
Deandra yang sedang duduk dikursi besar diruang kerjanya terlihat memperhatikan dokumen yang berada dihadapannya. Mendadak dadanya terasa sangat perih dan tangannya reflek memegang dadanya. Rosa yang sedang berada bersama Deandra pun bingung melihat sikap Deandra. “Kenapa Dea?” tanya Rosa yang melihat wajah sahabatnya itu meringis menahan dadanya.
Tak menjawab pertanyaan Rosa, ia mencoba menghela napas dalam-dalam agar rasa perih itu reda. Tapi sialnya, rasa perih dan sakit didadanya semakin terasa membelenggu membuatnya sulit untuk bernapas. Tak terasa ia meneteskan airmata. Ya, Tuhan rasa apa ini? Kenapa perih dan menyesakkan seperti ini? Entah apa yang mendorongnya, ia meraih ponselnya dan membuka sebuah aplikasi. Banyak notifikasi berita beruntun yang masuk dan matanya membelalak ketika membaca berita itu yang melaporkan bahwa sebuah pesawat telah hilang kontak. Dia mengenali pesawat itu, pesawat pribadi suaminya. Seketika Deandra luruh kelantai dan tak sadarkan diri.
"Dea...dea...kenapa? Tolong!" teriak Rosa yang panik melihat tubuh Deandra terkapar pingsan dilantai.
...*...
“Tuan, nyonya verrel ada disini.”
“Jadi….cucu menantu saya.”
“Iya. Tadi dibawa kesini karena pingsan, Tuan. Kandungannya baik-baik saja.”
Yahya tak mampu menahan airmata yang telah menggenang sejak tadi setelah mereka menerima kabar duka tentang pesawat yang ditumpangi Verrel telah hilang kontak. Sementara Ayu yang sedang berada diluar negeri mengurusi bisnisnya di negeri paman sam pun merasakan kesedihan.
“Saya sudah meresepkan vitamin untuk Nyonya Verrel.” kata dokter itu lagi.
“Baik, Dok.” Suara Yahya terdengar bergetar. “Tolong berikan yang terbaik untuk cucu menantu saya.”
“Nanti Tuan Yahya bisa memanggil perawat jika nyonya verrel sudah siuman.”
“Baik dokter.”
Setelah dokter kandungan dan perawat keluar, Yahya mendekat ke ranjang dimana Deandra terbaring masih dalam keadaan tak sadarkan diri.
“Kenapa ujian hidup kalian berat sekali, nal?” gumam Yahya lirih. Airmatanya kembali menetes.
Ia tak tahu harus mengatakan apa pada Deandra saat ia sadar nanti. Rasa perih dan sesak itu kembali menghimpit perasaannya. Tak kuat berlama-lama menahan sesak, Yahya berniat keluar dari ruangan namun saat itu dia melihat mata Deandra terbuka perlahan.
__ADS_1
“Deandra, kau sudah sadar, nak?”
Wanita yang masih linglung itu mengerjapkan matanya berklai-kali hingga akhirnya ia menoleh kearah Yahya.
“Tadi kau pingsan dikantor, nak.”
Deandra mengeryitkan dahinya mencoba mengingat apa yang terjadi kemudian dia mengerjapkan matanya kembali.
“Opa akan memanggil dokter, kau istirahat dulu, ya.” kata Yahya langsung keluar dari ruangan tanpa menunggu jawaban dari cucu mantunya itu. Yahya tergesa-gesa memanggil dokter dengan perasaan berkecamuk. Dia harus menjaga Deandra, kini cucu mantunya itu adalah tanggung jawab terbesarnya. Tak lama, seorang dokter dan perawat masuk, bersamaan dengan Yuna dan kedua pelayan pribadi Deandra.
Deandra yang masih mengerjap bingung itu tak mengerti saat dokter menjelaskan kondisinya. Setelah menyadari apa yang terjadi, mendadak ia tak berdaya. Ia ingat tadi dikantor tiba-tiba dadanya terasak sangat sesak dan perih, ia bahkan menangis tanpa alasan hingga ia jatuh pingsan.
“Nyonya, harus menjaga kesehatan jangan merasa tertekan agar anak dalam kandungan nyonya juga tidak merasakan. Nyonya harus tetap tenang, ya.” ucap dokter itu dengan nada lembut.
Tangan Deandra mengelus perutnya lalu tersenyum. Ya, dia harus menjaga kedua bayinya dengan baik karena itulah kebahagiaan dan bukti cintanya pada Verrel. Tiba-tiba dia teringat pada seseorang yang akhir-akhir ini sangat memanjakannya dan selalu mengelus perutnya. Verrel suaminya yang saat ini belum diketahui keberadaannya.
...*...
“Aku mau sepuluh. Bagaimana kau setuju sayang?” jawab Verrel.
“Apa? Sepuluh? Memang kau pikir aku kucing bisa beranak sebanyak itu?”
“Tidak sekaligus, sayang. Kita bisa buat pelan-pelan, tiap tahun, begitu,”ucap Verrel tertawa.
“Ta---tapi.”
Sebuah kecupan membuat Deandra bungkam. Dengan wajah berbinar pria itu menggenggam kedua tangannya dan mengecupnya. Verrel berjongkok lalu mencium perut istrinya yang saat itu masih datar.”
“Memangnya kau tidak mau punya anak banyak denganku?” tanya Verrel memandang wajah cantik istrinya. Deandra memalingkan wajah tak sanggup ditatap sedemikian rupa.
__ADS_1
“Katakan, sayang. Kau mau punya banyak anak.” tangan Verrel menarik dgau istrinya dan menatap netra hitam itu dengan pandangan penuh cinta.
“Aku mau.” ucap Deandra tersipu malu llau memalingkan wajahnya namun kalah cepat dengan tangan Verrel yang menyerang bibirnya. Menciumnya dengan lembut membuat Deandra melayang.
“Kalau begitu kita akan sering melakukannya. Biar tiap tahun bisa ada anak.” ucap Verrel menggoda istrinya. Wajah Deandra pun memerah tak bisa menolak keinginan suaminya. Verrel pun kembali mencumbunya. Ingatan tentang Verrel sejak hari itu sampai kemarin sebelum pergi yang selalu memanjakannya melintas dibenak Deandra. Hal itu membuatnya terpukul berat.
...*...
“Verrel,” Deandra mengedarkan pandangannya keseluruh sudut ruangan namun ia tak menemukan keberadaan suaminya. Ia mengerjapkan mata berharap kalau dia salah lihat. Semua orang yang berdiri disana terlihat sedih dengan tatapan sendu. Deandra bisa melihat kalau mata mereka semua sembab karena menangis.
“Nyonya.” suara lirih Yuna terdengar, ia mendekat keranjang dan berdiri disamping Tuan Yahya yang berdiri kaku.
“Bibi Yuna. Cepat hubungi suamiku, tolong suruh dia datang sekarang bilang padanya kalau aku sedang berada dirumah sakit.” Sorot mata Deandra berubah menjadi penuh harap. Yuna tak mampu menahan airmatanya yang dari tadi ia tahan mati-matian. "Cepat! Kenapa kalian semua diam saja? Hubungi suamiku sekarang, dia pasti panik kalau tahu aku ada dirumah sakit."
Yuna terisak sambil menggenggam tangan Deandra “Kenapa Bibi Yuna? Kenapa kau tak menghubungi suamiku? Kenapa? Mana Verrel suamiku?” teriak deandra panik.
“Tenanglah Deandra. Kau harus tenang, ingat ada calon anak kalian didalam perutmu.” Yahya mencoba menenangkan Deandra yang kini menangis pilu. Jadi benar berita yang tadi dibacanya, jika pesawat suaminya hilang.
“Verrel,” gumamnya menangis terisak “Dimana suamiku, Opa? Dimana Verrel sekarang?”
Hati Yahya semakin perih bagai dihunjam ribuan panah yang seketika menusuk bersamaan kedalam dadanya. Jantungnya berpacu kencang dan hatinya serasa sakit seperti tersayat-sayat mendengar rintihan Deandra yang menyakitkan meratapi suaminya.
"Aku mau suamiku. Tolong bawa pulang suamiku...hikss...huaaaaa....." Deandra menangis dan berteriak-teriak memanggil nama suaminya. "Verrelllllll.....Verrrrreeelllllll......kau dimana? Kenapa kau tinggalkan aku.....Verrrrrreeeerrellllllll."
Semua orang yang mendengar jeritan pilu Deandra turut menangis merasakan rasa sakit dan pedih kehilangan orang yang dicintai. Deandrs meronta-ronta seperti orang yang hilang kewarasannya. Yahya tak sanggup melihatnya, dia harus kuat agar bisa menjaga cucu mantu dan calon cicitnya. Yahya menghapus airmatanya, dia melangkah keluar dari ruangan itu yang terasa sangat menyesakkan.
Yahya menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi rongga paru-parunya yang terasa sesak. Hari ini adalah hari yabg paling menyefihkan dalam hidupnya.
Sementara Rosa yang masih berada dikantor merasa sangat cemas akan keadaan sahabatnya. Dia ingin pergi kerumah sakit secepatnya, dia bisa merasakan kesedihan sahabatnya itu.
__ADS_1