
Suasana hening dan sedih yang tadinya memenuhi ruang perawatan Deandra pun kini berubah menjadi ceria dengan kehadiran Juan yang pandai bicara dan suka membuat orang lain tertawa. Hanya dalam sekejap mereka melupakan kesedihan dan larut dalam percakapan yang penuh canda dan tawa. Setelah makan siang, Verrel kembali kerumah sakit.
“Hai kakak sepupuku yang tampan!” ujar Juan saat Verrel masuk kedalam ruangan.
“Hem….kapan kau sampai?”
“Sudah dua hari yang lalu. Kenapa wajahmu kusut begitu?” tanya Juan memperhatikan wajah dan penampilan Verrel yang tak seperti biasanya.
“Menikahlah maka kau akan tahu.”
“Aku tidak akan menikah kalau jadinya kusut sepertimu.” canda Juan tapi malah membuat Yahya marah lalu menimpuk kepala cucunya itu dengan koran.
“Tidak sopan! Apa kau tidak punya rasa empati pada sepupumu, ha? Opa akan mencarikan calon istri untukmu agar kau segera menikah.”
“Ha? Mana bisa begitu opa! Memangnya opa tahu perempuan seperti apa yang kuinginkan?”
“Kau tenang saja! Opa tahu seleramu dan akan mencarikan yang pantas untukmu. Lihat adikmu William saja sudah menikah! Apalagi yang kau tunggu?” ujar Yahya kesal.
Saat Yahya dan Juan sibuk berdebat, Verrel kembali duduk disamping tempat tidur istrinya. Dia masih sabar menunggu dan berharap akan mujizat bahwa istrinya akan bangun. Dai berpegang pada harapan yang masih tidak pasti. Bagi Verrel hanya istrinya yang paling berharga dalam hidupnya, pengorbanan Deandra yang sudah memberinya lima orang anak. Dia tidak ingin kehilangan wanita yang dicintainya.
Rasa sakit dihatinya sudah seperti kepedihan yang bertumpuk-tumpuk dan dia hanya bisa berharap pada keajaiban Tuan untuk istrinya. Verrel mengecup pipi Deandra bergantian kiri dan kanan tapi wanita itu tetap diam tak bergeming. Verrel sudah tidak mempedulikan orang-orang yang ada dikamar itu. Tangannya tak lepas menggenggam tangan istrinya, tiba-tiba dia merasakan ada yang menyentuh telapak tangannya.
Verrel menoleh ketangannya dan melihat jari jemari Deandra yang bergerak, Verrel terkesiap tak percaya, dia mengedipkan matanya dan melihat gerakan tangan Deandra semakin kuat menggenggam tangannya. Verrel pun secara reflek menoleh kearah wajah istrinya dan melihat gerakan lemah di kelopak mata itu. Dia berteriak saat perlahan Deandra membuka matanya. “Dia sadar! Istriku sadar! Deandra sayang…...sayang kau sudah sadar!”
Teriakan Verrel sontak menghentikan perdebatan Yahya dan Juan. Keempat pria itu setengah meloncat mendekati ranjang Deandra saat melihat mata wanita itu terbuka dengan lemah.
“Panggil dokter…..cepat panggil dokter!” ujar Viktor yang merasa bahagia melihat cucunya sadar. Tangan Verrel memencet tombol diatas ranjang istrinya, tak berapa lama seorang dokter dan perawat memasuki ruangan lalu memeriksa Deandra.
“Nyonya jangan banyak bergerak dulu ya karena bekas operasinya belum sembuh.” ucap sang dokter pada Deandra yang dijawab dengan anggukkan. Sepeninggal dokter dan perawat, Verrel kembali berada disamping istri tercintanya. Matanya berkabut penuh kebahagiaan melihat Deandra sudah sadar meskipun wajahnya tampak pucat dan lemah.
__ADS_1
“Bayiku?”
“Mereka baik-baik saja, sayang. Bukankah tadi dokter sudah memberitahumu? Ketiga bayi kita masih diruang NICU, saat kondisimu membaik aku akan melihat mereka.”
“Apakah kau sudah memberi nama?”
“Ya, sudah. Caesar Aditya Ceyhan, Carlos Yahya Ceyhan dan Chloe Victoria Ceyhan. Bagaimana?”
“Aku suka, nama mereka bagus-bagus.” ucap Deandra dengan mata berkaca-kaca.
Yahya dan Viktor yang berdiri disisi sebelah kiri pun tersenyum bahagia. “Terimakasih sudah memberikan kami lima cicit yang lucu-lucu. Keluarga kita jadi ramai.”
“Opa…..” Deandra menitikkan airmata bahagia berada ditengah-tengah keluarga yang menyayanginya. “Mama Ayu mana?”
“Nanti mama kesini dengan Om Peter. Tadi dia pulang karena ada urusan, tak lama dia pergi kau malah sudah bangun.” ucap Verrel yang terus menggenggam tangan istrinya. “Berjanjilah padaku Deandra….tetaplah bersamaku selamanya. Aku hanya menginginkanmu, cukup dirimu dan anak-anak kita. Berjanjilah kau akan selalu ada disisiku”
“Ah…..Opa!” ujar Verrel melirik Deandra. Sontak ruangan itu dipenuhi tawa.
“Aku janji. Kau juga harus janji tidak akan ada wanita lain.” ujar Deandra.
“Maafkan aku ya Verrel, Opa...aku sudah membuat kalian semua khawatir. Sepertinya aku cuti dulu deh, mengurus lima anak pasti merepotkan.” ujar Deandra meraba perutnya.
Ruang perawatan itu dipenuhi tawa bahagia, menjelang malam semua orang berkumpul disana. Ada Ayu dan suami barunya serta Anita dan Liam, ada juga ayah Deandra dan Frans beserta Rosa dan putrinya Lily.
...******...
Hari ini Verrel kembali bersemangat karena istrinya sudah sadar dari koma. Dia pun kembali ke perusahaan karena akan bertemu dengan klien penting.
“Halo, ada apa Jack?” tanya Verrel yang menerima panggilan telepon dari anak buahnya.
__ADS_1
“Tuan, kami sudah membawa pria pemilik rumah itu ke markas. Apakah Tuan bisa datang sekarang? Dia hanya mau bicara dengan Tuan.”
“Baiklah. Aku akan segera kesana setelah rapat. Tunggu disana dan jangan sampai dia lari.”
Setelah selesai meeting, Verrel bergegas menuju markas besarnya. “Dimana dia?”
“Ada diruangan samping, Tuan.” jawab seorang penjaga seraya mengikuti Verrel.
“Silahkan, Tuan.” ucap Jack yang sudah menunggu diruangan itu memberikan kursi pada Verrel.
“Siapa anda?” tanya pria paruh baya yang duduk dikursi dengan posisi terikat.
“Aku tidak suka basa-basi. Siapa kau sebenarnya? Siapa yang memerintahkan anda membunuh pria itu.”
“Aku tidak punya urusan dengan kalian. Lepaskan aku. Apa-apaan kalian mengikatku seperti ini. Seenaknya menangkapku dan membawaku kesini! Apa jangan-jangan kalian ini ada hubungannya dengan pria sialan itu?”
“Buka ikatannya dan berikan dia minum.’ ujar Verrel.
Jack melepaskan ikatan ditubuh Waluyo lalu menyodorkan sebotol air mineral.
“Pak Waluyo…..anak buahku sudah memeriksa rumah anda dan menemukan ruang rahasia dirumah anda. Sepertinya anda ini bukan orang sembarangan, bukan begitu?”
Pria paruh baya itu hanya menatap Verrel sambil mengeryitkan kening. “Apa yang anda inginkan?” akhirnya pria itu bertanya setelah dia mengingat siapa Verrel.
“Apa anda yang membunuh pria bernama Dayat itu?” tanya Verrel mengamati ekspresi pria itu. “Kenapa anda membunuhnya?”
“Ha ha ha ha ha…...ya aku mengirimnya ke neraka! Dia pantas untuk mati!” ujar Waluyo marah. “Jika kalian sudah tahu, lantas kenapa menculikku? Aku tidak takut dipenjara apalagi mati! Aku sudah tua dan tidak punya siapa-siapa lagi.”
Verrel hanya duduk bersandar di kursi dengan tatapan mata tajam dan tak berkedip. Memperhatikan ekspresi wajah pria paruh baya didepannya. Ada kemarahan, kebencian dan dendam yang terpuaskan di sorot mata pria paruh baya itu membuat Verrel ingin menggali lebih dalam lagi. Mungkin dia bisa menemukan benang merah dari pria didepannya.
__ADS_1