TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 79. JAGALAH WANITAMU !


__ADS_3

“I’m glad to meet you Mr. Verrel,” Ucap Tuan Roberto Bellucio.


“Glad to see you too. Saya tidak menyangka setelah pertemuan kita di Italy dua bulan yang lalu, hari ini kita bisa bertemu disini,” balas Verrel dengan penuh wibawa pada rekan bisnisnya itu.  Tuan Roberto Beluccio adalah seorang pengusaha dan desainer perhiasan ternama didunia.


“Mungkin ini sudah takdir. Berarti kita memang sudah seharusnya menjadi partner bisnis,” kata Roberto yang melirik kearah Deandra yang duduk disebelah Verrel. Tersenyum melihat Deandra yang terlihat lucu, mengingatkannya pada anak perempuannya yang seusia Deandra. Anak perempuannya yang sudah menikah dan juga sedang hamil muda.


“Oh, iya. Saya punya ide tentang launching perhiasan terbaru kita. Entah mengapa ide itu tiba-tiba muncul saat pernikahan anda,” ucapnya.


“Boleh saya tahu, ide apa itu?” tanya Verrel seraya membetulkan posisi duduknya.


“Untuk promosi, bagaimana jika model yang dipakai untuk launching nanti---”


“Apakah anda bermaksud meminta istri saya untuk jadi model?” kata Verrel yang sebenarnya juga sudah berpikiran begitu.


“Ah...Anda seperti cenayang saja, bisa membaca pikiran saya.” kata Roberto terkekeh.


“Apa yang membuat Anda terpikir seperti itu?


“Begini....istri anda punya aura kecantikan yang memukau. Dan dia juga punya daya tarik unik yang tidak ada pada orang lain.  Bahkan seorang model pun belum tentu memilikinya. Karena desain perhiasan kita kali ini bertemakan natural beauty (kecantikan alami), daya tarik misterius maka kita butuh seseorang yang memiliki karakter itu.  Saya lihat istri anda adalah orang yang tepat.” kata Roberto menjelaskan.  Sebagai seorang pebisnis dan desainer, dia tidak pernah salah dalam memilih model untuk memperagakan perhiasannya, maupun strategi marketing.


Deandra yang mendengar perbincangan suaminya dan Roberto pun membelalakkan mata ‘Apa? Jadi model perhiasan? Ada-ada saja suamiku, memangnya dia tidak cemburu nanti?

__ADS_1


“Sebenarnya saya juga berpikir seperti itu, bahkan sudah membicarakannya dengan asistenku.”


“Tapi, apakah istri anda setuju?” tanya Roberto.


Kedua pria itupun mengalihkan pandangan mereka pada Deandra.  Menyadari dari tatapan kedua pria beda usia itu bahwa mereka menuntut sebuah jawaban darinya. Deandra pun mengganggukkan kepala. 


Verrel dan Roberto terlihat puas dengan jawaban Deandra. “Saya sangat yakin, istri anda akan menjadi ikon baru yang akan membuat perusahaan kita semakin maju,” kata Roberto.


‘Kalau aku menolak, aku pasti kena hukuman sama suamiku meskipun hukumannya selalu nikmat.’ Tanpa sadar dia tersenyum mengingat hukuman yang selalu diberikan oleh Verrel jika dia membantah ataupun diam tak menjawab. Hukuman yang nikmat namun membuatnya lelah dan tak bertenaga.


Deandra memiliki pesona yang tidak ada pada wanita lain. Dan Verrel sendiri yang telah memilih wanita itu sebagai istrinya.  Pikiran Deandra melayang entah kemana sambil meminum jus  Uhuk...uhukk...uhukk....Deandra tersedak yang membuat Verrel panik dan tangannya mengusap punggung deandra dengan kelembutan.


Deandra merasakan nyeri di tenggorokannya dan air yang keluar dari hidungnya.  Verrel mengambil tisu dan membersihkan hidung istrinya.  Menyodorkan air mineral.


“Sudah?”


Deandra mengangguk dan menatap mata Verrel. Ia melihat kepanikan diwajah suaminya. ‘Dia bisa panik begitu karena aku tersedak, sikapnya juga lembut sekali.’


Verrel menarik istrinya masuk dalam pelukannya, membenamkan wajah cantik itu didada bidangnya. Roberto tersenyum melihat kemesraan pasangan baru itu. Mengingatkannya pada istrinya.


Roberto dan Verrel adalah partner bisnis dibidang perhiasan.  Mereka telah menandatangani kerjasama untuk sepuluh tahun kedepan.  Mengingat Verrel adalah pengusaha terkenal dan terkaya se Asia, membuat Roberto yakin untuk menjadi rekan bisnis Verrel.  Dengan begitu mereka bisa menguasai pasaran Asia dengan mudah.

__ADS_1


Akhirnya mereka menandatangani kesepakatan baru dan saling berjabat tangan. “Semoga anda dan istri anda bisa berkunjung ke Italy. Saya dan istriku akan sangat senang menerima kalian berdua, Semoga pernikahan kalian langgeng dan bahagia selamanya.” kata Roberto.


“Terimakasih Tuan Roberto. Saya dan istriku pasti akan mengunjungi anda di Italy.”kata Verrel.


...**...


“Pekerjaan bisa diundur, tapi untuk memiliki seorang wanita yang kita inginkan harus disegerakan sebelum diambil orang.  Kamu tahu diluar sana banyak godaan. Jagalah wanitamu sebaik-baiknya karena jika kita kehilangan mereka berarti kehilangan hidup kita. Ingat, jangan pernah berpaling pada wanita lain karena hanya istrimu yang tulus mencintaimu. Kalau kau punya masalah atau sedang tertekan, pulanglah kepelukan istrimu. Jangan mencari pelarian diluar dari rumahmu. Jika kau menyakiti wanitamu, itu sama saja dengan menyakiti ibumu.” itulah serangkaian kalimat yang diucapkan seorang pria tua yang merupakan rekan bisnis keluarga Ceyhan tadi pagi.


Rekan bisnis keluarga Ceyhan yang seumuran dengan Tuan Yahya dan sudah mengganggap Verrel seperti cucunya sendiri. Selalu memberi nasehat padanya setiap kali mereka bertemu.


Menginginkan seorang wanita? Mendadak Verrel mengingat istrinya yang sedang menunggu dirumah. Wanita cantik berambut panjang yang sangat menarik hatinya.  Apalagi istrinya sedang hami dan semakin cantik dan manja. Bahkan semakin galak dengan tatapan tajam menghunjam.


Deandra cepat belajar tentang hal-hal yang disukai dan tak disukai Verrel. Untuk ukuran gadis yang belum pernah bercinta ataupun disentuh oleh pria, deandra sangat cepat tanggap.  Mengingat istrinya saja sudah membuatnya sesak napas dan sesuatu dibagian bawah tubuhnya mulai mengeras. Gairahnya selalu muncul meski hanya mendengar nama istrinya, apalagi kalau berada didekat deandra, pria itu selalu hilang kendali. Setelah kembali ke tanah air, Verrel langsung disibukkan dengan pekerjaannya, namun dia selalu menemani istrinya makan siang dan berusaha pulang cepat.


Entah mengapa, Deandra mulai bersikap sedikit posesif. Dia sering menelepon suaminya dan bertanya sedang berada dimana. Dia pun meminta Verrel untuk makan siang bersama, karena dia khawatir jika Verrel keluar bersama wanita lain.. Deandra masih ingat bagaimana Verrel dulunya yang suka pergi ke hotel saat jam makan siang dengan wanita sewaan.


Verrel melirik jam ditangannya yang menunjukkan hampir pukul lima sore. Waktunya segera pulang sebelum Nyonya Besar merajuk lagi, pikirnya.  Mobil yang mengantarkan Verrel membelah jalanan yang agak macet sore ini, Frans yang sesekali melirik ke belakang lewat kaca spion hanya bisa tersenyum melihat sang tuan besar yang gelisah. ‘Maaf Tuan. Jalanan macet, siapkan mentalmu tuan menghadapi nyonya besar dirumah.’ 


Frans jadi ingat bagaimana kemarin Deandra berdiri didepan pintu menunggu kepulangan Verrel dengan tangan dilipat didada dan tatapan tajam mencabik-cabik.  Bagaimana Verrel yang berusaha membujuk istrinya yang merajuk dan mendiamkannya.  Belum lagi Tuan Yahya dan Nyonya Ayu yang meledeknya karena tidak berhasil membujuk istrinya.  Frans menarik napas panjang, setiap kali dia melihat bosnya itu, timbul rasa ingin menikah. What? Menikah? Apa yang kupikirkan, gumamnya dalam hati. Pacar saja tidak punya, bagaimana mau menikah? Apa aku harus seperti Tuan Besar memaksa seorang gadis untuk menikah juga?


AH….tunggu dulu. Sudah beberapa hari ini aku tidak mendengar suara si jutek, gumamnya. Bagaimana kabarnya ya? Apa motor bututnya sudah diperbaiki? Kenapa aku bisa lupa kalau aku belum menanyakan soal motor bututnya yang rusak, apa dia sudah memperbaikinya? Sepertinya aku harus meneleponnya nanti malam, lumayan buat penghilang stress.  Frans tersenyum mengingat pertengkarannya dengan Rosa lewat telepon malam itu.  Mereka sampai tak sadar sudah berdebat hingga pukul dua dini hari.

__ADS_1


__ADS_2