
Deandra sudah berada didalam ruang tindakan. Verrel berada didalam untuk menemani Deandra yang ingin didampingi suami tercintanya. Ayu dan kedua pelayan Deandra menunggu di luar.
“Bagaimana? Apakah sudah lahir?” tanya Yahya dan Viktor yang baru kembali ke rumah sakit.
“Masih didalam pa. Mungkin sebentar lagi." jawab Ayu sedikit cemas.
Deandra terus mengejan, Verrel menggenggam tangan istrinya dan mengecup keningnya memberi semangat. Tak berapa lama ‘Oek….oek….oek..’ bayi pertama berjenis kelamin laki-laki dan bayi kedua perempuan, hanya berjarak lima belas menit.
“Sayang, anak kita.” seru Verrel meneteskan airmata lalu mengecup wajah istrinya yang berkeringat. Dia mengambil tisu mengelap wajah cantik istrinya.
“Selamat Tuan, Nyonya kedua bayinya sehat.” kata dokter pada mereka. Seorang perawat menyerahkan bayi itu ke Deandra dan Verrel yang terlihat sangat bahagia.
“Selamat datang sayang.” ucap Deandra mengecup kening anaknya. “Lucu sekali mereka.”
“Apakah kau sudah menyiapkan nama untuk mereka?” tanya Deandra.
“Sudah. Nathan Evano Ceyhan dan Naomi Evania Ceyhan. Bagaimana? Apakah kau suka nama itu?’
“Ah….bagus sekali. Aku suka, sayang. Nathan dan Naomi.”
*Visual twin baby
Sementara di luar ruangan, saat terdengar suara tangis bayi dari dalam ruangan, Yahya dan Viktor mengucap syukur dan menangis bahagia. Apa yang diharapkan dan ditunggu selama ini akhirnya datang juga.
"Aku semakin ingin hidup lebih lama lagi, biar bisa bermain-main dengan cicit kita." kata Viktor meneteskan airmata. Bagaimana tidak, dia hampir putus asa mencari keberadaan putrinya tapi akhirnya dia dipertemukan dengan cucunya. Dan hari ini, cicitnya lahir.
...*...
Hari ini, lengkap sudah kebahagiaan keluarga Ceyhan dengan kelahiran bayi kembar yang diberi nama Nathan Evano Ceyhan dan Naomi Evania Ceyhan. Deandra yang sudah berada di ruang VVIP bersama kedua bayinya. Ada Yahya, Viktor, Ayu, Yuna dan kedua pelayan pribadi Deandra juga disana. Semua orang merasa gemas dengan kedua bayi lucu yang tampan dan cantik itu. Berita kelahiran penerus keluarga Ceyhan dan Hutama itupun tersebar di semua media. Ucapan selamat berdatangan dari berbagai pihak, Banyak yang mengirimkan hampers untuk kedua bayi itu. Rosa dan Frans baru tiba disana “Hai….selamat ya.” kata Rosa memeluk Deandra.
“Selamat ya, Tuan.” kata Frans.
“Kau kapan menyusul?” tanya Verrel menggoda asistennya.
__ADS_1
“Slow saja Tuan.”
“Kalau slow kapan sampainya Frans? Kau bisa menikah juga karena istriku. Kurasa kalau bukan karena istriku sudah bisa ku pastikan kau slow macam siput, bisa-bisa kau jadi jomblo abadi. Kau memang terlalu slow kalau urusan yang satu itu.” kata Verrel membuat semua yang berada didalam ruangan itu tertawa,
“Frans, jangan lama-lama. Lebih cepat lebih baik. Jadi anak-anak kalian nanti bisa tumbuh bersama.” kata Ayu. Frans hanya terkekeh, Rosa merona karena Deandra terus menerus menggodanya.
“Gemes banget sih. Aku mau gendong, boleh?” tanya Rosa.
“Sini saya ajarin cara gendongnya.” kata Ayu mendekati Rosa. “Bagaimana kabar ibumu?”
“Ibu baik-baik saja, Nyonya.” jawab Rosa. Ayu memang wanita ramah dan baik hati. Dia tak memandang status sosial seseorang. Dia memperlakukan semua orang sama.
“Rosa! Sudah cocok jadi emak-emak. Buruan disegerakan ya. Asyik tahu kalau lagi hamil, bisa manja-manja. Mau buat apa saja tidak ada yang berani marahain...hi...hi...hi.”
"Jangan-jangan loe sering ngerjain Tuan Verrel ya selama hamil?" bisik Rosa tertawa.
"Iya, sih. Mumpung ada kesempatan...hi...hi..hi."
Viktor dan Yahya pun mengendong cicit mereka. Sementara kehebohan juga terjadi dirumah utama, setelah berita kelahiran bayi kembar, semua pelayan dirumah itu mengadakan doa ucapan syukur atas kelahiran tuan muda dan nona muda mereka. Semua stasiun TV menyiarkan berita kelahiran anak dari orang terkaya itu. Banyak orang yang mengirimkan hadiah dan bunga ucapan atas kelahiran anak Verrel dan Deandra.
“Baiklah. Hari ini aku mau seluruh dunia tahu tentang kelahiran anakku.” ucapnya.
“Sayang, aku keluar sebentar ya, para wartawan sudah menunggu, kasihan mereka diluar.”
...*...
Deandra sedang menyusui anaknya saat Verrel masuk membawakan sebuah paperbag berisi makanan pesanan Deandra. Berhubung dia baru melahirkan dan menyusui, Ayu mulai memberikan perintah pada pelayan untuk mengatur menu makanan khusus untuk menantunya. Saat itu masuk pengawal memberitahu ada klien yang ingin menjenguk dan ada kiriman beberapa hadiah untuk keluarga bahagia itu. Tiga orang pengawal membawa masuk beberapa kotak hadia yang sebelumnya sudah diperiksa isinya untuk memastikan isi kotak tidak berbahaya.
“Banyak sekali hadiahnya, sayang?” kata Deandra. “Siapa yang mengirim itu semua?”
“Tidak tahu. Kata Frans di kantor juga banyak yang mengirim hampers.”
“Bajumu basah, sayang. Kenapa?” kata Verrel.
“Ah….sini kain buat nutupin. Aku malu kalau dilihat orang.”
“Asi mu keluar?”
__ADS_1
“Iya. Banyak banget. Kata mama nanti di pompa terus diisi ke botol terus simpan di freezer buat stok kalau si kembar haus.”
“Buat aku saja, sayang.” goda Verrel.
“Verrel! Masa kamu mau mencuri jatah anakmu,” kata Deandra kesal, lalu turun dari mobil.
Ayu yang sibuk mengatur semua perlengkapan bayi, Verrel datang membawa Nathan kedekat box, Ayu tersenyum. “Sini sayang. Baringkan disini.”
Kedua bayi mungil itu tak cengeng, mereka hanya menangis jika merasa lapar saja.
“Hem….mana mungkin aku melakukannya. Aku sangat menyayangimu. Terimakasih sudah bertahan sampai hari ini dan memberiku dua malaikat mungil yang lucu, sayang.”
“Aku juga ucapin terimakasih karena sudah jadi suami yang baik untukku.”
“Opa memintaku untuk cuti dari perusahaan selama beberapa bulan. Aku akan menemanimu mengurus anak kita ya sayang. Sekalian belajar jadi papa teladan.”
Verrel memeluk istrinya erat. Sempurna sudah kebahagiaan mereka hari ini.
...*...
Media terlalu melebih-lebihkan berita kelahiran anak Verrel. Cih…..kalau bukan karena kekacauan yang terjaid akhir-akhir ini, pasti semua rencanaku sudah berjalan lancar, gumamnya,
Ting!
Notifikasi pesan masuk ke ponsel Andini.
Datanglah ke alamat ini. Aku menunggumu.
Pesan yang masuk ke ponsel Andini memintanya untuk datang. Sederet pesan yang menyusul masuk membuat wanita itu menyeringai. Ia meraih tas dan pergi menuju alamat tersebut. Dengan langkah tegas dan penuh percaya diri, ia mengambil kunci mobilnya dan melaju pergi. Dia bahkan terlihat tak takut dengan ancaman Amran padanya. Setelah berkendara selama empat puluh menit, dia sampai di alamat yang dituju. Rumah itu terlihat seperti rumah kuno yang berada jauh dari pemukiman penduduk. Pagar tinggi mengelilingi rumah itu membari kesan dingin. Andini mengetuk beberapa kali hingga seorang pria hingga seorang pelayan membukakan pintu.
“Apakah anda tamu tuan Rian?” tanya pelayan itu.
“Silahkan masuk. Tuan sudah menunggu anda sejak tadi.” ucapnya lalu berjalan. Andini mengikuti langkah pelayan wnaita itu hingga sampai didepan sebuah pintu. Kesan pertama yang dirasakan wanita itu saat berada disana adalah dingin, sunyi dan tenang. Bahkan terlalu tenang. Pelayan itu mengetuk pintu berulang kali “Tuan, tamu anda sudah sampai.”
“Masuk!”
Terdengar suara dari dalam, kemudian pelayan membuka pintu itu.
__ADS_1