TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 150. KEMARAHAN DEANDRA


__ADS_3

“Apa kau tuli! Seenaknya kau memandang suamiku!” bentak Deandra dengan penuh amarah.


“Ma—ma--maaf nyonya. “ tubuh gadis itu bergetar ketakutan.


“Maaf kau bilang? Berani-beraninya kau! Tidak ada seorang wanita pun yang boleh memandang suamiku, paham?” emosi wanita hamil itu semakin memuncak.  Dia tak suka jika ada wanita yang memandang suaminya, apalagi dengan tatapan penuh pesona dan kekaguman, rasa cemburunya membuatnya mengepalkan tangan. Verrel yang melihat kemarahan istrinya langsung mendekati Deandra dan memeluknya. 


“Keluar! Kau akan kuhukum nanti karena lancang!” teriak Deandra.  Amelia pun dengan cepat bangkit dari duduknya dan bergegas pergi.  Sesampainya dilantai bawah dengan setengah berlari dia masuk kedalam mobilnya. ‘Pufff…..untung saja aku tidak kena gampar.  Ohhh Tuan Verrel, betapa tampannya kau! Amelia memejamkan matanya membayangkan wajah Verrel yang tampan dengan badan kekar berotot, khayalan Amelia melayang-layang hingga akhirnya suara ketukan dikaca mobilnya menyadarkannya.


“Sedang apa kau disini, hu?” bentak Deandra penuh amarah. “Kau tidak usah balik ke kantor lagi.  Kau kupecat! Jangan pernah lagi tampakkan wajahmu,” ujarnya marah lalu kembali masuk ke gedung kantor Ceyhan Group.  Amelia yang syok membelalakkan matanya, tak menyangka apa yang baru saja terjadi.  Perlahan dia melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu. ‘Gila benar baru kali ini ketemu bos galaknya minta ampun. Masa ngelihat suaminya aja nggak boleh? Padahal aku cuma memandang suaminya loh bukan mau mengganggu.’ gerutunya kesal.


Sementara Deandra kembali keruang kerja Verrel dengan wajah cemberut.  Melihat istrinya,langsung Verrel memeluknya dan mengusap-usap punggungnya. “Sudahlah, sayang. Jangan marah-marah terus, tidak baik buatmu dan anak kita.” bujuk Verrel.


“Wajar aku marah, dari tadi dia memandangmu terus! Aku tidak suka.” ucapnya kesal. “Dia sudah ku pecat!


“Apa? Kapan kau memecatnya, sayang?”


“Kenapa kau terlihat tak senang? Apa kau menyukai sekretarisku tadi?” tanya Deandr.


“Tidak! Aku sudah punya istri Nyonya Verrel, tak mungkin aku berpaling ke perempuan lain.”


“Hmm….semoga saja.”dengusnya penuh kekesalan. Hari ini dia merasa gampang marah. Meskipun Verrel merayu dan membujuknya tak membuat deandra bergeming.  Dia benar-benar cemburu buta, takut kehilangan suami tercintanya. Dia melihat perutnya yang membesar, mungkin aku tidak menarik lagi pikirnya.


Akhirnya Verrel mengeluarkan jurus ampuhnya, mengecup basah leher Deandra dan menggigitnya membuat wanita hamil itu melenguh dan memejamkan mata. Verrel pun makin gencar memberikan sentuhan-sentuhan hingga Deandra lupa pada marahnya.  Verrel tersenyum puas melihat istrinya mendesah. “Kerjaanku masih banyak, sayang. Jangan menggodaku disini.” ucap Deandra membuka matanya bersamaan dengan ketukan dipintu. “Masuk.”


“Maaf, Tuan, Nyonya. Diluar ada yang bertemu.” kata Hendra.


“Siapa? Dia mau ketemu siapa?” tanya Verrel.


“Namanya Iva Baratha, Putrinya Pak Baratha. Katanya mau bertemu dengan Tuan dan Nyonya.”

__ADS_1


“Baratha? Saya tidak pernah punya urusan dengan perusahaan itu.”


“Ini bukan urusan perusahaan, Tuan. Katanya ada hal pribadi mau dibicarakan.  Apakah saya suruh dia pergi saja, Tuan?”


Belum sempat Verrel menjawab, Deandra menyela “Suruh saja dia masuk.”


“Sayang? Kita tidak mengenalnya, jangan sembarangan mau terima tamu.” ucap Verrel.


“Mana tahu memang ada hal penting.” kata Deandra tersenyum melirik suaminya.


Pintu terbuka dan seorang wanita berjalan masuk sembari menutup pintu dibelakangnya. Verrel dan Deandra mengeryitkan dahi melihat wanita yang mereka kenali. “Selamat pagi,” sapa Iva dengan sopan sambil menundukkan wajah. 


Verrel tampak tak suka dengan kedatangan istri Rico. Deandra berusaha tetap tenang dan tersenyum ramah. “Silahkan, duduk.” ucap Deandra sambil duduk di sofa.  Verrel pura-pura menyibukkan diri namun sesekali melirik kearah istrinya. 'Kenapa tiba-tiba perempuan itu datang kesini?


“Ada keperluan apa datang menemui saya?” tanya deandra tanpa basa basi.  Tanpa pernah bertegur sapa selama ini tiba-tiba Iva datang justru terasa aneh.


“Apa? Keringanan? Kau tahu apa yang sudah dilakukan si brengsek itu padaku?”


“Saya tahu kak. Ta—tapi saya sedang mengandung anak kak Rico. Kasihan anak saya kalau papanya di penjara. Saya membutuhkan suamiku disisiku selama aku mengandung,” ucap Iva lirih dan airmatanya mulai menetes.


Deandra menghela napas panjang, satu sisi dia kasihan pada Iva tapi dia sangat membenci Rico dan ingin Rico dihukum seberat-beratnya. Tapi, sebagai seorang istri dan ibu, dia paham perasaan Iva karena dia pernah merasakan sendirian tanpa suaminya. Wanita itu tak merespon hanya menatap Iva lalu beralih ke Verrel meminta saran. 


“Saya tidak suka jika ada orang yang menyakiti keluargaku apalagi menyentuh istriku! Apa yang bajingan itu lakukan sudah kelewat batas!” geram Verrel dengan wajah marah.  Mendengar suara Verrel yang menggelegar membuat Iva ketakutan dan ciut. Tangannya menahan kedua lututnya yang bergetar, dengan refleks dia berlutut dihadapan Deandra sambil menangis. “Saya mohon kak, katakan apa yang kakak mau aku lakukan agar suamiku bisa bebas.”


“Bebas? Bebas kau bilang? Tidak akan semudah itu untuk membebaskannya.  Lebih baik kau pergi sekarang.  Aku sedang sibuk dan kedatanganmu sudah merusak suasana hatiku.  Kau lihat aku sedang hamil besar dan aku tidak boleh stress. Pergilah dan aku tidak mau mendengar ataupun mau tahu tentang bajingan itu.” ucap Deandra lalu bangkit dari duduknya berjalan kearah suaminya yang merentangkan tangan memeluknya.  Dengan tersedu-sedu Iva keluar dari ruangan itu setelah pamit. Gagal! Usaha pertamanya gagal dan dia sadar ini akan terjadi. ‘Aku tidak akan berhenti, aku akan terus berusaha, gumamnya. Supir Baratha yang mengantar Iva pun heran melihatnya menangis.  “Non, mau langsung pulang atau mau kemana lagi?” tanyanya.


“Tolong antar saya menemui suamiku ya pak.”


“Baik, non. Apakah tadi nona ketemu dengan Tuan Verrel?”

__ADS_1


“Iya, pak. Saya ketemu Tuan Verrel dan istrinya, mereka menolak saya.” ucapnya sedih.


“Sabar ya non, banyak berdoa supaya Allah lancarkan semua urusannya non,”


“Makasih ya pak,” sahutnya menyeka airmatanya.


...*...


“Aku sudah duga dia datang pasti soal bajingan itu,” ucap Verrel memeluk istrinya yang membenamkan wajahnya ke dada bidang Verrel. “Hemm….kasihan juga ya.”


“Siapa kasihan? Kau kasihan sama si brengsek itu?”


“Bukan! Sama istrinya. Aku jadi ingat waktu kau hilang dan aku kesepian.”


“Sudahlah, sayang. Jangan susah hati karena orang lain.  Terus, apa pendapatmu tentang permohonannya tadi?”


“Tidak tahu. Biarkan saja hukum yang menentukan.” Deandra mendongakkan wajahnya menatap Verrel “Apa ada kemungkinan dia bisa bebas dengan jaminan?”


“Itu bisa saja jika dari pihak kita menyetujui, dengan jaminan sejumlah uang.”


“Oh,begitu ya. Uang. Berapa banyak?” tanya Deandra penasaran membuat Verrel menatap tajam wajah istrinya.


“Memangnya kau mau dia bebas dengan jaminan?” tanya Verrel penasaran, dia mulai cemburu.


“Tidak semudah itu, kalau aku minta jaminannya tinggi dan syarat lain, bisa tidak?”


“Sayang!” seru Verrel.


 

__ADS_1


__ADS_2