
Hari ini ibu dan bayinya sudah diperbolehkan pulang. Kehebohan terjadi dirumah utama mempersipakan kedatangan tuan muda dan nona muda mereka. Setelah selesai mengemas semua barang-barang, mereka pun meninggalkan rumah sakit menuju rumah utama yang sudah di dekorasi banner dengan tulisan ‘Welcome Home Baby’ dan para pelayan sudah berdiri berjejer untuk menyambut. Iring-iringan kendaraan memasuki rumah utama dan berhenti tepat di pintu masuk.
*visual banner ucapan selamat datang pada bayi kembar Nathan dan Naomi
Deandra turun dengan suaminya, keduanya menggendong baby twin yang lelap. Para pelayan bergilir mengucap selamat dan melihat kedua bayi kembar yang menggemaskan itu. Suasana dirumah jadi ramai, para pelayan bergantian ingin melihat kedua bayi mungil itu. Wajah Nathan persis seperti Verrel dan wajah Naomi perpaduan keduanya. Deandra dan Verrel masuk kedalam kamar bayi mereka yang berada disebelah kamar mereka.
“Ha! Boks bayinya sudah dibuat nama juga! Keren!”
“Itu kerjaan suami mu,” ujar Ayu.
“Terimakasih ya, sayang. Kau memang the best.”
“Berapa lama aku puasa kata dokter tadi?” tanya Verrel penasaran.
“Isss…..baru juga sampai rumah sudah bertanya soal itu.” dengus Deandra.
“Itu hal penting, sayang. Jadi aku tahu mencari solusi.”
“Maksudnya? Awas saja ya kalau kau macam-macam, ingat ucapanku waktu itu.”
“Ha….ha….ha….kau ini lucu sekali. Memangnya kau yakin mau melakukan itu ya?”
__ADS_1
“Mau tahu ya aku berani atau tidak? Silahkan saja coba!” kata Deandra sambil mendengus kesal.
Kedua bayi sudah berada didalam boks masing-masing tertidur lelap. Deandra dan Verrel sudah kembali kedalam kamar mereka untuk beristirahat. Verrel sudah memilih dua belas orang pelayan khusus untuk si kembar, mereka dibagi jadi tiga shift.
“Apa kau mau kubantu, sayang?” tanya Deandra saat melihat suaminya melepaskan pakaiannya.
“Tidak usah. Aku mau mandi dulu, kau mau mandi bersama?”
“Iya. Kau bisa bantu aku bersihkan tubuhku. Tapi jangan lama-lama ya sebentar lagi sikembar pasti bangun karena lapar.”
“Ya sudah, ayo kugendong.” tanpa menunggu persetujuan Deandra, Verrel langsung menggendongnya dan membawanya ke kamar mandi, membantu membersihkan tubuh istrinya. Verrel benar-benar suami dan ayah teladan. Dia dengan rela mengikuti saran Yahya dan Viktor agar cuti selama enam bulan, menghabiskan waktu bersama istri dan kedua anaknya.
Kedua orang tua itu menceramahinya tentang bagaimana jadi orang tua yang baik. Verrel tidak pernah merasakan kasih sayang dari Amran sejak dia lahir. Karena alasan itulah, Yahya meminta cucunya itu untuk cuti sementara dan bisa melihat perkembangan kedua anaknya.
Selesai mandi bersama, Verrel membantu istrinya berpakaian, dia benar-benar memanjakan wanita itu. “Kau mau makan apa, sayang?”
“Mama sudah buatkan menu makanan harian untukku. Kata mama selama menyusui aku tidak boleh makan sembarangan.”
“Oh begitu. Kau beruntung punya mama mertua yang baik dan sangat menyayangimu, iyakan sayang.”
“Iya, aku sangat beruntung punya keluarga yang menyayangiku.” ucapnya memeluk suaminya.
Suara ketukan dipintu, dan kedua pelayan pribadi Deandra membawakan makanan untuknya. Ayu sudah memberi jadwal harian pada kedua pelayan pribadi menantunya itu, semua sudah diatur baik itu jam makan dan lainnya.
“Nyonya, ini kami bawakan makan siang untuk Tuan dan Nyonya.” Alya mendorong troli berisi berbagai menu makanan. “Selamat menikmati.” ucap Alya. Sementara Tami sudah menyiapkan meja dan menghidangkan makanan itu. Lalu keduanya pun keluar dari kamar.
__ADS_1
“Sepertinya enak sekali menu hari ini.” kata Deandra menelan ludahnya melihat sajian makanan sehat yang sudah terhidang di meja dalam kamar mereka.
“Kau mau makan yang mana, sayang.” kata Verrel. Deandra menunjuk beberapa dan Verrel menaruhnya di piring istrinya.
“Mau aku suapin?” tawarnya yang dijawab dengan anggukan oleh Deandra. Dengan sabar Verrel menyuapi istri tercintanya hingga semua makanan ludes disantap mereka berdua.
...*...
Jika di rumah utama kediaman keluarga Ceyhan, semua orang sedang berbahagia karena kehadiran dua malaikat kecil dirumah itu. Namun berbeda dengan di kediaman Amran. Andini yang sudah berhasil menyakinkan Amran soal akta lahir itu adalah palsu, kini kembali meraung-raung mendengar penjelasan salah satu pengacara yang disewa Amran untuk putra kesayangannya.
“Papa harus melakukan sesuatu. Iva sudah menemui istri Verrel tapi tak berhasil membujuknya. Aku tidak mau Rico mendekam di penjara seumur hidupnya.” Andini menarik-narik lengan suaminya yang masih tak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Kenyataan yang terpampang saat ini membuat pria paruh baya itu berpikir keras tentang semua yang terjadi pada mereka belakangan ini. Belum selesai masalah yang satu, sudah muncul masalah lainnya. Inikah karma yang selalu diucapkan Yahya kalak ia memutuskan pergi dari keluarga Ceyhan?
“Jangan diam saja, Pa. Ayo kita temui Verrel dan istrinya. Ini waktu yang tepat untuk datang kesana karena mereka sudah pulang kerumah bersama bayi kembarnya. Jadi kita bisa beralasan menjenguk bayi mereka. Ayo, Pa. Minta belas kasihan dari Verrel dan istrinya untuk mencabut laporannya. Apa papa tega membiarkan anak kita di penjara seumur hidupnya?”pinta Andini semakin meraung-raung dan memelas pada suaminya. Perih memang, malu juga iya tapi ia harus mengakui bahwa cuma Verrel dan Deandra harapan mereka satu-satunya. Kali ini dia akan buang jauh-jauh ego dan harga dirinya untuk memohon belas kasihan pada sepasang suami istri itu.
Amran yang sangat mencintai dan menyayangi Andini pun tak tahan mendengar tangisan dan rengekan istri kesayangannya itu. Amran memejamkan mata lalu menghela napas panjang. Mau tak mau, kali ini dia harus membuang jauh-jauh egoanya untuk menemui anak dan menantunya. Tangannya memijit pelipisnya membayangkan rasa malu yang akan dirasakannya nanti saat bertemu dengan mereka, apalagi dia akan memohon pada mereka.
Membayangkannya saja sudah membuat Amran sakit kepala, bagaimana saat itu akan terjadi? Pasti papa akan menertawakanku, selama ini aku bahkan tak peduli pada Verrel dan keluarga Ceyhan. Mau tak mau, suka tak suka memang sudah tak ada pilihan lain. Harus menebalkan muka dan mempersiapkan diri menerima apapun perlakukan yang akan diterimanya nanti saat dia datang kerumah utama.
Bukankah selama ini dia tak diperbolehkan masuk kerumah itu? Lantas, mungkinkah aku akan diijinkan masuk jika aku datang kesana kali ini? Pikirnya. Tapi benar kata Andini, ini waktu yang tepat untuk menemui mereka dengan alasan menjenguk bayi kembar. Ah…..bukankah bayi kembar itu juga cucuku? Tak mungkin mereka akan melarangku untuk menemuinya. Benak Amran dipenuhi oleh berbagai macam pikiran-pikiran tentang berbagai macam kemungkinan yang akan terjadi.
“Baiklah. Kurasa apa yang kau katakan tadi benar. Ini waktu yang tepat untuk mengunjungi mereka. Toh, aku adalah kakek dari kedua bayi itu jadi ada alasan tepat untuk datang kesana. Besok aku akan pergi kesana.”
Mendengar ucapan suaminya, Andini sangat gembira dan langsung memeluk pria itu “Terimakasih, Pa. Aku tahu dan percaya bahwa papa akan melakukannya.”
...*...
__ADS_1