
Ketiga pria itu mulai pembicaraan mereka seputar investasi bisnis yang akan dijalin. Ketiganya membahas soal kerjasama bisnis mereka. Sementara tiga wanita lainnya duduk di sofa yang berada dekat dengan Anggara. Salah seorang gadis itu selalu menatap Verrel tanpa berkedip. Dia tahu siapa pria itu, pria yang dikenal sebagai seorang CEO kejam dan sadis, juga seorang penguasa ranjang yang diminati banyak wanita meskipun setelah bertemu Deandra, pria itu sudah tidak pernah lagi melirik wanita lain.
Verrel meraih gelasnya dan menyesap cairan mahal digelas itu. Ia tampak memejamkan mata beberapa saat menikmati rasa hangat yang membasahi tenggorokannya. Pria itu membuka matanya kembali. Semua sikap Verrel tidak lepas dari tatapan wanita malam didepannya.
“Sssttt…..apa yang kau lihat?” bisik seorang gadis pada gadis cantik berdress hitam seksi yang sedari tadi memandang Verrel.
“Aku melihat pria itu. Dia sangat tampan dan tubuhnya bagus.”
“Oh...itu namanya Tuan Verrel. Pria terkaya di Asia dan dijuluki sebagai penguasa ranjang. Dengar-dengar sih, semua wanita yang pernah dipakainya bilang kalau pria itu sangat perkasa.”
“Oh ya? Sangat menarik, aku ingin menemaninya malam ini dan memberinya pelayanan yang paling memuaskan.”
“Tidak segampang itu. Rata-rata wanita yang dipakainya selalu berakhir buruk. Dan dia juga hanya memakai wanita sekali saja. Dia tidak suka memakai wanita untuk kedua kalinya,unik ya? Tapi berdasarkan rumor yang kudengar dari wanita lainnya, dia selalu membayar mahal.”
“Aku akan mendapatkannya malam ini, pasti rasanya luar biasa bisa merasakan kekuatan pria sepertinya.” bisik gadis itu pada temannya.
“Coba saja…..kalau aku takut, kudengar pria itu sadis. Lagipula dia sudah menikah dan gosipnya sih setelah menikah dia tidak pernah lagi melirik wanita lain.”
“Aku jadi semakin tertarik untuk bisa mendapatkan perhatiannya.” ucap gadis itu penuh percaya diri. Saat dia melihat ketiga pria itu sudah selesai dengan urusan bisnis mereka, dia melihat Frans yang pamit mau ke toilet. Dia bersama dua gadis lainnya kembali menuangkan minuman digelas tamunya. Saat baru saja menuangkan minuman digelas Verrel, tiba-tiba gadis itu menjatuhkan dirinya ke pangkuan Verrel membuat pria itu terkejut dan reflek mendorong tubuh gadis itu hingga terjatuh dilantai.
“Berani sekali kau!” bentak Verrel.
“Tenang dulu Tuan Verrel, mereka hanya menjalankan tugasnya saja malam ini untuk melayani tamu diruangan ini dan anda adalah tamuku.”
“Maaf Tuan Anggara mungkin anda sudah salah menilai saya. Tapi saya tidak berminat dengan wanita-wanita ini.”
“Sabar Tuan Verrel. Jangan terlalu tegang, nikmati saja malam ini dan jika anda tidak suka dengan mereka juga tidak apa-apa.” kata Anggara berusaha menenangkan Verrel lalu dia melirik gadis itu seakan memberi isyarat.
__ADS_1
“Tuan maafkan saya atas kesalahan saya tadi. Tapi tolong ijinkan saya melayani Tuan malam ini, sudah tugas saya untuk melayani Tuan dan memuaskan kebutuhan Tuan.” kata gadis itu dengan percaya diri yang tinggi.
“Apa kau bilang? Melayani? Aku tidak butuh dilayani olehmu ataupun siapapun disini. Aku sudah punya istri dirumah yang bisa melayaniku.”
“Baiklah Tuan, saya mengerti. Biarkan saya menemani Tuan minum, bagaimana?” tanya perempuan itu masih dengan rasa percaya diri bahwa Verrel akan tertarik pada pesonanya. Lalu gadis itu mencoba lagi keberuntungannya dengan duduk disebelah Verrel.
“Siapa yang ijinkan kau duduk disini,ha?” Bentak Verrel kesal. “Pergi sana! Aku tidak tertarik pada kalian! Istriku jauh lebih cantik dan seksi daripada kalian!” Verrel bangkit dari duduknya bersamaan dengan Frans yang masuk kembali keruangan itu, wajah Frans pias melihat bosnya marah-marah. “Ada apa ini?” tanya Frans.
“Kita pergi! Terimakasih kasih Tuan Anggara atas undnagan anda malam ini. Lain kali tidak perlu menawarkan wanita manapun pada saya karena saya tidak tertarik!”
“Sekali lagi maafkan saya Tuan Verrel sudah membuat anda tidak nyaman.” kata Anggara berusaha bersikap baik padahal dalam hatinya dia merasa kesal. Dia tidak percaya jika orang yang dijuluki penguasa ranjang akan menolak gadis-gadis muda dan cantik yang disodorkannya. Ucapan Verrel membuatnya terkejut, tidak menyangka jika pria itu tidak tertarik sama sekali dengan gadis-gadis yang disodorkan oleh Anggara.
“Kalian itu tidak ada apa-apanya dengan istriku!” jari telunjuk Verrel mengarah ke wajah gadis itu. “Istriku jauh lebih hebat dari kau! Menyingkirlah!” ucap Verrel mendorong tubuh gadis itu yang dia rasa menghalangi jalannya. Verrel pun keluar dari ruangan itu diikuti Frans. Dia melirik jam ditangannya, masih menunjukkan pukul delapan malam. Tanpa bicara, kedua pria itu meluncur meninggalkan club malam mewah itu dengan marah.
“Frans, kau batalkan kerjasama dengan Tuan Anggara!” seru Verrel.
“Batalkan kubilang! Aku tidak peduli siapapun dia. Apa yang dipikirkan pria itu? Apakah dia pikir aku bisa disogok dengan menyuguhi gadis-gadis muda?”
“Baiklah Tuan. Besok akan saya handle semuanya.”
“Oh satu hal lagi, jangan pernah katakan apapun pada istriku soal kejadian malam ini. Bisa-bisa dia merajuk dan mengacuhkanku berbulan-bulan.”
Ucapan Verrel membuat Frans berusaha menahan tawa, sudah sering dia melihat bosnya itu uring-uringan hanya karena Deandra merajuk dan butuh waktu lama untuk merayunya.
“Apa kau mau tertawa Frans?”
“Tidak, Tuan.”
__ADS_1
Verrel mengirimkan pesan pada istrinya bahwa dia sedang dalam perjalanan pulang. Dia takut sang nyonya besar akan mengamuk.
Sesampainya didepan rumah, ternyata Deandra dan Rosa sudah berdiri didepan pintu menyambut mereka dengan kedua tangan terlipat didepan dada, senyum semanis madu terpancar dari wajah keduanya. Verrel menelan saliva melihat sikap istrinya, jelas sikap itu membuatnya takut jika istrinya sudah tahu apa yang terjadi.
“Selamat malam suamiku sayang.” tangan Deandra menggandeng lengan Verrel dan masuk kedalam rumah. Hal yang sama juga terjadi pada Rosa.
“Hai sayang. Untung sudah pulang dan tepat waktu. Kau lapar ya? Aku sudah panasin makanannya, kau makan dulu ya papa Lily?”
Frans menelan salivanya mendengar kalimat yang meluncur dari mulut istrinya. “Boleh aku menanyakan sesuatu padamu?” tanya Frans.
“Boleh. Mau tanya apa sayangku?” ucap Rosa manja sambil bergelayut dilengan suaminya.
“Nanti saja, kita makan malam dulu ya aku sudah lapar.” jawab Frans. Saat mereka memasuki ruang makan sudah ada Verrel dan Deandra disana. Kedua pria itu saling lirik, bingung melihat sikap kedua istri mereka.
Makan malam berjalan lancar dan hening, tak ada satupun yang bertanya dan membahas tentang apa yang terjadi di club. Hanya dening alat makan saja yang terdengar, selesai makan malam mereka langsung masuk ke kamar masing-masing. Malam ini Frans dan Rosa menempati kamar tamu dilantai satu.
Deandra duduk bersandar diujung ranjang menunggu Verrel selesai mandi. Pria itu keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit dipinggang lalu berjalan mendekati istrinya.
“Mommy belum tidur, sayang?”
“Hemmm…...bagaimana meetingnya?” cecar Deandra.
“Meeting lancar tapi aku meminta Frans agar membatalkan kerjasama dengan Tuan Anggara. Besok Frans akan mengurus semuanya.” jawab Verrel.
“Batal? Kenapa? Bukankah kau bilang dia adalah klien lama dan ingin berinvestasi untuk proyek baru? Lalu kenapa tiba-tiba kau ingin membatalkan kerjasamanya? Apa yang terjadi tadi di club? Apa kau ditemani oleh gadis-gadis cantik? Biasanya begitu kalau di club, iyakan?”
Verrel menghela napas dalam-dalam lalu menghembuskannya.
__ADS_1