
Setelah berhasil melewati drama dengan sang istri, Verrel yang baru selesai membersihkan diri nampak keluar hanya dengan melilitkan handuk dipinggangnya. Pandangan matanya menangkap siluet seorang wanita yang memakai lingeri tipis sedang meletakkan pakaian kerja untuknya. Verrel langsung mendekat dan memeluk wanita itu dari belakang. Deandra terkesiap, kemudian suaranya berubah menjadi ******* yang tertahan. Verrel meremas gundukan lembut yang tak disanggah bra.
“Verrel.”
“Hmmm.”
“Kau harus ke kantor, sayang?” Deandra menggigit bibir bawahnya berusaha menahan desahannya agar tak mengalun. Ia tahu jika suaminya hanya bermain-main saja. Wajah Verrel perlahan berubah menjadi lesu. Itu akibat jika terlalu mementingkan kenikmatan daripada pekerjaan. Mau tak mau ia harus memenuhi kewajibannya sekarang.
“Sebaiknya kau bersiap,” ucap Deandra sambil menahan tangan Verrel agar berhenti bermain-main didadanya. Bukannya berhenti, dia malah semakin aktif menggigit lehernya dan meninggalkan tanda kepemilikan disana dan mengisapnya berulang kali. Deandra selalu menyerah jika sudah begitu, tanpa sadar dia mulai mendesah manja dan kepalanya menengadah.
“Ka—kau….akan terlambat...ahhhh...”
Posisi mereka berdua kini berubah saling berhadapan, dan tak perlu waktu untuk Verrel membungkam semua ucapan istrinya dengan menciumnya dengan liar yang menghanyutkan Deandra. Mudah sekali gairah pria itu tersulut, padahal baru tiga puluh menit yang lalu mereka menyelesaikan aktivitas ranjang pagi hari. Verrel yang selalu beralasan ingin menyapa anaknya.
Ponsel diatas nakas berdering kencang, Verrel menarik diri dan mendesah kecewa. Melihat siapa yang menghubunginya, ternyata sang asisten. “Ada apa?”
“……….”
Verrel mendengarkan dengan seksama. Deandra mendekat dan membawa sehelai kemeja, Verrel membiarkannya membantunya berpakaian.
“Kapan?” Verrel meraih lengan istrinya untuk menghentikan gerakan tangan wanita itu.
“……….”
“Baiklah. Katakan pada Tuan Bastian aku akan datang.”
“Sayang, sepertinya hari ini aku bisa menemanimu seharian.” ucap Verrel dengan seringai nakal dibibirnya. Ia melemparkan ponsel keatas ranjang lalu menarik pinggang Deandra merapat ke padanya.
Deandra mengerjap masih tak mengerti maksud suaminya. “Kau tidak ke kantor?”
Verrel menggeleng.
“Tapi investor itu--”
Alih-alih menjawab, Verrel malah mendaratkan kecupan bertubi-tubi dan berakhir dengan ******* liar. Setelah puas melakukan itu, Verrel menarik diri. Ia memandang istrinya yang terlihat menikmati setiap sentuhannya.
__ADS_1
“Jadi? Kau tidak keluar?” tanya Deandra dengan suara parau. Pandangan matanya berkabut penuh gairah, Ia senang jika suaminya menemaninya jadi dia bisa bermanja-manja. Ah, berarti sepanjang hari aku bisa bermanja-manja dengan suamiku, pikirnya.
“Tidak.”
Deandra pun tersenyum simpul.
“Hmm…..apa arti senyumanmu?” Verrel meraih dagu istrinya dan mengusap bibirnya yang basah menggoda. Kedua pipi Deandra merona, entah mengapa akhir-akhir ini dia selalu merindukan sentuhan suaminya dan tak ingin jauh-jauh darinya.
“Apakah ini berarti….” Verrel mengedipkan sebelah matanya menggoda Deandra. Wanita itu semakin salah tingkah “Apakah kau ingin bermanja-manja sepanjang hari dan bercinta?”
Blush!
Wajahnya semakin merona dan tak mampu lagi menyembunyikan bias merah dipipinya yang tembem. Deandra langsung melingkarkan tangan dileher suaminya dan membenamkan wajah didada bidang pria itu. Tempat ternyaman favoritnya. Dengan penuh keyakinan dia pun berkata “Iya, aku ingin bermanja denganmu sepanjang hari. Aku menginginkanmu, sayang.” ucapnya semakin membenamkan wajahnya dan menghirup aroma maskulin tubuh suaminya.
"Aku senang sekali kau tidak ke kantor hari ini." ucap Deandra, didalam hatinya dia bersorak-sorak itu artinya dia bisa minta suaminya menemaninya nonton dimini theather yang ada dirumah. Dia juga ingin masak untuk suaminya hari ini.
...*...
“Zaki! Kenapa lama sekali kau bergerak! Masih belum ada kabar apapun untukku?” tanya Rico yang saat ini sedang marah. Tangannya mengepal diatas meja, dia semakin tak sabar untuk merebut Deandra dengan cara apapun. Kenapa harus menunggu lama, aku rela membayar berapapun untuk menyingkirkan semua orang yang menghalangiku untuk merebut kekasihku kembali. Aku tak peduli dia sedang mengandung anak pria lain, yang penting dia jadi milikku, gumamnya dalam hati.
“tapi aku--” ucapan Rico terpotong saat ketukan dipintu ruangannya.
“Kabari jika kau sudah mulai bergerak. Harus secepatnya, aku tak mau menunggu lebih lama.”
Panggilanpun terputus. Rico membenarkan posisi duduknya. Mengusap kasar wajahnya.
“Masuk.”
Pintu terbuka, sekretarisnya datang bersama seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah mama-nya. Andini melangkah memasuki ruang kerja Rico sambil menatap wajah putranya itu.
“Buatkan dua cangkir teh, Tania.”
Sekretaris itu membungkukkan badan “Baik, Pak.”
Setelah itu Tania keluar dan menutup pintu ruangan.
__ADS_1
Rico menghela napas dalam-dalam lalu bangkit dari duduknya dan memeluk Andini lalu menuntunnya duduk disofa. “Tumben mama datang kesini,”ucapnya heran karena ini pertama kalinya Andini datang berkunjung ke kantornya. Wanita itu menyilangkan kakiya di sofa
“Kenapa? Apakah mama mengganggu waktumu bekerja?” ucap Andini ketus karena melihat ketidaksukaan diwajah Rico melihat kedatangannya.
“Tidak,” ia menjeda ucapan Andini. “Kebetulan Rico baru saja selesai bekerja, jadi bisa sedikit santai.” jawabnya beralasan agar tak memancing kemarahan mamanya.
“Bagus kalau begitu. Jadi ada alasan untuk cepat pulang hari ini.”
Rico mengeryitkan dahinya “Pulang? Maksud mama pulang kerumah?” tanyanya heran.
Andini menggangguk. “Ya. Mama sudah minta pelayan untuk memindahkan semua barang-barang dari apartemenmu kerumah mama. Mulai malam ini kau dan iva akan tinggal bersama mama dan papa sampai kalian punya ketturunan.” kata Andini penuh penekanan. Dia memang sudah merencanakan semuanya, memantau putra dan menantunya agar secepatnya bisa memberinya cucu. Andini sudah tak tahan mendengar omongan teman-teman sosialitanya yang selalu bertanya tentang cucu.
“Apa?”pekik Rico hingga ia bangkit dari posisinya. “Mama memindahkan semua barang-barangku?” teriak Rico terkejut dan tidak terima atas sikap mamanya yang seenaknya melakukan sesuatu tanpa meminta persetujuannya.
“Turunkan nada suaramu! Bersikap sopan pada orangtua,” balas Andini tak kalah kencang.
“Ma---”
Andini mengangkat satu tangannya “CUKUP!. Mama tidak mau mendengar penolakan.” Andini pun bangkit. “Mama ingin kau pulang cepat hari ini. Istrimu sudah masak makanan kesukaanmu dan mama harap kau tidak mengecewakan.”
Sekretaris Rico datang membawakan dua cangkir teh, kedua ibu dan anak itu bersikap tenang. Namun setelah Tania keluar dari ruangan, Andini kembali memarahi Rico.
"Apa yang ada dipikiranmu, ha? Kau sangat bodoh Rico."
"Mama jangan bilang aku bodoh. Lagipula mama yang terlalu berambisi menjodohkanku dengan Iva. Aku punya kekasih dan mencintai kekasihku."
"Apa kau bilang! Kekasih? Perempuan itu istri orang, dia sudah menikah dengan anak sialan itu dan sedang hamil!"
"Aku tidak peduli, Ma." ucapnya dengan napas mendengus.
"Pikirkan baik-baik ya Rico. Kalau sampai kau dan iva bercerai maka kau akan kehilangan semuanya. Kenapa tidak kau nikmati saja kekayaan keluarga Baratha?"
" Apa mama lupa, dulu mama bilang apa? Aku bisa ceraikan Iva nanti kalau kekasihku sudah kembali. Aku akan merebut kekayaan keluarga Ceyhan dan merebut kekasihku tanpa kehilangan kuasaku atas harta kekayaan keluarga Baratha selagi Iva ada bersamaku." ucapnya dengan penuh keyakinan. Rico semakin serakah ingin menguasai semuanya.
"Sialan. Kenapa kau mau ambil resiko sebesar itu, ha? Pikirkan baik-baik sebelum bertindak." ucap Andini yang mulai cemas. Andini meninggalkan kantor itu dengan seringai yang sulit diartikan.
__ADS_1