TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 118. KEMBALILAH SAYANG


__ADS_3

“Ya, aku ingat. Tapi sudah lama sekali. Aku sudah lupa seperti apa wajahnya.” jawab Yahya.


“Kalau boleh tahu, siapa nama gadis tadi?” tanya Viktor ingin tahu karena merasa penasaran.


Yahya heran kenapa tiba-tiba Viktor menanyakan tentang Deandra. Dia memandang wajah pria dihadapannya berusaha memahami apa yang sedang terjadi.


“Deandra Ailsie.” jawab Yahya.


“De—deandra ailsie.” ulang Viktor dengan mulut menganga. Dua kali dia mengucapkan nama itu.


“Kenapa kau terkejut?” tanya Yahya heran.


“Sebentar.  Kau tunggu disini sebentar.” ucapnya sambil melangkah tergesa-gesa menuju ruang kerjanya.  Tak lama kemudian Viktor kembali dengan beberapa lembar kertas ditangannya.  Yahya yang mendapati keanehan sikap Viktor sejak tadi pun memperhatikan kertas yang dipegangnya.


“Apakah kau masih ingat nama almarhum istriku?” tanya Viktor lagi menaikkan satu alisnya.


“Deandra Ailsie!” jawab Yahya membelalakkan matanya.  “Apakah----”


"Ya, betul. Nama istriku DEANDRA AILSIE! Sama dengan nama gadis itu." kata Viktor seakan tak percaya akan kebetulan itu.


“Bagaimana mungkin namanya sama persis dengan nama istriku? Apa nama belakangnya?” tanya Viktor lagi sementara tangannya menyodorkan kertas berupa beberapa foto pada Yahya. Yahya mengeryitkan dahinya mencoba mengingat-ingat.


"Aku tidak tahu nama belakangnya, tapi nanti bisa kau tanyakan saat bertemu dengannya." kata Yahya. 'Apakah mungkin? Tapi namanya persis sama dengan nama istri Viktor.


“Coba kau lihat foto-foto itu.”


“Ha!…..foto siapa ini? Kenapa mirip sekali.” kata Yahya tak percaya melihat foto ditangannya.


“Itu putriku. Berliana Anastasia Hutama. Apa kau masih ingat?”

__ADS_1


“Kenapa wajahnya mirip sekali dengan cucu mantuku?” keduanya saling berpandangan heran.


...*...


Bip bip bip bip


Suara mesin itu memenuhi ruangan dimana Verrel terbaring.  Yahya dan Viktor merasa cemas karena sejak kemarin keadaan Verrel menurun dan pagi ini tubuh tak berdaya itu kembali menunjukkan penurunan yang sangat draktis.


“Tolong lakukan yang terbaik dokter. Selamatkan cucu saya.” ucap Yahya lirih.


“Saya akan berusaha semaksimal mungkin, Tuan.”


Terlihat dua orang perawat dan seorang dokter sedang sibuk menangani Verrel yang ngedrop, detak jantungnya melemah dan beberapa kali tubuhnya kejang-kejang.


Pikiran-pikiran buruk memenuhi benak Yahya, ia berusaha mengenyahkannya tapi tak bisa saat melihat kondisi cucunya.  Ketakutan mulai menjalar dalam dirinya, apalagi ada dokter lain yang datang bersama perawat dan melihat ketiga dokter saling berbincang sambil memeriksa keadaan Verrel.


...*...


Sementara Frans sedang mengendarai mobilnya menuju alamat yang diberikan oleh Yahya.  Terlihat Deandra dan Yuna duduk di jok belakang, Yuna yang memeluk Deandra dan terus menenangkannya karena majikannya itu masih saja menangis. “Nyonya harus tenang.” ucap Yuna mengusap bahu Deandra.  “Apakah suamiku akan sembuh, Bibi Yuna?”


“Tuan adalah orang yang kuat, Dia pasti akan baik-baik saja, nyonya.”


Setelah menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai disebuah villa mewah yang berada didaerah perbukitan.  Terlihat bangunan itu dijaga oleh beberapa pengawal.  Mobil Frans memasuki villa tersebut setelah petugas keamanan membukakan gerbang.


“Apakah suamiku ada disini?” tanya Deandra pada Frans.


“Benar sekali nyonya. Lihatlah itu Tuan Besar sudah menunggu.” jawabnya.


Deandra langsung menghambur keluar dari mobil dan setengah berlari kearah Yahya.

__ADS_1


“Hati-hati….jangan berlari nanti kamu jatuh, kamu lupa ya kalau kamu sedang mengandung?” kata Yahya sambil tersenyum.  Dia tahu jika cucu mantunya sudah tak sabar untuk bertemu dengan suaminya.  Deandra dan Viktor saling menatap, ada kabut yang muncul dimata pria tua itu. 


Dia seakan melihat bayangan seseorang pada gadis didepannya, tak sengaja matanya turun memandang kearah perut Deandra yang membuncit. Namun ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya, pikirnya.  Setelah Deandra menyalami Viktor, mereka pun masuk menuju kamar dimana tubuh Verrel terbaring.


Airmatanya mengalir deras saat melihat tubuh suaminya terbaring tak berdaya. Tangannya menyentuh wajah suaminya, dengan suara parau dan lirih deandra memanggil suaminya “Verrel….bangun sayang. Ini aku istrimu.” tangan Deandra menyentuh wajah, tangan lalu menggenggam tangan pria yang dicintainya.  Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Verrel dan membisikkan sesuatu.


...**...


Dalam kegelapan, seorang pria sedang mencari jalan pulang kerumahnya.  Namun tak ada cahaya sedikitpun yang bisa ia temukan disana.  Tak lama kemudian, terdengar suara rintihan dan permohonan ampun dari seorang wanita menggema.  Pria itu mengenali suara wanita itu.  Disela-sela suara wanita itu terdengar suara lain, suara seorang pria yang tertawa menggelegar mengejek dan merendahkan wanita itu.  “Deandra?”  Namun pria itu tak yakin, ia melangkah maju dan suara yang memilukan itu semakin terdengar jelas.  Dengan berat ia melangkahkan kakinya menapak jalan yang sebenarnya datar.  Ia tak sanggup melangkah, kakinya terasa sangat lemah, ia pun terjatuh dan berlutut dilantai yang terasa sangat dingin seperti es.


“Jangan lakukan ini, Tuan.  Saya mohon. Saya bukan j*lang, Tuan.”


“Ha...ha….ha….ha...Kalau begitu, aku sendiri yang akan menjadikanmu seorang j*lang.”


“Tolong kasihani saya, Tuan.”


“Kasihani? Tidak semudah itu untuk lepas dariku, sayang. Kau tahu? Aku sudah membayar mahal tubuhmu malam ini.  Jadi aku takkan melepaskanmu sebelum aku puas.  Kau tak akan pernah kulepaskan.”


Sepersekian detik pria itu menoleh ke kanan kiri.  Suara wanita itu terdengar semakin pilu.  Ia berusaha bangkit untuk mencari dimana suara itu berasal.  “Benarkah itu Deandra?” pria itu berseru.  Langkahnya melemah saat ia berjalan lebih jauh lagi.  Ia kembali jatuh dan berdiri lagi, namun ia melihat ada seberkas cahaya yang menyinari pemandangan yang memilukan didepan matanya.


Ia melihat sendiri kilas dimasa lalu saat dia memperlakukan seorang wanita dengan kasar.  Menghajar wanita itu dengan sabetan ikat pinggang dan membuangnya begitu saja.  Bayangan itu berlanjut pada saat ia menghukum seorang pelayan.. Pelayan itu memohon dan meronta-ronta.  Perlakuan pria itu berhenti kala seorang wanita menjerit.  Suara jeritan yang sama yang ia yakini adalah Deandra.  Tak berhenti disitu saja, ada dorongan yang menuntunya tertatih menuju sebuah pintu dan membuka pintu itu dan masuk.


Cahaya dibalik pintu lebih terang.  Ada seorang wanita berada dalam dekapan seorang pria yang ia kenal dengan sangat baik.  Pria itu adalah dirinya sendiri. Matanya mengerjap untuk memastikan dan saat menyadari dia mengenal mereka, ia tercekat.  Mereka saling berhadapan dan menatap dengan penuh kerinduan.


“Deandra.” Nama itu yang terucap dari bibirnya untuk kesekian kalinya.  Namun tak lama dia menjatuhkan kedua lututnya.  Sakit yang tak tertahankan menghantam kepalanya.  Bentakan, umpatan dan ancaman mengerikan yang pernah ia ucapkan kini membelitnya erat.


“Tidak! Tidak! Berhenti! Ini sakit sekali.” Ia merintih dalam keputusasaan.  Tak ada yang bisa ia lakukan dan tak ada yang bisa ia panggil untuk menolongnya.  Gelap disekelilingnya hingga seberkas cahaya datang dengan diiringi suara tangis seorang wanita.  Masih suara wanita yang sama.  Tidak salah lagi, suara sendu itu adalah suara istrinya Deandra.


Istriku ada disini, benar itu istriku Deandra. Aku sangat merindukanmu, sayang. Deandra.....Deandra.....dia memanggil istrinya dengan suara lirih.

__ADS_1


__ADS_2