TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 165. AKHIR KEBOHONGAN ANDINI


__ADS_3

“Andini datang padaku dan merayuku. Mungkin dia bosan denganmu. Ah….apa dia pernah bilang padamu kalau dia mau pergi ke Turki? Ha...ha...ha….dia tidak pernah pergi kesana. Selama seminggu dia berada dirumahku, melayani dan memuaskanku. Ha….ha…..ha…..ha.”


“DIAM!” bentak Amran penuh amarah. “Tak mungkin istriku melakukan itu.”


“Tanyakan saja padanya. Cek paspornya, ada atau tidak stempel imigrasi Turki di paspornya. Ha...ha...ha….aku bisa berikan semua bukti perselingkuhan kami padamu. Tapi, siap-siap karena begitu kau melihatnya, aku yakin kau takkan kuat.” Rian menyeringai jahat.


“Benarkah itu semua Andini?”


“Ti—tidak. Mereka semua sekongkol merencanakan ini semua. Papa harus percaya padaku. Coba lihat, kenapa mereka bisa ada disini semua bersamaan. Ini pasti sengaja mereka lakukan untuk menghancurkan kita, Pa.”


“Andini! Bagaimana dengan uang dua milyar yang kau pinjam dariku.  Oh iya. Amran kenalkan ini Pak Bagas yang membeli villa milikmu di Bali yang dijual oleh Andini karena dia terlibat hutang sebanyak sepuluh milyar. Karena uangnya tak cukup, dia juga menjual rumah dan tanah, dia meminjam uang dua milyar dariku.” kata Rian menjelaskan sambil menyerahkan bukti surat pinjaman dan bukti rekaman percakapan mereka.


Wajah Andini seketika pucat pasi. Tamat sudah riwayatku!


"Tega kau Rian! Kau juga menjebakku. Pasti kaluan semua sudah bersekongkol ingin menghancurkanku, iyakan?" teriaknya sambil menangis tersedu -sedu, namun tangisan Andini bukannya mendapatkan simpati malah mendapat tatapan sinis san senyum mengejek dari semua orang yang ada diruangan itu.


“Aku akan membawa masalah ini ke jalur hukum jika dia tak membayarnya sekarang berikut bunganya.”


“Gila kau Rian! Awas kau, akan kubalas kau!”

__ADS_1


“Lihat video itu, baru kau akan tahu sebejat apa istrimu itu. Dengarkan juga pengakuannya tentang putranya yang bukan anak kandungmu tapi anak dari seorang pria yang sekampung dengannya dan bekerja hanya sebagai staff biasa.”


“Jawab dengan jujur Andini. Apakah benar kau menjual villa itu?” tanya Amran yang terkejut mendengar berita itu.


“I---Iya pa tapi dengan perjanjian aku bisa menebusnya kapan saja jika aku sudah punya uang.”


“Kenapa? Kenapa Andini? Apa yang kau sembunyikan dariku, ha?”


Andini membeku, belum pernah dia melihat Amran semarah itu dan belum pernah Amran memarahinya apalagi membentaknya. Tapi barusan Amran membentaknya!


“Silahkan tonton ini dan cermati sendiri. Kalau kau mencurigai ini palsu, silahkan kau bawa ke seorang ahli untuk mengecek keasliannya.” Darma menyerahkan laptop dan memutar video mesum Andini selama ini, di video dan foto semua lengkap dengan tanggal dan jam. Seketika tubuh Amran lunglai, jantungnya seakan berhenti berdetak.  Dia tak percaya apa yang dilihatnya, apalagi saat diputarkan rekaman cctv bandara saat dia mengantarkan Andini yang akan berangkat ke Turki.  Ternyata semua yang mereka katakan benar. Salah! Itu semua salah! Tak mungkin!


“Satu lagi. Putramu juga tahu kalau dia bukan anak kandungmu. Bertahun-tahun ibu dan anak hidup dalam kebohongan, luar biasa. Kenapa takkau tanyakan pada putramu? Dia tahu siapa ayah kandungnya.” kata Darma menyeringai. “Dan ini semua bukti kejahatan wanita itu! Penggelapan dana proyek, pemalsuan tanda tangan dan masih banyak kejahatan lain yang dilakukannya. Dia akan membusuk di penjara dengan daftar kejahatannya.” Darma tertawa.


“Tidak mungkin! Kalian semua sama saja, penipu! Aku tak peduli Rico itu anak siapa. Supaya kalian tahu ya, dan kau Ayu jika ini cara licikmu agar aku kembali padamu, buang jauh-jauh mimpimu itu.” teriak Amran marah. Yahya dan Viktor hanya saling pandang. Bagi mereka tak ada gunanya bicara dengan orang bodoh.


“Ha...ha...ha….kembali padamu? Aku sudah tidak peduli padamu, rasa cintaku sudah lama hilang digantikan rasa sakit yang kau torehkan! Tapi aku punya keluarga sekarang, lihat kedua cucuku yang tampan dan cantik.” kedua pengasuh membawa kedua bayi itu mendekat pada Ayu. Kemudian pengasuh membawa lagi kedua bayi pergi.


“Aku sudah bahagia! Tapi kau...takkan pernah bahagia. Lihat dirimu, lebih memilih mengasuh anak orang lain dan mencampakkan anak kandungmu sendiri! Ayah macam apa kau, ha? Apa masih layakkah kau disebut manusia? Ingat ya Mas, selama bertahun-tahun kau menikmati hidupmu dan tak pernah berubah sampai kau lupa KARMA itu ada, hanya menunggu waktu.”

__ADS_1


“Andini, kau sudah membunuh istriku. Ibu dari Deandra dan putri dari Tuan Viktor.” Darma mengayunkan sebuah amplop besar dan tebal. “Disini semua bukti kejahatanmu dan orang yang kau upah untuk melakukan pekerjaan kotormu sudah mengaku dan menyerahkan diri ke polisi.”


“Silahkan pergi jika tak ada lagi yang ingin kalian katakan.” kata Darma mengusir mereka. "Ingat ya Andini. Aku takkan hidup tenang sampai kau berada di penjara seumur hidupmu!"


Andini yang sudah dulyan lari meninggalkan ruangan itu lalu disusul oleh Amran. Rencana awal gagal total, semua yang sudah direncanakan oleh Amran berubah toral.


...*...


Tamat sudah riwayatku! Mati aku! Aku tak mau dipenjara. Pikiran wanita itu semakin kacau dan saat Amran menarik lengan Andini keluar dari rumah itu, dia hanya terdiam seperti patung yang diseret-seret oleh Amran masuk ke mobilnya.  Tangan Amran mengepal dan memukul kemudi.


“Papa! Hentikan, jangan sakiti dirimu.”


Amran melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hatinya sakit saat melihat video mesum Andini bersama pria lain, bukan cuma satu pria tapi beberapa pria. Soal Rico yang bukan anak kandungnya, dia masih bisa terima. Tapi Andini berselingkuh dan berlaku bejat, itu sangat menyakitkan hatinya.


“Pa Awas!” teriak Andini saat sebuah truk besar berada dijalur yang sama dengan mereka.  Amran membanting stir ke kanan dan selamat. Andini memegang dadanya yang bergetar kencang ‘Aku belum mau mati! Tidak sekarang. Andai Rico menuruti perkataanku waktu itu, takkan begini jadinya. Aku harus pergi, aku harus lari ke luar negeri sebelum polisi datang menangkapku.


Setelah Amran diam beberapa saat dan mengambil napas. Dia mengemudikan mobilnya kembali dengan kecepatan sedang menuju rumah mereka. Begitu sampai didepan rumah, Andini tergesa-gesa masuk kedalam kamarnya dan menurunkan koper.  Dengan cepat dia memasukkan pakaian dan barang-barang lainnya kedalam koper.


 

__ADS_1


__ADS_2