
Yuna dan deandra memasuki ruang kerja Verrel yang luas, ada rak yang dipenuhi buku, sofa, jendela besar yang mengarah ke halaman samping, desain ruang kerja itu membuat Deandra takjub. Deandra duduk di sofa yang terletak disudut ruangan, sementara Verrel duduk di kursi kebesarannya.
“Bawa mereka masuk sekarang,” kata Verrel pada Yuna yang langsung berjalan keluar.
Tatapan tajam dan instens Verrel membuat Deandra gugup “Kemarilah Nyonya Verrel. Duduk didekatku,” kata Verrel sambil merentangkan tangannya menyambut Deandra.
Deandra mendekati meja kerja pria itu, tangan Verrel meraih sesuatu dari dalam tas kerjanya. Sebuah kota berwarna biru, tangannya menepuk pahanya menyuruh Deandra duduk diatas pahanya. Dengan cepat ia menuruti perintah Verrel. Ia membuka kotak itu yang berisi satu set perhiasan berlian yang mewah bahkan lebih mewah dari yang diberikan Verrel tempo hari.
“Kenapa membelikanku lagi? Yang kemarin belum kupakai,” kata Deandra. Matanya membulat memandang perhiasan dengan desain indah berkilauan itu. Verrel sengaja memesan khusus perhiasan itu untuk Deandra dengan bantuan sang asisten yang cekatan.
“Ini untukmu, sayang. Di desain khusus untukmu.” kata Verrel tersenyum puas melihat ekspresi wajah deandra yang terkesima melihat perhiasan berharga miliaran itu. Kemudian Verrel memasangkan kalung dan anting pada Deandra. “Kau cantik sekali, desain ini cocok untukmu,”
“Te-terimakasih, sayang,” ucapnya gugup. Dia tak tahu harus berkata apalagi, pria itu menghadiahinya perhiasan bernilai miliaran untuk ke dua kalinya.
"Aku mohon. Jangan hamburkan uangmu. Kau sudah membelikanku banyak perhiasan sebelumnya. Belum ada yang kupakai.” kata Deandra.
“Kau akan memakainya nanti. Semua itu milikmu. Secepatnya seluruh dunia akan mengenalmu sebagai Nyonya Verrel,” menatap wajah deandra yang termangu, keduanya saling memandang. “Kau adalah milikku. Selamanya!”
“Mulai hari ini, detik ini kau harus mulai belajar mencintaiku, memberi hatimu hanya untukku,” ucap Verrel menegaskan.
“Jaga baik-baik anakku. Maka akupun akan menjagamu. Jika kau mencintaiku maka akupun akan mencintaimu,” kata Verrel dengan serius dan tegas. Deandra memahami setiap kalimat pria itu dan mengangguk.
“Lupakan pria brengsek itu. Kau milikku, hanya milikku. Kau tidak boleh memandang pria lain. Hanya aku yang ada dihidupmu, dipikiranmu dan hatimu! Aku berjanji akan memperlakukanmu dengan sangat baik jika kau menuruti semua perintahku dan tidak membuatku marah. Kau dengar, sayang?”
Deandra tak menjawab hanya memandang Verrel. Pria itu tahu jika deandra sedang teringat seseorang dan itu membuatnya marah. ‘Kenapa kau mencintai pria brengsek itu? Kau akan tahu semua kebusukannya.’
Pemilik butik yang masuk bersama Yuna membuyarkan keduanya. Beberapa gaun pengantin diperlihatkan pada Deandra yang memandang takjub. Dia bingung mau memilih, akhirnya ia menunjuk sebuah gaun. “Jadi Nyonya memilih ini?” tanya pemilik butik yang menatap deandra yang terlihat pucat. “Apa nyonya baik-baik saja?” tanyanya lagi.
__ADS_1
“Ya—ya. Aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah,” jawabnya seraya melirik Verrel yang berjalan mendekatinya.
“Kau kenapa sayang?” tanyanya sambil membelai kepala deandra.
“Tidak apa-apa. Aku sedikit lelah,” jawabnya.
“Istirahatlah.”
Pegawai butik bingung melihat wajah deandra yang pucat, mereka saling pandang sepertinya mereka menebak sesuatu. “Silahkan Nyonya istirahat saja. Saya akan tinggalkan katalog untuk dilihat-lihat jadi Nyonya bisa pilih lagi, saya tunggu sampai nanti malam.”
Yuna menuntun Deandra kembali ke kamarnya namun dia malah memilih kembali ke kamar Verrel yang menurutnya lebih nyaman. Sementara Verrel masih berada diruang kerjanya memilih setelan jas yang akan dipakainya untuk pernikahan nanti. Dia juga sudah menyiapkan hadiah pernikahan untuk Deandra, ia ingin pernikahannya menjadi yang termegah.
'Aku yakin mereka pasti datang dipernikahanku, aku ingin lihat bagaimana reaksi wanita ular itu saat melihat Deandra memakai perhiasan mahal dan hadiah pernikahan yang kuberikan padanya.'
...*...
“Kenapa kamu mendiamkanku?” tanya seorang perempuan cantik pada pria tampan yang sedang fokus dengan laptopnya. Tak ada respon dari pria itu. Pandangannya terarah ke laptop dihadapannya.
“Diamlah. Aku lagi sibuk!” ucap pria yang tak lain adalah Rico putra dari Amran Ceyhan.
“Jangan bilang kau memikirkan perempuan lain,” ucapnya lagi.
“Jika kau mau bersamaku, jangan terlalu ikut campur,”
“Aku mencintaimu, Rico.” rayu perempuan itu.
“Dengar baik-baik Iva. Aku tidak mengundangmu kesini. Kau yang menawarkan dirimu dan tubuhmu padaku.” ujar pria itu tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
__ADS_1
“Apa sebenarnya mau mu Rico?” tanyanya. Perempuan itu bernama Iva Adhisti Baratha.
“Tidak ada. Lalu kau sendiri, apa maumu?” balik bertanya.
“Aku mau kita menikah seperti keinginan orangtuamu,”
“Tidak. Aku tidak mau menikahimu.” jawabnya ketus. Pria itu sedang resah, ia mengingat seorang gadis yang sudah sekian lama tidak bisa dihubungi. Hatinya bertanya-tanya dimana keberadaan gadis itu. Gadis polos yang sudah menjalin hubungan dengannya selama enam bulan, namun tiba-tiba menghilang tanpa jejak.
"Apa katamu? Kamu yang bilang pada orangtuaku akan menikahiku."
"Kamu bisa diam tidak? Aku sedang sibuk. Sebaiknya kamu balik ke hotel."
Iva mendatangi Rico ke Hongkong atas desakan Andini yang ingin mendekatkan putranya dengan anak semata wayang keluarga Baratha. Mereka menginap sekamar disalah satu hotel berbintang lima dinegara itu. Setiap malam Iva melayani dan memuaskan hasrat pria itu. Dia rela lakukan apapun untuk mendapatkan pria yang ia sukai.
...*...
Verrel menatap takjub pada gadis yang terbaring diranjangnya. Sudut bibirnya terangkat, kini ia merasa menang karena sukses menaklukkan gadis itu yang selalu mempermainkan emosinya, mengacaukan pikirannya dan yang membuat Verrel tak bisa berpaling pada wanita lain sejak pertama kali berciuman dengan Deandra. Bahkan setelah malam itu, bayang-bayang gadis itu selalu menganggunya, ia kehilangan gairah bersama wanita lain.
Kedua mata deandra terbuka lebar, dia memandang wajah tampan didepannya. “Kau sudah bangun? Cepat bersihkan badanmu, kita harus pergi Nyonya Verrel,” perintahnya tanpa mengalihkan tatapannya.
Deandra bangkit dari ranjang menuju kamar mandi. Selesai mandi dia mengenakan dress yang sudah disiapkan Verrel.
...*...
Mobil mewah berwarna silver melaju dengan kecepatan sedang. Sepasang anak manusia yang sebentar lagi akan melaksanakan pernikahannya berada didalam mobil mewah itu.
Menuju sebuah gedung mewah dimana pernikahan mereka akan dilangsungkan. Verrel menutup mata Deandra membuatnya tidak bisa melihat kemana Verrel membawanya.
__ADS_1
Frans yang heran melihat tingkah tuannya yang seperti anak remaja yang ingin memberikan hadiah kejutan untuk sang kekasih. Sesampainya didepan gedung, Verrel keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Deandra, lagi-lagi sang asisten bingung melihat tuannya yang semakin romantis.
“Perang dunia bakal terjadi tidak lama lagi. Semoga tidak mengacaukan acara pernikahan dan aku harus bisa mengatasi kekacauan yang mungkin terjadi.” gumam Frans didalam hatinya. Ia harus memastikan semua aman dan kedua calon pengantin itu akan baik-baik saja. Apalagi sang nyonya besar sedang hamil.