TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 31. DEANDRA PINGSAN


__ADS_3

Deandra  berendam di bathtub yang berisi air hangat dan bunga mawar untuk relaksasi. Setelah cukup lama berendam, dia melangkah keluar dari bathtub namun naas kakinya terpeleset karena lantai licin dan jatuh ke lantai lalu pingsan. Kondisi tubuhnya masih lemah dan belum pulih sepenuhnya. Kejadiannya itu begitu cepat hingga ia tak sempat berteriak minta tolong.  Tubuh polosnya terbaring dilantai kamar mandi yang dingin.


Sudah lebih satu jam dia berada di kamar mandi namun tak kunjung keluar. “Dimana nona muda?” tanya Yuna saat masuk ke kamar itu.  “Sedang berendam,” jawab seorang pelayan.


“Masih berendam? Sudah lebih sejam tak keluar juga?” tanya Yuna sambil membuka pintu kamar mandi. Betapa terkejutnya mereka melihat Deandra tergeletak dilantai dalam keadaan pingsan.  Terlihat keningnya terluka akibat terbentur dan berdarah.


“Ayo cepat angkat!” teriak Yuna yang panik ketakutan. Tami mengambil jubah mandi untuk menutupi tubuh majikannya. Dua pelayan mengangkat tubuh gadis itu dan membaringkan diatas ranjang. Yuna pun segera menghubungi dokter romeo dan menyuruhnya datang. Semua yang berada didalam kamar itu merasa sangat ketakutan.


Ring! Ring!


Ponsel Yuna berdering, ada panggilan masuk dari Tuan Besar. ‘Gawat Tuan menelepon. Bagaimana ini? Pikirnya.


“Halo, Yuna. Kenapa lama angkat teleponnya?” tanya Verrel.


“Ma-maaf, Tuan.’ jawab Yuna dengan suara gemetar penuh ketakutan.


“Sedang apa gadis itu?” tanya Verrel, entah kenapa tadi saat sedang bersenang-senang dengan beberapa wanita di kelab malam, tiba-tiba dia teringat Deandra dan memutuskan untuk menghubungi Yuna.


“I-itu, tuan. Nona muda pingsan.”


“Apa katamu? Pingsan?’


“Iya, Tuan. Saya sudah menghubungi dokter, sebentar lagi dia sampai,” kata Yuna menjelaskan.


“Aku pulang sekarang,”


Bagai disambar petir, Verrel meninggalkan ruang vvip tempatnya berpesta tanpa mempedulikan wanita-wanita yang disewanya menatap heran melihat sikapnya. Dengan kecepatan tinggi dia melajukan mobilnya seperti kesetanan.  Sesampainya dirumah, langkahnya tergesa-gesa menuju kamar Deandra.  Terlihat romeo sedang memeriksanya, Dia berdiri tak jauh dari ranjang memperhatikan Deandra dengan wajah cemas.


“Apa yang terjadi!” teriak Verrel marah.  “Kenapa kalian tidak menuruti perintahku untuk menjaganya?” menatap tajam dengan penuh amarah. 


“Ma-maaf, Tuan. Tadi nona muda mau berendam dan meminta kami menunggu diluar.” jawab Yuna ketakutan, lalu dia pun menceritakan semuanya.  Ini sungguh tak diduga. Wajah Verrel berubah setelah mendengar penjelasan dari kepala pelayan. Kini dia merasa khawatir dan takut.


“Bagaimana keadaannya?” tanya Verrel cemas.

__ADS_1


“Dia pingsan karena syok dan kepalanya terbentur, tapi aku sudah memeriksanya.  Tidak ada yang mengkhawatirkan.” jelas dokter romeo.


“Tidak ada yang mengkhawatirkan katamu? Kepalanya terbentur!” teriak Verrel panik.


“Hanya luka kecil dikening. Kalau takut dia kenapa-napa, besok bawa saja dia ke rumah sakit untuk di rontgen,” jawab Romeo yang menatap Verrel dengan heran.  Sebegitu pedulinya kah dia pada gadis itu?


“Ingat, jaga dia baik-baik. Kondisinya masih belum pulih betul.” kata Romeo lalu melangkah meninggalkan tempat itu.  “Oh iya, besok pagi aku akan datang lagi.” yang dijawab Yuna dengan anggukan.


Yuna masuk ke kamar mandi untuk memeriksa lantai dimana deandra terjatuh.  Dia heran kenapa gadis itu bisa jatuh padahal lantai tidak licin. Saat tangannya menyentuh lantai itu, seperti ada tumpahan lotion yang membuat lantai jadi licin. ‘Hmmmm siapa yang menumpahkan lotion disini? Dia ingat tadi lantai itu bersih dan kering karena dia yang mengisi air di bathtub. Pasti ada yang sengaja menumpahkan lotion untuk mencelakai nona muda, pikirnya. Cepat-cepat dia membersihkan kamar mandi itu sebelum Tuan Besar tahu.  Lebih baik kuselidiki sendiri, gumam Yuna.


Verrel menatap tajam ketiga wanita yang berdiri sambil menundukkan kepala. “Kalian akan kuhukum karena sudah lalai!” bentaknya. 


“Euuhhh...” terdengar lenguhan lemah deandra, perlahan dia membuka mata dan mengerjap. Dia melihat Verrel yang duduk disampingnya dengan tatapan cemas.  “Kau sudah sadar?”


“Kenapa memarahi mereka, tuan?” tanya Deandra dengan suara lemah, dia mendengar saat Verrel membentak ketiga pelayan itu.


“Jangan banyak bicara.  Mereka akan kuhukum karena lalai,” kata Verrel.


“Aku mohon, jangan. Ini salahku,” waduh….gara-gara aku menyuruh mereka keluar saat aku berendam jadi kena hukuman sama tuan Verrel.  Aku harus selamatkan mereka, ini salahku bukan salah mereka, gumamnya dalam hati.


“Tapi sa-sayang,” ucap deandra pelan.


“Apa? Kau bilang apa barusan?” tanya Verrel yang mendengar gadis itu memanggilnya.


“Sa-sayang,”


“Ehmmmm….apa maumu?” tanya verrel dengan suara lembut, dia tersenyum mendengar deandra memanggilnya sayang.


“Aku mohon jangan hukum mereka, sayang, aku yang salah. Aku yang menyuruh mereka keluar saat aku berendam tadi. Aku mohon sayang,” pinta Deandra dengan suara lembut merayu sambil menatap wajah pria itu berharap rayuannya bisa meluluhkannya.


Verrel menatap deandra dengan tatapan lembut, sepertinya dia luluh hanya dengan satu kata ‘sayang’ yang terucap dari mulut gadis itu.


“Baiklah. Jika itu maumu,” kata Verrel yang langsung dipeluk oleh Deandra. ‘Tidak apa, kali ini aku harus merayunya’

__ADS_1


Mendapat pelukan tiba-tiba, membuat hati pria itu senang bukan kepalang. Seketika amarahnya pun reda, dia membalas pelukan deandra sambil berbisik “Apa kau akan menuruti perintahku sekarang?”


“Iya, Tuan. Maafkan aku.” kata Deandra. Dia berusaha menuruti nasehat Yuna dengan bersikap manis dan menuruti perintah sang tuan besar.  Dia ingin tahu apa yang diucapkan oleh Yuna adalah benar.


“Kalian keluarlah. Hari ini kalian selamat. Tapi jika terulang lagi, aku tidak akan mengampuni kalian.”


“Baik, Tuan.” jawab mereka serempak.


“Bawakan air jahe hangat pakai madu,”


Kepala pelayan dan dua pelayan lainnya keluar dari kamar itu. Tak lama berselang Yuna kembali dengan membawa jahe hangat untuk deandra. 


“Kau boleh keluar. Biar aku yang menjaganya.” kata Verrel pada Yuna yang heran, namun tak berani berkata apapun.  Perlahan Verrel membantu deandra untuk duduk bersandar di ranjang. 


“Minumlah. Biar badanmu hangat. Kau pingsan cukup lama dilantai yang dingin,” kata Verrel menyodorkan gelas berisi air jahe. 


“Sekarang istirahat. Aku akan menjagamu.” kata Verrel sembari membaringkan tubuh gadis itu dan menaikkan selimut menutupi tubuhnya. “Apa tuan tidur disini?” tanya Deandra dengan ragu karena dia merasa khawatir jika mereka tidur bersama.


“Iya. Apa kau tidak suka?”


“Bukan begitu,” jawab Deandra tak tahu harus berkata apa.


“Tidurlah. Aku ada disini, kalau butuh apa-apa bangunkan aku,” katanya sambil beranjak naik keatas ranjang dan berbaring disamping Deandra. “Apa kau mau kubacakan dongeng?” candanya menggoda gadis itu yang langsung memasang muka cemberut. “Aku bukan anak kecil!” jawabnya kesal.


“Atau mungkin kau mau aku---” belum selesai kalimatnya Deandra langsung menarik selimut menutupi tubuhnya sampai kepala, Verrel tertawa terbahak-bahak melihat tingkah gadis itu yang ketakutan. Tangannya melingkar ditubuh gadis itu, “Tidurlah.” ucapnya sambil mengeratkan pelukannya.


‘Aduh, apaan sih pake peluk segala? Tapi benar juga kata bibi Yuna, ternyata mudah untuk merayunya, aku harus menurutinya supaya suatu hari nanti aku bisa melepaskan diri darinya.’


Gadis itu tak sadar jika dia selamanya akan terikat dengan sang Tuan Besar.


*Visual kamar tidur Deandra Ailsie di mansion utama


__ADS_1


 


__ADS_2