
Deandra perlahan membuka matanya. Ia merasakan seluruh tubuhnya pegal membuatnya enggan untuk beranjak. Padahal ia sangat ingin ke kamar mandi karena desakan alamiah yang menuntut untuk dibuang.
“Nyonya? Anda sudah bangun?” tanya Yuna yang berdiri didekat ranjang.
“Hmm.”sahut Deandra malas. “Jam berapa sekarang Bibi Yuna?”
“Jam 1 siang nyonya,” jawab Yuna dengan sopan. “Apakah nyonya mau berendam? Saya akan suruh pelayan menyiapkannya.”
Deandra memejamkan matanya dan mengangguk. “Bibi Yuna? Apakah suamiku mengatakan sesuatu sebelum dia berangkat ke keluar negri? Berapa lama dia akan pergi?" tanya Deandra yang kini sedang berendam di bathtub.
“Ada nyonya. Tuan berpesan, nyonya boleh keluar rumah asal memakai pakaian tertutup. Tuan akan berada diluar negri selama tiga hari.”
“Benarkah? Aku boleh keluar tanpa Verrel?” tanya Deandra dengan dahi mengerut, ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Lalu Yuna pun menggangguk “Boleh, nyonya. Tapi saya, dua pelayan dan pengawal akan mengikuti anda.”
“Baiklah. Kalian bisa ikut,” jawab Deandra senang. “Siapkan pakaian untukku. Aku ingin jalan-jalan ke mall.”
“Apakah Verrel mengijinkanku belanja?” tanyanya pada Yuna.
“Boleh nyonya,” Yuna menjawab sambil menggangguk sopan.
“Mari saya akan antar nyonya kesalah satu tempat pilihan tuan.”
"Tapi kenapa suamiku pergi lama sekali?" ucapnya sedih. Kemarin Verrel menawarkan jika Deandra ingin ikut dengannya, namun dia menolaknya.
"Tiga hari tidak lama, nyonya. Anda bisa video call Tuan kapan saja. Kalau nyonya merasa bosan saya akan temani nyonya kemanapun. Apakah nyonya mau berangkat sekarang?"
Deandra pun setuju dan tak keberatan saat kepala pelayan itu menggandeng tangannya melangkah kedalam mobil dan menuju suatu tempat. Mall mewah yang juga salah satu milik keluarga Ceyhan. Yuna dan dua pelayan pribadi beserta bodyguard mengikutinya. Yuna membawa Deandra kesalah satu butik pilihan sang tuan besar. Namun ia dikejutkan oleh kehadiran seseorang yang tak dia inginkan. Sekelebat bayangan pria itu yang sedang menatapnya dari balik sebuah pilar. Rico yang mencoba mencari peluang untuk bisa bertemu dengan Deandra namun tak berani mendekat begitu melihat ada beberapa bodyguard yang setia menjaga Deandra kemanapun dia pergi.
“Nyonya, apakah anda baik-baik saja?” tanya Yuna yang cemas karena melihat majikannya itu tiba-tiba berhenti dan mematung. Pandangan deandra terpaku pada satu tempat, saat Yuna melihat kearah itu dia tidak melihat apapun disana.
“Nyonya,”
“A—apa?” Deandra seketika menoleh.
__ADS_1
“Apakah nyonya baik-baik saja?” tanya Yuna heran melihat wajah Deandra yang pucat seketika. Binar matanya pun terlihat berubah seperti gelisah.
“Ah...aku...aku baik-baik saja. Aku merasa lelah. Ya, aku merasa sangat lelah,” jawabnya asal.
“Apakah nyonya mau pulang?”
“Iya...lebih baik pulang. Aku mau pulang sekarang,” ucapnya. Deandra tidak ingin belanja, dia merasa tidak tenang berada di mall mengetahui ada seseorang disana yang mengintainya.
...*...
Deandra merasakan kenyaman dalam tidurnya setelah tiga malam selalu terjaga dan susah tidur. Kerinduannya pada sang suami menyeruak membuatnya tak bisa tidur dan selalu gelisah memikirkan suaminya yang sedang berada di Jepang untuk urusan bisnis.
Entah mengapa saat tertidur ada rasa nyaman yang dirasakannya yang membuatnya malas untuk bangun. Lima belas menit kemudian dia memaksakan diri untuk bangun karena desakan alamiah. Ia tersentak kaget saat merasakan tangan berotot dan dada bidang yang ia kenali. Dada bidang berotot yang selalu memberinya kehangatan. “Eughh….kenapa Verrel ada disini?” bertanya dalam hati. Ia tidak ingin membangunkan pria itu, pandangannya fokus pada wajah tampan pria yang selalu dirindukannya.
Verrel yang sudah bangun beberapa menit lalu hanya diam pura-pura tidur. Dia menyadari jika istrinya sedang mengamati wajahnya.
“Kau sudah bangun, sayang?” tanya Verrel mengecup puncak kepala, kening dan seluruh wajah cantik istrinya.
“Aku sangat merindukanmu.” Verrel mengumpulkan semua kerinduan itu dan melirihkannya dengan penuh perasaan. Tubuh Deandra menegang dan tanpa sadar kedua tangan membelit semakin erat. Hal itu menerbitkan senyum tipis dibibir Verrel.
“Apakah kau merindukanku, sayang?” tanya Verrel penuh kelembutan.
“Selalu! Kapan kau pulang? Kenapa tak memberitahuku?"
"Aku sengaja mau buat surprise. Aku sampai tadi malam tapi kulihat kau tidur pulas jadi aku tak mau membangunkanmu. Bagaimana kabar anak kita?" tanya Verrel mengelus perut buncit Deandra.
"Baik-baik saja. Kami merindukanmu, aku tidak bisa tidur, sayang."
"Aku sudah pulang. Aku bawakan oleh-oleh untukmu." ucap Verrel seraya menunjuk kearah sofa. Ada beberapa paperbag disana. Deandra tersenyum dan mengecup bibir suami tercintanya.
"Apa kau mau ke kantor hari ini, sayang."
"Besok saja aku ke kantor ada Rosa disana. Bisakah kau minta Frans datang ke kantorku besok, sayang?”
__ADS_1
“Ehmm….kau tak memintaku datang juga?” goda Verrel.
“Issss….iya iya. Besok kita makan siang dikantor ya?” kata Deandra mencubit hidung suaminya.
Tanpa peringatan Verrel menunduk dan mencium bibir Deandra. Rasa manis yang dirasakannya membuat getaran mendobrak keinginan untuk memperdalam ciumannya. Dia menyesap bibir ranum atas dan bawah bergantian. Akhirnya membuat Deandra melenguh, tak sedikitpun kesempatan itu di sia-siakan. Dengan sengaja Verrel menggigit bibir Deandra karena tak kunjung terbuka. Akhirnya Deandra membuka mulutnya, Verrel langsung menyusupkan lidahnya kedalam. Dengan sabar Verrel menikmati setiap detik penyatuan bibir mereka, menciptakan keintiman yang tidak mereka rasakan beberapa hari ini.
Ciuman yang perlahan berubah menjadi liar terpaksa diakhiri oleh Deandra. Dia merasa sesak dan membutuhkan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
“Aku merindukanmu, sayang,” bisik Verrel seraya meniupkan napas hangat ditelinga Deandra. Bahkan tanpa malu ia menggigit mesra telinga itu.
...*...
Sementara disebuah rumah mewah, seorang wanita marah kepada putranya saat ia mendengar dari menantunya jika putranya tidak menyentuh istrinya lagi setelah malam itu saat Andini menaruh obat perangsang diminuman Rico. Dan itu semua karena Rico masih berambisi untuk merebut Deandra.
“Kau benar-benar gila Rico! Demi Tuhan kau sudah menikah. Kau harus punya keturunan!” seru Andini dengan nada meninggi.
“Rico tidak gila, ma. Mama yang lebih berambisi dengan pernikahan ini.”
“Rico!” Amran mengeram tapi Rico mengacuhkan laki-laki itu. “Ingat kau sudah menikah dan istrimu berasal dari keluarga terpandang.”
Kalimat yang keluar dari mulut Amran membuat Rico tertawa terbahak-bahak. Tawa yang terdengar mengejek dengan tatapan sinis pada Amran.
“Apa papa lupa atau pura-pura lupa? Apa yang kulakukan kurang lebih sama dengan yang papa lakukan pada Mama Ayu dan mama Andini?” tanya Rico dengan mendongakkan wajahnya.
“Apa maksudmu?” desis Amran tak terima dihina oleh anaknya.
“Bukankah papa tetap mengejar mama meskipun papa telah menikah dengan Mama Ayu? Keadaannya pun sama. Mama Ayu adalah orang terpandang sedangkan mama hanya berasal dari keluarga kelas bawah dan tak punya apa-apa,” ucap Rico.
Amran bungkam. Ucapan Rico bagaikan anak panah yang menghunjam tepat ke jantungnya.
“Ingat ya pa. Semua yang terjadi hari ini adalah kenyataan yang sama persis dengan dua puluh lima tahun lalu, atau mungkin lebih dari itu,”kata Rico lagi mengingatkan Amran pada masa itu. Masa dimana Rico belum lahir tapi ia banyak mendengar cerita dari orang lain dan tanpa sengaja ia dengar sendiri saat ia berusia belasan tahun.
“Kau tidak tahu apa-apa Rico. Tidak semua yang kau katakan itu benar.” elak Amran yang tak terima dicerca oleh putranya dengan kenyata
__ADS_1