TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 9. JAMINAN HUTANG


__ADS_3

Seorang pria yang sedang duduk didalam mobil, menatap ponselnya. Baru saja ia menerima pesan dari salah satu orang kepercayaannya. Melepas kacamatanya saat melihat isi pesan itu, hampir tak percaya apa yang sedang dilihatnya. Apalagi disana tertulis jika wanita di photo itu sudah menawarkan dirinya pada orang lain.


Marah! Rahangnya mengeras, tangannya mengepal. Permainan apa ini? Apa maksudnya sudah menawarkan diri pada orang lain? Aku tidak punya waktu dengan omong kosong ini. Verrel sangat marah, berpikir apa yang harus dia lakukan.


“Frans aku sudah mengirimkan sesuatu ke ponselmu. Selidiki segera dan cari tahu siapa wanita itu.” Sang asisten melirik dari kaca depan ‘Baik, Tuan. Saya akan segera suruh anak buahku.”


Mobil sudah tiba didepan sebuah mansion mewah, bangunan itu dilengkapi dengan cctv, pagar setinggi 3 meter dengan gerbang otomatis, gerbang akan terbuka secara otomatis hanya untuk mobil yang plat nya sudah direkam disistem komputer.


Mobil mewah berwarna hitam itu berhenti tepat didepan pintu utama. Verrel berjalan memasuki rumah diikuti Frans dari belakang. Para pelayan yang sudah berdiri menyambut sang tuan besar membungkukkan kepala sebagai tanda penghormatan.


“Frans! Kabari aku jika kau sudah dapat info nya.”


“Baik. Tuan.”


Verrel berjalan kearah kamarnya di lantai dua. Melepaskan jas dan melemparkannya di sofa. Melepaskan sepatu lantas merebahkan tubuhnya. Diraihnya ponsel dan membaca kembali penawaran dari Surya.  Memejamkan mata melepas lelah sekejap. Beberapa menit kemudian, ponselnya berdering “Ada apa?”


“Saya baru terima laporan dari anak buahku dilapangan. Apa tuan mau saya kirimkan detailnya?” tanya Frans.


“Temui aku diruang kerja sekarang.” Verrel turun dari ranjang dan berjalan ke ruang kerja yang berada disebelah kamarnya. Ada pintu rahasia yang menghubungkan kamar tidur dan ruang kerjanya.  Duduk dibelakang meja kerja, tak lama Frans masuk dan duduk dihadapannya.


“Info apa yang kau dapat?”


Frans pun menceritakan semua informasi yang diperoleh anak buahnya dilapangan. Tatapan tajam Verrel menyimak setiap kalimat yang diucapkan sang asisten.


...*****...


“Aku sudah mengirimkan penawaran pada Tuan Besar.” kata Surya sambil menyesap kopi hitam di cangkirnya. “Apa Tuan Besar setuju, mas?


“Belum, aku masih menunggu. Kalau dia menolak maka penawaran itu kuberi saja pada Broto.”


“Apa menurutmu, anak itu akan mau? Kemarin saja dia langsung menolak.”


“Kalau dia menolak, kita paksa saja!”


“Oh iya betul mas. Aku bisa suruh anak buah Tika untuk menculiknya.”kata Diah tersenyum licik. “Urusan anak itu, serahkan saja padaku.”


“Apa kamu tahu dimana dia tinggal sekarang?” tanya Surya.


“Aku tidak tahu, mas. Tapi aku tahu tempat kerjanya.”


“Dimana dia kerja?” Surya bertanya sambil menggeser duduknya.


“Menurutmu? Coba tebak.” kata Diah tersenyum.


“Cepat katakan! Aku lagi tidak mood main tebak-tebakan.” sahut Surya kesal.

__ADS_1


“Dia kerja di Ceyhan Group. Aku menyuruh orang melacak ponselnya. Lokasi terakhir ponselnya aktif ya di gedung itu.”


“Ha...ha...ha….ha. Pucuk dicinta ulampun tiba.” tertawa terbahak-bahak, Surya semakin yakin akan rencananya. “Kerja di perusahaan bonafide itu berarti gaji besar. Sepertinya keberuntungan sedang bersama kita.”


“Kali ini rencana kita pasti berhasil, mas. Aku sangat yakin.” kata Diah bersemangat.


...*****...


“Jadi gadis itu keponakan si Surya?” merasa tak percaya dengan informasi yang diberikan sang asisten. Ini benar-benar diluar dugaannya.


“Benar, Tuan. Berdasarkan informasi dari anak buahku, si Surya sudah menawarkan gadis itu pada seorang pengusaha kaya.”


“Bagaimana menurutmu?” tanyanya pada Frans.


“Apa Tuan menyukai gadis itu?”


“Maksudmu?


“Maaf, Tuan. Saya lihat sikap Tuan berubah akhir-akhir ini.” kata Frans dengan suara rendah, tak ingin membuat sang tuan marah.


Verrel menatap Frans dengan sorot mata yang sulit dipahami “Kamu melihat sesuatu Frans?”


“Tidak, Tuan.” dia tidak ingin mengatakan lebih banyak lagi, terlihat mood sang Tuan Besar sedang tidak baik.


“Aku terima tawaran itu!”


“Tidak ada waktu Frans. Jika tidak maka gadis itu akan jatuh ketangan tua bangka itu.”


“Kau urus secepatnya.” katanya lagi.


“Baik, Tuan.” Frans meninggalkan ruangan itu, turun kelantai bawah dan berjalan menuju mobilnya. Keluar dari mansion menuju suatu tempat, menjalankan misi dari Tuan Besar.


Tak lama kemudian, dia teringat sesuatu, meraih ponselnya dan mengecek cctv diruangan kerja dikantornya. Astaga! Gadis itu masih ada disana dan tertidur? Verrel melirik arlojinya, jam menunjukkan pukul 7.00 malam. “Gadis bodoh itu benar-benar tidur diruanganku?”


Terkejut mendapati kalau Deandra masih ada dikantor, dia mengganti pakaiannya, mengenakan kaos putih dan celana jeans warna biru tua, bergegas keluar mansion dan masuk ke mobil sport putih.  Para pelayan yang melihat sang tuan besar yang pergi tergesa-gesa menatapnya heran.


Mobil sport putih yang dikendarainya sampai digedung perkantoran miliknya. Tak mempedulikan securiti yang menatapnya heran dan terkejut melihat sang CEO datang ke kantor malam-malam. Begitu masuk kedalam ruangannya, dia melihat gadis itu tertidur pulas di sofa, dia mendekatinya. Menggoyang bahu gadis itu untuk membangunkannya. “Hei….hei bangun!”


Tak ada respon dari Deandra yang tertidur pulas karena kelelahan. Berulang kali Verrel berusaha membangunkan gadis itu, namun masih tidak bangun juga. ‘Bagaimana ini? Aku kemanakan gadis ini? Tidak mungkin kubiarkan dia tidur disini. Verrel berpikir apa yang akan dilakukannya pada Deandra.  Akhirnya dia memutuskan membawa gadis itu ke kamar tidur yang berada diruang kerja itu. ‘Saat dia bangun nanti, aku akan antarkan dia pulang’


Perlahan dia mengangkat tubuh deandra dan membawanya masuk kekamar tidurnya. Membaringkan deandra diatas ranjang, Verrel duduk ditepi ranjang memperhatikan wajah gadis itu. ‘Tidurnya pulas sekali. Wajahnya terlihat tenang dan damai.’ sambil merapikan rambut yang menutupi wajahnya.  Aroma wangi bunga dari tubuh gadis itu membuat jantungnya berdebar-debar, tubuhnya bergairah namun dia berusaha menahannya.


Verrel naik keatas ranjang dan berbaring disamping deandra dan memeluknya. Tak butuh waktu lama diapun terlelap. Tubuh deandra bergerak, membalikkan badannya dan meletakkan tangan memeluk Verrel yang dia kira bantal guling. Masih tidak menyadari ada seorang pria disampingnya.


Verrel yang merasa ada yang memeluknya, membuka mata dan tersenyum melihat gadis pembangkang itu memeluknya. Tanpa disadarinya dia mencium puncak kepala gadis itu dan kembali memejamkan mata.

__ADS_1


Deandra terjaga karena merasa sesak seakan ada benda berat yang menekan tubuhnya. Dia membuka mata dan sangat terkejut, melihat pria disampingnya, apalagi tangan Deandra yang sedang memeluknya. Gerakan kecil deandra membangunkan Verrel.


“Kau sudah bangun,”


“Tuan….dimana aku? Apa yang tuan lakukan padaku?” merasa malu dan melepaskan pelukannya. ‘Berusaha mendorong tangan Verrel yang memeluknya, namun sia-sia.


“Diam! Kau ada dikamarku.”


“A—apa? Dikamar, tuan? Kenapa aku disini?” dengan suara bergetar ketakutan jika sesuatu yang buruk sudah menimpanya.


“Tadi kau tertidur di sofa. Aku membawamu kekamarku supaya badanmu tidak sakit.”


“Lepaskan saya, tuan.”


Verrel melepaskan pelukannya, Deandra lompat dari ranjang dan berlari mencari pintu keluar. Dia tidak menemukannya, karena pintu rahasia hanya Verrel yang tahu. “Kita masih ada dikantor. Beruntung aku kembali ke kantor dan menemukanmu tidur di sofa,kalau tidak kau terkurung disini semalaman,” kata Verrel lagi. “Apa kau mau keluar? Sekarang jam 9 malam.”


“Apa? Ya, ampun tuan. Saya harus pulang.”


“Bagaimana kau bisa pulang? Jam segini sudah tidak ada taksi melintas didaerah sini.”


“Malam ini kau tidur disini!”teriak Verrel.


“Saya tidak mau! Saya mau pulang!” teriak deandra.


“Kalau kau tidak mau ya sudah!” Verrel melangkah hendak keluar dari kamar itu.


“Tunggu, Tuan. Jangan tinggalkan saya disini. Saya takut, tuan.”


“Ya, sudah! Kau ikut denganku!” bentaknya lagi sambil menatap gadis itu dengan tatapan tajam.


“Kemana, tuan?”


“Jangan banyak tanya! Kalau kau mau pulang kau ikut denganku!”tangannya menangkup dagu gadis itu dan menatap tepat ke netra matanya. Seketika deandra merasa tubuhnya bergetar, dia ingin menghindari tatapan mata verrel namun matanya malah menatap ke mata hitam mempesona milik pria itu.i


“Kau mau pulang kan?” dijawab dengan anggukan oleh deandra. “Aku tidak mau direpotkan olehmu. Jadi kau turun ke bawah dan tunggu ditempat parkir.”


“Ba-baik, tuan.” seraya melangkah keluar dari ruangan direktur utama itu. Tak lama dia sampai dilantai bawah, petugas keamanan yang melihatnya keluar menatapnya dengan tatapan bigung. “Lembur ya, non?” tanya petugas keamanan yang bertubuh tinggi kekar.


“Iya, pak. Saya permisi dulu. Selamat malam.” bergegas berjalan ke area parkir.


“Itu karyawan baru ya pak? Rajin banget kerja lembur.” kata seorang petugas keamanan yang masih muda.


“Iya, sudah dua hari saya lihat disini.”


Tiba-tiba dia teringat pada Rosa, tadi sore dia sempat mengirim pesan pada Rosa untuk tidak menjemputnya karena dia akan lembur. Tak lama setelah itu Rosa menelponnya untuk melarangnya pulang kerumah Rosa karena paman dan bibinya deandra datang mencarinya kerumah itu sambil marah-marah.

__ADS_1


Berdiri sendirian ditempat parkir sambil menunggu Verrel, dia bigung mau pulang kemana, jika paman dan bibinya sampai datang kerumah rosa mencarinya berarti sekarang dia sudah tidak aman. Apalagi kalau pulang kerumahnya, entah apa yang akan terjadi dengannya yang hanya tinggal sendirian. Menghela napas dalam-dalam menghirup udara malam, mengisi paru-parunya.  Dia merasa sedikit tenang.


__ADS_2