TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 268. MEMBALASKAN DENDAM


__ADS_3

Sambil menyilangkan tangan didepan dadanya, senyum sarkas muncul di wajah tampan Luke. ‘Kau memang tidak pernah berubah Olivia! Bodoh, tangkuh, tak punya harga diri dan kejam. Menuding orang lain padahal dirimu sendiri yang lebih busuk dari comberan,’ balas hati Luke.


“Jadi dimana kau sembunyikan mereka?” tanya Luke lagi.


Olivia mengedikkan bahu. “Aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Biar saja mereka mati, mungkin dijual ke pasar gelap! Memangnya apa peduliku pada perempuan itu dan anaknya?”


Luke mengepalkan tangannya dengan kuat, menahan diri agar tidak membalas kata-kata tajam yang Olivia ucapkan. Dia tidak boleh kehilangan kendali diri, masih terlalu dini untuk mengakhiri permainannya pada Olivia. Sekarang yang terpenting dia bisa mengancam Olivia untuk mengatakan dimana dia menyembunyikan Deandra dan anaknya. Setelah itu, biarkan Verrel yang mengurus istri dan anaknya dan Luke bisa fokus memberi pelajaran pada perempuan iblis itu.


“Jangan terlalu kejam Olivia! Belum cukup kau membunuh calon istriku dan anakku? Kau harus ingat kalau roda kehidupan itu berputar. Jangan sampai keadaan berbalik.” ucap Luke dengan nada serius.


Olivia tertawa bak orang gila. “Maksudmu…..aku berubah jadi gembel begitu? Atau aku dijual begitu? Tidak usah melucu, Luke! Tampangmu tidak cocok jadi pelawak.” tukas Olivia.


“Terserah kalau kau menganggap kata-kataku barusan lucu. Kau jangan lupa, aku adalah orang pertama yang akan menertawakan saat momen itu tiba.” kata Luke disertai seringai lebar. Ia bangkit dan berkata, “Jangan salahkan aku jika kau masih tidak mau mengatakan dimana kau smebunyikan kedua orang itu! Akan kutemukan dengan caraku! Dan saat itu juga kehancuran hidupmu akan dimulai!”


“Siaaaallll! Kurang ajar kau Luke!” maki Olivia seraya melempar vas bunga yang ada dimeja kearah pria itu. Luke menghindar dan vas bunga itu jatuh berkeping-keping di lantai. Luke berbalik dengan cepat dan jari-jarinya mencengkeram rahang Olivia dengan garang. “Silahkan saja! Perusahan orangtuamu sudah gulung tikar! William Lee jadi buronan dan semua aset yang kau sembunyikan sudah ditemukan dan disita! Kau sudah tidak punya apa-apa! Kehancuranmu hanya dalam hitungan detik! Camkan itu!” ancam Luke disertai tatapan membunuh.


Ia mendorong Olivia kesamping hingga wanita itu tehruyung, baru melepaskan cengkeramannya. Setelah itu dia berlalu dengan cepat dan menghubungi ornag-orangnya. Olivia tak berkutik, ia tahu pasti apa yang sudah terjadi pada perusahaan ayahnya dan sebelum kedatangan Luke, dia sudah mendapat kabar kalau semua asetnya yang disembunyikan sudah disita. Olivia kini pasrah sambil mengusap kedua pipinya yang terasa panas.


Didalam mobilnya, Luke duduk di jok belakang dan sibuk menghubungi orang-orang untuk melacak keberadaan Deandra dan anaknya. Dia tak punya pilihan lain, dia harus menghubungi Verrel dan memberikan semua informasi yang bisa didapatnya. Luke membuka laptopnya lalu sibuk mengetikkan sesuatu lalu mengirimkan email, setelah itu dia mengeluarkan flashdisk dari sakunya lalu memindahkan sejumlah data ke benda itu. Selesai dengan semua itu Luke mencabut flashdisk dari slotnya memberinya label kemudian memasukkan kedalam amplop.


Entah data apa yang ia simpan didalam benda itu, yang jelas Luke melakukannya sangat hati-hati. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, ekspresinya yang dingin langsung berubah saat melihat nama yang tertera di layar. “Bagaimana? Sudah ada kabar?”


“Kami berhasil melacaknya, mereka membawa wanita dan anaknya itu kearah luar kota Tuan. Tapi kami kehilangan jejaknya dan belum menemukan dimana lokasinya sekarang.”


“Kenapa mereka membawanya sejauh itu?”

__ADS_1


“Jangan berhenti mencari. Bagaimanapun kalian harus menemukan keberadaan wanita itu dan anaknya. Aku khawatir Olivia akan memerintahkan si penculik untuk menjual atau melukai mereka.”


“Baik, Tuan. Sekecil apa pun perkembangannya, saya akan laporkan pada anda.”


*****


Verrel baru saja menerima email dari seseorang yang tak dikenalnya. Email itu berisi informasi penting tentang Stefanie dan Olivia beserta aktivitas bisnis keluarga mereka. Di email kedua yang dikirimkan orang itu yang tak lain adalah Luke, dia mengirimkan semua video yang direkamnya yang berhubungan dengan Olivia. Yang lebih mengejutkan Verrel adalah email ketiga yang diterimanya malah berisi informasi sangat penting tentang Stefanie dan daftar bisnis gelapnya beserta informasi lainnya. Disana juga ada daftar nama orang-orang dari dunia bawah yang berhubungan dengan wanita itu.


“Siapa yang mengirim ini?” dia membaca satu persatu isi email itu. “Sangat menarik!”


Lalu Verrel menghubungi salah satu Tim IT nya untuk melacak si pemilik email namun setelah beberapa saat mereka tidak bisa melacaknya.


“Siapapun orang ini, apapun niatnya mengirimkan ini padaku. Aku berterimakasih! Dengan informasi ini akan mudah bagiku menghancurkan Stefanie dan keluarga Singgih!”


******


“Kenapa lama sekali? Aku sudah tidak sabar menunggu laporanmu,’ cecarnya begitu menjawab panggilan telepon itu.


“,,,,,,,,,,,,,,,,,”


“Apa kalian sudah memindahkan mereka ke tempat lain? Bagaimana bisa dia menemukan tempat itu?”


“……….”


“Yakin? Apa tidak ada anak buahmu yang berkhianat?”

__ADS_1


“………...”


“Ingat ya! Nyawa istrimu ada ditanganku, aku bisa menghentikan biaya pengobatan istrimu sewaktu-waktu kalau sampai kau tidak becus bekerja! Jadi jangan pernah berpikir untuk berkhianat!”


“……...”


“Bagus! Suruh dia melapor padaku setiap jam, aku ingin laporan lengkap!”


“……….”


“Ya sudah. Kalau begitu lanjutkan tugas utama kalian! Minta uang tebusan pada Verrel sebanyak yang aku perintahkan! Ingat! Tunggu perintahku sampai uang tebusan itu sudah dikirimnya baru kalian lenyapkan dua orang itu!”


Olivia meletakkan ponselnya kembali diatas nakas, senyum sinis tergambar disudut bibirnya saat hendak menaiki ranjang. Sebuah rencana liar menari-nari dibenaknya. “Luke! Verrel! Dua pria yang menyakiti hatiku! Ha! Kau butuh istri dan anakmu, aku butuh tubuhmu dan juga uangmu! Ha ha ha!”


“Kau pikir aku akan kalah kali ini? Huh…...bermimpilah Luke! Tidak akan aku biarkan kau menghancurkan rencanaku!”


Diluar matahari mulai bersinar terang tapi berbanding terbalik dengan suasana diruangan dimana Deandra dan Naomi disekap. Diruang bawah tanah yang gelap, hanya disinari pelita kecil yang bergantung dilangit-langit. Cahaya tak terang tapi cukup mampu meredakan pekat yang menyesakkan dada. Naomi tampak tenag dalam dekapan ibunya, dia sudah tidak menangis lagi seolah tahu situasi yang sedang mereka hadapi. Tangan mungil Naomi berulang kali mengusap wajah Deandra.


Ia terlihat lusuh karena sudah beberapa hari masih menggunakan pakaian yang sama. Sorot matanya cemas, tidak ada jalan keluar dari tempat itu. Mereka dikurung disebuah ruangan yang hanya memiliki ada satu ranjang reot diruangan itu beralaskan tikar lusuh. Hari ini ikatan tangan mereka dilepas entah disengaja atau tidak tapi sedikit membuat Deandra merasa lega.


“Mama…...”


“Sabar ya sayang. Sebentar lagi papa datang jemput kita.”


Deandra berusaha menenangkan anaknya, sudut matanya kembali membentuk telaga. Deandra menggigit bibirnya sekuat mungkin, untuk menghentikan laju airmata itu tapi sia-sia. Pipinya yang putih mulus tetap saja basah. ‘Bagaimana aku bisa membawa Naomi keluar dari sini? Ini sudah ketiga kalinya kami pindah tempat dan aku tidak tahu kami berada dimana. Mereka selalu menutup mata kami setiap kali membawa kami berpindah tempat! Ya Tuhan! Semoga Verrel bisa segera menemukan kami.’

__ADS_1


Sementara diluar ruangan itu ada dua orang penjaga sedang berbincang.


__ADS_2