
Sesuai jadwal yang sudah ditentukan, Rico menjalani beberapa pemeriksaan terkait insiden percobaan pemerkosaan atas Deandra yang saat itu dirawat dirumah sakit. Di hari yang sama, dua pengawal juga ditemukan tewas di gudang rumah sakit. Seorang wanita yang menyamar sebagai perawat waktu itu masih dalam pencarian karena dia memakai masker, dan kacamata sehingga sulit mengenali wajahnya yang terlihat di rekaman cctv selalu menunduk dan menghindari cctv. Sepertinya wanita itu cukup lihai dan tahu betul cara menjalankan aksinya.
Rico yang awalnya membantah semua tuduhan itu, akhirnya lemas saat polisi memperlihatkan rekaman cctv didalam kamar perawatan Deandra. Matanya terbelalak tak percaya, bagaimana bodohnya orang suruhannya yang sudah dia bayar mahal untuk mematikan semua cctv dilantai kamar vvip itu. Rico tidak tahu jika Yahya memerintahkan anak buahnya untuk memasang kamera kecil dikamar itu yang tidak diketahui orang lain.
“Ini tidak benar pak. Semua pasti rekayasai untuk menjatuhkan saya,” kata Rico membela diri.
“Apakah anda meragukan kinerja kami Tuan Rico?” tanya petugas itu padanya.
“Bukan begitu maksud saya, pak.”
“Jadi, apa maksud anda? Bukankah anda tahu jika diruangan vvip ada cctv?” pertanyaan jebakan yang diluncurkan petugas itu pun kontak membuat pias wajah Rico yang tersadar dia terjebak dengan kalimatnya sendiri.
“Saya rasa sudah selesai untuk hari ini. Apakah ada yang ingin anda tambahkan lagi? Semua akan lebih mudah jika anda bekerjasama, Tuan. Katakan saja semuanya, dan saya jamin itu akan meringankan hukuman anda. Itupun jika anda bersedia mengaku,” pancing pria itu lagi menatap Rico sinis. Kapten polisi itu sangat tidak menyukai Rico, baginya Rico adalah seorang pria tak bermoral, tega-teganya dia hendak memperkosa seorang wanita hamil. Apalagi wanita itu adalah istri Tuan Verrel. Polisi bernama Hendy Pasetyo itu mengenal betul sosok Verrel yang berwibawa , berbeda jauh dengan saudara tirinya yang kini menjadi tahanan. Rico sudah beberapa kali tersangkut kasus yang berhubungan dengan wanita.
“Bawa dia kembali ke selnya,” perintah Hendy. Sejak kasus Rico sudah dilimpahkan ke pengadilan dan hanya menunggu proses peradilan saja. Namun sementara prosesnya sengaja diundur atas permintaan Tuan Yahya. Sampai bukti lainnya yang terkait kasus pembunuhan sudah lengkap. Mereka ingin Rico mendekam dipenjara untuk waktu yang lama.
...*...
Amran mengerjapkan matanya membaca berita dihalaman utama koran. Sejak penangkapan Rico putra kesayangannya, Amran enggan membaca koran, menyentuhnya pun dia risih. Pasti semua hanya berita buruk tentang anakku, pikirnya. Dia bahkan tidak berani keluar karena wartawan selalu mengejarnya. Didepan rumahnya pun masih sering ada wartawan yang ingin mengejar berita terkait kasus Rico. Namun, hari ini dia terpaksa membaca berita dihalam depan koran itu lantaran Andini yang melemparkan koran itu ke pangkuannya.
__ADS_1
“Coba baca itu, Pa. Kalau aku tahu perempuan itu cucu seorang milyuner. Sudah dari dulu aku restui Rico menikahinya, dan semua ini takkan terjadi.” racau Andini yang merasa kesialan menghantam keluarganya bertubi-tubi.
“Siapa maksudmu?” tanya Amran.
“Itu! Baca saja sendiri. Istri Verrel ternyata cucu seorang milyuner. BACA, PA!” kesalnya.
Amran meraih koran itu dan membaca. Matanya hampir melompat keluar melihat foto Viktor dan Deandra. “Om Viktor? Dia cucu Om Viktor?"
“Papa kenal?” tanya Andini dengan mata menyelidik. “Kalau papa kenal, kenapa tidak papa setujui saja hubungan mereka, dasar papa bodoh!”
“Apa kau bilang? Kau bilang papa bodoh?” teriaknya, untuk pertama kalinya Andini mengatainya sebagai pria bodoh.
“Bukan begitu maksudku Papa. Kalau papa memang mengenal pria tua itu, kenapa tidak dari dulu saja papa restui Rico dengan perempuan itu. Dia bahkan jauh lebih kaya dari keluarga Baratha.”
“Ya, sekalian. Coba lihat sekarang, Iva sudah balik kerumah orangtuanya, apa yang kita dapat? Rico dipenjara. Yang tersisa hanya rasa malu dan entah sampai kapan anak itu akan mendekam disana.” kata Andini semakin emosi. ‘Bagaimanapun ini semua juga salahku, aku tidak pernah selidiki siapa perempuan itu. Ternyata kakeknya kaya raya, Iva bahkan tidak ada apa-apanya.’
“Papa masih belum menjawab pertanyaan mama. Apakah papa kenal sama pria tua itu?”
“Iya. Dia teman lama papa. Namanya Viktor Benazar Hutama. Pengusaha Indonesia nomor empat terkaya di Eropa. Bisnisnya di perhotelan dan perkapalan dan banyak lagi.”
__ADS_1
“Oh begitu. Tapi disitu ditulis kalau dia baru kembali ke Indonesia beberapa bulan yang lalu.” kata Andini lagi. Memperhatikan suaminya yang masih membaca artikel tentang Viktor. Di artikel itu juga disebutkan tentang merger kedua perusahaan antara Hutama Group dan Ceyhan Group dengan kesepakatan kepemimpinan dipegang oleh kedua cucu dari keluarga tersebut yaitu Verrel dan Deandra. Amran menghela napas panjang, seakan hunjaman pisau menusuk jantungnya. Ternyata, secara perlahan namun pasti dia tersingkirkan dari perusahaan. Dia hanya memegang tiga puluh persen saham di perusahaan Yahya. Viktor kini memegang kepemilikan saham terbesar di Ceyhan Group. Dengan bergabungnya kedua perusahaan membuat nilai investasi semakin besar dan kepemilikan saham Verrel dan Deandra mendominasi.
“Lalu apa rencana papa? Jelas-jelas mereka sudah mengkonfirmasi jika Verrel tidak ditemukan. Papa punya tiga puluh persen saham disana, sudah saatnya Papa yang memegang kursi CEO,” kata Andini penuh semangat.
“Tidak bisa, Ma!” ucapnya cepat memotong istrinya yang akan berbicara lebih panjang lagi.
“Kenapa tidak bisa? Saham papa kan sama seperti Verrel, dan dia sudah tidak ada,”
“Karena kedua perusahaan itu melakukan merger, lihat saja berapa besar investasi Om Viktor disana. Dan saham itu adalah milik cucunya, Verrel memiliki tigapuluh persen saham dan ditambah dengan saham kepemilikan istrinya yang lebih besar, itu berarti mereka menguasai hampir seluruh saham perusahaan milik Ceyhan Group. Hampir seluruhnya!”
Andini tercekat mendengar penjelasan suaminya. Hancur sudah harapannya, suami tidak bisa duduk sebagai CEO di Ceyhan group dan putranya juga terdepak dari Baratha Group dan mendekam dipenjara. Kini, dia pun tidak bisa lagi bebas berkeliaran diluar sana, wartawan pasti mengejarnya. Hidupnya benar-benar terpuruk. Sementara hidup Deandra semakin bersinar.
“Lantas, apa yang akan papa lakukan sekarang?” tanya Andini dengan suara lirih.
“Tidak ada. Menunggu waktu dimana mereka akan memaksaku menjual sahamku disana atau tanpa persetujuanku, mereka mengambil alih sahamku, aku tidak akan punya apapun yang tersisa.” kata Amram. Dia tertegun, memikirkan bagaimana takdir mempermainkannya seketika, dia bahkan tidak tahu bagaimana menyelamatkan putranya. Kini, masalah baru muncul lagi. Jika dia terdepak juga dari perusahaan Yahya, itu berarti dia akan mulai lagi dari nol. Di usianya yang sudah paruh baya, itu hal yang sangat buruk. Seharusnya di usia ini dia bisa menikmati hidup tenang dan tanpa beban. Tapi, semuanya berbalik tiga ratus enam puluh derajat, terenggut darinya.
Andini mendengar jelas kata-kata yang diucapkan suaminya. ‘Aku tidak akan punya apapun yang tersisa.’ Apakah itu berarti suamiku bangkrut? Lalu bagaimana dengan kami? Aku? Kalau sampai suamiku bangkrut dan kehilangan semuanya, tidak mungkin aku kembali hidup miskin. Aku sudah tua, tidak bisa mencari pria lain. Pria-pria kaya diluar sana pasti lebih memilih gadis-gadis muda. Benak Andini dipenuhi pikiran-pikiran kacau yang mengganggunya. ‘Aku harus cari cara untuk menyelamatkan hidupku. Aku tak mau miskin lagi. Setelah sekian tahun dan perjuanganku untuk mendapatkannya, aku tidak mau berakhir jadi orang miskin lagi.’
...*...
__ADS_1
Iva dengan diam-diam ingin menjenguk Rico suaminya. Bagaimanapun mereka belum bercerai. Dengan alasan pergi ke mall, akhirnya orangtuanya mengijinkannya pergi dengan pengawal. Namun saat berada di mall yang sedang ramai karena ada kedatangan artis terkenal, membuatnya mudah mengelabui pengawal diantara kerumuman orang-orang, Iva berhasil meninggalkan mall. Kini, dia duduk di bangku dengan tangannya diatas meja, menunggu petugas membawa Rico.
... ...