
“Permisi, Nyonya. Ini ada paket untuk Nyonya.” kata seorang pelayan pada Andini. Pelayan itu menyerahkan sebuah kotak dibungkus sangat rapi.
“Dari siapa, bik?”
“Tidak tahu, nyonya. Tadi diantar oleh delivery.”
“Ya. Sudah.” kata Andini mengambil kotak itu dari tangan pelayan. Lalu dia membuka kota, betapa terkejutnya dia saat melihat isi kota adalah foto-foto dirinya bersama Rian selama satu minggu. Setiap foto dilengkapi tanggal dan jam, wajah Andini pucat pasi lalu dia bergegas masuk kedalam kamarnya. “Sial! Siapa yang mengirim foto-foto ini? Rian, brengsek kau!”
Andini mengambil ponselnya dari atas nakas lalu menghubungi Rian, tak juga dijawab setelah mencoba beberapa kali akhirnya Rian menjawab panggilan “Halo. Andini! Apa kau baik-baik saja?” tanya Rian dengan suara khawatir membuat Andini heran.
“Tidak usah sandiwara!”
“Apa maksudmu? Kau hilang saat kita berada di rest area, aku bahkan menghubungi polisi untuk mencarimu. Kau kemana saja, aku mengkhawatirkanmu?”
“Kau mencariku?” tanya Andini lagi masih heran dan tak mengerti.
“Iya, aku mencarimu. Kalau kau tak percaya kau bisa pergi ke kantor polisi. Aku membuat laporan orang hilang saat itu. Aku panik karena kau hilang. Ada dimana kau sekarang? Kemana kau selama ini?” cecar Rian yang berpura-pura tak tahu apa-apa.
“Aku ada dirumah. Jadi kau tidak tahu soal aku diculik?” tanya Andini.
“A—apa? Kau diculik? Siapa yang menculikmu dan kenapa? Kita ketemu sekarang, aku akan menemanimu ke kantor polisi untuk membuat keterangan,” ucap Rian menyakinkan Andini.
“Tidak usah! Semua sudah teratasi. Aku juga sudah berhasil bebas setelah bayar jaminan.”
“Tapi apa kau tidak mau penculikmu ditangkap? Aku ingin bertemu denganmu untuk memastikan kau baik-baik saja. Temui aku di restoran biasa.” kata Rian mengakhiri.
Andini mondar mandir berpikir ‘Jika Rian tidak tahu soal aku diculik, berarti dia tak ada hubungannya dengan penculikku, nyatanya dia melapor ke polisi. Sudahlah lebih baik kutemui dia sekarang. Mungkin dia bisa membantuku.’ pikir Andini.
Wanita itupun mengganti pakaiannya dan seperti biasa berpenampilan bak sosialita. Dia berjalan keluar rumah dan berpapasan dengan Amran yang baru pulang.
“Mama mau kemana lagi?” tanya Amran yang belakangan ini sering ditinggalkan oleh Andini.
“I—ini Pa. Mau ketemu teman-teman mama, barusan mereka telepon mau ketemuan di hotel tempat kami biasa arisan.” jawab Andini melingkarkan tangan keleher Amran lalu mengecup bibir suaminya. Tingkah menggodanya ini yang selalu membuat Amran tak bisa menolaknya.
__ADS_1
“Baiklah, tapi jangan pulang kelamaan. Kita jarang bertemu akhir-akhir ini, bukan?”
Iya, papa sayang. Aku akan pulang cepat sebelum makan malam ya.” ujar Andini lalu pergi.
Tak berapa lama, wanita itupun sampai di restoran yang dituju lalu berjalan masuk kesebuah ruang VIP. Setelah pelayan membukakan pintu, Andini masuk dan tersenyum kearah Rian yang sudah menunggunya. “Kau sudah lama menunggu?” tanya Andini.
“Tidak. Baru lima menit.”ucapnya sambil memindai Andini dari ujung rambut sampai kaki. “Kau baik-baik saja, bukan? Apakah mereka melukaimu?”
“Aduh Rian, kau terlalu banyak tanya dari tadi. Aku baik-baik saja, semua sudah beres hingga pagi ini.” kata Andini gelisah.
“Hingga pagi ini? Maksudmu apa?” tanya Rian.
“Iya tadi ada yang mengirimiku paket yang isinya foto-foto kebersamaan kita. Pasti kau yang mengirimnya padaku, iyakan?”
“Aku?Apa kau sudah gila? Buat apa aku lakukan itu ha? Kau pikir aku orang bodoh yang akan mempermalukan diriku sendiri?” ucap Rian dengan suara tak senang.
“Lantas? Kalau bukan kau, siapa lagi? Mana mungkin orang lain punya foto-foto kita!” dengus Andini kesal dan penuh kemarahan.
Notifikasi pesan masuk ke ponsel Andini dari nomor tak dikenal.
‘Oh ternyata kau mau minta tolong pada kekasih gelapmu itu? Aku akan kirimkan foto-fotomu bersama selingkuhanmu itu pada suamimu!
Sial! Gumam Andini. Dia melirik Rian yang sedari tadi menaruh tangannya diatas meja. ‘Jika bukan Rian yang mengirimiku paket tadi pagi dan pesan ini, lantas siapa?
“Ada apa? Sepertinya tadi ponselmu bunyi, lalu mukamu pucat. Kenapa?” tanya Rian.
“Ini, ada pesan masuk dari orang yang tak dikenal.” jawab Andini sedikit ragu.
“Lalu, apa mau orang itu?” tanya Rian lagi.
“Dia mengancam akan mengirimkan foto-foto kita pada suamiku.”
“Apa? Foto? Foto apa, maksudnya?” Rian semakin bingung dengan sikap Andini yang terus-terusan membahas foto.
__ADS_1
“Jangan berbohong Rian! Ini pasti ulahmu! Bagaimana mungkin orang lain punya foto dan video rekaman kita waktu itu. Selama seminggu kita bersama.” teriak Andini marah.
“Tungu...tunggu! Bisa kau jelaskan padaku? Aku tak mengerti maksudmu!” kata Rian.
“Ada yang mengirimkan ini padaku.” Andini menyodorkan amplop warna coklat pada Rian. Begitu melihat isinya, mata pria itu terbelalak.
“Siapa yang mengirimnya? Bagaimana orang itu bisa punya foto-foto ini?”
Melihat raut wajah Rian yang terkejut, Andini yakin jika Rian tidak tahu apa-apa. Berarti bukan dia yang mengirimkan foto-foto itu, pikirnya.
“Aku juga tidak tahu siapa pengirimnya, tidak ada nama pengirim di paket itu. Tadi pagi pelayan dirumahku yang berikan padaku, katanya di antar delivery.”
Rian memegang dagunya lalu berkata “Biasanya delivery meminta alamat pengirim. Apa pelayanmu ingat seperti apa delivery yang mengantar paket ini? Mungkin aku bisa melacaknya.” kata Rian dengan tatapan serius membuat Andini semakin yakin jika Rian sama sekali tidak terlibat dengan hal itu.
“Tanyakan pada pelayanmu, jika dia ingat seperti apa delivery yang mengirimkan paket ini.”
“Baiklah. Nanti akan kutanyakan.”
“Tapi ini benar-benar aneh. Apa maksudnya mengirimkan ini padamu? Jelas disini orang itu tidak menuliskan pesan apapun. Jika dia memang menginginkan uang, sudah pasti dia akan menghubungimu langsung atau setidaknya menulis pesan.”
“Benar juga katamu. Entahlah, apapun alasannya aku tidak mau suamiku mengetahui soal ini.”
“Lalu apa yang akan kau lakukan? Bagaimana jika mereka mengirimkannya pada suamimu?” tanya Rian penasaran.
“Eh! Tunggu, apa kau pikir mereka akan lakukan itu?” tanya Andini yang mulai ketakutan jika itu terjadi tamatlah riwayatnya.
“Bisa saja Andini! Mungkin mereka juga sudah mengirimnya pada suamimu. Lebih baik kau atasi masalah ini secepatnya. Jika kau butuh bantuanku, hubungi saja aku. Aku harus pergi sekarang ada urusan penting.” kata Rian lalu beranjak dan pergi meninggalkan Andini.
Didalam mobil yang sudah melaju, Rian menghubungi Darma “Dia sudah menerima paketnya. Tadi dia tunjukkan padaku, perempuan sialan itu sangat ketakutan. Kita harus bergerak cepat.”
“Kalau begitu, kau lakukan rencana berikutnya dan tetaplah jadi pria yang paling dia percaya. Buat perempuan sialan itu bergantung padamu.” ucap Darma. "Dengan begitu kau akan tahu semua gerak gerik dan rencananya. Laporkan semua padaku."
"Baiklah. Percayakan saja padaku, semua akan sesuai rencana." kata Rian menyeringai. Sambungan telepon terputus. Rian menghubungi anak buahnya dan memerintahkan untuk melanjutkan ke rencana berikutnya. 'Sampai semua yang kau miliki habis Andini! Kau akan berhutang sangat banyak padaku!" gumam Rian sambil tertawa kencang.
__ADS_1