
Situasi diluar ruang VIP dimana Deandra dirawat dijaga ketat begitu juga dengan ruangan NICU. Yahya dan Viktor yang marah atas kecelakaan yang menimpa cucu dan cicit merekapun mengerahkan anak buahnya untuk mencari dalang dibalik kecelakaan itu.
Sampai saat ini belum ada informasi apapun yang berhasil didapatkan berhubung lokasi kecelakaan berada dijalur sepi dan tidak ada kamera pengawas jalan.
Verrel lebih banyak menghabiskan waktunya diruangan Deandra sambil bekerja. Frans beserta dua sekretaris Verrel selalu bolak balik kerumah sakit membawa dokumen.
Untuk proyek kerjasama dengan perusahaan ayah Olivia pun di serah terimakan pada Arion. Hari ini Olivia terlihat datang kerumah sakit untuk menjenguk Deandra.
"Sayang, bangunlah. Apa kau tidak ingin melihat anak kita? Aku merindukanmu." ucap Verrel ditelinga Deandra. Matanya nanar menatap selang-selang yang ada ditubuh istrinya.
"Deandra sayangku! Jangan diam saja, ayo buka matamu sayang. Apa kau tidak bosan hanya berbaring disini? Apa kau tak merindukanku?" setetes airmata jatuh dan mengenai pipi Deandra.
Verrel mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. 'Aku harus selesaikan masalah ini. Mata ganti mata! Aku janji padamu akan menemukan pelakunya. Bertahanlah sayang....buka matamu dan kembalilah padaku.
Sementara diluar ruangan, Olivia ditahan oleh pengawal. "Apa anda sudah dapat ijin dari Tuan Besar?"
"Sudah! Silahkan kalian tanya langsung padanya."
Pengawal pun membuka pintu dan masuk untuk bertanya pada Verrel. Tak lama pengawal itu pun keluar.
“Silahkan masuk nona Olivia.” ujar pengawal sambil membukakan pintu. Olivia melihat Verrel yang duduk di samping ranjang istrinya sambil memegangi tangan istrinya.
“Halo Tuan Verrel. Maaf saya datang ingin menjenguk istri anda.” ujar Olivia sambil meletakkan buket bunga yang dibawanya diatas meja.
“Ehm….silahkan duduk.”
“Bagaimana kondisi nyonya Deandra sekarang? Apakah ada kabar terbaru dari dokter?”
“Belum. Seperti yang kamu lihat, dia masih belum sadarkan diri.”
“Saya ikut prihatin dengan kejadian yang menimpa keluarga anda. Jika ada yang bisa saya lakukan, jangan sungkan-sungkan saya akan selalu membantu.”
“Terimakasih.” ujar Verrel menatap istrinya yang terbaring dengan mata sedih. Olivia memperhatikan sikap Verrel yang sangat perhatian pada istrinya membuat hatinya terenyuh dan semakin menyukai pria itu. Meskipun semua orang mengenalnya sebagai pria yang kejam tapi sikapnya sangat perhatian dan menyayangi istrinya.
“Bolehkah saya melihat anak anda? Saya dengar kabar kalau mereka kembar tiga.”
“Iya betul. Mereka lahir prematur dan masih berada di inkubator, mari saya antar keruangannya.” ucap Verrel. Olivia mengikuti Verrel. Mata Olivia terpana melihat ketiga bayi mungil yang berada didalam inkubator. Mereka terlihat sangat menggemaskan, Olivia melirik Verrel yang tampak tersenyum memandang ketiga bayinya.
‘Kenapa pria ini begitu tampan, dia hot daddy paling tampan yang pernah kulihat.’ Gumam Olivia dalam hati sambil menatap Verrel tak berkedip.
“Kapan ketiga bayi ini diperbolehkan untuk dibawa pulang?” tanya Olivia.
__ADS_1
“Mungkin sekitar sebulan.”jawab Verrel singkat.
“Oh…...”
****
“Hei siapa kamu? Apa yang kamu lakukan disitu?” teriak Tami pada seorang pelayan yang sedang memegang sapu dan ember berisi air. Pelayan itu sedang berdiri disudut lantai dua. Tami belum pernah melihat pelayan itu sebelumnya.
“Saya disuruh membersihkan lantai dua.” jawab pelayan itu.
“Kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Siapa kamu?” ulang Tami bertanya.
“Namaku Minah, aku juga bekerja disini. Tepatnya dibangunan belakang.”
“Kau lupa atau tidak tahu peraturan dirumah ini? Hanya pelayan yang bertugas dirumah utama yang boleh masuk kesini! Lantas buat apa kau disini?”
“Tadi kan aku sudah bilang sama mbak nya kalau aku disuruh membersihkan lantai dua.”
“Siapa yang menyuruhmu? Apa Bu Yuna yang menyuruhmu?”
“Oh ya? Apa kau pikir aku percaya? Tunggu disini, jangan kemana-mana. Aku tanya sama Bu Yuna dulu soal ini. Karena semuanya dirumah ini harus dengan persetujuan Bu Yuna. Ingat itu!”
“Ba—baik. Maaf kalau aku lancang, aku cuma mau membantu saja.”
Tami pun mengeluarkan ponselnya dari saku dan menghubungi Yuna. Matanya terus memandang pelayan itu yang gelagatnya mencurigakan. Semua pelayan dirumah itu paham peraturan yang berlaku dan semua pelayan harus melapor atau meminta ijin pada Yuna sebagai kepala pelayan.
“Halo, Tami ada apa?”
“Bu Yuna disini ada pelayan yang katanya mau membersihkan lantai dua. Apa ibu sudah memberikan ijin?” tanya Tami.
“Pelayan? Pelayan yang mana?” tanya Yuna bingung karena hari ini pelayan yang bertugas dilantai dua sudah menyelesaikan tugasnya tadi pagi.
“Bisakah Bu Yuna kelantai dua?” tanya Tami. “Pelayan ini tidak bertugas dirumah utama.”
“Tunggu disitu, saya segera datang. Tahan pelayan itu jangan sampai pergi.”
“Baik.”
__ADS_1
Tak lama Yuna pun sampai di lantai dua, dia melihat seorang pelayan yang berdiri berhadapan dengan Tami. Dia memperhatikan wajah pelayan itu saat sudah dekat. “Siapa namamu?”
“Minah, bu.”
“Siapa yang menyuruhmu kesini? Bukankah tugasmu dirumah belakang?” tanya Yuna.
“Tadi pelayan di lantai dua meminta tolong sama saya untuk membersihkan lantai dua, Bu. Katanya perutnya tiba-tiba sakit.”
“Pelayan yang mana? Siapa namanya?” tanya Yuna curiga.
“Aduh…..itu saya lupa nanya namanya karena dia terburu-buru.”
“Kau sudah melanggar peraturan dirumah ini. Kau harus mendapat hukuman.”
“Saya mohon maaf Bu. Tolong jangan hukum saya, saya tidak bersalah.” ujar Minah dengan wajah sedih.
“Kau sudah bekerja selama setahun dan kau lupa peraturan dirumah ini, ha? Kau tahu konsekuensi bagi siapapun yang melanggar peraturan!” kata Yuna marah. “Apa kau mau aku beritahuTuan Verrel tahu soal ini?”
“Ja—jangan….saya mohon Bu Yuna jangan beritahu Tuan Besar! Saya salah, saya minta maaf bu.” pelayan itu mulai terisak, tubuhnya bergetar.
“Tami! Panggil pengawal untuk membawa dia ke bangunan belakang dan biarkan dia disana sampai dia mengakui yang sebenarnya.”
“Baik bu.” jawab Tami. Dia pun segera menghubungi pengawal.
“Tolong Bu. Saya mohon jangan hukum saya. Saya mengatakan yang sebenarnya. Pelayan itu yang tadi menyuruh saya. Saya tidak bersalah.” isaknya.
“Kau bahkan tidak tahu nama pelayan yang menyuruhmu. Kalau kau bisa menunjukkan siapa yang menyuruhmu mungkin kau akan bebas dari hukuman.”
Minah meronta-ronta dan menangis histeris saat dia diseret oleh pengawal. Siang itu keadaan rumah sedang sepi karena para pelayan sedang istirahat siang, sedangkan tak ada seorangpun penghuni rumah utama yang berada disana. Verrel masih berada dirumah sakit menemani istrinya, Yahya dan Viktor berada diluar kota untuk menghadiri pemakaman supir dan pengawal yang tewas dalam kecelakaan.
Yuna bergegas keruang pengawasan CCTV bersama Bara kepala kemananan. “Sialan! Cepat kumpulkan semua petugas keamanan dan pelayan, kumpulkan semua orang di halaman samping!” perintah Bara dengan amarah setelah melihat rekaman cctv. Semua pelayan dan pengawal yang bertugas dikediaman keluarga Ceyhan berkumpul dihalaman samping rumah.
Tak ada seorangpun yang berani mengeluarkan suara, setelah tragedi yang menimpa keluarga Ceyhan, dan sekarang semua orang disuruh berkumpul membuat mereka paham situasi saat ini pasti berhubungan dengan majikan mereka.
__ADS_1