
Verrel berada di markas besar bersama Jack dan anak buahnya. Beberapa barang bukti yang berhasil mereka dapatkan sedang diteliti. “Coba putar ulang rekaman cctv,” ujar Verrel. Rekaman diputar kembali lalu Verrel nampak mengerutkan dahinya. “Kalian melewatkan sesuatu.” ucapnya lagi.
“Apa itu Tuan?” tanya Jack.
“Coba perhatikan baik-baik di bagian tanggal dan waktu. Apa kalian lihat ada yang janggal?” tanya Verrel kembali. Semua orang yang berada disana fokus memperhatikan screen lebar yang menunjukkan aktivitas di tempat TKP.
“Tunggu dulu…...ini benar-benar janggal.” ucap seorang pria. “Bukankah mayatnya ditemukan didalam kamar mandi sekitar pukul tiga lewat empat puluh menit?”
“Ya benar.” ucap pria yang berada di tempat kejadian. “Ahhh…..rekaman ini hanya sampai pukul dua siang! Loh, mana rekaman saat dari pukul dua siang sampai pukul empat sebelum kami menemukan mayat itu?”
“Sekarang kalian paham?” tanya Verrel. “Siapapun pelakunya pasti berada disana, rekaman ini sudah dihapus sebagian tapi pertanyaannya adalah siapa kira-kira orang yang pantas dicurigai?”
“Bagaimana kalau kami kembali kesana dan memeriksa lagi, mungkin ada yang terlewatkan atau bisa saja si pelaku meninggalkan sesuatu disana.” kata seorang pria.
“Lakukan segera! Sepintar apapun seorang penjahat, mereka selalu meninggalkan jejak. Tergantung pada orang yang bisa menemukan jejak itu.” ujar Verrel.
“Baiklah, Tuan. Kami akan kembali kesana.” ucap Bara. "Kalian berempat segera pergi kesana.:
Bara lalu memerintahkan sebanyak empat orang untuk memeriksa kembali tempat kejadian. “Jangan sampai ada yang terlewatkan! Petunjuk sekecil apapun akan bermanfaat.”
“Bagaimana dengan si pemilik rumah? Bukankah hanya dia yang punya akses ke cctv?” tanya Frans terus memandangi layar lebar itu. “Tapi pria itu terlihat terlalu tenang.”
“Bagaimana menurutmu? Apa pemilik rumah itu ada kaitannya atau dia mengetahui sesuatu?” tanya Verrel pada Frans. “Kita tunggu hasil penyelidikan anak buah Bara.”
“Ya itu lebih baik.”
“Tim IT, segera retas rekaman cctv dirumah itu. Juga cari tahu informasi tentang pemilik rumah.” perintah Verrel.
“Baik, Tuan.” serempak tim IT menjawab lalu beranjak keruangan mereka.
“Aku kerumah sakit dulu. Frans, tunggulah disini dan segera laporkan padaku perkembangannya.” Verrel melangkah keluar meninggalkan markas besar. Dia naik ke mobilnya dan duduk di jok belakang sambil memejamkan mata.
__ADS_1
Supir pribadinya melirik dari spion lalu menghela napas panjang. Dia melihat kelelahan pada Tuannya dan penampilan pria itu yang tidak lagi seperti biasanya.
Wajah sang supir pun terlihat sedih saat mengendari mobil menuju rumah sakit. Bertubi-tubi masalah datang pada keluarga itu. Dia sudah mengabdi lama sebagai supir di keluarga Ceyhan dan dia merasa tak berguna karena tidak bisa melakukan apapun untuk menolong.
Setelah berkendara selama tiga puluh lima menit akhirnya mereka tiba dirumah sakit.
"Tuan....sudah sampai." ucapnya membangunkan Verrel.
"Eugghhh...." suara lenguhan Verrel menandakan betapa lelahnya pria itu. "Bapak langsung pulang saja ya. Nanti bawakan saya makanan dari rumah."
"Baik, Tuan."
...******...
“Pada akhir pekan ini, Verrel akan melakukan peninjauan ke proyek. Kalau kau tidak sibuk aku harap kau bisa turut serta!” kata Arion pada Olivia. “Ini adalah peninjauan terakhir untuk tahap awal jadi kau harus benar-benar memperhatikan semuanya agar tidak ada kesalahan dari pihak perusahaanmu sebagai rekanan dalam pembangunan proyek ini.”
“Aku tidak ada kesibukan di akhir pekan jadi aku akan ikut.” jawabnya cepat. “Oh iya, bagaimana dengan proyek pembangunan apartemen di Kalimantan? Apa kita tidak kesana untuk meninjaunya?” tanya Olivia lagi karena tadi malam ayahnya mengingatkannya tentang itu.
“Ya aku tahu. Tapi jika diijinkan aku bisa kesana untuk meninjaunya. Aku sama sekali tidak keberatan.” kata Olivia lagi.
“Baiklah. Nanti biar diatur dulu jadwalnya dengan orang lapangan disana. Nampaknya nona Olivia sangat bersemangat sekali mengerjakan proyek-proyek ini.” Arion mengerutkan dahi.
“Ya begitulah. Ini pengalaman pertamaku mengerjakan proyek di Indonesia. Apalagi proyek jalan tol lintas pulau ini adalah proyek besar. Aku ingin belajar lebih banyak lagi tentang proyek ini agar tidak mengecewakan papa.”
“Ya benar. Jika sudah tidak ada lagi hal yang ingin anda tanyakan, saya ingin menemui klien lainnya.” ucap Arion mengusir secara halus. Dia tahu pasti ada hal yang ingin ditanyakan wanita itu yang berhubungan dengan Verrel. Dan dia pun sengaja mengajak Olivia ikut keproyek diakhir pekan untuk mengujinya.
“Baiklah. Saya juga tidak mau mengganggu waktunya.Terima kasih untuk hari ini.” Olivia pun undur diri, saat dia menunggu lift. Dia terkejut saat pintu lift terbuka dan seorang pria tampan berwajah blasteran keluar dari lift. Matanya terpukau tak berkedip memandang pria itu.
“Permisi nona. Anda menghalangi jalanku.” ujar pria itu.
“Ah….ma—maaf.” Olivia bergeser ke samping memberi jalan pada pria itu.
__ADS_1
Lalu dia masuk ke lift sambil melirik kearah pria tadi yang memasuki ruangan Verrel yang sementara ini ditempati oleh Arion. “Siapa pria tampan itu? Wajahnya sangat tampan dan berkharisma. Sepertinya tidak asing, tapi dimana aku pernah melihatnya?”
Pria tampan itu masuk keruangan Arion tanpa mengetuk pintu. “Hello.” sapanya
“Hei kapan kau tiba di Indonesia? Kenapa tidak beri kabar dulu?” tanya Arion langsung berdiri dan memeluk sepupunya itu.
“Aku ingin buat surprise, aku sudah tiba tadi malam. Tadi aku sudah ke kantormu tapi mereka bilang kalau kau ada disini. Jadi aku langsung datang kesini.”
“Ayo silahkan duduk.” ucap Arion lalu memanggil sekretaris untuk mengantarkan kopi. Tak lama sekretaris masuk membawakan kopi lalu keluar lagi.
“Kenapa baru datang sekarang? Aku sudah sering menyuruhmu pulang tapi kau selalu saja menolak.”
“Baru ada waktu sekarang! Mana Verrel?”
“Kalau kau ingin bertemu dengannya, kau cari saja dia dirumah sakit.”
“Apa? Apa dia sakit? Apa orang itu bisa sakit juga?”
“Bukan dia yang sakit tapi istrinya. Istrinya baru melahirkan triplets tapi masih dalam keadaan koma sampai sekarang. So Verrel lebih banyak menghabiskan waktu dirumah sakit.”
“Ha? Kasihan sekali! Aku akan menjenguknya nanti. Apa kau besok kau sibuk?”
“Tidak juga. Kita bisa pergi menjenguk Deandra besok kalau kau tidak keberatan.”
“Boleh. Besok aku free. By the way...tadi aku bertemu wanita cantik saat keluar dari lift. Sepertinya tadi baru bertemu denganmu ya?”
“Oh itu rekan kerja di proyek baru namanya Olivia Lee. Juan Athaya! Jangan macam-macam selama disini ya. Kau tahu sendiri bagaimana Opa.”
“Aku belum bertemu Opa dan dia juga tidak tahu kalau aku pulang ke Indonesia.”
“Dasar anak nakal! Kapan kau bisa bersikap dewasa dan serius, ha? Verrel pasti akan menghajarmu saat bertemu nanti.”
__ADS_1
Kedua saudara itupun terkekeh dan saling berbagi cerita setelah sekian lama tidak bertemu. Juan Athaya adalah adik Arion yang tinggal bersama ayah mereka di Itali. Sedangkan William adalah saudara bungsu mereka yang kini menetap di Amerika mengurus anak cabang Ceyhan Group.