
Sementara di Singapura tepatnya disebuah jalan yang mulai sepi karena jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Terdengar suara keras ‘BRAKKK’
Seorang pria baru saja menabrak sebuah mobil, pria itu pun langsung memacu mobilnya kembali ke unit apartemen miliknya. Dia terburu-buru dan tak mempedulikan mobil yang baru saja ditabraknya.
Sampai ditempat parkir, dia segera masuk ke lift yang menuju unit apartemennya untuk mengambil dokumen penting yang harus ia bawa pergi besok pagi. Dia baru saja menerima perintah untuk keluar dari Singapura besok pagi. Pria bernama Wilson itu baru saja akan masuk kedalam unitnya tapi tiba-tiba semua lampu disana menyala dengan serentak.
Wilson tercengang melihat beberapa beberapa laki-laki berpakaian hitam berdiri diruang tamunya bersama seorang perempuan yang sangat ia kenal.
“Selamat malam Wilson!” sapa sosok perempuan.
Pria itu tercekat saat perempuan itu berjalan menghampirinya dengan seringai menakutkan. Apalagi saat ia mendapati senjata disisi pinggangnya.
“Ma—mau apa kamu?” tanya Wilson terbata, ia terpojok. Dia tak menyangka perempuan itu akan muncul di apartemennya.
Perempuan itu semakin mendekat, “Kenapa kau takut? Bukankah selama ini kau sangat pemberani dan percaya diri?” ucap perempuan itu dengan nada mengejek. "Apa kau sudah kehilangan semua keberanianmu, Wil?"
“Pergilah! Aku tidak ada urusan denganmu.” usir Wilson.
“Ha ha ha ha ha...apa kau bilang barusan? Tidak punya urusan denganku? Apa kau sudah hilang ingatan? Orang yang sedang kau lawan itu adalah adik laki-lakiku. Dan dia adalah bos tempatmu bekerja. ” balas perempuan itu.
Wilson semakin terpojok karena jaraknya dengan perempuan itu menipis. Jantungnya berdetak semakin kencang. Perempuan yang berdiri didepannya ini adalah orang yang paling tidak ingin dia temui, apalagi saat ini.
Sekujur tubuh Wilson berkeringat dingin, perempuan yang berada didepannya ini adalah seorang yang kejam dan sadis. “A—aku tidak tahu apa maksudmu. Mungkin kau salah orang.” jawab Wilson.
“Oh ya? Kau sudah mengenalku sangat lama Wilson. Kita berteman sejak kita berusia dua belas tahun. Atau kau mungkin hilang ingatan? Apakah aku harus membersihkan otakmu dulu agar kau ingat padaku?” seringai jahat muncul diwajah perempuan yang sebenarnya memiliki wajah cantik tapi dingin dan terlihat kejam.
__ADS_1
“Tidak!” sahut Wilson. Dia tahu apa maksud perempuan itu.
“Ternyata kau takut padaku, Wil!" Ejeknya. "Sudah lama sekali, Wilson sejak terakhir kali kita bertemu."
“Lepaskan aku. Aku hanya pekerja biasa dikantor adikmu dan aku tidak mencelakai adik laki-lakimu!” jawab Wilson dengan lantang.
“Kau memang tidak mencelakai adikku tapi secara tidak langsung kau mencelakai perusahaannya. Perusahaan SG Grup tempatmu bekerja yang dimiliki oleh adikku Sandi.” ujar perempuan itu.
“Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau bicarakan!” elak Wilson.
“Siapa yang menyuruhmu mencuri data penting perusahaan, ha?” suara perempuan itu bergetar karena marah.
Sontak jantung Wilson berdegup kencang, selama ini dia bekerja sebagai mata-mata Verrel diperusahaan SG Grup dan dia selalu bekerja sangat hati-hati. Bagaimana bisa dia ketahuan? Dia bahkan tidak pernah berhubungan langsung dengan Verrel sejak dia dikirim ke Singapura.
“Data penting apa? Kau jangan bercanda, aku hanya pekerja biasa, bagaimana mungkin aku bisa mencuri data penting perusahaan yang dijaga ketat dan selama ini aku hanya bekerja diruanganku saja tidak pernah kemana-mana.”
Pria berpakaian hitam pun menghajar Wilson tanpa ampun hingga babak belur dan tak berdaya.
Bagaimanapun dia hanya seorang diri tak mampu melawan beberapa pria bertubuh kekar yang bukan tandingannya. Namun saat para pria berpakaian hitam itu hendak menghabisi Wilson, tiba-tiba pintu terbuka dan seorang pria berpakaian hitam lainnya masuk dengan wajah ketakutan.
“Gawat Nona! Segerombolan polisi sedang menuju kesini.”
“Cepat pergi! Biarkan saja si brengsek itu.” perintah perempuan bernama Stella itu.
...***...
__ADS_1
Sementara itu di rumah kediaman Verrel. Pria itu sudah kembali dan setelah membersihkan diri,dia masuk ke ruang kerjanya. Banyak hal yang harus dia selesaikan malam ini.
Ting!
Notifikasi pesan masuk dari nomor luar negeri.
Kami sedang bergerak malam ini Tuan! Sepertinya Wilson sudah ketahuan tadi saat kami bergerak kami melihat ada tiga mobil yang mengikuti Wilson sampai ke apartemennya. Kami sudah menghubungi polisi dan saat ini tim kepolisian sudah berada di apartemen milik Wilson. Target sudah berada dalam pengawasan.
Pesan yang diterima Verrel membuat senyuman semakin lebar diwajahnya. Kini pengawalnya sudah mendeteksi orang-orang yang terlibat. Semakin cepat dia bisa menyelesaikan masalah ini maka dia bisa menjalani hidup yang tenang bersama istri dan kedua anaknya.
Kehamilan Deandra yang sudah mau memasuki bulan ketujuh membuat Verrel sering khawatir. Tanggung jawabnya semakin berat karena dia akan punya istri dan lima orang anak yang harus dijaganya.
Yang dia inginkan saat ini adalah melenyapkan musuh-musuh dan orang-orang yang mengganggunya dan keluarganya. Bagaimanapun keselamatan keluarganya adalah yang utama. Dia bekerja keras mempertahankan perusahaan dan mengembangkannya untuk masa depan anak-anaknya kelak dan satu hal yang tidak akan dia biarkan jika ada orang yang berusaha untuk menghancurkan hasil kerja kerasnya dan mengacukan ketentraman keluarganya.
Membayangkan wajah Deandra dan kedua anaknya membuat Verrel tersenyum. Tidak pernah dia bayangkan jika dia akan menikah dan memiliki anak. Kini hidupnya sudah banyak berubah, dia mempunyai istri yang sangat dicintainya dan kedua anak kembarnya yang lucu yang selalu menyambutnya saat pulang kerumah.
Ceklek….
“Sayang….” panggil Deandra dengan suara manja yang membuat Verrel merentangkan kedua tangannya. Sejak tadi Deandra mencari keberadaan suaminya, sudah beberapa hari ini mereka jarang menghabiskan waktu bersama karena kesibukan Verrel. Deandra langsung menghambur kepelukan suaminya dan duduk dipangkuannya. Kedua tangannya melingkar dileher Verrel dan mengecup bibirnya. Cup…..
“Ada apa sayang? Kenapa belum tidur?” bisik Verrel parau. Inti tubuhnya menegang tanpa bisa dia kendalikan karena diduduki oleh Deandra, meskipun wanita itu sedang hamil besar dengan perut membuncit tapi dia selalu menarim perhatian Verrel. Deandra memakai gaun malam dan jubah tipis. Aroma segar tubuhnya menyebar diseluruh ruangan sejak dia masuk.
“Ini sudah malam dan kau masih saja bekerja. Kenapa tidak kembali ke kamar menemaniku? Apakah pekerjaan lebih menarik dari istrimu ini?” protes Deandra. Dia merindukan belaian suaminya yang selalu dia dapatkan setiap malam sebelum tidur. Sentuhan dan aroma tubuh suaminya sudah jadi candu Deandra dan dia sulit tidur tanpa Verrel disampingnya.
Verrel tersenyum geli, istrinya merajuk karena ia tak kunjung masuk ke kamar. “Kamu mau mengajakku beristirahat?” tanya Verrel dengan seringai nakal dibibirnya.
__ADS_1
“Aku….itu…..” Deandra tercekat saat tangan Verrel masuk ke area sensitifnya. Memberikan sentuhan yang membuatnya melayang.