
“Kak Rico bagaimana kabarmu?” tanya Iva yang sedang menjenguk Rico. Tangannya menggenggam tangan suaminya yang tak lagi menolaknya.
“Baik. Tumben kau datang pagi.”
“Iya, kak. Tadi aku menemui Tuan Verrel dan istrinya.”
“Apa? Kau sudah gila ya? Apa kau mau cari mati Iva? Buat apa kau menemui mereka, kau pikir mereka akan merasa kasihan padamu?” rentetan pertanyaan keluar dari mulut Rico yang terkejut mendengar ucapan istrinya.
“Tenang dulu kak. Aku sengaja kesana untuk memohon kebesaran hati mereka untuk kakak.”
“Ya, ampun Iva. Otakmu itu kau taruh dimana huh? Kau tidak tahu seperti apa Kak Verrel.”
“Ma—maaf, kak kalau apa yang kulakukan membuat kakak marah. Tapi semua ini aku lakukan supaya kakak bisa bebas. Aku sudah bicara dengan papa dan pengacara. Mereka bilang ada kemungkinan kakak tidak mendekam lama di penjara, kakak bisa jadi tahanan rumah.”
“Maksudmu? Kau pikir semudah itu? Kak Verrel takkan membiarkan aku keluar dari sini."
“Justru itu alasannya kenapa aku menemui mereka di kantornya. Aku tahu mereka masih marah, tapi aku sangat yakin Kak Deandra pasti akan mengerti situasiku. Dia juga seorang perempuan, pasti dia lebih paham.” ucap Iva menjelaskan dengan penuh keyakinan. “Aku takkan menyerah demi kakak, aku rela lakukan apapun untuk membawa kakak keluar dari sini. Kalau perlu aku akan memohon pada Tuan Verrel dan istrinya bahkan pada seluruh keluarga besar Ceyhan kalau perlu.”
Rico hanya menghela napas panjang, dia menatap Iva dengan tatapan yang sulit dimengerti. ‘Kenapa kau begitu bodohnya melakukan semua ini? Aku takkan pernah mencintaimu.”
“Aku tahu kakak tidak mencintaiku, kuharap dengan kehadiran anak ini, kakak bisa memberikan sedikit saja cinta dan perhatian kakak.” pinta wanita itu dengan lirih.
“Kau tahu itu sangat sulit kulakukan Iva. Aku sama sekali tak mencintaimu, tapi kau sangat keras kepala. Kenapa kau lakukan semua ini? Apa kau pikir dengan berkorban, aku akan mencintaimu ?” kata Rico mengusap wajahnya kasar.
“Tak apa. Aku akan tetap menunggu hingga hatimu bisa menerimaku. Aku rela berkorban untukmu kak Rico. Aku sangat mencintaimu. Ijinkan aku untuk membantumu.”
Rico tak merespon, dia sibuk dengan pikirannya. ‘Jika aku bisa keluar dengan jaminan itu berarti aku maish bisa hidup normal. Aku sudah bosan didalam sini,lama-lama aku bisa gila.’ pikirnya.
“Kak Rico! Apa kakak mendengarku?”
“Ya aku mendengarmu.” Rico menggenggam tangan Iva membuat wanita itu tersentak kaget. “Apakah kau akan melakukan apapun untukku?” tanya Rico menyakinkan. Iva menjawab dengan mengganggukkan kepala.
__ADS_1
“Aku takkan menyerah. Jika aku bisa bicara berdua dengan Kak Deandra, mungkin dia akan luluh.” ucap Iva. “Aku akan bicara dengan pengacara mengenai berapa besar uang jaminan.”
“Baiklah. Lakukanlah yang menurutmu terbaik. Aku sudah tak tahan lagi mendekam disini.”
“Aku janji kak. Semua akan baik-baik saja, tapi--”
“Tapi apa?” tanya Rico mengeryitkan keningnya.
“Tapi kakak harus janji padaku,jika kakak keluar dari sini, berjanjilah tidak akan mengganggu istri tuan Verrel lagi.”
Rico terdiam tak menjawab, dia menghirup napas dalam-dalam. Meskipun berat tapi dia tak ada pilihan lain. Sebisa mungkin aku akan berusaha untuk melupakannya, berat sungguh berat tapi aku tak mau di penjara, gumamnya dalam hati.
“Aku akan berusaha,” hanya itu jawaban yang diberikan Rico. Iva tersenyum tipis dia tahu permintaannya akan sangat berat untuk dilakukan Rico.
“Papa bersedia membantu untuk membayar jaminan jika pengacara Tuan Verrel tak mengajukan uang jaminan yang terlalu besar.”
“Bicaralah dengan mamaku, mungkin mama bisa membantu.” ucap Rico. Setelah waktu menjenguk habis, Iva terlihat lebih semangat. Dia yakin, perlahan Rico akan melupakan Deandra dan mulai belajar menerima dirinya. “Aku takkan menyerah untuk mendapatkan hatimu kak Rico. Lihat saja, aku akan membuatmu bertekuk lutut dan mencintaiku,” ucap Iva saat sudah berada didalam mobil yang membawanya pulang kerumah orangtuanya.
...*...
Sang pelayan yang sedang berada didapur pun tersentak kaget mendengar teriakan Andini. Dengan tergesa-gesa dia berlari “Saya, nyonya.”
“Siapa yang mengirimkan paket tadi?”
“Delivery, nyonya. Semacam ojol gitu.” jawabnya.
“Saya peringatkan ya, bibik jangan pernah terima paket apapun jika tak ada nama pengirimnya.”
“Baiklah, nyonya. Tapi kenapa? Apa isi paketnya?”
“Pergi sana, tidak usah kepo mau tahu. Isinya sampah! Makanya lain kali jangan diterima. Ingat itu!” Andini mengeram marah. Didalam paket ada surat yang memintanya mentransfer uang sebesar sepuluh milya rupiah, jika tidak maka semua videonya akan beredar.
__ADS_1
“ARRGGGGG…..SIAL! SIAL! BERANI KALIAN PERMAINKAN AKU!” teriaknya membanting semua barang-barang dikamarnya. Andini terlihat seperti orang yang kehilangan akal. Baru seminggu lalu dia kehilangan sepuluh milyar, kini orang yang memerasnya meminta sepuluh milyar lagi. Wanita itu mengambil ponselnya dan menghubungi Rian.
“Halo. Ada apa Andini?”
“Paket itu datang lagi, tapi kali ini ada surat memintaku menyediakan uang sebesar sepuluh milyar.” isaknya dengan nada sedih. Kembali berakting untuk menarik perhatian Rian.
“Apa? Kapan kau terima paket itu?” tanya Rian terkejut tapi sebenarnya pria itu sedang menahan tawa puas mendengar kepanikan Andini.
“Barusan, pelayan dirumahku yang menerima. Bagaimana ini Rian? Aku tidak punya uangnya, kau ingat baru seminggu lalu aku memberi sepuluh milyar. Aku dapat uang itu dari menjual rumah.”
“Kau menjual rumah?”
“Iya. Aku punya rumah dan tanah yang kubeli tanpa sepengetahuan suamiku.”
“Apa kau sudah menjual kedua-duanya?”
“Sudah. Masih ada sisa dua milyar lagi.Tapi darimana aku dapat delapan milyar lagi? Apakah aku diamkan saja? Aku tidak mau suamiku sampai tahu.”
“Kurasa itu bukan ide buruk. Coba saja kau diamkan dan seolah tak peduli. Tunggu bagaimana reaksinya, apakah si pengirim misterius itu akan mengancammu kembali atau berhenti.”
“Baiklah. Aku turuti saranmu. Terimakasih Rian, sudah ada untukku.”
“Tak perlu berterimakasih. Kau tahu aku akan selalu membantumu.” ucap Rian tersenyum puas dan penuh kemenangan.
Setelah berbicara dengan Rian, hati Andini sedikit tenang meskipun masih tersisa cemas. Dia mengambil paket lalu memasukkan kedalam tas plastik lalu pergi entah kemana setelah memerintahkan pelayan untuk membersihkan kamarnya yang berantakan.
Rian menghubungi anak buahnya “Nanti sore kalian kirimkan lagi paket berikutnya. Jangan lupa surat, minta dia menyerahkan lima belas milyar karena tidak merespon.”
“Baik, bos. Segera kami kerjakan.”
Lalu Rian mengirimkan pesan pada Darma tentang hasil kerjanya hari ini. ‘Ikan sudah memakan umpan. Sore ini paket berikutnya akan dikirim anak buahku. Jumlah uang juga kunaikkan. Aku pastikan dia akan meminjam uang dariku seperti permintaanmu.”
__ADS_1
'Bagus. Setelah pembayaran kedua tak perlu tunggu lama lagi, ancam wanita ular itu bertubi-tubi sampai semua miliknya lenyap dan tak mampu membayar hutang. Balas Darma