TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 244. OLIVIA DIUSIR


__ADS_3

Ting!


Pintu lift terbuka, mereka tiba dilantai teratas dimana ruang kerja Verrel berada.


“Olivia! Kita akan bahas soal itu nanti. Kau harus jelaskan semua padaku.” ujar Siska.


Frans yang baru saja keluar dari dalam ruangan Verrel kembali masuk dan memberitahukan Verrel jika Olivia dan asistennya sudah datang. Verrel hanya memberi kode pada Frans untuk menyuruh mereka masuk.


“Silahkan masuk Nona. Kalian sudah ditunggu dari tadi.” ujar Frans dingin dan tatapan tajam.


“Terimakasih Pak Frans.” jawab Siska tersenyum sementara Olivia hanya dia.


Begitu Siska membuka pintu ruang kerja Verrel dan baru selangkah masuk kedalam, tiba-tiba.


Brakkk!!!!


Sebuah folder melayang kearah Olivia. Dia belum sempat mengelak karena terkejut sehingga folder itu mengenai keningnya dan menggores kening mulus itu. Siska dan Olivia membeku dipintu mendapat serangan tiba-tiba dari Verrel.


“Apa begini caramu bekerja! Kau pikir kau itu siapa, ha?” teriak Verrel marah. Suaranya menggelegar hingga terdengar keluar karena pintu masih terbuka.


Dua sekretaris Verrel dan asisten mereka yang berada diluar pun terkejut mendengar suara Verrel. Sudah lama mereka tidak mendengar dan melihat Verrel marah, sejak dia menikahi Deandra emosinya lebih terkontrol meskipun sikapnya masih dingin dan tak banyak bicara.


Kaki Olivia gemetaran dan wajahnya pucat, untuk pertama kalinya dia melihat Verrel marah dan melemparkan folder padanya. Keningnya terasa sakit dan dia hanya bisa diam meringis menahan sakit dikeningnya.


Siska pung hanya menundukkan kepala ketakutan sambil mengutuki Olivia didalam hatinya. Jika Olivia tidak datang terlambat dia tidak akan melihat kemarahan Verrel yang bak singa siap menerkam mangsanya. “Buat apa kalian berdiri disitu! Macam patung selamat datang saja!”


Keduanya pun melangkah masuk setelah menutup pintu, dengan langkah gemetaran sambil menundukkan kepala keduanya berdiri didepan meja kerja Verrel.


“Aku tidak bisa bekerjasama dengan orang yang tidak disiplin.”


“Ma—maafkan kami Tuan.” ucap Siska terbata.


“Apa maafmu itu bisa membayar ganti rugi waktuku yang terbuang sia-sia?”

__ADS_1


Siska semakin ketakutan dibentak-bentak oleh Verrel. Olivia mengangkat wajahnya, dia masih ingat pergumulan tadi malam bersama Verrel. Dengan percaya diri meskipun keningnya sangat sakit dia memasang senyum.


“Verrel, maaf aku datang terlambat. Aku ketiduran setelah tadi malam kita---” ucapannya terputus karena Siska langsung mencubit pinggangnya.


“Aku tidak menerima alasan apapun! Kalau kau tidak bisa bekerja secara profesional, aku  memutuskan kontrak kerjasama ini!” ujar Verrel dengan intonasi tinggi. Belum pernah ada yang berani membuatnya menunggu kecuali istrinya. Dia menatap Olivia yang tersenyum dengan tatapan menjijikkan. ‘Dasar perempuan gila! Keningnya robek masih bisa tersenyum ngak jelas.’ gumam hati Verrel.


“Baru kali ini aku telat bangun makanya terlambat. Bisakah kau lupakan saja dan kita bisa kembali bekerja?” kata Olivia tetap tersenyum.


BRAAKKKK!!!


Verrel memukul meja kerjanya dengan keras, Siska dan Olivia terkejut. “Kau tidak punya otak! Berani kau bicara padaku?”


“Verrel…….tolong jangan marah. Setelah kita menghabiskan malam bersama kenapa kau semarah ini padaku? Maafkan aku, ini juga bukan sepenuhnya salahku.”


Verrel mengeryitkan keningnya bingung dan marah mendengar ucapan Olivia. “Apa kau bilang?”


“Kau yang menghajarku sampai pagi makanya aku telat bangun! Sekarang kau menyalahkanku? Setelah apa yang kita lakukan semalaman?” ujar Olivia marah.


BRUKKKK!!!


“Apa kau bilang? Cuihhh! Dasar wanita gila! Aku tidak minat untuk menyentuhmu!” teriak Verrel penuh kemarahan hingga Frans pun masuk kedalam ruangan.


“Tuan! Ada apa ini?” tanya Frans melihat barang-barang dilantai dan gelas yang pecah.


“Kau tanyakan saja pada ****** itu!” ujar Verrel. Olivia membelalakkan matanya mendengar ucapan Verrel, pria itu barusan memanggilnya ******? Dia merasa tak percaya dirinya dihina.


“Ada apa ini Nona Olivia!”


“Kau tanyakan saja pada Tuanmu apa yang dilakukannya denganku tadi malam.”


“Ha?”


Siska yang selalu mencoba memberi kode pada Olivia agar berhenti tidak mendapat respon. Olivia sudah tidak peduli lagi.

__ADS_1


“Apa maksudmu bicara seperti itu. Jangan membuat fitnah.” ujar Frans dingin.


“Fitnah katamu? Hanya gara-gara aku telat datang aku diperlakukan seperti ini? Aku tidak akan telat bangun kalau bukan karena Verrel menghajarku sepanjang malam!” teriak Olivia. “Setelah puas menyetubuhiku semalaman, begini caramu memperlakukanku Tuan Verrel yang terhormat?” ujar Olivia lagi dengan dada naik turun menahan marah dan sakit hati.


Frans menganga dan menatap wajah Olivia lalu dia tertawa sinis.


“Ha ha apa katamu? Tuan Verrel melakukan itu? Apa anda sadar diri, nona? Tuan Verrel dan saya ada di Singapura kemarin. Dan kami menghadiri perjamuan makan sampai pukul sebelas malam. Bagaimana bisa anda menghabiskan malam bersama Tuan Verrel? Anda ini benar-benar tidak masuk akal!” ujar Frans sinis dan mencibir. Sudah lama dia bekerja sebagai asisten pribadi Verrel dan dia tahu sepak terjang pria itu tapi dia belum pernah bertemu dengan perempuan tidak tahu malu seperti Olivia.


“Frans!” teriak Verrel. “Batalkan kerjasama dengan Will Corp! Kita tidak akan bayar ganti rugi sepeserpun! Usir perempuan itu dari sini! Mulai detik ini dia tidak diijinkan menginjakkan kaki di gedung ini!” perintah Verrel.


“Verrel! Kau tidak bisa berbuat sesukamu! Aku akan mengatakan pada semua orang apa yang sudah terjadi antara kita tadi malam!” teriak Olivia. “Bagaimana kalau aku hamil?”


Verrel menekan tombol dimejanya untuk memanggil sekuriti. Tak lama empat orang petugas keamanan masuk dan memegang lengan Olivia dan Siska.


“Lepaskan! Kau pikir kau siapa?” teriak Olivia.


Verrel berdiri dan melangkah. Kau mau tahu siapa aku? Saat kau tahu siapa aku itulah detik kematianmu! Cuihhh!” ujar Verrel jijik. “Aku tidak pernah berminat pada wanita murahan sepertimu. Aku tidak pernah menyentuhmu! Ingat itu! Aku bisa mendapatkan wanita manapun yang aku suka tapi aku tidak suka wanita sepertimu! Oh satu lagi, istriku jauh lebih bisa memuaskanku!”


“Verrel! Kita sudah melakukannya tadi malam! Aku akan memberitahu semua orang tentang kita!” teriak Olivia seperti orang kesetanan. “Aku akan buktikan semuanya!”


“Seret mereka keluar! Pasang foto mereka di depan! Mereka tidak diijinkan menginjakkan kaki lagi digedung ini!”


“Verrel!!! Verrel!!!! Kau lihat nanti apa yang akan kulakukan! Bagaimana jika aku hamil?”


Verrel mengibaskan tangannya, lalu kedua orang itu diseret oleh sekuriti keluar dari gedung. Orang-orang yang menatap heran dan mencibir melihat Olivia yang tak henti mengucapkan sumpah serapah pada Verrel.


“Isss…...bukannya itu partner perusahaan ya?”


“Iya. Kalau tidak salah namanya Olivia kan? Kasar sekali mulutnya. Tapi ada apa? Kenapa dia memaki Tuan?”


“Sejak pertama kali dia datang kekantor ini, aku tidak suka melihatnya. Memang dia cantik dan kaya tapi angkuh. Beda jauh dengan Nyonya Deandra!”


“Iya benar. Tapi ada apa ya? Kok dia teriak-teriak seperti itu?”

__ADS_1


 


__ADS_2