TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 154.ANDINI TERTANGKAP BASAH


__ADS_3

Dua orang pria mendatangi Andini dan Rian ditempat yang sudah ditentukan.  Satu tas besar berisi uang sepuluh milyar sudah diberikan pada kedua orang itu. “Bagus Andini. Hutangmu sudah lunas.”


“Jangan pernah lagi kalian menggangguku! Hari ini urusan kita selesai!” ucap Andini dengan nada marah dan suara bergetar. Dia sudah letih diancam terus menerus namun dia masih tak sadar jika semua itu terjadi akibat ulahnya sendiri.


“Kita takkan pernah bertemu lagi Andini. Senang berbisnis denganmu!” ucap pria itu pergi menaiki mobilnya setelah dia melirik Rian dan memberi isyarat pada pria itu.


Andini dan Rian pun menghela napas lega, lalu tak sengaja Rian menggenggam tangan Andini dan memeluknya.  Namun tiba-tiba sesuatu yang tak disangka-sangka terjadi.


“ANDINI!” terdengar teriakan seorang pria menyebut nama wanita itu. Terkejut karena suara yang dikenalinya dan wajah pria itu berada tepat didepannya. Rian malah mengeratkan pelukannya saat Andini mengeliat ingin melepaskan diri dari pelukan pria itu.  Wajah Amran memerah penuh amarah melihat apa yang ada didepannya.  Andini, istri yang sangat disayanginya sedang berpelukan dengan seorang pria.  Sejak tadi dia sudah melihat interaksi Andini dengan pria itu, namun sangat mengejutkannya saat dia berjalan mendekat bertepatan dengan Andini yang memeluk pria itu. “Lepaskan Rian. Suamiku disini.”


Rian tersenyum namun seakan tak mendengar ucapan Andini “Apa? Aku tak mendengarmu,”


“Lepaskan tanganmu. Suamiku disini, mati aku!” sontak Rian mendorong tubuh Andini hingga dia hampir jatuh namun lagi-lagi tangan Rian dengan cepat merengkuh tubuhnya.


“Kenapa sayang? Ada apa denganmu?” ucap Rian dengan suara yang sengaja ditinggikan agar Amran mendengar.


“Ah….papa! Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Mama bisa jelaskan, Pa.” ucapnya dengan suara bergetar namun berusaha tersenyum manis pada Amran.


“Apa yang mau kau jelaskan ha? Aku sudah melihatmu dari tadi. Siapa laki-laki ini?” bentak Amran dengan emosi memuncak.

__ADS_1


“Papa, kenalkan ini Rian temanku yang sudah menolongku waktu itu.  Papa ingat? Aku pergi ke Turki menemuinya untuk meminta tolong.  Kami tadi tak sengaja bertemu, ternyata dia baru pulang ke Indonesia,” ucapnya menjelaskan dengan harapan mampu meredakan amarah Amran.


Plak!


Tanpa disadarinya Amran menampar pipi Andini dengan keras.  Sekian lama menikah dia tak pernah berlaku kasar pada istrinya itu, tapi entah mengapa saat dia melihat Andini tadi, dia merasa jika Andini telah membohonginya dan berselingkuh di belakangnya.  Melihat Andini ditampar, Rian bersikap seolah seorang pria sejati pun melayangkan pukulan ke Amran.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


“Berani sekali kau menamparnya hah? Aku takkan biarkan kau menyakiti Andini. Dia wanita baik-baik.” mendengar pembelaan Rian membuat Andini sumringah merasa bahwa Rian sangat memperhatikannnya dan terus menerus membelanya.  Sudah beberapa kali Rian membantunya, membuat hatinya berbunga-bunga, hal yang tidak pernah didapatnya dari Amran selama ini.  Amran tidak pernah berkelahi melawan orang lain untuk membela Andini, pria paruh baya itu selalu memilih untuk pergi.  Melihat sikap Rian yang terlihat seperti seorang pria sejati membuat Andini goyah.


“Istri kau bilang? Apakah Andini merasa bahwa dia adalah istrimu? Sekian lama menikah denganmu, keluargamu pun tak pernah menganggapnya ada. Kau bahkan lebih memilih berdampingan dengan istri pertamamu di pernikahan putramu dan meninggalkan Andini.  Sekarang kau bilang jika dia istrimu?”


“Secara hukum dan agama Andini adalah istriku! Kami sudah menikah bertahun-tahun. Dasar laki-laki bajingan kau!” teriak Amran menyerang Rian namun pria itu malah terjatuh ke lantai.  Dia tak bisa mengimbangi Rian yang jago bela diri.  Hal itu membuat Andini semakin mengagumi Rian.


Rian menggandeng tangan Andini mesra dan menariknya keluar meninggalkan tempat itu. “Rian, aku rasa aku harus pulang.  Aku tak mau ada masalah dengan rumah tanggaku.” ucap Andini.

__ADS_1


“Apa kau yakin masih mau melanjutkan rumah tanggamu?” tanya Rian memandang lembut wajah Andini dan mengelus pipinya.  Pria itu memang sangat pintar menggoda, dia tahu apa yang diinginkan Andini, kepuasan dan Rian mampu memberikannya meskipun tak langsung.


“Maksudmu?” tanya Andini.


“Tinggalkan suamimu, sayang. Menikahlah denganku, aku bisa berikan semua yang tak mampu suamimu berikan. Kepuasan, harta, martabat sebagai istri sah, hm.?” ucap Rian mengecup bibir Andini dengan lembut dan memainkan lidahnya.  Jangan tanya, wanita ular itu tergoda dan bergairah dengan rayuan maut Rian.  Dia lupa jika suaminya babak belur dihajar oleh Rian.


“Aku takut Rian. Setelah kejadian kemarin aku merasa diriku kotor dan tak pantas untukmu Rian.” ucapnya dengan suara lirih, berakting seakan dia adalah wanita baik-baik yang sudah jadi korban.


“Ssst…..jangan ucapkan itu.  Tolong lupakan kejadian kemarin, aku menyayangimu dan rela menerima dirimu apa adanya, Andini. Maukah kau bercerai dengan suamimu dan menikah denganku? Aku tidak punya istri, kau akan jadi satu-satunya istriku.” kata Rian penuh penekanan untuk menyakinkan Andini agar mau menceraikan suaminya dan menikahi Rian.


Wajah Andini merona meresapi setiap kalimat yang diucapkan oleh Rian.  Ya, benar juga kata pria ini selama dua puluh lima tahun aku hanya istri yang disembunyikan dari masyarakat.  Aku tak pernah bisa tampil sebagai istri sah setiap ada acara-acara penting dengan Amran.  Setelah aku berjuang bertahun-tahun pun aku masih tidak mendapatkan pengakuan dari keluarga Ceyhan. Andini menatap Rian lalu tersenyum “Akan aku pikirkan.” ucapnya pelan.


Mendengar itu hati Rian senang, semua rencananya berjalan lancar tinggal menunggu sebentar lagi maka Andini akan meninggalkan Amran demi pria lain.


...*...


Amran sudah sampai dirumah dengan wajah babak belur. “Tu—tuan. Kenapa wajah Tuan babak belur?” tanya pelayan dirumahnya.


“Tolong ambilkan air, bik buat membersihkan mukaku,” ucapnya menahan rasa sakit diwajahnya. Si pelayan pun bergegas mengambilkan air.

__ADS_1


‘Apa yang sudah kau lakukan Andini? Kenapa kau selingkuh dibelakangku setelah bertahun-tahun aku selalu memberikan apapun yang kau minta.’ Sakit hati, itulah yang dirasakan oleh Amran saat ini.  Tanpa mengetahui alasan istrinya selingkuh.  Pelayan membawakan air untuk mengelap wajah Amran. Perempuan tua itu membantu mengobati luka diwajah majikannya layaknya seorang ibu.  Setelah pelayan itu pergi, Amran melihat ada amplop diatas meja dan melihat tidak ada nama pengirimnya namun surat itu ditujukan kepada Andni istrinya.


Dengan rasa penasaran Amran membuka amplop itu, seketika raut wajahnya berubah setelah membaca surat itu yang berisi surat akta lahir Rico Davion Ceyhan.  Yang membuatnya terkejut adalah nama kedua orangtua  Rico yang tertera disana.  Tidak ada nama Amran tertulis di akta lahir itu namun justru nama pria lain.  “Apa maksudnya semua ini? Ini akta lahir Rico tapi kenapa bukan namaku yang tertera disitu?” dia mengusar rambutnya kasar, bingung dengan semua kejadian yang dialaminya hari ini secara beruntung.  “Akan kutanyakan pada Andini, apa maksudnya ini semuan.” geramnya penuh kemarahan.


__ADS_2