TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 289. MULAI TERKUAK


__ADS_3

Ezha memejamkan mata lalu membukanya kembali dengan perlahan. Dia tidak berdaya lagi meskipun hanya untuk mengucapkan kalimat bantahan. Didalam hatinya dia memaki dan mengumpat Olivia habis-habisan. Dia bersumpah akan membalas semua perbuatan Olivia padanya.


“Anda ingin menangkap Olivia, kan? Saya memiliki semua bukti kejahatan wanita itu. Dia bekerjasama dengan Edo dan Dirga.”


“Kau patsi berbohong agar bisa lolos dari hukumanmu, aku tidak yakin kau memiliki bukti apapun. Kalaupun ada, pasti Olivia sudah memusnahkannya.”


Ezha menggeleng sambil meringis menahan nyeri di kepalanya. “Olivia tidak tahu aku memiliki bukti-bukti itu. Satu-satunya yang dia tahu hanya video pertemuannya dengan Edo dan Dirga yang aku edit. Dia tidak tahu aku masih menyimpan video aslinya,” jelas Ezha.


“Oke! Kalau memang semua bukti-bukti itu ada, katakan padaku dimana kau menyembunyikannya.”


“Aku mau membuat kesepakatan dulu,” Ezha menggeleng.


Tentu saja Ezha tidak mau menyerah begitu saja, dia tahu hukuman penjara sudah menunggunya tetapi hasilnya mungkin bisa berbeda jika dia berhasil membujuk Verrel.


Ezha tahu kalau Verrel adalah orang yang berkuasa dan bisa mempengaruhi proses hukum. Siapa yang tidak mengenal Verrel Aditya Ceyhan? Salah satu orang terkaya dinegeri ini.


“Aku tegaskan sekali lagi, kau tidak akan dapat apapun jika ingin bebas dari hukuman penjara. Katakan padaku apa yang kau inginkan?” tanya Verrel sambil menumpu kedua lengannya disisi Ezha.


“Aku tahu. Aku tidak meminta bebas, hanya saya mohon untuk memberiku hukuman teringan. Dalam kasus pembunuhan di apartemen itu aku hanya saksi. Olivia adalah pelaku sebenarnya.” jawab Ezha.


“Jadi kau mau hukumanmu lebih ringan dari Olivia?” tanya Verrel lagi.


Ezha menggerakkan kelopak matanya dua kali sebagai jawaban, “Iya.”


“Baiklah! Itu bisa diatur. Sekarang katakan dimana kau sembunyikan semua bukti-bukti itu?”


“Di brankas, dibawah ranjang Olivia,” jawab Ezha.

__ADS_1


“Kau menyembunyikan bukti-bukti itu dikamar Olivia? Huh! Tidak masuk akal.”


“Tidak Tuan! Justru disitulah tempat teraman karena Olivia tidak akan pernah curiga kalau aku menyembunyikan sesuatu dikamarnya yang tidak pernah terkunci.” jawab Ezha.


“Oke. Orang-orangku akan segera mengambil brankas itu. Persiapkan saja dirimu, jangan sampai aku mendapati kalau kau berbohong! Asal kau tahu, aku membenci pengkhianat! Dan aku adalah manusia yang tidak mengenal kata ampun untuk hal seperti itu!” setelah itu Verrel memerintahkan anak buahnya agar segera pergi ke rumah persembunyian Ezha. Bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya, Jack dan Bram melesat menjalankan perintah Verrel.


Sementara itu, Verrel kembali ke kamar Seno. Dia memutuskan menunggu disana sampai Jack dan Bram kembali dengan brankas itu sedangkan pengawal lainnya kembali berjaga-jaga diluar ruangan. Malam sudah larut jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua belas dini hari. Verrel sudah mulai mengantuk tetapi dia melawan rasa kantuknya sekuat tenaga.


Dia pun menyalakan ponsel untuk mengusir kantuk lalu membaca berita terhangat saat ini. Terdengar helaan napasnya saat membaca berita pabrik semen miliknya terbakar begitu juga kelab malam milik Luke.


Ada sedikit rasa kecewa karena berita itu ditulis tanpa konfirmasi dari pihaknya tentang kebenarannya. Bahkan ada berita yang ditulis tidak masuk akal menautkan inside itu dengan kehidupan pribadi Verrel.


Disaat dia sedang serius membaca berita, tiba-tiba saja ada notifikasi breaking news yang muncul dilayar ponselnya. Berita itu tertulis jelas sebuah judul artikel yang membuat tubuhnya membeku dalam sekejap mata [Stress dan depresi, Olivia Lee bunuh diri didalam sel]


Verrel mengepalkan tangannya hingga memutih. Judul artikel itu benar-benar membuatnya marah. Wanita yang berwajah mirip Olivia itu adalah satu-satunya saksi yang ingin dia hadirkan di pengadilan nanti untuk melawan Olivia asli.


Verrel mengerjapkan matanya berulang kali untuk memastikan berita yang dibacanya itu benar. Yani bunuh diri didalam sel? Tidak mungkin! Verrel pun memperhatikan layar ponselnya untuk melihat waktu dirilisnya artikel itu. Tepat dibawah judul tertera angka dua puluh tiga lewat dua puluh lima. Merilis berita di tengah malam?


Aneh sekali, pikir Verrel. Dia mengeryitkan dahinya heran, Kenapa Sersan Fahrezi tidak mengatakan apapun padany? Padahal jelas-jelas petugas itu mengatakan akan memindahkan Yani ke sel khusus agar keselamatannya lebih terjamin. ‘Ada yang tidak beres. Tidak mungkin Yani bunuh diri, dia pasti dibunuh!’ ucap Verrel didalam hatinya.


Verrel menatap jam dinding dengan gelisah. Berharap jarum itu bergerak lebih cepat sehingga pagi segera menjelang. Dia sudah tak sabar mendatangi rutan itu untuk memastikan kebenaran berita itu. Dia ingin meminta Frans untuk memeriksa tetapi asistennya itupun baru terlelap dalam posisi duduk.


Gurat lelah tergambar diwajahnya, wajah tampan itu sudah tak terawat seperti biasanya karena kesibukan kerja dan banyaknya masalah yang harus diselesaikan. Melihat itu, Verrel pun tidak tega untuk membangunkannya. Ponselnya bergetar ada panggilan masuk dari Jack.


“Iya Jack! Bagaimana? Kau menemukan brankas itu?”


“Sudah Tuan. Masih utuh dan mulus, sepertinya pria itu tidak bebrohong. Olivia memang tidak mengetahui keberadaan brankas ini.”

__ADS_1


“Kita belum bisa memastikan sejauh mana kerjasama mereka. Jawabannya akan kita temukan setelah brankas itu dibuka.” ujar Verrel. “Cepat kembali! Kita harus tuntaskan masalah ini secepatnya.”


Verrel menutup teleponnya, menunggu pagi rasanya sangat lama bagi Verrel. Semua rasa lelah dan kenatuk yang mendera sejak semalam raib entah kemana. Sekarang hanya tersisa rasa penasaran yang menuntut untuk segera diberi jawaban. Menjelang subuh Jack dan Bram kembali dengan membawa sebuah brankas ditangannya. Tanpa membuang waktu mereka membawa brankas itu ke kamar Ezha.


Pria itu masih tertidur pulas, dia tidak tahu kalau dia saat ini dikelilingi oleh anak buah Verrel dan Luke yang sudah tidak sabar menunggunya membuka mata.


“Bangunkan saja bang! Kalau menunggu dia bangun sendiri pasti lama,” ucap Lintang.


Bram mendekati Ezha mengulurkan tangan untuk mengguncang tubuhnya.


“Berhenti! Jangan bangunkan dia,” ujar Verrel mencegah.


“Tapi Tuan kalau kita menunggu dia bangun pasti akan lama, kita butuh pasword brankas ini.”


“Aku tahu tapi sekarang dia berstatus pasien. Pihak rumah sakit akan menuntut kita kalau terjadi sesuatu padanya karena kita membangunkannya,” jelas Verrel.


Mendengar kata-kata Verrel, Bram pun mundur dan kembali ketempatnya berdiri.


“Frans! Tunggulah disini sampai pria ini bangun,” perintah Verrel pada Frans yang baru saja bangun.


“Tuan mau kemana?” tanya Frans dengan suara serak dan kelopak mata yang berat untuk dibuka.


“Aku ada urusan mendesak. Kau gantikan aku disini dapatkan semua bukti yang ada dibrankas itu.”


Verrel pun melesat menuju tempat parkir. Secepatnya dia ingin mencari kebenaran artikel yang memuat berita bunuh diri Yani. Matahari baru saja meninggalkan peraduannya ketika mobil Verrel bergerak meninggalkan rumah sakit.


Supirnya memacu mobil dengan cepat karena perintah Verrel untuk segera sampai ditempat tujuannya. Beruntung, jalanan pagi itu masih belum ramai sehingga mobilnya bisa melaju lancar.

__ADS_1


__ADS_2