
Didalam penjara, Rico banyak termenung dan berdiam diri. Sudah beberapa hari dia tak melihat istrinya datang berkunjung. Kedua orangtuanya pun tak pernah lagi datang menjenguknya, hatinya sangat sakit merasakan kesendirian tanpa ada lagi yang peduli padanya. Dia merindukan semua yang dia miliki dulu, kedua orangtua dan Iva istrinya. ‘Kemana Iva? Kenapa sudah beberapa hari ini dia tak pernah lagi datang menjengukku? Apakah dia benar-benar meninggalkanku? Oh…..tidak…..tidak…..tidak mungkin Iva meninggalkanku. Dia sangat mencintaiku dan sudah berjanji akan menungguku. Tapi apakah dia sanggup menungguku? Atau, jangan-jangan Iva sakit atau ada hal buruk terjadi padanya? Aku harus cari tahu kemana Iva.’ Benaknya dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan dan pikiran yang membuatnya semakin kacau.
Rico memanggil seorang petugas yang kebetulan berjaga disana, dia berniat meminjam telepon untuk menghubungi istrinya. Sang petugas memberinya ijin memakai telepon sebentar karena selama ini Rico memang tak pernah memakai jatah teleponnya. Dia berusaha menghubungi ponsel istrinya namun tak tersambung dan nomor itu sudah tak aktif. Rico semakin kebingungan “Maaf pak. Telepon istri saya tidak tersambung. Saya coba telepon papa saya.” pintanya yang diiyakan oleh si petugas. Lama Rico menunggu, nada sambung terdengar namun tak dijawab. Saat dia hendak mematikan telepon, tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan dari seberang sana. “Halo.”
“Hemmm…..halo aku ingin bicara dengan papa. Ini siapa?”
“Saya Ayu, istrinya Amran. Kau siapa?”
“Oh mama Ayu ini aku Rico. Kenapa ponsel papa ada sama mama Ayu? Apakah papa ada bersama mama?”
“Ya, ponsel mas Amran ada padaku. Mas Amran tidak ada disini, maaf ya Rico sebaiknya kau jangan lagi menghubungi Mas Amran toh dia bukan ayah kandungmu dan supaya kau tahu dia sekarang ada dirumah sakit jiwa sedang dalam perawatan. Jadi tak mungkin kau bicara dengannya.”
“Apa? Mama Ayu bohong, bukan? Mana mungkin papa masuk rumah sakit jiwa.”
__ADS_1
“Terserah! Aku sudah sampaikan yang sebenarnya padamu. Sejak kematian ibumu dan semua masalah yang beruntun menimpanya apalagi setelah dia tahu bahwa kau bukan anak kandungnya, dia jadi stress dan frustasi. Karena dia selalu mengamuk dan melukai orang lain jadi kami mengirimnya kerumah sakit jiwa untuk dirawat.” kata Ayu menjelaskan, samar-samar terdengar suara tawa kecil Nathan dan Naomi, Rico mendengar suara-suara kecil itu.
“Sudah dulu ya Rico, itu suara cucuku anak kembar Verrel.”
Ayu yang tak ingin berlama-lama bicara dengan Rico langsung memutuskan sambungan telepon. Sementara Rico terpaku dan membeku tak bergeming ditempatnya berdiri mendengar semua kalimat yang diucapkan Ayu tadi di telepon. Apa? Deandra melahirkan anak kembar? Dan dia belum bisa benar-benar mencerna dengan baik, papa masuk rumah sakit jiwa? Mama sudah meninggal? Dan Iva…..apakah Iva sudah pergi meninggalkanku karena semua ini? Buliran kristal jatuh dari sudut matanya, jadi papa sudah tahu kalau aku bukan anaknya? Sudah sejak lama Rico tahu jika Amran bukan ayah kandungnya tapi dia dan ibunya menyembunyikan itu karena takut jika Rico tak akan bisa mendapatkan warisan dari keluarga Ceyhan. Tapi sekarang semuanya sudah terungkap, bahkan Yahya sudah membuat pernyataan ke publik bahwa Rico bukan keturunan Ceyhan dan menghapus nama keluarga itu dari nama Rico.
Tubuhnya lemas saat petugas membawanya kembali ke sel. Rico luruh di lantai penjara yang dingin, dia menangis tanpa suara. Teman satu selnya hanya menatapnya bingung dan saling pandang, melihat situasi Rico yang berbeda. Biasanya pria itu masih bersikap arogan dan membanggakan dirinya pada tahanan lain bahwa dia adalah anggota keluarga Ceyhan. Hal itu membuatnya aman didalam penjara tak ada tahanan yang berani melukainya. Tapi, bagaimana jika mereka tahu bahwa Rico bukanlah anggota keluarga Ceyhan lagi, hidupnya pasti menderita didalam sana. ‘Iva sayang….dimana kau? Aku sangat merindukanmu sayang.’ gumamnya lirih.
...*...
Disebuah kamar rawat, terlihat seorang pria yang menatap nanar keluar jendela kamarnya. Ruangan berwarna serba putih itu dihuni Amran sejak beberapa hari lalu. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya melamun dan menangis, terkadang dia tertawa-tawa sendiri sambil menatap dinding seakan-akan ada seseorang disana.
Ayu yang berdiri didepan pintu menatap miris punggung pria yang sudah memberinya seorang putra itu. Rasa iba menyeruak hati Ayu, bagaimanapun dia masih manusia yang punya hati nurani saat melihat seseorang yang dulunya tegar dan angkuh namun kini tak berdaya sudah kehilangan kewarasannya. Tampak pelayan memasukkan barang bawaan mereka dan meletakkannya diatas meja. Tampak ada pergerakan dari Amran yang terlihat mulai gelisah. Pria itu tampak mulau meracau tak jelas sambil tertawa terbahak-bahak, racauannya tak jelas dengan keringat yang telah membasahi wajahnya. Melihat itu, Ayu berjalan mendekat perlahan-lahan tanpa mau mengganggu apalgi membuat pria itu terkejut akan kehadirannya. Ia menyentuh bahu Amran untuk menyadarkan bahwa ada orang lain diruangan itu.
__ADS_1
“Mas, apa kabarmu? Aku datang menjengukmu.”
Perlahan Amran menoleh dan menatap Ayu sambil mengerjapkan matanya berulang kali hingga ia bisa melihat dengan jelas pada wajah panik Ayu. Jujur saja Ayu merasa sedikit takut namun ia berusaha tenang agar tak terjadi hal yang tak diinginkan. Menurut perawat yang mengurus Amran, pria itu sudah jarang mengamuk, dia lebih banyak menangis dan tertawa-tawa sendirian.
“Kau? Kau siapa ya?” gumam pria itu ragu dan bola matanya terlihat gelisah melihat ada beberapa orang diruangannya. Ayu langsung meminta pelayan keluar dari ruangan itu dan hanya dua pengawal berada didalam sedangkan tiga pengawal lainnya menunggu di luar ruangan.
“Ini aku, Ayu istrimu.” ucapnya lembut “Aku bawakan makanan kesukaanmu, kau mau makan sekarang?”
“Aku dimana?” tanya Amran dengan suara lirih. Matanya tertuju pada seluruh ruangan dengan tatapan kosong.
“Mas.”
“Jangan mendekat! Kau itu siapaku mau dekat-dekat!” seru Amran berniat kembali berdiri didepan jendela besar kamarnya. Ayu tanpa sadar berlari mendekatinya dan memeluk tubuh pria paruh baya itu dari belakang. Amran terdiam kaku sambil memandang keluar jendela sambil terus meracau tak jelas dan tertawa-tawa. Dia bahkan tak peduli pada wanita yang memeluknya dari belakang, Amran hanya menatap lurus kedepan melihat beberapa pasien yang berjalan-jalan dihalaman bersama perawat mereka.
__ADS_1
“Kenapa kau harus berakhir seperti ini, Mas? Seandainya dulu kau tak memilih jalan yang salah, mungkin sekarang kita bahagia bersama cucu-cucu kita. Sekarang kau bahkan berada disini sendirian, tak punya apa-apa lagi. Bersyukurlah, kami masih peduli padamu.” gumam Ayu lirih.