
Tak terasa hari sabtu tiba, hari pernikahan Frans dan Rosa. Verrel yang sudah menganggap Frans seperti keluarga sendiri ingin sang asisten menikmati fasilitas yang diberikannya. Hotel tempat diadakannya resepsi pernikahan sudah dihias mewah, keluarga besar Frans pun sudah datang dari Surabaya begitu juga dengan keluarga Rosa.
Tampak para undangan sudah hadir, keluarga Ceyhan pun hadir. Deandra yang sedari tadi bergelayut manja pada suaminya jadi pusat perhatian para undangan, karena merasa kagum melihat pasangan suami istri itu. Bagaimana tidak? Sang CEO yang merupakan salah satu orang terkaya dan tampan itu hadir di pernikahan asistennya. Decak kagum dan terpesona dari para wanita melihat ketampanan sang CEO yang terkenal. Apalagi Verrel terlihat sangat memanjakan istrinya membuat para wanita berbisik betapa beruntungnya istri sang tuan besar.
“Kau cantik sekali!” puji Frans yang sedari tadi terpana melihat Rosa dalam balutan gaun pengantin. Baru kali ini dia melihat Rosa dengan tampilan berbeda. “Kalau kau dirias seperti ini tiap hari, aku bi--”
“Ssssttt……..jangan mulai mesum. Ramai orang!”
“Siapa yang mesum? Aku cuma bilang kalau kau ternyata cantik kalau dirias. Mulai besok aku mau kau tampil dengan riasan natural dan anggun. Semua baju-bajumu sudah kubeli, sayang.”
“Apa? Baju? Tahu darimana ukuran badanku?” tanya Rosa heran. Setaunya Frans tidak pernah bertanya bahkan mengajaknya belanja baju untuk Rosa.
“Kau istriku, soal ukuran badanmu pastilah aku tahu, kita kan sudah...”
“Ya ya ya...tidak usah dibahas!” bisik Rosa takut terdengar oleh orang lain. Frans hanya tertawa, entah kenapa dia sangat suka menggoda Rosa yang selalu merona setiap kali dirayu.
Acara pernikahan pun berlangsung dengan lancar. Ibu Rosa sesekali meneteskan airmata bahagia, dia tak menyangka jika putri semata wayangnya akan menikah secepat ini dengan acara yang cukup mewah. Keluarga Rosa yang datang pun terkejut dengan kemewahan pesta pernikahan itu, mereka yang selama ini tidak mengganggap Rosa dan ibunya, namun saat menerima undangan pernikahan dan melihat tempat berlangsungnya acara pun bersedia datang.
*Visual Frans dan Rosa saat menikah
Ternyata Rosa menikahi pria dari keluarga kaya, begitulah pikiran mereka. Apalagi di pesta itu mereka melihat langsung kehadiran keluarga Ceyhan membuat keluarga Rosa berubah sikap pada Rosa dan ibunya. Mereka berpikir mungkin pria yang menikahi Rosa adalah salah satu keluarga Ceyhan apalagi melihat keakraban keluarga Ceyhan dan Frans.
__ADS_1
“Selamat ya Frans, Rosa.” ucap Verrel dan Deandra menyalami kedua pengantin. Di belakang mereka ada Arion beserta istri dan anaknya, William dan ibu mereka. Deandra memperkenalkan Viktor dan Yahya pada ibu Rosa.
“Ibu, perkenalkan ini Opa Yahya Ceyhan kakeknya suamiku dan ini Opa Viktor, kakek kandungku.” Ucap Deandra.
“Kakek kandung? Bagimana bisa?” tanya ibunya Rosa heran.
“Iya, bu. Deandra sama Opa juga baru ketemu. Lain kali Dea ceritain ya.” jawab Deandra.
“Terimakasih Tuan sudah bersedia datang ke pernikahan anak saya,” ucap ibunya Rosa menyalami Yahya dan Viktor dengan hormat.
“Sama-sama. Dia sahabat cucu mantu saya jadi Rosa sudah saya anggap seperti cucu saya sendiri.” jawab Yahya tersenyum.
“Frans! Jaga istrimu baik-baik dan segeralah kalian punya anak, jangan ditunda biar tidak ketinggalan jauh sama Verrel. Biar anak Verrel dan anakmu bisa berteman,” kata Yahya pada Frans membuat Rosa yang mendengarnya langsung merona.
“Baik, Tuan. Terimakasih untuk semuanya.”
Saat berjalan kembali ke meja mereka, Deandra melihat mata para wanita menatap Verrel dengan terpesona dan tak berkedip. Merasa cemburu, wanita hamil itu langsung memeluk suaminya. “Kau kenapa, sayang? Tiba-tiba peluk aku seperti itu.” tanya Verrel heran.
“Semua wanita yang hadir dipesta ini dari tadi menatapmu, aku tidak suka!” jawab Deandra mengerucutkan bibirnya membuat Verrel tersenyum.
“Jangan tersenyum Verrel! Nanti mereka pikir kau tersenyum pada mereka.”
“Tidak, sayang. Apa salah jika mereka memandang suamimu yang tampan ini?”
“Oh begitu? Jadi kau suka dipandang-pandang wanita gitu ya?” kata Deandra mulai merajuk.
__ADS_1
“Bukan begitu, sayang. Harusnya kau bangga punya suami setampan aku. Lihat mereka semua pasti iri padamu, betapa beruntungnya kau punya suami tampan dan kaya sepertiku, hmm?” ucap Verrel membujuk istrinya yang mulai merajuk. Kalau sudah begini, Verrel bakal sibuk membujuk wanita hamil itu sampai luluh.
...*...
Seluruh rangkaian prosesi pernikahan akhirnya selesai. Verrel memberikan fasilitas kamar untuk pengantin dan kedua orangtua pengantin. Ibu Rosa menginap disana, sengaja Frans membooking tiga kamar lain untuk keluarga dekat Rosa lainnya. Frans ingin agar keluarga istrinya menghormati mereka dan tak lagi memandang Rosa dan ibunya sebelah mata. Kini sepasang pengantin baru itu sudah berada didalam kamar. Rosa terlihat kikuk karena ini pertama kalinya dia akan tidur bersama Frans. “Mau aku bantu buka gaunmu?” tanya Frans
“Hu? Eh? Iya. Tolong buka ritsleting belakang, tanganku tak sampai.” jawab Rosa kikuk.
“Sini, biar aku buka.: kata Frans berjalan ke belakang Rosa dan membuka ritsleting gaun pengantinnya. “Sudah. Mandilah atau mau aku mandiin?” goda Frans lagi.
“Isss….mesum mulu!”
“Jangan lupa ini malam pertama kita, sayang.” ucap Frans yang langsung membuat wajah Rosa merona dan dengan cepat dia lari masuk ke kamar mandi. Terdengar Frans tertawa terbahak-bahak. ‘Bagaimana ya reaksi Rosa malam ini malam pertama kami. Dia tidak tahu kalau aku belum pernah menyentuhnya.’ gumamnya dalam hati sembari tersenyum. Kejahilannya membuat mereka berdua menikah dan resmi jadi sepasang suami istri.
Rosa keluar dari kamar mandi dengan memakai piyama, Frans pun langsung membersihkan diri dan bertukar pakaian. Kini keduanya duduk bersandar di ranjang. Bukan Frans namanya kalau tak iseng pada Rosa. “Sayang, tolong pijat punggung dan bahuku ya, rasanya penat sekali.” ucap Frans. “Ya sudah geser sini.” jawab Rosa.
Frans pun bergeser duduk didepan Rosa, merasakan tangan Rosa perlahan memijat pundaknya. Tiba-tiba Frans merasa geli dan menggerakkan tangannya mengenai dua gundukan kenyak didada Rosa “Ah….pelan-pelan, geli tahu!” kata Frans sambil menyeringai.
“Aneh! Orang tuh merasa geli kalau dipijat pinggangnya. Masa pijat pundak bisa geli?” tanpa ragu Rosa memijat pinggang Frans yang karena merasa digelitik dengan refleks langsung berbalik dan mencium Rosa.
Lagi-lagi Frans tak mau membuang kesempatan dalam kesempitan lagipula sudah halal, pikirnya. Ini gara-gara keseringan lihat Tuan Verrel dan Nyonya mesra-mesraan bikin aku rusak, gumam Frans dalam hati. Rosa yang perlahan mulai membalas ciuman Frans membuat pria itu ingin menikmati malam pertama untuk pertama kali dengan Rosa yang sudah sah jadi istrinya.
“Kamu cantik sekali,” kata Frans mengusap pipi Rosa yang masih memejamkan mata, dia merasa malu menatap Frans. Dengan sigap Frans membaringkan Rosa dan mulai mencumbunya. Perlahan namun pasti, keduanya pun sudah dalam keadaan polos, lampu kamar sudah dimatikan, suasana kamar remang-remang. Frans yang tak bisa lagi mengendalikan dirinya pun akhirnya memberikan keindahan malam pertama pada Rosa yang menjerit kesakitan. “Frans! Sakit sekali.” ucapnya lirih. “Ehm….cuma sebentar. Nanti hilang sendiri sakitnya.” jawab Frans.
“Kenapa waktu itu tidak sakit? Kenapa sekarang bisa sakit begini?” tanya Rosa dengan polosnya.
__ADS_1
“Coba rileks...jangan tegang begitu. Nikmati aja ya.” kata Frans yang mencoba menahan senyum, untung kamar remang-remang jadi Rosa tidak bisa melihat raut wajah Frans.
Malam pertama yang dirasakan Rosa berbeda dengan sebelumnya, karena memang baru kali ini Frans betul-betul melakukannya. Awalnya desah kesakitan Rosa yang terdengar, namun kini gadis itu menggeliat dan mendesah lirih menyebut nama Frans. Sang asisten dan sang tuan memang tak jauh beda, sama-sama hebat soal urusan ranjang.