
Sebanyak sepuluh orang anak buah dikerahkan Jack untuk menangkap si tukang service ac yang dipercaya adalah penyusup. Saat ini mereka sudah tiba disebuah kawasan perumahan yang padat penduduk berada di pinggiran kota sesuai dengan petunjuk.
Diruamg tamu sebuah rumah beberapa pekerja yang baru saja selesai memperbaiki ac tampak kebingungan.
“Kemana sih si Dayat dari tadi ke toilet ngak balik-balik?” tanya seorang pria.
“Sakit perut kali kang! Bentar lagi juga balik!”
“Wah enak bener tuh orang, kita semua yang kerja dari tadi, dianya baru kerja bentar dah ke toilet. Entar gajinya sama!” keluh seorang rekan lainnya.
“Asep! Pergi sana tengokin tuh orang masih hidup kagak. Sudah satu jam ke toilet!”
“Iya….iya aku liat deh. Nih kerjaan juga dah mau kelar tuh orang belum nongol juga.” ujar Asep kesal lalu berlalu pergi.
Tampak dua mobil berhenti didepan sebuah rumah, beberapa pria berpakaian serba hitam dengan tubuh kekar memasuki rumah itu dengan langkah tegas dengan ekspresi kejam.
“Hei...apa-apaan ini masuk rumah orang tidak permisi.” ujar seorang pria paruh baya. Namun para pria itu tak mengindahkan langsung masuk kedalam rumah dan mulai menggeledah rumah tersebut.
“Hei kau sini!”
“I—iya mas. Ada apa?” tanya seorang pria ketakutan.
“Apa kau kenal pria ini?” sambil menunjukkan sebuah foto.
“Kenal….”
Belum sempat si pria meneruskan kalimatnya, pria paruh baya pemilik rumah langsung berkata, “Saya akan telepon polisi sekarang juga! Kalian menerobos masuk rumah orang tanpa ijin!” teriak pria paruh baya pemilik rumah.
“Silahkan telepon kalau begitu! Kami kesini mau cari orang!” tatapan pria itu sangat tajam membuat si pemilik rumah bergidik ngeri.
“Ini rumah saya, tidak ada orang lain yang tinggal disini. Mungkin kalian salah alamat.”
“Apa lihat pria ini? Namanya Dayat.”
“Ya, si tukang servis ac.” jawab pria paruh baya. "Ada apa dengan orang itu?"
Namun para pengawal tak menjawab pertanyaan si pemilik rumah.
__ADS_1
“I—itu. Dayat ke toilet dari tadi belum balik. Si Asep lagi pergi manggil dia.”
Pria tegap itupun bergegas melangkah menuju toilet yang dimaksudkan bersama si pemilik rumah. Terlihat Asep yang sedang mengetuk pintu toilet sambil memanggil nama seseorang.
“Dayat! Dayat! Lama amat sih didalam. Udah kelar belom?”
“Apa orangnya ada didalam?”
“Seharusnya ada, tapi dari tadi saya panggil-panggil tidak ada sahutan.” jawab Asep melirik beberapa pria bertubuh kekar yang muncul disana.
Tiba-tiba pria itu menendang pintu toilet, sontak Asep berteriak kaget. “Aaaahhhh……..”
Pria paruh baya pemilik rumah pun sama terkejutnya, matanya terbelalak sambil memegangi dada. Terlihat tubuh seorang pria tergeletak di lantai kamar mandi berlumuran darah dan nampak beberapa luka lebam diwajah. Isi perutnya terburai berceceran dilantai kamar mandi.
Asep sontak jatuh pingsan, teriakan terdengar sampai ke ruang depan hingga beberapa orang yang sedang membereskan peralatan servis ac lari menuju kamar mandi. Semua orang terkejut melihat rekan kerjanya tergeletak tak bernyawa dengan isi perut bercecera,
“Cepat telepon polisi!” ujar pria berbaju hitam.
Sedangkan rekannya yang lain menghubungi Bara.
“Halo Pak Bara, kami sudah berada dilokasi dan menemukan si pria itu. Tapi dia sudah mati menggenaskan!”
“Apa? Jangan sentuh apapun disana dan selidiki siapa yang membunuhnya! Siapapun dalangnya berarti sudah tahu kalau kita sedang mengejar mereka. Saat polisi tiba disana jangan ada yang gegabah. Cari tahu semua informasi yang kalian rasa bisa bermanfaat untuk kita.”
“Baik, pak.”
“Satu hal lagi. Amankan ponselnya, mungkin disana ada bukti.”
“Siap dilaksanakan!”
Lalu pria itu memberitahukan pada rekannya yang lain sesuai perintah dari Bara.
“Apa rumah ini punya cctv?” tanya seorang pengawal pada pemilik rumah.
“Ada tapi hanya diruang depan dan ruang keluarga yang menghadap kamar. Ada satu cctv dibelakang rumah saja.” jelas si pemilik rumah masih dengan wajah pucat.
“Kenapa pasang cctv hanya ditempat itu saja? Kenapa tidak sekalian dipasangi diseluruh area rumah?”
__ADS_1
“Saya tidak paham, itu dulu juga anak saya yang pasang.” ujar pemilik rumah. Rumah itu bukanlah rumah mewah yang besar dan luas. Hanya rumah dengan tiga kamar tidur dengan halaman samping dan belakang yang dikelilingi pagar rendah.
Belakang rumah itu berbatasan dengan sebuah sungai kecil. Rumah itu berada dikawasan padat penduduk dan merupakan rumah terbesar dilingkungannya.
Tak berapa lama polisi tiba ditempat kejadian, sementara para pengawal berusaha mengusir warga yang berdatangan ke lokasi kejadian. “Kalian ini siapa?” tanya seorang anggota polisi.
“Kami pengawal Tuan Verrel Ceyhan. Bos kami pemilik Ceyhan Group.”
Mendengar ucapan pengawal itu, wajah para polisi pun kaget. Tak berani banyak bertanya.
“Nanti kami jelaskan, sebaiknya anda langsung memeriksa mayat orang itu.”
Sementara dua orang pengawal memeriksa rekaman CCTV bersama pemilik rumah namun tidak menemui kejanggalan. Tidak terlihat ada orang lain yang masuk kedalam rumah tersebut selain para pekerja servis ac dan pemilik rumah. Ini sangat aneh!
Bagaimana mungkin seseorang terbunuh dirumah itu. Di awal rekaman tampak Dayat pergi ke kamar mandi di belakang rumah sendirian dan setelahnya tidak tampak keluar lagi.
Polisi dan tim forensik langsung mengevakuasi jenazah. Warga setempat yang sudah berkumpul diluar rumah pun heran karena selama ini lingkungan mereka aman dan tidak pernah ada terjadi tindakan kriminal namun tiba-tiba malah ada pembunuhan. Pemilik rumah masih syok, terduduk lesu di sofa rumahnya dengan tubuh gemetar dan wajah pucat pasi.
"Apa ada menemukan sesuatu?" tanya seorang pengawal pada rekannya.
"Tunggu sampai pihak berwajib pergi, ada yang janggal di kamar mandi itu tapi kita tidak bisa bergerak sekarang."
"Biarkan pihak berwajib melakukan tugas mereka setelah itu kita kembali kesini. Panggil beberapa orang datang kesini berjaga-jaga. Jangan sampai ada orang yang masuk."
"Baiklah. Aku telepon pak Bara dulu."
Tim dari kepolisian memeriksa TKP namun tidak menemukan bukti apapun. Namun anak buah Bara yang berada disana pun tidak tinggal diam. Mereka adalah orang-orang terlatih dan berpengalaman. Mereka mendapati beberapi sidik jari di tempat yang berbeda, polisi pun segera memerintahkan semua orang yang berada dirumah tersebut pada saat kejadian untuk dibawa ke kantor polisi untuk menjalani pemeriksaan.
Bara memasuki kantor polisi setelah menerima panggilan telepon dari anak buahnya.
“Halo Pak Bara, maaf sudah mengganggu waktu anda.” ucap pimpinan polisi.
“Apa sudah ada petunjuk?” tanya Bara tanpa basa basi. Ke sepuluh anak buahnya sudah dilepaskan setelah selesai pemeriksaan.
“Belum ada. Hanya beberapa sidik jari yang ditemukan anak buah Pak Bara yang sedang kami cek kecocokannya.”
“Apa begini cara kerja kalian? Sangat lambat disaat ada korban? Korban itu adalah orang yang kami cari karena dia menyusup ke kediaman Tuan Verrel. Dia bukan tukang servis ac biasa tapi dia adalah orang bayaran. Tapi sayang, sebelum kami menangkapnya dia malah sudah mati.”
__ADS_1