
“BREAKING NEWS” Ledakan dasyat telah terjadi di sebuah gudang yang berlokasi di pinggir kota. Gudang besar yang diketahui adalah milik dari Ceyhan Corp itu meledak pada pukul 12 malam dan dilaporkan ada enam korban jiwa, dan puluhan orang terluka. Diperkirakan kerugian mencapai ratusan milyar rupiah. Pihak kepolisian sedang mengusut kejadian tersebut.” Semua stasiun tv menyiarkan berita yang sama.
Begitulah berita heboh pagi ini. Gudang besar yang memuat produk-produk yang siap di ekspor dalam jumlah besar itu, meledak dan mengakibatkan kerugian milyaran rupiah. Verrel yang mendapat laporan dari sang asisten tadi malam, langsung bergerak menuju tempat kejadian, dia berada disana sejak tadi malam. Pergi tanpa memberitahukan istrinya yang sedang terlelap.
Wajah tampan itu terlihat sangat mengerikan. “Arrghhhhh!” teriaknya penuh emosi melihat gudang penyimpanan miliknya hancur. Sebenarnya dia tidak terlalu mempermasalahkan gedung yang hancur, tapi adanya korban jiwa membuat emosinya memuncak, rahangnya mengeras. Melihat itu tak ada satupun yang berani menatapnya.
“FRANS!” teriaknya. Sang asisten pun terkejut.
“Ya, Tuan. Saya siap menerima perintah.”
“Kemana semua petugas keamanan tadi malam?”
“Mereka semua pingsan, Tuan. Ada beberapa yang ditemukan tergeletak dengan tubuh babak belur. Melihat ketatnya pengamanan dilingkungan ini dan gudang kita, sepertinya pelakunya sudah mempersiapkan dengan matang sebelumnya. Bom yang ditemukan juga memiliki kekuatan dasyat. Anak buah saya sedang menyelidiki, Tuan.” kata Frans menjelaskan.
“Cari pelakunya dan seret padaku!” perintah Verrel. “Sudah mulai ada yang berani bermain-main denganku!” wajahnya terlihat sangat mengerikan. Verrel melangkah menuju mobilnya diikuti sang asisten dan pengawal. “Frans, kumpulkan semua untuk rapat di rumah kedua sekarang!” perintah Verrel. ‘Aku tidak bisa membiarkan ini, berani-beraninya menggangguku.”
Ia meraih ponsel dan menghubungi Yuna. Memberikan beberapa tugas untuk Yuna dan petugas keamanan dirumah utama.
“Halo,” terdengar suara seorang pria.
“Apa kau sedang sibuk?” tanya Verrel.
“Tidak. Aku justru mau menghubungimu, tentang ledakan digudang,” kata pria yang tak lain adalah sepupu Verrel yang bernama Arion.
“Kita berkumpul di tempat biasa sekarang.”
“Baiklah. Aku akan beritahukan yang lain,”
...**...
Bangunan itu terlihat sepi, dan memang selalu begitu jika dilihat dari luar. Tapi didalamnya selalu ada aktivitas dan pengamanan disekeliling begitu ketat. Didalam ruangan besar dirumah itu terdengar teriakan marah dari seorang pria. Empat pria yang berdiri dengan wajah menunduk mendengar semua umpatan bernada kasar yang ditujukan pada mereka.
Wajah merekapun babak belur akibat dihajar oleh Verrel yang melampiaskan semua kemarahannya pada keempat pria bernasib malang itu. Setelah puas meluapkan amarahnya, dia mengibaskan tangan mengusir mereka. “Frans, berikan santunan pada keluarga korban. Pastikan masa depan anak-anak mereka terjamin.”ucap Verrel. “Baik. Tuan.”
Helaan napas kasar terdengar dari Verrel yang sejak tadi terdengar mengomel, membuat semua orang yang hadir disana terdiam melihat kemarahan sang Tuan Besar. Arion yang sedari tadi berdiri di sebelah Verrel terlihat tidak jauh berbeda dengan sepupunya itu. Wajah mengerikan yang dipenuhi seringai yang siap mencabik-cabik musuhnya.
__ADS_1
Arion yang selalu terlihat tersenyum dan berwajah tenang, namun kini terlihat seperti sosok yang berbeda. Disamping Arion berdiri seorang pria tampan yang terlihat lebih muda, dia adalah adik laki-laki Arion yang bernama William. Ketiga pria itu adalah cucu dari Yahya Magani Ceyhan. Arion dan William adalah cucu Yahya dari anak perempuannya bernama Lusiana yang menikah dengan pria asing.
“Maaf, Tuan. Anda harus lihat ini,” kata Frans menyerahkan ipad ditangannya pada Verrel. Arion dan William mendekat dan mengarahkan pandangan ke layar ipad. Rahangnya mengeras dan matanya menyipit.
“Temukan tempat persembunyian mereka!” perintahnya.
“Kak, serahkan padaku. Aku dan anak buahku yang tangani,” ucap William yang langsung memberi isyarat pada anak buahnya untuk mengikutinya ke ruangan lain.
William yang seminggu lalu berada ditanah air, atas perintah sang kakek yang tak bisa ditolaknya. Mengingat keamanan keluarga saat ini terancam, maka William pun pulang. Ayah Arion dan William berasal dari Amerika. Kini ketiga cucu laki-laki Tuan Yahya itu bersatu untuk melawan siapapun yang berani mengganggu keluarga mereka.
Verrel, Arion dan Frans kini duduk disofa berbincang serius.
“Apakah kau berpikir yang sama?” tanya Arion.
“Maksudmu,” jawab Verrel singkat.
“Apakah pelakunya adalah orang yang sama yang dulu pernah ingin menghancurkan keluarga kita? Tidak mungkin orang lain bukan?”
“Tidak mungkin. Karena mereka semuanya sudah mampus. Apa kau pikir mereka bangkit dari kubur?”
“Frans. Siapkan villa istriku.” perintah Verrel pada asistennya yang langsung menggangguk dan pergi bersama beberapa orang anak buahnya.
“Bagaimana keadaan Deandra?” tanya Arion.
“Dia baik-baik saja. Aku mengkhawatirkannya,”
“Itu wajar. Dia istrimu. Bagaimanapun musuhmu akan mengincarnya untuk menghancurkanmu.”
“Suruh Irene datang kerumah, agar istriku tak jenuh,”
“Aku sudah katakan padanya, mungkin dia akan kesana bersama anakku. Opa dan Mama pasti senang kalau semua berkumpul dirumah utama.
Dret dret dret
Ponsel Verrel berdering nyaring. Ada panggilan masuk dari Jack, orang kepercayaannya di lapangan.
__ADS_1
“Halo, “
“Tuan, anak buahku sudah menemukan lokasi mobil itu. Saya akan kirimkan sekarang,”
“Kerja bagus. Kalian cepat bergerak dan amati lokasi.”
“Baik, Tuan.”
“Jack! Kirim anak buahmu yang lain ke villa. Pastikan villa aman, tempatkan anak buahmu disetiap sudut villa dan cek sistem keamanan yang baru sudah terpasang.”
“Baik, Tuan. Saya akan laksanakan,”
“Jack memang bisa diandalkan. Dia punya anak buah yang bisa diandalkan. Lalu apa rencanamu sekarang?” tanya Arion.
“Pulang.” jawab Verrel singkat.
“Ha..ha...ha….ha. Sepertinya kau tidak bisa jauh-jauh dari Dea,” goda Arion yang tahu betul seperti apa sepupunya itu.
“Dia sedang hamil. Tadi malam aku pergi tanpa pamit,”
“Ehmm….apa kau takut dia akan marah?” terlihat segaris senyum diwajah arion. Dia senang melihat Verrel yang mulai berubah, kembali seperti dulu.
“Kau tahu bagaimana wanita sedang hamil, bukan?”
“Ha..ha..ha. Apa istrimu sangat menakutkan?” kata Arion sembari tertawa terbahak-bahak. “Aku senang kalau Deandra bisa menaklukkanmu,” ucapnya. Verrel hanya terdiam tak menjawab.
"Kau tahu, jika anakmu kelak adalah pewaris keluarga ini? Kau tidak boleh lengah, lihat apa yang terjadi sekarang. Tiba-tiba musuh mulai bermunculan, sepertinya ada yang ingin menghancurkan keluarga ini."
"Mungkin kita harus bicara dengan opa. Mungkin dia bisa membantu kita dengan informasi yang dia tahu."
"Ya, baiklah. Kita harus menyusun strategi. Bagaimana kalau kita berkumpul dirumah utama nanti malam?"
"Tapi--" Verrel teringat istrinya. Bagaimana kalau istrinya tahu kalau sedang ada masalah? Dia tidak ingin membuat istrinya khawatir dan tertekan.
"Ada baiknya Deandra juga tahu. Supaya dia bisa jaga diri." kata Arion yang mengerti apa yang sedang dipikirkan sepupunya itu. Dia menatap Verrel menunggu jawaban. Pria itu hanya mengangguk.
__ADS_1