” jawab Frans sopan.


“Bagus, lalu apakah dia akan keluar dari perusahaan setelah itu?”


"Iya, Tuan. Karena Tuan Baratha akan memberikan posisinya diperusahaan pada menantunya itu,” jawab Frans.


“Ehmm….sangat menarik. Apa mereka berencana ingin bermain-main denganku?”


“Sepertinya begitu, Tuan. Anak buah saya yang memasang penyadap di cctv dikediaman Tuan Amran mempunyai semua rekaman apa yang terjadi dirumah itu,” jawab Frans dengan menyunggingkan senyum.


“Bagus. Biarkan saja mereka, kita ikuti saja permainannya.” kata Verrel menyeringai.


“Ini akan sangat bagus untukmu, Tuan. Karena Tuan Amran akan jarang datang ke kantor dan kita bisa bersaing sehat dengan mereka,”


“Aku tahu. Apalagi William sudah kembali” Verrel menyandarkan punggungnya dan tiba-tiba dia teringat pada istrinya.


...***...


"Hallo,"


"Kak Verrel. Kami akan bergerak malam ini."


"Sebaiknya tahan dulu karena besok pesta pernikahan Rico. Jangan sampai ada berita heboh, kau paham?"


"Iya. Apa kau dan Arion juga datang?"


"No way!. Biar kami jaga-jaga saja kak. Rencananya besok kami mau kumpul dirumah utama."


"Baguslah. Jadi Opa tidak kesepian."


"Oh iya. Aku sudah kirim kan ke emailmu, siapa orang dibalik pemboman gudang kemarin."


Setelah pembicaraan terputus. Verrel menyandarkan punggung disandaran kursinya. Secepatnya istriku harus kuamankan, betul kata mama dan opa. Jika terjadi sesuatu yang buruk padaku dan aku tidak punya keturunan maka posisi istriku pasti terancam. Aku tidak mau dia kembali ke kehidupannya yang dulu.


Dia membuka email dari William, begitu melihat dan membaca isi email itu, Verrel tertawa mengerikan "Ha ha ha ha ha. Jadi kau mau bermain-main denganku, huh? Setelah sekian lama akhirnya kau masih punya muka berhadapan denganku." gumam Verrel penuh amarah. Verrel meraih ponselnya lalu menghubungi pengawalnya.


"Halo, Tuan."


"Coba kalian periksa alamat yang baru saja kukirimkan. Tempatkan beberapa orang untuk mengawasi disana."

__ADS_1


"Baik, Tuan. Saya akan laksanakan perintah Tuan."


...***...


Di villa yang berada di puncak bukit jauh dari pemukiman penduduk. Seorang pria dan wanita tanpa sehelai benangpun menutupi tubuh, terengah-engah. Si wanita langsung duduk menyandar lalu menyalakan rokok.


"Apa kau sudah yakin dengan keputusanmu?"


"Ya, tidak ada alasan bagiku untuk mundur. Aku berhak membalas dendam dan mengambil apa yang jadi milikku." jawab wanita itu.


"Aku mencintaimu! Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu." ucap pria itu.


"Kalau kau benar mencintaiku, maka lakukan tugasmu dengan baik. Jangan sampai gagal." ujarnya ketus.


"Apa tidak sebaiknya kau berhenti sebelum terlambat? Kau tahu Verrel tidak akan membiarkanmu hidup."


"Huh! Aku tidak peduli. Jika aku mati maka kau pun harus mati bersamaku."


Pria itu hanya menghela napas dalam dan menghembuskannya. Dia sangat mencintai wanita itu tapi ambisinya terlalu besar yang membuatnya takut jika mereka berdua akan berakhir tragis. Wanita itu sangat cantik dan masih muda, kenapa harus mendendam terlalu dalam?


"Kau tahu kalau aku tidak akan membiarkanmu sendirian."


"Ya, sudah! Cukup bicaramu! Lakukan saja perintahku dan buktikan cintamu." kata wanita itu lagi memandang pria didepannya. "Jangan sampai gagal lagi. Aku tidak peduli apapun resikonya."


Pria itu sangat mencintainya, cinta memang buta terkadang orang bisa kehilangan kewarasannya hanya karena cinta. Sama seperti dirinya yang sebenarnya jenuh dan frustasi dengan tingkah wanita itu, namun demi wanita yang dicintainya apapun dia lakuksn meskipun itu berarti sebuah pengorbanan besar.


"Bukankah besok adalah pernikahan Rico? Aku lihat beritanya."


"Jangan berpikir aneh-aneh. Besok akan ramai media disana, tak perlu mengorbankan banyak nyawa. Bermain aman saja bukankah kau masih ingin menikmati permainan ini? Atau kau ingin segera menuntaskannya?"


"Ha...ha...ha...ha. Tumben kau pintar. Aku ingin semua tuntas secepatnya. Buat apa berlama-lama? Aku urus perempuan itu dulu."


"Karina! Biarkan saja perempuan itu. Dendammu pada Verrel bukan perempuan itu!" ucap si pria kesal, bagaimanapun dia masih punya sedikit nurani tidak ingin menyakiti seorang wanita apalagi wanita itu sedang mrngandung.


"Ck ck ck. Sejak kapan seorang Oscar Abiyaan peduli pada seorang perempuan. Apa kau salah seorang penggemar wanita itu, huh?"


"Dia sedang hamil. Apa kau tidak kasihan?"


"Ha....ha...ha...ha..kasihan kau bilang? Justru karena dia sedang hamil, aku harus memusnahkan perempuan itu. Verrel tidak boleh punya keturunan dari wanita manapun!" ujarnya seraya menyipitkan matanya dan mengeram menahan emosi yang memuncak.

__ADS_1


"Boleh aku bertanya?" kata pria itu lagi.


"Kau terlalu banyak bertanya dan bicara! Cukup! Buktikan saja cintamu itu. Turuti perintahku. Kalau kita berhasil maka kau akan mendapatkan cintaku. Bagaimana?" kata Karina meliuk-liukkan tubuhnya yang polos menggoda Oscar. Dia sangat paham betapa besarnya cinta pria itu padanya. Apapun yang Karina minta, maka pria itu akan menuruti apalagi Karina selalu merayunya dengan tubuhnya.


__ADS_2