
“Hai, sayangku. Apa kabarmu?” tanya Frans pada Rosa melalui sambungan telepon. Dengan sembunyi-sembunyi Frans menghubungi Rosa. Dia masih dalam masa hukuman, selama masa hukuman Deandra melarangnya bertemu Rosa dan tidak boleh menghubungi Rosa. Mana mungkin Frans sanggup tak mendengar suara jutek pacarnya itu.
“Kenapa kau menghubungiku? Nanti ketahuan Dea, hukumanmu makin berat.” kata Rosa cemas.
“Jangan khawatir. Nyonya tidak ada disini, aku lagi di belakang tepatnya digudang. Nyonya tidak pernah kesini, jadi aman!”
“Puff….baiklah kalau begitu.”
“Apakah kau merindukanku sayang?”
“Eh..Frans! Dengar ya baik-baik. Kalau bukan karena waktu itu---”
“Memangnya waktu itu kita buat apa?”goda Frans yang membuat Rosa mulai kesal.
“Sudah tak perlu diungkit. Kau menjebakku, sekarang katakan apa maumu?”
“Aku mau kamu, sayang.”
“Aduh….om mesum. Sudah ya, aku lagi sibuk di kantor. Kalau sampai Dea tahu kau menghubungiku, kau rasakan hukumanku.”
“Sssstt…..jangan marah-marah. Senyum sayang, aku mau lihat senyummu. Kenapa kau memanggil suamimu ini om mesum? Tidak ada romantisnya.”
“Ha? Suami? Kita belum menikah! Kalau kau kena hukuman lagi, aku tidak mau menikah denganmu.” kata Rosa mengancam. Sudah seminggu dia tak ketemu Frans. Sebenarnya dia merindukan pria yang selalu membuatnya kesal itu, tapi apa daya, Frans sedang menjalani hukuman dari Deandra. Sedang asyik-asyiknya video call dengan Rosa, seorang wanita berada dibalik pintu gudang mendengarkan pembicaraan Frans dan tersenyum.
BRAK! Pintu gudang terbuka.
“Sedang apa?” tanya wanita itu, Frans menoleh dan tubuhnya membeku. Suara Rosa yang terus memanggilnya tak dipedulikannya. Tangan wanita itu meraih ponsel dari tangan Frans.
“Kenapa? Sudah tidak tahan lagi ya?” suaranya ketus. “Hajar saja kalau sudah tak tahan.” seru Deandra.
__ADS_1
“Aduh, Dea….tolong dong jangan hukum Frans. Dia tidak salah, tadi aku yang menghubunginya.” Rosa membela Frans. Ini benar-benar gawat pikirnya.
“Oh, begitu! Sejak kapan loe bela-belain dia? Gue dengar semua ya Rosa. Nih, cowok loe aja gak pintar jadi pencuri. Sembunyi-sembunyi ke gudang. Gue ikutin dari tadi. Tidak usah bohongin sahabat loe sendiri ya!” kata Deandra kesal. “Loe mau gue kasih tahu sama Verrel apa yang kalian lakukan di kantor?” sontak Frans dan Rosa ketakutan.
“Mohon maaf, Nyonya. Tolong jangan sampaikan pada Tuan. Saya bisa dipecat.” kata Frans memohon, hukuman nyonya saja sudah berat.
“Biarin! Aku tidak mau tahu ya, pokoknya kalian nikah setelah acara tujuh bulananku. Seminggu lagi! Lebih cepat lebih baik, iyakan? Tidak perlu curi-curi lagi,” ucap Deandra mengedipkan mata pada Rosa lalu memberikan ponsel pada Frans. “Aku masih berbaik hati kali ini, lanjutkan saja melepas rindu. Sesak rasanya kalau tidak bisa bertemu….ha...ha….ha…..jatuh cinta berjuta rasanya biar siang biar malam terbayang wajahnya. Jatuh cinta berjuta indahnya, biar hitam biar putih manislah nampaknya...oh..oh….la la la.” Deandra bersenandung meninggalkan Frans yang bingung dan takut. ‘Isssss….nyonya aneh.’ gumam Frans.
Deandra berjalan memasuki rumah, Verrel menatap istrinya yang bersenandung dengan wajah berbinar. “Ada apa, sayang? Tumben nyanyi. Kamu baik-baik saja?”
“Aku baru menangkap pencuri,” jawabnya asal.
“Hah? Pencuri? Dimana pencurinya? Kau tidak apa-apa? Kenapa bisa ada pencuri masuk.”
“Tenang. Pencurinya sudah kutangkap. Ada digudang belakang.” jawabnya sambil melangkah ke dapur, mengambil segelas jus yang sudah disiapkan Alya. Deandra menenguk jus sampai habis lalu berjalan menuju kamarnya. "Aku tunggu dikamar ya, suamiku sayang."
Verrel berlari menuju gudang belakang, dia mendengar suara orang berbicara. Dia membuka pintu, bertepatan disaat yang sama Frans menatap ke arah pintu gudang yang terbuka. Matanya membelalak dan mulutnya menganga. Sial! Ketahuan tuan besar. Frans langsung menyembunyikan ponselnya disaku belakang.
“Pencuri? Maksudnya, Tuan?”
“Iya pencuri. Disini ada pencuri, bukan? Tadi istriku bilang ada pencuri di gudang.”
“Ehm….maaf Tuan. Tidak ada pencuri disini.”
“Apa yang kau lakukan disini? Ini gudang, apakah kau mencari sesuatu?” tanya Verrel menatap Frans dengan tatapan curiga.
Frans bergetar tak tahu menjawab apa. ‘Sial! Apa aku yang dimaksud nyonya sebagai pencuri? Aduh, nyonya kenapa suka sekali membuat hidupku menderita.’
“Kenapa kau diam?” tanya Verrel lagi. Tangannya memijit pelipisnya, “Apa kau pencurinya? Siapa yang bicara dengan mu tadi di telepon? Aku dengar kau berbicara dengan seseorang.”
__ADS_1
“Eh….itu Tuan. Sa—saya lagi video call dengan Rosa.”
“Kau masih dalam masa hukumanmu. Apa istriku memergokimu?”
“Iya, Tuan. Tolong bantu saya, Tuan. Bilang ke nyonya supaya jangan menambah hukumanku.” pinta Frans memelas.
“Tadi istriku bilang apa?”
“Nyonya bilang agar aku menikahi Rosa setelah acara tujuh bulanan,”
“Ha...ha….ha...ha...istriku ada-ada saja. Kau harus berterimakasih pada istriku. Dia mengijinkanmu menikah cepat.” kata Verrel berjalan menuju pintu.
“Tuan mau kemana?”
“Kenapa kau tanya? Ini rumah istriku, terserah aku mau kemana,” jawab Verrel ketus lalu pergi meninggalkan Frans yang termangu. ‘Ya, Tuhan. Sabar-sabar. Tuan dan Nyonya sama saja, moga anaknya lahir bisa saingan sama Tuan Verrel.’ gerutunya.
Frans menutup pintu gudang dan menguncinya lalu pergi menemui Verrel diruang kerja.
“Apa semua sesuai rencana?” tanya Verrel dengan nada tenang seakan tak ada yang terjadi beberapa menit lalu.
“Iya, Tuan. Bagaimana reaksi si brengsek itu saat melihat istriku di pengadilan?”
“Maaf, Tuan. Tuan Rico sesekali melirik kearah Nyonya.”
Tangan Verrel mengepal, rahangnya mengeras “Sialan! Masih berani juga dia memandang istriku. Apa harus kuhajar dan kuhancurkan mukanya?”
“Jangan, tuan. Nyonya sudah melakukan semuanya dengan baik. Coba lihat ini, tuan.” Frans menyodorkan ipadnya pada Verrel. Di semua media masyarakat mengecam dan menghina Rico. Wajah Verrel berubah saat melihat foto-foto istrinya yang terlihat sedih dan menangis.
“Apakah istriku benar-benar menangis?”
__ADS_1
“Iya Tuan. Bahkan nyonya berlatih didalam mobil. Nyonya cocok jadi aktris, aktingnya sempurna, Tuan.” kata Frans menunjukkan video yang direkamnya saat Deandra menangis dalam mobil. Kedua pria itu tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Deandra. “Huss...jangan tertawa. Bisa saja istriku diluar mendengar kita tertawa. Kita berdua bisa kena hajar sama nyonya.” kata Verrel meletakkan jari telunjuknya dibibir. Frans langsung membungkam mulut, cukup sudah dia dikerjain sang nyonya hari ini.
Deandra tertidur pulas didalam kamarnya. Bagaimana reaksinya seandainya dua pria yang saat ini berada diruang kerja sedang membicarakannya. Acara tujuh bulanannya akan berlangsung lusa. Besok rencananya dia dan Verrel akan melakukan photoshoot. Semuanya sudah diatur oleh Yahya dan Viktor.