TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 40. WANITA SPESIAL


__ADS_3

“Kenapa kau lakukan itu, Tuan?” tanya Deandra yang masih bingung atas kejadian tadi.


“Aku memberikan tempat yang spesial untukmu, Nyonya Verrel. Sekarang kau tahu bahwa kau hanya milikku. Selamanya, Nyonya Verrel,”


Glek!


Gadis itu menelan ludahnya.  Dia terjebak dalam permainannya sendiri, dan semua yang diucapkan laki-laki ini bukan main-main. Awalnya Deandra berpikir jika drama penyelamatan yang dimainkan pria itu hanya sementara, tapi kini dia akan terjebak selamanya bersama laki-laki yang tidak dicintainya itu.


“Kau boleh lakukan apapun yang kau mau, asal bukan untuk keluar atau kabur dari rumah ini.”


Deandra hanya menjawab dengan anggukan, melingkarkan kedua tangannya dileher Verrel.


“Apakah itu berarti aku bisa bekerja lagi?” tanya Deandra.


“Tidak!”


“Kenapa? Aku suka bekerja,” rengeknya.


“Kau bekerja dirumah saja melayani dan memuaskanku,” goda Verrel memandang wajah Deandra yang cemberut kesal.


“Bagaimana jika aku bekerja di kantormu? Sebagai sekretarismu mungkin? Jadi kau bisa mengawasiku.” dia mencoba keberuntungannya lagi agar tidak terkurung dirumah saja.


“Tidak! Aku sudah punya sekretaris.” jawab Verrel. Kau pikir bisa keluar dengan alasan bekerja? gumamnya dalam hati.


“Kenapa begitu?” tanyanya tak mengerti.


"Kalau kau bekerja di kantor, aku yang tidak bisa bekerja."


"Huh....alasan! Kau memang suka menyiksaku dengan mengurungku disini."


“Jangan membantah! Aku tergoda setiap melihatmu. Kau tidak boleh bekerja, sayang.”


Verrel mencium dan ******* bibirnya dengan buas, niat hanya sekedar ciuman pun berlanjut ke penyatuan. Verrel menggendong tubuh gadis itu dan membawanya ke ruang baca yang terletak tak jauh dari ruang tamu.

__ADS_1


Pria itu tak peduli jika dia ada meeting penting dengan klien pagi ini. Baginya tidak ada yang lebih penting selain memuaskan gairah liarnya bersama deandra.


Deandra sudah tidak bisa berkata apapun. Semua bagaikan mimpi dan tak pernah ia pikirkan. Seumur hidupnya Deandra tidak pernah memimpikan akan menikah dengan seorang pria kaya dan tampan. Dia mendapatkannya sekarang meskipun keduanya tidak saling mencintai dan pria itu menjadikannya hanya sebagai pemuas nafsu liarnya.


Setelah percintaan pagi yang berujung pelepasan berkali-kali, Verrel pergi ke kantor, Deandra terbaring lemah di sofa dalam ruang baca.


'Sial! Laki-laki itu sungguh gila. Tubuhku serasa remuk. Kenapa dia tidak ada capek-capeknya sih? Perlahan dia berjalan menuju pintu dan keluar.


"Alyaa!" teriaknya memanggil pelayan pribadinya.


"Saya disini, nyonya." Alya tergesa-gesa mendatangi majikannya. Membantu Deandra berjalan menuju kamarnya di lantai dua.


Alya merasa heran melihat penampilannya yang berantakan. Sesampainya dikamar, "Saya mau berendam, sekalian pijat badanku ya, aku capek sekali," katanya pada Alya dan Tami yang dijawab dengan anggukan oleh keduanya. Tiba-tiba perutnya terasa mual dan mempercepat langkahnya ke kamar mandi.


"Nyonya....nyonya kenapa," tanya Tami yang berdiri dipintu kamar mandi dengan cemas.


"Tidak apa-apa, aku hanya sedikit mual mungkin karena tadi aku kebanyakan makan."


"Apa nyonya mau berendam sekarang?"


Setelah berendam dan membersihkan tubuhnya, ia merasa segar karena kedua pelayannya memijat tubuhnya yang terasa pegal. 'Kenapa aku merasa tidak enak badan beberapa hari ini.'


"Tolong bawa aku keluar, aku mau duduk di taman sekalian bawa alat lukisku," ucapnya meminta pelayan untuk mengantarnya ke taman bunga yang berada disamping rumah utama.  Dua pelayannya membawa peralatan melukis majikannya. Ya, dia ingin melukis hari ini menghilangkan jemu.


...**...


“Nyonya, apakah ada makanan khusus yang mau dimasakkan untukmu?” tanya Tami.


“Hmmm….bisa buatkan sambal rujak? Aku ingin makan buah pakai sambal rujak. Aku juga pengen makan rawon, ikan bakar, oh iya cheesecake dan jus buah naga," ujarnya dengan mata berbinar.


“Baiklah, Nyonya. Saya akan sampaikan pada pelayan didapur untuk menyiapkannya.”


Siang ini deandra ingin makan beberapa menu makanan. Membayangkan makanan membuatnya mendecap mulut tak sadar.

__ADS_1


Makanan sudah terhidang dimeja, menu pilihan Deandra pun ada disana. Melihat buah dan sambal rujak membuatnya ngiler. Menu makanan hari ini lebih lengkap, ada jus juga. Dia harus membiasakan diri dengan semua ini karena semua  atas perintah sang tuan besar pada pelayan. Sebagai Nyonya Verrel, asupan gizi dan makananpun diatur karena Verrel ingin gadis itu sehat dan kuat untuk melayaninya. Verrel sudah mengatur semua untuknya.


Selesai makan, dengan lahapnya deandra menyantap buah dengan sambal rujak. Para pelayan pun heran melihat Nyonya Besar yang makan banyak dan lahap. “Alya, bisakah kamu temani aku keluar?”


“Maksud Nyonya? Nyonya mau jalan-jalan keluar rumah atau keliling rumah?” tanya Alya.


“Keliling rumah saja, aku belum pernah melihat sekeliling rumah ini. Lagipun aku tidak bisa keluar rumah tanpa Tuan Verrel.”


Deandra dan kedua pelayannya berjalan mengelilingi rumah, sembari bertanya. Alya menjelaskan bagian-bagian rumah utama  yang besar itu. Di halaman belakang terlihat beberapa petugas sedang memotong pohon bonsai dan membentuknya. Deandra terkagum melihat indahnya bentuk pohon bonsai dihalaman belakang.


Antara rumah utama dan bangunan belakang dihubungkan oleh lorong panjang terbuat dari kaca tebal sehingga saat berjalan melalui lorong itu bisa melihat pemandangan halaman belakang.


Para pelayan yang bekerja dirumah utama tinggal di bangunan belakang. Disana juga ada dapur khusus untuk para pelayan dilengkapi dengan peralatan modern. Bangunan itu bagus dan kamar pelayan pun bagus. Disetiap kamar dilengkapi AC, TV, springbed dan kamar mandi didalamnya.


Ada kolam ikan koi juga disana dengan jembatan melingkar ditengah kolam. ‘Luas sekali rumah ini, aku harus bisa hapal bagian rumah kalau tidak aku bisa nyasar’ Setelah mengitari halaman samping rumah yang terdapat kolam renang dan taman bunga.


Kini mereka berada di halaman depan, ada kolam kecil dengan pancuran ditengah, sekeliling kolam dihiasi bunga mawar. Deandra teringat pada kata-kata ibunya, “Kau harus rajin belajar dan sekolah yang tinggi supaya bisa dapat kerja bagus. Kau juga harus mendapatkan laki-laki mapan yang menyayangimu, nak.”


Dan-sekarang aku sudah mendapatkan laki-laki mapan, tapi ‘menyayangi’ mungkin sulit untuk mendapatkannya dari pria itu. Ia terjerat permainan Verrel sekarang, semua berawal dari kejadian itu, saat ciuman pertama yang membuat obsesi gila Verrel.


Kini, ia hanya mengikuti skenario yang dibuat Verrel untuknya sebagai Nyonya Verrel. Skenario yang disiapkan pria itu dari jauh hari untuk mengikat Deandra selamanya. Ya, itu yang diinginkannya memiliki Deandra meski dengan cara memaksa.


"Halo, tuan." jawab Yuna yang menerima panggilan telepon dari sang tuan besar.


"Sedang apa gadis itu?" tanya Verrel.


"Nyonya sedang berjalan-jalan disekeliling rumah ditemani kedua pelayannya, Tuan."


"Hmmm...apa dia sudah makan?"


"Sudah, Tuan. Bahkan siang ini Nyonya makan banyak sekali, Tuan."


"Bagus. Urus dia baik-baik." kata Verrel mengakhiri pembicaraan.

__ADS_1


...**...


 


__ADS_2