
Bibir Verrel tersenyum saat melihat Deandra yang tak kunjung membuka mata. Setelah mengancingkan jas nya, ia mendekat dimana istrinya masih terlelap dibalik selimut tebal menutupi tubuhnya yang polos. Tangan Verrel menyibak rambut yang jatuh menutupi wajah cantik istrinya. Ia tersenyum mengingat ******* istrinya menggema sepanjang malam.
“Tidurlah sayang. Aku mencintaimu.” Dia menghela napas panjang, seakan berat untuk pergi ke kantor pagi ini. Kemudian dia mengecup kening istrinya sebelum ia beranjak. Lama ia menatap istrinya sebelum ia keluar dari kamar. Didepan pintu sudah berdiri Yuna dan dua pelayan pribadi istrinya.
“Selamat pagi, Tuan.” ucap ketiganya serempak.
“Kabari aku jika istriku bangun,” ucap Verrel dengan tegas.
“Baik, Tuan.”
Verrel melangkahkan kakinya namun mendadak berhenti “Yuna. Jika istriku ingin keluar rumah, berikan dia pakaian yang tertutup. Aku tak mau dia menjadi pusat perhatian pria lain.”
“Saya mengerti, Tuan.” jawab Yuna mengangguk. Kepala pelayan itu tahu betul bagaimana sifat tuannya, Verrel selalu mengomentari pakaian yang akan dipakai Deandra, kadang mereka menghabiskan waktu berdebat hanya soal pakaian.
...*...
Diruang kerjanya Verrel berkutat dengan dokumen yang harus ditandatangani. Semakin hari proyeknya bertambah banyak seiring dengan kesuksesan launching produk baru perusahaan yang membuat banyak investor tertarik untuk bekerjasama.
“Maaf, Tuan. Didepan ada Tuan Rico ingin bertemu,” kata Hendra, salah satu sekretaris Verrel melalui sambungan interkom.
“Mau apa dia datang?” tanya Verrel dengan nada ketus.
“Tuan Rico mengatakan jika ada hal penting yang ingin dia bicarakan dengan tuan,” jawab Hendra hati-hati.
__ADS_1
“Biarkan dia masuk,” jawab Verrel mendengus kesal.
Tak berselang lama, pintu ruang kerjanya terbuka dan disana pria yang sangat dibencinya masuk dan mendekat kearahnya.
“Mau apa kau kesini?” tanya Verrel tanpa mengalihkan pandangannya dari sebuah dokumen. Dia sangat tidak ingin bertemu dengan musuhnya itu.
Dengan wajah angkuh, Rico mendekat dan menatap Verrel dengan sinis “Aku ingin tahu, apa tujuanmu menikah dengan kekasihku.”
“Kekasih?” kata Verrel dengan senyum tipis yang sinis “Aku tidak pernah tahu jika dia kekasihmu. Istriku pun tidak pernah bilang padaku jika dia punya kekasih dan kekasihnya itu adalah kau.”
Mendengar jawaban itu, Rico jadi emosi dan rahangnya mengeras dan kedua tangannya mengepal. “Sialan! Dia membalikkan kata-kataku dulu,” gumam Rico dalam hati. Verrel merasa puas melihat Rico yang tampak emosi.
“Kau tidak mungkin tak tahu kalau dia kekasihku, kak.” Rico berkata dengan nada yang tak ramah sama sekali.
Helaan napas panjang Rico terdengar seakan dia merasa sulit untuk bernapas. “Istriku bukan urusanmu, kak. Kau pasti sudah merencanakan semua ini untuk membalas dendam, bukan?”
Verrel tersenyum dengan seringai kecil disudut bibirnya yang membuat Rico sangat jengkel. “Tidak sepenuhnya benar, tapi kalau kau pikir seperti itu, ya terserahmu. Oh, iya. Istriku juga bukan kekasihmu lagi. Dia istriku! Pergilah urus saja istrimu daripada sibuk mengganggu istriku.”
“Kau benar-benar bajingan, kak!” seru Rico dengan wajah mengeras dan wajah memerah. Dia sudah tak bisa menahan lagi amarahnya selama ini.
“Sejak dulu aku memang bajingan. Kenapa baru sekarang kau sadar?” jawab Verrel dengan tenang tanpa ada rasa marah atau tersinggung. “Tapi, kau harus tahu, seburuk-buruknya sifatku tapi aku tak pernah merusak rumah tangga orang lain seperti banyak orang diluar sana.”
“Tapi sekarang kau sudah merusak masa depanku, kak. Kau sudah merebut kekasihku.” Rico kembali meluapkan emosinya.
__ADS_1
“Kalau memang dia kekasihmu, kenapa kau tidak pernah mengenalkannya ke publik? Tidak berani karena dia bukan dari keluarga kaya seperti kemauan mamamu? Sebagai kekasih yang baik bukankah seharusnya kau menjaganya? Bukan malah pergi ke luar negeri dan jarang menghubunginya dan bukan membiarkan kekasihmu melemparkan diri ke rumah bordil?”
“Tutup mulutmu, kak. Dia bukan gadis seperti itu.”
Perlahan Verrel menatap Rico dengan seringai mengejek sambil menyilangkan kedua tangan didadanya. “Tapi nyatanya, aku menemukan dia diranjangku saat aku membutuhkan wanita. Kau tahu apa artinya? Apa kau tahu sudah berapa banyak laki-laki yang sudah membayar tubuhnya? Jika aku tak menyelamatkannya waktu itu, entah seperti apa hidupnya sekarang. Lalu ada dimana kau saat semua itu terjadi? Apa kau pikir kau mampu menyelamatkannya dari pria hidung belang yang sudah mengantri? Memangnya kau punya uang? Pria hidung belang diluar sana sudah memberi uang yang banyak pada Surya untuk bisa menikmati tubuh Deandra. Huh! Hanya aku yang bisa selamatkan dia! Lantas sekarang seenaknya kau mengklaim istriku dan mau merebutnya?” bentak Verrel yang membuat Rico terpaku.
“Itu bukan keinginannya kak. Ini semua pasti sudah kau rencanakan dari jauh hari. Kau sengaja membelinya lalu menikahinya karena ingin membalas sakit hatimu padaku.” seru Rico menggebu-gebu, seakan tak terima kekasihnya dikatakan menjual diri.
“Kalau iya, kau mau apa? Kau mau marah seperti apapun, dia tetap istriku dan ibu dari calon anakku. Apa kau lupa kalau istriku sedang mengandung anakku? Aku tak akan pernah melepasnya atau membiarkan siapapun merebut milikku lagi.” ucap Verrel dengan tatapan tajam “Termasuk kau.” sambil mengarahkan jari telunjukknya pada Rico. “Satu hal lagi yang kau perlu tahu, istriku mencintaiku tanpa paksaan. Dia melayaniku sebagai layaknya istri dengan sukarela tanpa paksaan, semua dia lakukan karena dia mencintaiku!”
“Apakah kakak pernah berpikir jika Deandra mengetahui niat kakak hanya untuk balas dendam?” rico membuat Verrel bungkam. “Aku sangat mengenal deandra, jika dia tahu aku yakin dia pasti akan membencimu.”
Seketika mata Verrel mengkilatkan amarah namun didalam hati pria itu berpikir “Bagaimana jika Deandra tahu dengan tujuan utamanya? Tapi dia istriku dan sedang mengandung anakku. Tak mungkin dia akan meninggalkanku.” Namun tiba-tiba saja rasa takut kehilangan itu menyeruak. ‘Ah apakah saat ini aku takut diitnggalkan? Atau hanya takut tak bisa mendapatkan kepuasan saat bercinta seperti yang deandra berikan? Dua hal itu membelenggu hatinya sekarang.
“Melihat sikapmu seperti ini, aku yakin Deandra tidak tahu apa-apa.” Rico merasa menang itu berarti dia akan mengatakan itu pada Deandra. “Bisa saja Deandra akan meninggalkanmu jika dia tahu.”
Untuk kali ini Rico merasa menang karena membuat Verrel terdiam. Dengan percaya diri dan angkuhnya dia berjalan maju dan membuktikan pada Verrel jika ia bukan pria lemah.
“Kalau kakak tak ingin aku merebut tahta perusahaan ini. Kakak serahkan deandra kembali padaku dan setelah itu aku akan membawanya pergi jauh. Aku tidak menginginkan sedikitpun harta kekayaan keluarga Ceyhan.” Rico menjeda ucapannya menunggu respon dari Verrel yang terdiam ditempat duduknya.
Tak ada tanda-tanda Verrel akan menjawab penawarannya, Rico memutuskan untuk meneruskan ucapannya. “Tapi kalau kau tak mau melepaskan deandra, aku akan bersaing untuk merebut semuanya darimu termasuk mengambil deandra dari sisimu,” ucap Rico dengan penuh penekanan.”Aku berikan waktu 2x24 jam untukmu berpikir. Jika setelah itu kau tak memberi jawaban, aku anggap kau memulai perang saudara. Aku siap dengan segala konsekuensinya.”
Rico pun melangkah pergi dari ruangan Verrel. Rahang Verrel mengeras, ia menyapu semua yang ada diatas meja kerjanya. Emosinya memuncak “Aku tidak akan membiarkanmu merebutnya bajingan!”
__ADS_1
“Dasar anak dan ibu sama saja! Sukanya merebut milik orang lain!’ Verrel mengeram dengan rahang mengeras, kedua tangan mengepal. “Kau takkan bisa mengambilnya meskipun kau memaksa.”