
Rico baru saja memasuki kamarnya dengan gelisah. Cincin berlian yang dibelinya untuk melamar Deandra jatuh dipesawat, sudah dicari-cari tapi cincin itu hilang tak ketemu. Pertanda buruk, ini pertanda buruk gumamnya.
"Aneh. Kemana hilangnya cincin itu? Aku naik pesawat pribadi, cincin itu jatuh didalam pesawat. Kenapa bisa tidak ketemu? Pertanda apa ini?"
Ia meraih ponsel diatas nakas. Baru saja ia ingin menghubungi Yoga, ternyata temannya itu sudah menghubungi. Tanpa menunggu lama Rico langsung menerima panggilan masuk itu.
“Halo, Sudah ada info?”
“Ya, gadis itu memang dijual pamannya.”
“Maksudnya?”
“Pak Surya menerima uang dalam jumlah yang sangat besar dari seorang pria. Jumlahnya fantastis bro…..Pak Surya menjual gadis itu pada pria tersebut. Menurut info yang ku dapat, Pak Surya sudah menandatangani surat perjanjian dengan pria itu.”
“Jadi dia benar-benar dijual?” Rico tercekat.
“Iya, bro. Bahkan menurut info yang kudapat, isi perjanjian itu menyatakan kalau gadis itu dibeli sebagai milik pribadi selamanya. Intinya, hidup gadis itu sudah menjadi milik pria yang membelinya.”
Penjelasan Yoga benar-benar membuatnya membeku tak percaya. Bagaimana ini bisa terjadi? Andai aku tidak sibuk bekerja dan pergi keluar negeri, ini tak mungkin terjadi. Rico mengusap kasar wajahnya sambil memandang fotonya berdua dengan deandra beberapa bulan yang lalu sebelum ia berangkat ke luar negeri.
“Deandraaa kau ada dimana?” ucapnya lirih. Mengingat gadis yang dicintainya yang dulu direbutnya dari seorang pria yang menjadi kekasih deandra. Kini ia frustasi saat mendapati kabar dari Yoga kalau Deandra memang dijual oleh pamannya.
“Siapa pria yang membeli gadis itu juga tidak bisa kuperoleh. Kalau melihat semua fakta yang ada sepertinya pria itu bukan orang sembarangan bro,” kata Yoga lagi. Dia sudah menggali dan mencari informasi kemana-mana tapi dia tidak dapat sedikitpun informasi tentang pria yang membeli Deandra.
“Bahkan keberadaan Pak Surya, paman gadis itupun tidak bisa dilacak. Semua aksesnya tidak bisa kutemukan. Hanya satu data yang kuperoleh, lokasi terakhir Pak Surya berada di Singapura, sebelum kesana dia juga sempat beberapa hari di Macau. Itu saja, ini aneh. Hanya orang yang punya pengaruh besar bisa melakukan ini bro.” kata Yoga menjelaskan.
“Bagaimana dengan istrinya? Maksudku istri Pak Surya. Apakah mereka bersama?” tanya Rico.
“Tidak ada data apapun mengenai Ibu Diah istrinya. Semua aksesnya pun tidak ditemukan, sepertinya sudah dihapus. Lokasi terakhirnya pun tidak bisa dilacak sama sekali.”
Penjelasan yang baru saja didengarnya dari Yoga membuatnya semakin bingung dan pusing. Kenapa seorang paman menjual keponakannya sendiri? Apa pak surya terlilit hutang? Lalu, kenapa deandra tidak menghubungiku dan cerita padaku? Jika dia menceritakan semua, pasti aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Dijual? Ya, ampun.
__ADS_1
Dia membanting ponselnya ke tempat tidur. Rico masuk ke kamar mandi yang berada didalam kamarnya dan mengguyur tubuhnya untuk menenangkan kegelisahan hatinya. “Coba saja pergi ke singapura siapa tahu kau menemukannya disana, bisa saja gadis itu dijual ke kasino atau----saranku setidaknya kau bisa menemukan jawaban jika kau bisa menemukan Surya disana.” teringat ucapan Yoga sebelum mengakhiri pembicaraan.
Tidak ada salahnya aku mencari kesana, kalau aku bisa bertemu Pak Surya maka aku akan menemukan keberadaan Deandra. Tapi aku hanya bisa kesana setelah pernikahan kak Verrel. Rico meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
...*...
Andini duduk bersandar di tempat tidurnya sambil menatap ponselnya. Melihat berita tentang pernikahan Verrel. Hatinya sakit dan marah saat mengetahui jika anak pertama dari istri pertama suaminya itu akan menikah. Bayangan kejadian masa lalu muncul dihadapannya.
“Ada apa denganmu, ma? Dari tadi mukamu murung.” tanya Amran pada istrinya dan duduk disamping Andini yang masih terdiam seperti tidak mendengar ucapan suaminya. Terdengar wanita itu menghela napas panjang membuat Amran mengerti jika istrinya sedang punya pikiran.
“Ma, kenapa? Apa ada yang mau kau ceritakan?”
“Ini soal Rico.”
“Kenapa dengan Rico?”
Andini menoleh kesamping dan menatap suaminya tanpa berkedip. Wajahnya kusut dan pias tak seperti biasanya. Tampaknya dia tidak punya semangat sama sekali.
“Pa, Apakah papa setuju jika mama menjodohkan Rico dan Iva putrinya pak Baratha?” dengan raut wajah sedih memelas sambil meneteskan airmata buaya. Umpatan-umpatan tak jelas keluar dari mulutnya, kesal dan marah pada seorang gadis yang dia tak kenal sama sekali. Hanya karena Rico bilang kalau dia sudah punya kekasih dari keluarga biasa, membuatnya menyumpahi gadis itu.
Belum pernah Rico menolak permintaan mamanya, dia selalu menuruti apapun permintaan Andini. Tapi tadi Rico menolak keinginan mamanya untuk menjodohkannya dengan alasan sudah memiliki kekasih dan akan menikahi kekasihnya. Bahkan dia sempat berdebat dengan putranya itu.
“Oh. Jadi ini soal perjodohan Rico?” tanya Amran yang dijawab Andini dengan anggukan.
“Apa mama sudah bicara sama Rico?” sambil menepuk pahanya meminta istrinya duduk diatas pangkuannya. Beginilah sikap Amran membujuk istrinya kalau Andini pasang muka cemberut.
Andini kembali meneteskan airmata sembari menggeleng. Pura-pura menangis adalah senjata pamungkasnya untuk menarik simpati suaminya. “Pa, bisakah papa bicara dengan Rico tentang pernikahannya?”
Amran mengiyakan “Iya, bisa. Papa akan bicara dengan Rico. Papa pastikan anak itu tidak akan menolak.”
Merasa menang, kedua tangan Andini melingkar keleher suaminya dan mengecup bibir pria paruh baya itu dengan mesra.
__ADS_1
“Kenapa mama ingin Rico menikah secepatnya?” tanya Amran yang sebenarnya merasa sedikit heran dengan keinginan istrinya yang mendesak agar Rico menikah secepatnya.
“Hemm...itu. Iva putrinya pak Baratha dia mencintai Rico.” kata Andini tersenyum.
“Benarkah?”
“Iya, Pa. Mama sudah tanya sama Iva. Dia juga mau dijodohkan dengan Rico.”
“Kalau begitu Papa akan bicara sama Rico secepatnya.”
“Ahh….terimakasih pa. Mama sayang sama papa.”
...***...
“Apa? Kau sudah punya kekasih?” tanya Andini pada putranya.
“Iya, ma dan aku akan menikahinya.” jawab Rico.
“Anak pengusaha mana? Siapa nama orangtuanya?”
“Dia bukan anak pengusaha, ma. Dulu ayahnya hanya seorang dosen. Kedua orangtuanya telah tiada.” jawab Rico asal karena diapun tidak pernah tahu pekerjaan ayah deandra.
“Astaga! Apa yang ada diotakmu itu Rico? Bagaimana bisa kau pacaran dengan kalangan bawah?” geram wanita itu tak percaya mendengar ucapan Rico.
“Memangnya salah ya? Aku mencintainya, ma. Aku sudah janji padanya akan menikahinya.”
“CUKUP! Pekik Andini. Matanya berkilat penuh amarah “Cukup ya Rico. Mama tidak mau punya menantu dari kalangan bawah. Lupakan gadis itu dan menikahlah dengan anak pengusaha kaya. Mama sudah punya pilihan.”
Rico hanya terdiam setelah mamanya pergi dengan emosi. Bahkan Andini tak mempedulikan panggilan putranya itu. “Cinta? Huh….memangnya dia bisa hidup enak dengan cinta? Bagaimana bisa dia mencintai perempuan rendahan? Tidak akan kubiarkan. Rico harus menikah dengan gadis kaya pilihanku.
Akan kucari tahu siapa gadis yang dimaksud Rico. Kupastikan gadis itu akan meninggalkan Rico dan aku berikan pelajaran pada perempuan rendahan itu.
__ADS_1