TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 188.KEHAMILAN KEDUA


__ADS_3

“Yuna! Kemana Verrel dan Deandra? Aku tidak melihat mereka dari tadi.” kata Ayu menanyakan keberadaan anak dan menantunya yang tak terlihat dimeja makan untuk sarapan bersama.


“Itu….Nyonya dibawa oleh Tuan kerumah sakit. Tadi buru-buru perginya, katanya perut nyonya sakit dan wajahnya pucat.”


“Kenapa Deandra?” tanya Yahya cemas.


“Saya juga belum tahu Tuan karena Tuan Verrel belum ada mengabari sampai sekarang.”


Tak lama deru suara mobil berhenti didepan pintu masuk. Verrel menggendong istrinya yang melingkarkan tangan dilehernya.


“Oh itu tuan dan nyonya sudah pulang.” kata Alya pelayan pribadi Deandra. Tampak Verrel menggendong Deandra, pelayan menutup kembali pintu depan.


Ayu, Yahya dan Viktor beserta Darma pun meninggalkan ruang makan dan pergi menyambut sepasang suami istri itu.  Verrel mendudukkan istrinya di sofa dan meminta Alya untuk membuatkan bubur untuk Deandra.


“Verrel, kenapa dengan anakku?” tanya Darma cemas lalu duduk disamping putrinya.


“Dea tidak sakit, pa.” ucap deandra menyandarkan kepala dibahu sang ayah.


“Kami ada kabar gembira, istriku hamil lagi.”


“Apa?” serempak semua terkejut. Tangan Yahya sudah menjewer telinga Verrel dengan reflek membuat Verrel terkejut. Yahya tak menyangka jika cucunya akan secepat itu membuat Deandra hamil lagi padahal usia anak mereka baru akan memasuki usia delapan bulan.


“Opa….kenapa ini?” teriak Verrel kesakitan.


“Dasar anak nakal! Bisa-bisanya kau membuat cucu mantuku hamil lagi. Kau tidak bisa tahan sedikit, ha?”


“Opa…..seharusnya Opa senang kalau dapat cicit lagi."


“Keterlaluan kau Verrel. Kenapa tak kau pikirkan istrimu, ha? Dia masih lelah melahirkan dan mengurusi kedua anakmu. Sekarang kau buat dia hamil lagi, apa kau tidak kasihan? Opa tidak mau dengar alasan apapun dari kalian. Cukup! Ini terakhir kali Deandra akan hamil.” kata Yahya gusar melihat kelakuan cucunya.

__ADS_1


“Kami mau kejar target, opa. Biar rumah ini tambah ramai. Setelah ini istriku bisa istirahat lama dan menikmati hidup tak perlu hamil lagi.” kata Verrel beralasan.


“Verrel…..Verrel…..” ucap Ayu geleng-geleng kepala tak habis pikir dengan kelakuan anaknya.


“Target apa mau kau kejar ha? Kau pikir istrimu ini pabrik anak? Dengar opa baik-baik ya…..jaga kandungan cucu mantuku baik-baik. Ini yang terakhir, opa tidak mau dia kelelahan harus terus-terusan melahirkan.”


“Iya, opa.”


“Sayang, banyak istirahat ya. Kalau perlu apa-apa bilang sama papa.”


“Iya pa. Papa jangan pulang kerumah ya, menginap disini saja beberapa hari.”


“Baiklah, sayang. Papa akan disini menemanimu, lagian papa kangen terus sama si kembar.”


“Mereka makin menggemaskan pa. Dea sampai pusing melihat tingkah mereka yang suka berantakin barang-barang. Kasihan pengasuhnya.” kata Deandra.


Suara guci pecah, semuanya menoleh melihat Naomi yang duduk disamping sebuah guci yang dia dorong sampai pecah sambil tertawa.  Entah sudah berapa banyak barang dirumah itu yang pecah akibat ulah Naomi yang jauh lebih aktif dari Nathan. Jika Nathan aktif suka berkeliaran apalagi sudah bisa berdiri sambil berpegangan namun berbeda dengan Naomi yang suka memberantakin barang-barang. Gara-gara dia suka mengeluarkan pakaiaannya dari lemari akhirnya semua lemaripun di kunci. Sekarang semua barang yang bisa dijangkaunya pun tak luput dari tangan mungilnya didorong dan pecah.


“Naomi, sayang.” dengan cepat Verrel berlari kearah putrinya dan menggendongnya. Begitu berada dalam gendongan sang ayah, Naomi langsung membenamkan kepala kedada bidang Verrel seakan mencari perlindungan jika dimarahi sang ibu. “Kenapa dipecahkan sayang, tidak boleh ya itu mommy yang beli.”


“Tuh anak kesayanganmu suka sekali mecahin barang-barang apalagi kalau tidak ada kau dirumah. Itu guci pasti sengaja dia dorong untuk cari perhatianmu.” kata Deandra yang tahu betul tingkah putrinya yang lengket dengan Verrel.


“Daddy disini sayang. Jangan nakal ya kasihan sama mommy capek.” Verrel membujuk anaknya sambil menatap wajah cantik Naomi yang sedang memandangnya. “Kenapa anak daddy? Rindu ya pagi-pagi bangun tidur tidak lihat daddy?” tanyanya yang dijawab anggukan oleh Naomi.


"Kalian ini bisa atau tidak jaga anakku?" teriak Verrel memarahi kedua pengasuh Naomi. "Bisa-bisanya kalian biarkan Naomi berkeliaran seperti ini memecahkan guci. Kalau dia terluka apa kalian mau tanggung jawab?"


"Ma--maaf Tuan. Saya kedapur mengambil makanan untuk nona Naomi dan Dina sedang membersihkan kamar." ujar pengasuh bernama Ratna itu.


"Lain kali jangan tinggalkan dia sendirian begini." dengus Verrel kesal lalu berjalan kearah sofa dan menciumi wajah cantik putrinya.

__ADS_1


"Jangan dimarahi, tadi dia sudah ijin sama mama. Makanya Naomi ditinggal, kau tahu kan Naomi itu aktif sekali tak bisa diam. Silap mata sebentar dia sudah menghilang."


"Makanya jangan buat anak terus, nanti kau tambah pusing menghadapi anakmu. Terlalu rapat jarak umur mereka nant kau juga yang repot. Dua anak saja kau sudah kerepotan apalagi tambah. Ingat Verrel, opa tidak mau kalau cicitku kurang kasih sayang dan perhatianmu." ancam Yahya. Sementara Viktor hanya bisa geleng-geleng kepala karena dia banyak tahu tentang Verrel dari cerita Yahya.


...*...


“Ssssh….”


Suara ringisan deandra mencicit saat merasakan keram pada perut bagian bawah, tepatnya dimana janin itu tumbuh. Selain itu pinggangnya pun terasa nyeri sekali.


“Ve---verrel.”


Dengan enggan Deandra membuka kedua matanya namun ia tak mendapati keberadaan sang suami yang entah ada dimana. “Kemana dia?” gumam wanita itu sambil menahan rasa kram yang semakin menjadi-jadi. Tak mampu menunggu sementara rasa sakit itu semakin meningkat, ia kemudian bangkit.


“Ini sakit sekali.” Tanpa terasa air matanya menetes, Deandra mencoba mengambil napas dalam-dalam sesuai anjuran dokter kandungan waktu itu. Ia kemudian bangkit. “Kenapa bisa sakit begini.”


Deandra pun mengingat perkataan dokter anita waktu itu. “Kehamilan kedua anda sangat rawan, bu. Jadi saya harap anda selalu berhati-hati dan mengikuti setiap intruksi yang saya berikan. Selain ibu, ayahnya juga harus ikut andil ya untuk menjaga. Mengingat Nyonya melahirkan anak kembar sebelumnya dan jaraknya dengan kehamilan kedua ini juga tidak jauh.”


Deg!


Dada Deandra berdetak kencang mengingat pesan dokter kala ia diantar Verrel kerumah sakit waktu itu. Seketika ia memasukkan tangannya kearea feminim untuk mengecek apakah ada noda darah.  Rasa basah dan tak ada noda darah apapun disana tapi rasa basah yang menyergap jari-jarinya yang menyentuh area itu membuat Deandra menjerit.


Verrel yang baru saja bermain dengan kedua anaknya langsung kembali ke kamar ketika mendengar jeritan nyaring yang ia yakini adalah suara istrinya. Ia berjalan cepat dan mendorong lebar-lebar pintu yang terbuka itu. Diatas ranjang sang istri menjerit histeris dipelukan Yuna yang sudah lebih dulu masuk.


“Kenapa sayang?” tanya Verrel yang kemudian mengambilalih posisi Yuna dan memeluk Deandra.


“Sa---sakit. Bayiku…..Verrrel…..bayi kita.” racau Deandra makin tak jelas diiringi tangis yang memilukan.


 

__ADS_1


__ADS_2