
“Bro. Segera transfer sisa pembayarannya sekarang. Aku sedang bersiap-siap akan pergi dari Indonesia untuk kurun waktu yang lama.” kata Zaki melalui sambungan telepon pada Rico. “Ingat! Aku sudah menjalankan tugasku dengan baik, aku tunggu sisa pembayarannya.” Panggilan itu pun terputus.
Pria itu terlihat sangat tergesa-gesa memasukkan pakaian kedalam tas dan memasukkan dokumen perjalanannya ke luar negeri.
“Aku harus secepatnya pergi dari sini sebelum pria sialan itu berhasil mengetahui yang sebenarnya.”
Zaki segera mengancingkan ritsleting kopernya dan menarik koper itu. Memasukkan paspor dan tiket pesawat kedalam saku jaket kulit yang dipakainya. Namun saat ia membuka pintu apartemen, dia dikejutkan dengan kehadiran seseorang disana. Seorang pria berperawakan tinggi yang ia kenal sedang menodongkan senjata kepadanya.
“Apa yang kau inginkan?”
...*...
“Tim gabungan bersama sampai saat ini belum mengkonfirmasi tentang penumpang pesawat pribadi mili Ceyhan Corporation yang dinyatakan jatuh di hutan yang terletak di perbatasan negara hingga berita ini diturunkan. Belum diketahui tentang keselamatan para penumpangnya. Berikut ini adalah serpihan pesawat yang dilaporkan secara langsung oleh tim dari lokasi jatuhnya pesawat tersebut.”
Berbagai media memuat berita jatuhnya pesawat pribadi yang ditumpangi oleh Verrel. Diketahui pesawat itu jatuh dan meledak. Setelah dua puluh empat jam sejak pesawat hilang kontak, tim SAR pun sudah menuju lokasi untuk melakukan identifikasi.
“Papa!” teriak Andini memanggil suaminya yang baru saja turun dari lantai atas.
“Ada apa?” tanya Amran.
“Lihat itu, Pa.” wanaita itu menunjuk kelayar televisi didepannya “Pesawatnya meledak.”
“Pesawat?” tanya Amran heran dan bingung.
“Iya, Papa. Pesawat pribadi yang dinaiki oleh Verrel jatuh dna meledak dihutan.”
“Bagaimana dengan penumpangnya?” tanya Amran penasaran.
__ADS_1
“Belum diketahui, Pa. Lokasi jatuhnya pesawat belum lama ditemukan.” ucap Andini.
Amran termangu sejenak. Ada rasa nyeri dihatinya tetapi saat ia terhanyut dengan berita yang baru saja didengarnya, wanita dismapingnya naik keatas pangkuannya. “Pa.” jari jemari wanita itu mengusap dada amran dan menciumnya.
“Kalau Verrel tak ditemukan berarti posisiCEO di Ceyhan Group kosong. Sebaiknya papa yang mengambil alih posisi itu. Setelah itu Papa bisa menyerahkannya pada Rico, iyakan?”
Amran mengerjapkan matanya, mencoba untuk mencerna semua kalimat yang diucapkan snag istri.
“Maksud mama. Papa Yahya sekarang sedang berada di Indonesia. Bisa saja dia yang akan mengambil alih posisi itu jika Papa tidak bergerak cepat untuk merebut posisi itu sekarang. Papa tahu bagaimana dia memperlakukan mama dan rico selama ini, mungkin ini saat yang tepat untuk mengambil alih semuanya sebagai pelajaran buatnya.” Andini memasang wajah memelas dan mengiba seolah ia adalah orang yang paling teraniaya.
“Mama ingin agar papa yang kembali memimpin perusahaan itu?” Tanya Amran yang sudah mencerna maksud dari ucapan istrinya. Wanita itu menggangguk sangat antusias. “Iya benar, Pa. Bukankah papa juga memiliki saham yang setara dengan Verrel.”
Amran nampak berpikir. “Tidak ada salahnya juga jika Papa yang mengambil alih posisi itu.” ucap Andini dengan manja.
“Iya. Mama benar tapi sbeelum papa kembali menduduki posisi itu, Papa harus menunggu konfirmasi tentang Verrel terlebih dahulu,” ucap Amran sambil menatap lembut istri tercintanya itu. “Kita harus memastikan jika anak itu selamat atau tidak.”
...*...
Disebuah kamar nampak Rico yang sedang bersiap-siap. Ia memandang pantulan dirinya dicermin dan memastikan penampilannya sudah rapi. Ia meraih ponselnya dari atas meja karena benda itu bergetar tanda ada panggilan masuk. Ia menjawab dan terdengar suara seseorang.
“………...”
“Bersihkan semua dengan baik. Jangan sampai ada jejak, aku tidak mau dia hidup dan akan mengacaukan semuanya.”
“………..”
“Selesaikan dan aku pastikan akan menambah bayaranmu tiga kali lipat. Lalu kau harus meninggalkan Indonesia untuk selamanya.”
__ADS_1
Panggilan teleponpun terputus.
“Kak Rico.” panggil seorang wanita yang saat ini sedang mengenakan lingeri tipis tanpa jubah tidurnya. Ia mendekat sambil melangkah pelan dengan penuh keraguan. Sebenarnya dia takut jika Rico akan menolaknya lagi seperti waktu itu. Tapi sebagai istri sah, dia ingin tetap berusaha untuk memenangkan hati suaminya.
Rico terusik melihat pemandangan yang memanjakan matanya itu. Kedua gundukan yang tak tersangga bra itu pun seakan menggodanya. Bagian sensitif tanpa rambut halus yang terlihat sangat jelas itu membuat Rico bergairah, dia menelan salivanya dengan kasar. Rico merasakan gairahnya memuncak, harus ia akui wanita itu cantik dan milik wanita itu telah memberikannya kepuasan sepanjang malam.
Sial!
Seharusnya dia menikmatinya sejak awal, bukan malah menyiksanya. Rico menghela napas dalam-dalam mengisi oksigen ke paru-parunya akibat dadanya terasa sesak melihat pemandangan menggoda didepannya.
“Ada apa?” tanya Rico mencoba menenangkan diri dan menghalau pikirannya untuk segera mencumbu wanita itu. 'Aku harus bisa menahan, jangan tergoda.' ucapnya lirih dalam hati.
“Iva ingin pulang kerumah dan menginap beberapa hari,” ucap wanita itu dengan suara lirih dan perlahan. Ia cukup berhati-hati agar tidak mendapat kemarahan dari Rico. Permintaan itu membuat Rico menoleh. “Menginap?”
Dengan sangat kaku, Iva menggangguk. “Iya kak. Iva rindu suasana rumah. Sudah lama aku tidak mengunjungi papa dan mama.” wajahnya menunduk tak sanggup memandang Rico yang menatapnya tajam.
“Tidak boleh!” tolak Rico cepat. “Kau tidak boleh kemanapun tanpa aku.” Tatapannya tajam menghunjam, dia memang tidak pernah mengijinkan istrinya untuk keluar dari rumah kecuali jika Rico yang memintanya. Iva bagaikan tawanan rumah.
Iva mengangkat wajahnya ingin protes “Tapi--”
Tiba-tiba tubuhnya sudah terayun dan mendarat diatas meja, Rico yang sudah tak dapat menahan gairahnya dengan cepat mengangkat tubuh istrinya. Dengan liar Rico menyerang Iva dengan liar ******* bibir tipisnya dengan buas dan menggigitnya. Sementara tangan Rico sudah mulai menyentuh bagian sensitifnya dan merobek kain tipis yang dikenakannya dengan kasar. Wanita itu sudah tak berdaya.
“Kak,” desisnya bergairah. Napasnya memburu setelah bibirnya dilepaskan oleh Rico yang memandang tubuhnya yang polos dengan liar dan penuh gairah. Dengan gerakan cepat Rico pun sudah melepaskan semua pakaiannya dan berdiri dalam keadaan polos.
“Kau tidak bisa keluar dari rumah ini tanpa ijinku.” ucap Rico datar dan penuh penekanan. “Jika kau melanggar, maka aku akan membawamu kembali ke apartemen. Mengikat tubuhmu di ranjang dan kau hanya akan menjadi pemuas gairahku tanpa merasakan kenikmatan seperti semalam.”
Iva tercekat mendengar ucapan Rico dan matanya membulat. “Jadi----”
__ADS_1
Rico mengusap pipi mulus istrinya “Kau harus patuh padaku, jangan pernah membantah atau kau akan tersiksa seperti malam itu. Mengerti?”