
Di rumah sakit jiwa terlihat Amran sedang duduk disebuah bangku dibawah pohon rindang sambil memandang para pasien dan perawat yang berjalan-jalan, ada pula yang sedang berolahraga. “Tuan Amran, tolong makanlah. Kalau Tuan tidak makan nanti sakit, sudah beberapa hari ini Tuan enggan makan.”
“Pergi kau!” teriak pria paruh baya itu menatap tajam seorang perawat yang berusaha untuk membujuknya makan.
“Ta—tapi.”
“Apa kau tidak paham juga, ha? Pergi! Aku tidak mau melihat wajahmu!”
Lelah membujuk Amran setelah hampir satu setengah jam namun pria itu tak kunjung mau makan. Akhirnya perawat itupun pergi meninggalkan Amran sendirian.
“Kenapa Ris? Tuan Amran masih belum mau makan ya?” tanya kepala perawat yang melihat Risna membawa kembali makan siang Amran.
“Iya, bu. Malah saya dibentak-bentak. Apa boleh saya mengurus pasien yang lain saja bu?” tanya wanita itu pada kepala perawat.
“Tapi biasanya Tuan Amran nurut sama kamu, kenapa sekarang tidak?”
“Saya juga tidak tahu, bu. Sudah beberapa hari ini bawaannya marah-marah terus.” jawab Risna.
“Biasalah Ris, namanya juga pasien gangguan mental. Kadang tingkah mereka tidak bisa diprediksi. Letakkan saja makanannya di kamarnya mungkin nanti kalau lapar dia makan juga.”
“Baiklah, Bu.” jawab Risna lalu melangkah ke kamar Amran dan meletakkan makanan diatas meja lalu menutupnya. “Hfff….aneh orang kaya kok bisa gila. Harusnya orang miskin kayak aku ini yang gila, tiap bulan stress mikirin biaya hidup keluarga.”
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Tampak seorang wanita cantik paruh baya berjalan di lorong rumah sakit menenteng beberapa paperbag, dibelakangnya ada dua pengawal mengikuti langkahnya. Saat tiba didepan ruang Amran, dia membuka pintu dan menyuruh pengawalnya menunggu diluar ruangan.
__ADS_1
“Mas, ini aku bawakan makanan kesukaanmu. Tadi perawat menghubungiku katanya sudah beberapa hari kau tidak makan.” Ayu membuka kotak berisi sate madura dan menyodorkan pada Amran yang tiba-tiba tersenyum padanya. Mendekat ke Ayu lalu memeluknya, wanita itu hanya diam karena merasa aman. Amran mendadak mengeratkan pelukannya dan ******* bibir wanita itu dengan buas.
Amran menekan tubuh Ayu ke lantai dan menindihnya tanpa memberinya peluang untuk berteriak. Saat dia mengurai ciumannya, satu tangannya sudah memegang lakban dan menutup mulut Ayu hingga dia tak bisa bersuara. Kedua tangan wanita itupun diikat dengan lakban ke kaki tempat tidur.
“Jangan kau coba-coba berontak atau aku hancurkan mukamu yang cantik ini.” kata Amran mengarahkan pisau ke wajah Ayu membuat wanita itu semakin ketakutan. Seringai mengerikan muncul diwajahnya “Kau masih istriku, aku mau kau layani aku sekarang.” ucapnya setelah mengunci pintu terlebih dulu. Dua pengawal yang mendengar suara pintu seperti dikunci langsung panik dan mencoba membuka pintu namun tak bisa.
“Joko! Kau pergi panggil perawat dan minta kunci cadangan untuk pintu ini. Cepat!” Tak lama Joko datang bersama perawat yang terlihat membawa kunci dan membukanya. Betapa terkejutnya mereka melihat pemandangan di lantai kamar itu. Amran yang dengan buas menindih tubuh Ayu yang pakaiannya sudah berantakan. Perawat itu langsung mengambil selimut dan menutupi tubuh Ayu setelah pengawal menarik Amran menjauhi tubuh Ayu.
“Brengsek kalian! Kenapa kalian mengganggu hu?”
Ayu yang ketakutan langsung pergi meninggalkan rumah sakit itu. ‘Kurang ajar kau Amran! Berani-beraninya kau menyentuhku!’ gerutu Ayu dalam hatinya dengan penuh kemarahan. ‘Semoga kau gila selamanya bajingan!’
Setibanya dirumah utama, Ayu langsung menemui Yahya dan meminta mertuanya itu untuk segera mengurus surat perceraiannya dengan Amran. Karena pria itu sudah berada dirumah sakit jiwa maka akan semakin mudah untuk mendapatkan surat cerai.
“Tenanglah, papa akan urus semuanya secepatnya. Anak kurang ajar itu makin gila! Jangan lagi kau temui dia dirumah sakit, biarkan saja mereka yang mengurusnya. Dia bukan lagi urusanmu Ayu, tolong jangan membuat dirimu terluka.”
“Itu bukan urusanmu. Sudah tanggung jawab mereka untuk mengurusnya, papa sudah membayar biaya perobatannya sampai sembuh. Pergilah ke kamarmu, biar papa hubungi pengacara untuk mengurus surat ceraimu. Sekarang suamimu sudah gila, tak perlu ada tanda tangan atau persetujuannya lagi untuk menceraikanmu.”
“Baiklah, Pa.” jawab Ayu lalu pergi ke kamarnya.
...*...
Malam sudah menunjukkan pukul delapan tiga puluh, Amran masih duduk ditepi ranjangnya sambil memainkan ponsel miliknya. Suara pintu diketuk lalu terbuka menampilkan seorang perawat yang masuk membawa nampan berisi teh hangat dan cemilan yang diminta Amran. Risna adalah perawat yang bertugas malam ini, dia juga yang bertanggung jawab selama ini mengurus semua keperluan Amran. “Tuan, minum obatnya dahulu.” sambil menyodorkan beberapa obat yang langsung diambil oleh Amran.
__ADS_1
“Kenapa wajahmu muram?” tanya Amran yang memperhatikan wajah perawat yang ditekuk sejak kemarin. Risna memang khusus diminta untuk merawat Amran karena hanya wanita itu yang mampu menenangkannya saat Amran mengamuk. Sebenarnya pria itu sudah mulai membaik keadaannya tapi ia enggan untuk keluar, tak ada yang tahu alassnnya.
“Tidak apa-apa, Tuan. Hanya sedang memikirkan mencari pekerjaan lain.Gaji disini tidak cukup untuk biaya hidup saya dan biaya berobat ibu.” kata Risna yang merupakan anak sulung di keluarganya yang hidup pas-pasan. Dia sudah bekerja selama dua tahun dirumah sakit itu.
“Oh…..” terlihat wajah Amran memandangi Risna yang berusia tiga puluh tahun itu. Seringai aneh muncul diwajahnya. ‘Cantik juga perawat ini, selama aku dirawat aku tak pernah merasakan sentuhan perempuan. Gara-gara Ayu kemarin, hasratku tak tersalurkan, bahkan sekarang dia mengirimkan surat cerai padaku.’
“Risna! Seandainya aku bisa membantumu apa kau mau?” tanya Amran.
“Benarkah, tuan?” wajahnya langsung berbinar.
“Iya, tapi ada syaratnya. Aku akan berikan kau uang yang lumayan banyak jika kau mau.”
“Aku mau! Yang penting aku bisa biayai pengobatan ibuku.”
Amran terlihat berjalan mendekati Risna lalu merogoh saku celananya lalu menunjukkan uang sejumlah satu juta “Kau bisa ambil uang ini asal kau puaskan hasratku. Kau tahu aku ini laki-laki dewasa dan seorang duda. Selama aku dirawat disini aku tidak pernah menyentuh perempuan.”
Risna tercekat mendengar ucapan Amran, meskipun dia tahu jika pria paruh baya itu sudah sembuh namun enggan keluar dari sana tapi ia berpikir panjang. “Tu—tuan. Bagaimana mungkin?”
“Terserahmu! Aku akan berikan uang padamu setiap kali kau bisa memuaskanku. Tak perlu lama-lama. Ayolah, Risna toh kau juga janda pasti sudah lama tidak merasakannya. Atau kau ingin lihat pusakaku?” tanya Amran yang tanpa aba-aba langsung mengeluarkan pusakanya yang besar dan panjang. Risna yang melihatnya langsung terbelalak dan menelan salivanya. Baru ini dia melihat pusaka yang kekar berotot dari seorang pria paruh baya yang wajahnya juga tampan.
Gleg!
Matanya tak beralih dari pandangan didepannya tanpa menyadari seringai nakal diwajah Amran yang gila. Tangannya malah sudah menuntun tangan Risna menyentuh pusakanya lalu perlahan tangan wanita itu mulai bergerak maju mundur, dirinya seolah terhipnotis.
__ADS_1
Amran tak mau menyiakan waktu, dia langsung menerjang perawat itu dengan buas. Keduanya hanyut dalam gairah hasrat yang ingin dipuaskan. “Aku kunci dulu pintunya dan matikan lampu.” Tanpa melepaskan tangan Risna, dia menuntun tubuh perawat itu kearah pintu lalu menguncinya dan mematikan lampu. “Kita di lantai saja supaya tidak bersuara.” Risna hanya menggangguk. Hanya cahaya remang-remang dari lampu kecil dinakas yang menjadi penerangan dikamar itu. Kedua manusia yang sama gilanya itu bergulat diatas lantai, tubuh Risna sudah polos terbaring di selimut yang dibentangkan Amran diatas lantai. Tanpa menunggu lama Amran meremas kedua melon secara bergantian “Jangan mendesah, nanti ada yang dengar.” ujarnya berbisik ditelinga Risna yang sudah tak tahan ingin merasakan benda panjang yang sudah lama dirindukannya. “Ahhh…...” erangan tertahan saat Amran menghunjam kasar dan bergerak cepat disambut oleh Risna yang merasakan sensasi benda besar dan panjang yang baru ini dilihatnya. Dulu milik mantan suaminya tak sebesar itu, bahkan dua pria yang sempat menjalin hubungan dengannya pun tak memiliki senjata sebesar itu.
* Hai.....mohon maaf 🙏🙏lama update ya karna author lg gak fit. Baru bisa update lagi hari ini.