TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 36. PERMINTAAN MAAF


__ADS_3

“Berani kau menamparku hah?” bentak Verrel marah, tatapannya tajam menghunjam.


“Kau pantas untuk itu! Kau iblis! Kau kejam! Aku membencimu!”


“Apa kau bilang! Akan kubuat mulutmu itu tidak bisa berkata-kata lagi,” tangannya hendak menarik pinggang deandra tapi dia menghindar dengan cepat.


“Lakukan saja! Kau pikir aku takut? Kau pikir kau siapa hah? Sesuka hatimu menyuruh orang memukuli bayu!” matanya semakin tajam. Verrel tidak menyangka melihat keberanian gadis itu yang menantangnya. Deandra memukuli lengan dan dada Verrel, namun pukulan itu tidak terasa apa-apa. Verrel berdiri tegak menerima pukulan dari tangan kecil Deandra, terasa seperti pijatan ringan baginya.


“Dia beruntung masih hidup,” jawab Verrel enteng.


“Aku membencimu! Kau jahat! Kau memukul orang yang tidak salah!” deandra mengarahkan telunjuknya pada Verrel. Dengan gerak cepat Verrel menarik tangan deandra dan memeluknya.


“Tidak salah kau bilang? “INGAT! Tidak ada seorangpun yang bisa menyentuh milikku!” tatapan matanya semakin tajam dan mengerikan.


“Dia memelukmu seperti ini! Kau suka dipeluk ya? Dasar perempuan ******!” bentaknya.


“Kau benar! Aku memang perempuan ****** dan kau yang membuatku jadi ******!” hidungnya kembang kempis menahan emosi. “Puas?”


Verrel mempererat pelukannya dan mencium bibir gadis itu dengan liar “Tidak, kau berbeda. Kau tidak sama dengan mereka. Kau milikku.” melembutkan suaranya saat melihat mata gadis itu berkabut, dia tidak ingin deandra menangis karena itu sangat menyakitkan hatinya.


"Kau selalu berbuat sesuka hatimu! Apa kau pernah memikirkan perasaanku? Tidak ! Karena kau tidak punya perasaan! Bagimu, aku hanya pemuas nafsumu, tidak lebih !" Deandra menumpahkan semua kekesalannya pada Verrel.


"Kalau aku tidak peduli padamu, kau tidak ada disini. Mungkin kau sudah dijual pamanmu."


“Kalau peduli padaku lalu kenapa kau suruh orang-orangmu menghajar Bayu?


"Supaya jelas bagimu, Bayu tidak sengaja memelukku karena aku hampir jatuh. Kalau bayu tidak menarik tanganku, aku sudah jatuh dan kepalaku terbentur batu besar itu. Aku mati! Apa kau mau itu?”


Verrel terdiam menatap netra mata gadis itu, dia melihat kejujuran dimatanya. Verrel memang memerintahkan bodyguardnya untuk menghajar siapa saja yang berani menyentuh Deandra. Saat melihat Bayu memeluk gadis itu, dengan refleks kedua bodyguard langsung menghajar bayu.  Semua bodyguard Verrel seperti terprogram untuk menuruti perintah tuannya tanpa melihat situasi sebenarnya.


“Berani kau membela laki-laki itu! Apa dia begitu berarti bagimu?”

__ADS_1


“Ya, dia lebih berarti daripadamu, karena dia manusia bukan iblis sepertimu,” jawab Deandra lantang.


Kata-kata itu menyakitkannya, seorang Verrel yang terkenal dengan reputasinya dan punya ego tinggi, Dia tidak terima jika Deandra membandingkannya dengan pria lain.


“Kita lihat apa yang bisa dia lakukan saat kau kukembalikan pada pamanmu.” kata Verrel mengancamnya.


“Aku sudah tidak peduli jika kau kembalikan aku pada pamanku. Hidupku sudah tidak berarti. Tubuhku sudah kotor! Mungkin itu lebih baik daripada harus bersama pria sepertimu! Aku tidak sudi tinggal disini.”


Deandra tahu betul karakter Verrel yang tidak akan pernah melepaskannya. Dia mencoba meruntuhkan ego pria itu.  Terlihat raut wajah pria itu berubah, mungkin dengan memaksakan kehendaknya membuat gadis itu semakin menentangnya, dia berbeda dengan wanita lain yang mudah untuk ditaklukkan.


“Katakan apa maumu," ucapnya dengan nada datar berusaha menekan emosinya.


“Kalian sudah menghancurkan galery itu, membuatnya babak belur. Kau tahu, bayu adalah tulang punggung keluarganya tapi mereka memukulinya. Dia tidak bisa bekerja.”


“Aku akan perintahkan anak buahku memberikan ganti rugi untuk kerusakan galerynya dan membiayai pengobatannya. Sudah cukup?”


“Belum. Minta maaf padanya,” deandra tersenyum sinis. Dia ingin melihat seorang Verrel Aditya Ceyhan meminta maaf, hal yang tidak pernah dia lakukan.


"Jack! Suruh anak buahmu ke galery itu, berikan ganti rugi dan bayar biaya pengobatan pria itu sampai sembuh.


“Apa katamu?”


“Buat orang kaya sepertimu, mungkin semua bisa diselesaikan dengan uang. Tapi kau salah, kau memang bisa memberinya uang untuk ganti rugi tapi apa itu akan menyembuhkan luka hatinya atas perbuatan kalian? Apa hubungan pertemananku akan membaik? Bayu pasti membenciku sekarang.” kata deandra.


“Aku akan suruh mereka minta maaf,”


“Bagaimana denganmu, Tuan Verrel yang terhormat? Apa meminta maaf terlalu berat bagimu? Kau sudah melukai temanku, kau melukai hatiku. Bagaimana kau akan menyembuhkan luka hatiku?”


“Apa yang kau mau? Akan kuberikan.”


“Minta maaflah,” ujarnya menatap wajah Verrel yang sudah mulai tenang dan terkejut mendengar permintaan Deandra.

__ADS_1


“Aku minta maaf,”


“Akan kupikirkan,” kata Deandra. ‘Tidak semudah itu aku akan memaafkanmu, kau harus bisa membuang jauh egomu’ gumamnya dalam hati.


“Apa? Kau tahu betapa sulitnya bagiku--”


“Aku akan memaafkanmu, tuan. Tapi dengan syarat berhenti membentakku, bersikap manislah padaku dan ijinkan aku kembali bekerja,” ucap Deandra. Bekerja membuatnya bahagia, meskipun semua dia dapatkan sekarang tapi dia terkekang di sangkar emas.


“Deandra Ailsie. Maafkan aku, sayang. Aku akan lakukan apa yang kau minta, kecuali bekerja. Aku tidak mau kau bekerja lagi, Nyonya Verrel,” akhirnya kalimat itu meluncur dari mulutnya dengan penuh kelembutan sambil menatap mata Deandra. Dia rela merendahkan dirinya, membuang ego demi gadis itu. Mulut gadis itu menganga tidak percaya. Ya, ampun! Dia minta maaf? Dia bilang Nyonya Verrel? Apakah aku akan dirumah selamanya? Oh, Tuhan. Kenapa dia terlihat sangat tulus?


Drama pertengkaran berakhir dengan gencatan senjata. Yuna dan pelayan lainnya terlihat senang saat melihat kedua majikannya berjalan bergenggaman tangan menuruni anak tangga menuju keruang makan. 


Pemandangan langka dirumah itu, melihat sang tuan besar bersikap semanis itu setelah ditampar oleh seorang wanita. Ternyata benar kata Arion waktu itu, Deandra adalah pawangnya Verrel.


Keduanya duduk bersebelahan di meja makan, Deandra terlihat lebih diam dari biasanya, bagaimana tidak, setelah drama pertengkaran hebat, mereka hanyut dalam lautan cinta yang membuat gadis itu mendesah kelelahan melayani sang tuan besar. Semarah apapun gadis itu, Verrel tahu cara meredakan amarah Deandra. Begitu pula sebaliknya, ibarat sepasang sandal, mereka saling melengkapi.


Makan malam kali ini berbeda, Verrel yang menyendokkan nasi dan lauk ke piring deandra dan menyuapinya dengan sabar.


Kedua orang yang terlihat mesra itu menjadi pemandangan indah bagi semua penghuni rumah mewah itu.  Senyum terpancar dari semua penghuni rumah melihat sikap sang tuan besar yang romantis.  Jika saja Frans melihat sang tuan besar yang romantis, sudah bisa dipastikan Frans akan masuk ICU karena struk kena serangan jantung.


...**...


Pagi ini, kericuhan terjadi di ruang meeting saat Verrel keluar dari ruangan itu dengan wajah marah. Amran Ceyhan yang berada diruangan itupun segera beranjak meninggalkan semua anggota dewan direksi yang berbisik dan memandangnya sinis.


Semua orang tidak menyukai pria paruh baya itu yang sudah berselingkuh dan membuat istri pertamanya menderita gangguan mental. Amran Ceyhan adalah ayahnya Verrel, hubungan keduanya memanas setelah kejadian perselingkuhan ayahnya terbongkar. Apalagi Amran lebih memilih wanita selingkuhannya dan anak keduanya ketimbang istri dan anak pertamanya.


Karakter Amran dan Verrel hampir sama, keras dan dingin, wajah merekapun sangat mirip. Tapi untuk urusan asmara keduanya berbeda. Verrel hanya memiliki satu mantan kekasih, dia sangat teliti dan hati-hati dalam memilih wanita yang jadi pasangannya, sedangkan ayahnya tukang selingkuh dan punya banyak mantan pacar. Amran keluar dari gedung perkantoran itu dengan emosi membara.


Verrel mengumumkan pernikahannya didepan semua orang, sementara ayahnya tahu soal pernikahan itu dari orang lain. Dia tidak terima atas sikap Verrel yang tidak mengganggapnya. “Dasar anak sialan! Kau sudah permalukan aku didepan semua orang!” tangannya memukul sandaran kursi depan membuat supir pribadinya terkejut.


“Langsung pulang!” teriaknya pada supir pribadinya.

__ADS_1


__ADS_2