
“Sepertinya kita akan kembali ke perusahaan, Viktor.” kata Yahya. "Bagaimanapun Verrel harus mendampingi istrinya menjaga kefua anak mereka."
"Tidak masalah. Kita bisa bekerja lagi seperti dulu." kata Viktor.
“Ayu, apa kau akan menjalankan perusahaanmu lagi? Deandra akan melahirkan, tak mungkin dia ke kantor lagi.”
“Iya, pa. Aku sudah memikirkan itu. Lagipula akan ada seseorang yang mungkin akan membantu ku.” kata Ayu tersenyum.
“Siapa? Apa kau sudah memikirkan akan mengakhiri masa sendiri?” goda Yahya yang sudah sejak lama meminta menantunya itu untuk menikah lagi, namun Ayu selalu menolak.
“Tidak, Pa. Ada teman lama yang akan membantuku. Akan ku kenalkan pada Papa nanti kalau waktunya sudah tepat.” jawab Ayu. Mana mungkin aku menikah lagi, usia sudah separuh baya begini gerutunya.
“Baiklah. Sebaiknya kita berbagi tugas mengurus perusahaan untuk sementara. Biarkan Verrel menghabiskan waktu bersama istri dan anaknya setelah lahir nanti.”
Ketiga orang itu duduk di sofa dan berbincang-bincang banyak hal. Ayu menceritakan kejadian tentang pertemuan Deandra dan Iva pada papa mertuanya itu. Tampak wajah Yahya dan Viktor memerah penuh emosi, jelas sekali kedua pria itu tak menyukai jika ada orang dari keluarga Amran yang menemui cucu mereka. Yahya dan Viktor membicarakan sesuatu dengan serius, sepertinya keduanya akan mulai aksi mereka seperti masa muda dulu.
“Bagaimana sayang. Apakah perutmu masih sakit?” tanya Verrel saat Deandra terbangun.
“Sudah tidak sakit. Tapi---”
“Tapi apa?”
“Aku lapar sekali.”
“Kau mau makan apa? Biar kusuruh pengawal didepan pergi membelinya.” kata Verrel.
Deandra berpikir sejenak, lalu dia berkata “Bolehkah aku makan pedas?”
“Tidak boleh sayang. Maaf ya, kali ini aku tidak memperbolehkanmu makan pedas.”
“Ehmm….mau makan ayam goreng dan martabak bangka,”
“Cukup? Ada yang lain?”
“Kau mau membuatku gendut ya? Aku sudah gendut Verrel.” bibirnya mengerucut. “Kalau badanku melar, wajahku jelek nanti kau pasti cari perempuan lain, iyakan?”
__ADS_1
“Kata siapa? Punya satu istri saja sudah repot apalagi kalau ada perempuan lain.” ucapnya asal.
“Oh begitu? Jadi aku merepotkanmu ya? Ya sudah pergi aku pergi saja karena sudah merepotkanmu.”
“Ssstt…..salah paham lagi kan. Bukan begitu maksudku, sayang. Mana mungkin aku cari perempuan lain, kau saja sudah cukup. Aku tak butuh perempuan lain.” Verrel mencium bibir istrinya untuk meredam marahnya. Berhasil!
“Sudah tidak marah lagi, sayang? Aku suruh pengawal membeli makanan untukmu ya.” Verrel keluar dari kamar dan memerintahkan pengawalnya membeli makanan untuk mereka. Ayu masuk kedalam ruang perawatan dan berbincang dengan menantunya. Sedangkan Yahya dan Viktor sudah pamitan pulang kerumah.
...*...
“Masih ingat pulang?” tanya Amran marah saat melihat Andini masuk ke kamar. Tubuh wanita itu langsung membeku dan wajahnya ketakutan. Matanya melirik ke dokumen yang ada di tangan suaminya.
“Apa itu?” Andini bertanya karena ia mengenali dokumen yang berada di tangan duaminya itu.
“Jangan mengalihkan pembicaraan!”
“A---aku.”
“Begitu aku menangkap basahmu berpelukan dengan laki-laki lain, mau kasih alasan apa kau, ha?” setelah bertahun-tahun menikah baru kali ini Amran memarahi Andini. Istri yang selama ini selalu disayang dan dibelanya dihadapan Yahya.
“Semua itu tidak benar, pa. Rico anak kandungmu. Kenapa tiba-tiba papa bicara seperti itu?”
“Karena ini.” Amran menyerahkan akta lahir asli milik Rico pada Andini. Sontak mata wanita itu terbelalak kaget. “Bisa kau jelaskan semua ini? Kenapa di akta lahir itu bukan namaku tapi nama laki-laki lain. Katakan Andini!”
“Ini pasti kerjaan orang yang ingin menghancurkan keluarga kita, Pa. Mungkin ini kerjaan Verrel karena dia masih tidak puas atas apa yang sudah Rico lakukan pada istrinya. Aku sangat yakin itu, Pa. Percayalah padaku. Rico anak kandungmu.”
“Untuk apa anak sialan itu membuat akta palsu? Apa untungnya buat dia? Jangan membodohiki Andini, aku bisa telepon Verrel sekarang dan menanyakannya. Tapi kau tahu itu artinya----”
“Eh...iya juga pa. Tak mungkin Verrel pelakunya.”
“Jangan berbelit-belit sebelum aku kehabisan kesabaranku. Siapa ayah kandung Rico?”
“Kau ayah kandungnya. Harus berapa kali kukatakan, kau adalah ayah kandung Rico.”
“Baiklah. Kalau kau begitu yakin jika aku adalah ayah kandung Rico. Aku akan lakukan tes DNA untuk membuktikan. Jika nanti hasilnya ternyata Rico bukan anak kandungku, kupastikan kau akan mendekam di penjara.”
__ADS_1
Amran pergi meninggalkan Andini yang terbegong sendiri di dalam kamar. “Aduh bagaimana ini? Kalau sampai Amran melakukan tes DNA maka dia akan tahu kalau Rico memang bukan anak kandungnya.” Andini jalan mondar mandir didalam kamarnya, memikirkan langkah apa yang harus dia lakukan. Wanita itu meraih ponselnya dan menghubungi Rian.
“Halo, ada apa? Apakah kau bertengkar dengan suamimu?” tanya Rian.
“Ini lebih gawat daripada bertengkar.”
“Apa maksudmu? Apa dia menceraikanmu?”
“Jangan bercanda Rian. Ada yang mengirimkan akta lahir Rico yang asli pada suamiku. Dia marah besar dan mengancamku. Katanya dia akan melakukan tes DNA. Jika terbukti kalau Rico bukan anaknya maka aku akan dia jebloskan ke penjara.”
“Lantas, buat apa panik begitu?”
“Bagaimana tidak panik? Ini gawat Rian.”
“Tenanglah. Itu bukan masalah besar. Sekarang jujurlah padaku, katakan semuanya agar aku tahu cara membantumu.”
“Rico memang bukan anak kandung Amran. Aku sudah hamil tiga minggu saat aku bersama Amran. Makanya waktu itu aku mendesaknya untuk menikahiku.”
“Oh jadi begitu cerita sebenarnya?” kata Rian yang sudah merekam semua pembicaraan sejak awal. Dia sudah prediksikan jika ini akan terjadi karena dia yang mengirimkan akta lahir itu pada Amran.
...*...
Tiba-tiba Deandra mengerang kesakitan lagi. Verrel yang panik langsung memanggil dokter. Saat ini hanya ada Verrel dan ibunya dirumah sakit menemani Deandra.
“Verrel! Sakit sekali…….” teriak Deandra. Dokter dan perawat tergesa-gesa memasuki ruang perawatan Deandra. Tuan Verrel bisa tolong tunggu diluar sebentar?” kata dokter Rika.
“Saya akan tunggu disini, saya harus temani istriku. Mama, tunggu diluar ya, ma. Biar Verrel yang tungguin istriku disini.”
“Baiklah, sayang.” kata Ayu langsung keluar ruangan. Deandra mengerang kesakitan, keringat mengucur. Dokter memeriksa “Sudah pembukaan lima.”
“Maksudnya apa dokter?” ucap Verrel cemas.
“Sudah masuk pembukaan ke lima, kita masih harus menunggu sampai pembukaan ke delapan Tuan. Ini hal yang biasa terjadi saat melahirkan apalagi ini kelahiran pertama.”
Verrel hanya menggangguk memperhatikan tim medis yang memberikan arahan pada istrinya. Satu jam kemudian, Deandra kembali dilanda rasa sakit, suasana didalam kamar mendadak heboh. “Tuan, kami akan memindahkan istri Tuan keruang tindakan. Sepertinya istri Tuan akan segera melahirkan, anaknya sudah tak sabar ingin bertemu dengan mama dan papa nya.”
__ADS_1