TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 157. BERTEMU IVA LAGI


__ADS_3

Seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya, hari ini Iva kembali menemui Deandra di sebuah restoran mewah yang sudah ditentukan oleh Deandra.  Dua puluh orang pengawal yang telah disiapkan oleh Verrel ikut mengawal sang nyonya besar kemanapun dia pergi.  Iva baru saja memarkirkan mobilnya dan melihat sebuah mobil mewah berwarna hitam memasuki area restoran diikuti beberapa mobil lainnya dibelakang, layaknya iring-iringgan pejabat negara. Begitulah protektifnya Verrel menjaga istri dan calon anaknya.  Iva yang melihat iring-iringan mobil itu mengeryitkan keningnya ‘Siapa yang berkunjung ke restoran ini?’ Iva keluar dari mobilnya dan melihat seorang perempuan dengan perut buncit keluar dari mobil mewah itu dijaga oleh para pengawal, dibelakang wanita itu ada dua pelayannya. Iva menganga melihat pemandangan itu.  “Wah….hebat sekali Tuan Verrel sampe nyiapin begitu banyak pengawal untuk menjaga istrinya.  Wanita itupun tergesa-gesa berjalan memasuki restoran, merasa tak enak hati jika Deandra harus menunggunya.


Saat Iva masuk kedalam restoran, dia melihat semua pelayan membungkukkan badan memberi hormat pada sang nyonya besar.  Restoran mewah itu adalah salah satu milik keluarga Ceyhan. Saat Iva hendak mendekati Deandra, seorang pengawal menahan lengannya dan menatapnya tajam “Silahkan menjauh dari Nyonya Besar! Kamu suruhan siapa?”


Terkejut dengan pertanyaan pengawal itu, Iva hanya melotot dan lidahnya kelu.  Belum pernah dia mengalami hal seperti ini sebelumnya. Deandra yang menoleh saat mendengar satu pengawalnya bicara dengan suara kencang “Biarkan dia! Dia mau bertemu saya.”


“Ta---tapi nyonya.”


“Kamu dengar tidak? Dia tamu saya. Lepaskan dia.” perintah Deandra.


“Baik, Nyonya. Maafkan tindakan saya.” kata pengawal itu menundukkan kepala.


“Ayo, ikut aku.” kata Deandra pada Iva yang menggangguk dan mengekor dari belakang. 


“Silahkan masuk Nyonya Besar. Semua pesanan nyonya sudah kami siapkan.” ucap seorang pelayan membuka pintu ruang VIP restoran itu. Terpampang berbagai menu makanan sudah terhidang diatas meja.


“Oh..iya. Tolong berikan juga makanan untuk semua pengawal saya, ya.”


“Baiklah, Nyonya Besar.” kata pelayan itu lagi menundukkan kepala lalu pergi.


Pintu ruang VIP ditutup, dua orang pengawal berada didalam duduk disamping pintu, sementara lima orang pengawal menunggu didepan pintu dan sisanya mengawasi area restoran untuk memastikan semua aman dan tak ada yang mencurigakan. Kedua pelayan Deandra duduk disampingnya.


‘Ternyata begini hidupnya seorang Nyonya Besar di keluarga Ceyhan. Beruntung sekali wanita ini menjadi istri Tuan Verrel yang kaya raya itu. Gumam Iva dalam hatinya sambil melirik kearah Deandra yang sedang sibuk membalas chat di ponselnya. Pakaiannya limited edition, perhiasan yang dipakainya pasti bernilai milyaran rupiah, pikir Iva. Sangat jauh berbeda dengannya.


“Ayo makan dulu. Biar ada energi untuk diskusi nanti.” kata Deandra tersenyum tipis. Iva agak enggan sebenarnya, tapi tak mungkin dia menolak tawaran Deandra, bisa-bisanya nanti Iva tak keluar dari sana hidup-hidup.


“Terimakasih sudah sudi bertemu dengan saya hari ini.” kata Iva memecah keheningan.  Bukan Deandra tak mau bicara dengan Iva, tapi dia lapar berat jadi hanya fokus dengan makanan didepannya.  Sejak dari rumah dia sudah membayangkan makan itu.  Dia pun makan dengan lahap. Seorang pelayan masuk membawa troli berisi makanan untuk kedua pengawal yang berada didalam.

__ADS_1


“Kalian makanlah dulu.” kata Deandra pada kedua pengawal itu.


“Baik, Nyonya. Terimakasih atas kemurahan hati Nyonya Besar.” kata kedua pengawal yang bangkit dari duduknya lalu membungkukkan badan memberi hormat.


“Ya. Makanlah, kalau masih kurang minta saja sama pelayan.”


“Baik, Nyonya Besar.” kedua pengawal melotot melihat menu mewah yang dipesankan sang nyonya besar untuk mereka. ‘Beruntung sekali bisa jadi pengawal nyonya besar, dia sangat baik hati pada semua orang,’ ujar mereka berbisik. Iva yang mendengar bisik-bisik pengawal itupun jadi tahu jika Deandra dihormati oleh banyak orang seperti kabar yang didengarnya.


Setelah selesai makan, pelayan membersihkan meja dan menata kembali.  Menghidangkan dua gelas jus pesanan untuk mereka. “Aku harap kau tak risih ya ada pelayan pribadiku dan pengawalku disini. Itu aturan di keluarga Ceyhan, kemanapun aku pergi mereka tak boleh jauh dariku. Kau paham?”


“I—ya. Saya sangat mengerti.” kata Iva yang sebenarnya memang risih.  Tapi mau gimana lagi, toh wanita didepannya ini adalah Nyonya Besar keluarga Ceyhan yang punya kuasa sama seperti Tuan Verrel, mana mungkin Iva berani berkata tidak.


“Apa yang ingin kau bicarakan? Aku tak punya banyak waktu, aku harus kembali ke kantor.” kata Deandra memberi alasan agar dia tak perlu berlama-lama mendengarkankan Iva, toh dia sudah tahu apa yang diinginkan wanita itu.


“Begini. Saya mohon bantuan Kakak agar meringankan hukuman suamiku.  Aku sedang hamil kak, aku membutuhkan suamiku disisiku.”


“Aku sadar itu hal yang mustahil, tapi kakak punya kuasa seperti Tuan Verrel. Aku mohon kemurahan hati kakak. Apapun permintaan kakak akan kupenuhi.”


“Huh! Permintaan? Apa kau yakin bisa memberikan apapun yang ku minta?” tanya Deandra.


“Jika itu masih mampu kuberikan pasti akan kulakukan, Kak.”


“Kalau begitu, aku minta suamimu yang brengsek dan bajingan itu pergi ke neraka!”


“A—apa? Maksudnya kakak?” ujar Iva dengan suara bergetar.


“Jika kau berada diposisiku, apa yang akan kau lakukan pada laki-laki brengsek seperti dia? Apakah kau akan membiarkannya bebas begitu saja? Setelah dia berusaha memperkosa seorang wanita hamil, ha?” nada suara Deandra terdengar tegas dan ketus, matanya melotot. “Kau ini punya harga diri atau tidak sih sebagai perempuan? Kau punya hati atau tidak? Oh….tunggu dulu, mungkin kau dan si brengsek itu memang tak punya hati, iyakan?”

__ADS_1


“Ma—maaf kan aku jika permintaanku membuat kakak marah. Aku hanya---”


“Hanya apa? Apa kau tahu rasanya seperti apa? Sakit hati! Malu! Untungnya aku istri Verrel jadi tak ada seornagpun yang berani menghujatku atas peristiwa itu. Memangnya si brengsek itu anggap aku apa? J*lang? Jadi dia pikir seenaknya dia mau perkosa aku, huh?” mata Deandra menatap Iva tajam. “Pikir baik-baik. Aku tahu jika si brengsek itu tak mencintaimu, dia juga tak memperlakukanmu layaknya seorang istri. Bagaimana mungkin kau masih bertahan dan malah membelanya huh? Ku beritahu padamu ya, aku menikahi Verrel juga tanpa cinta. Tak ada cinta diantara kami berdua, dia seorang pria yang kejam dan sadis tapi selama jadi istrinya, dia tak pernah berlaku kasar padaku.  Dia berusaha mencintaiku dan membuatku jatuh cinta padanya.  Kau tahu mengapa? Karena bagi seorang Tuan Verrel Aditya Ceyhan, pernikahan itu suci dan apapun alasan menikah tak seharusnya dirusak dan dinodai.”


Iva terpaku mendengar semua ucapan Deandra yang memang benar. “Kau juga pasti sudah banyak mendengar gosip tentang suamiku sebelum kami menikah. Ya, semua itu betul, aku tak membantahnya. Tapi dia menjaga perasaanku dan tak ingin menyakitiku, dia tak pernah menemui wanita lain. Kau tahu? Apapun yang membuatku merasa tak nyaman, dia berusaha tak melakukannya. Bukan karena dia mencintaiku, tapi karena menghargaiku sebagai istrinya.”


“Iya, kak. Aku mengerti. Apa yang bisa aku lakukan? Aku sangat mencintai Kak Rico dan aku sedang mengandung anaknya.”


Iva menundukkan kepala, dia tak sekuat Deandra.  Dia merasa hidupnya berakhir jika tak bersama Rico.


“Jika seorang pria tak bisa mencintai kita, setidaknya dia menghargai kita. Tapi jika pria itu tak mampu melakukan kedua hal itu, maka melepaskannya adalah pilihan terbaik.”


Sontak Iva menangis mendengar kata-kata Deandra.


“Aku bukan wanita yang kuat seperti kakak, aku tidak sanggup berpisah dengan Kak Rico.” isaknya.


“Huh! Kau hanya terobsesi dengannya, kau dibutakan oleh cinta dan rela menanggung semua rasa sakit itu karena cinta yang malah membuatmu menderita.  Pikirkan keluargamu, bagaimana perasaan mereka melihatmu seperti ini.  Apa kau tahu kejahatan apa saja yang sudah dilakukan si brengsek itu?”


“Tidak tahu, kak. Apalagi yang dilakukan suamiku?”


“Gara-gara dia, dua orang pengawalku mati!”


“A—apa? Maksud kakak?”


“Oh, jadi kau belum tahu soal itu? Si brengsek itu akan mendekam lama di penjara. Bukan hanya kasus percobaan pemerkosaan tapi juga pembunuhan.  Mungkin dia akan mendekam seumur hidupnya. Tanyakan saja pada suamimu soal itu. So, katakan padaku, apakah menurutmu suamimu bisa keluar dari penjara dengan jaminan, huh? Dua orang! Ingat itu. Dua orang pengawalku itu mati sia-sia karena ulah suami brengsekmu! Mereka punya istri dan anak, apa kau tak berpikir bagaimana nasib keluarga mereka? Camkan itu dan bersikaplah seperti wanita terhormat, bodoh sekali kau mengemis cinta pada si brengsek itu, cih. Aku sangat bersyukur aku menikahi Verrel dan bukan pria brengsek itu.”


 

__ADS_1


__ADS_2