TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 264. KUNCI EMAS HILANG


__ADS_3

“Ha ha ha ha ha…...” seorang pria tertawa terbahak-bahak sambil memegang gelas berisi wine ditangannya.  “Dapatkan pria itu! William Lee harus mendekam di penjara!”


“Kami sudah melacaknya, Tuan! Dia melarikan diri ke China setelah mengosongkan rumah dan villanya!” ujar seorang pria yang berdiri didepannya.


“Temukan dia! Dia harus membayar dosa masa lalu! Aku tidak peduli pada apapun! Kirim lebih banyak orang untuk mendapatkannya!” ujar pria itu dengan sorot mata tajam.


“Baik, Tuan! Akan segera kami laksanakan sesuai perintah!”


“Bagus! Bagaimana dengan perusahaannya?” tanya pria itu lagi.


“Sudah disegel dan sedang diperiksa pihak berwajib! Menurut informasi yang saya dapatkan, pihak berwajib menemukan adanya penggelapan pajak!”


“Aku mau mengakuisisi perusahaan itu. Hubungi pengacaraku dan suruh dia mengurus semua dokumen yang diperlukan. Aku mau semua harta kekayaan mereka menjadi milikku! Olivia Lee harus merasakan hidup dalam kemiskinan!”


“Baik, Tuan. Segera saya lakukan sesuai perintah Tuan!” ujar asistennya.


“Hem…..! Ada kabar apa lagi?”


“Itu---Olivia Lee! Dia pergi ke spa dan berkenalan dengan seorang pria yang kami bayar untuk menjebaknya. Tapi sepertinya pria itu punya rencana sendiri.”


“Biarkan saja! Ikuti terus mereka dan awasi pergerakannya!”


“Lalu bagaimana dengan berita viral tempo hari? Tuan Verrel pasti tidak akan tinggal diam karena namanya disangkut pautkan!” ujar asisten itu lagi.


“Tenang saja! Permainan baru saja dimulai! Aku tidak ada urusan dengan Tuan Verrel, aku akan merilis sebuah video lagi. Ini akan cukup menjauhkan kita dari Tuan Verrel. Aku tidak peduli jika Olivia ada masalah pribadi dengan Tuan Verrel. Tapi aku tidak ada sangkut pautnya!”


“Apa tidak sebaiknya kita menghubungi Tuan Verrel dan menjelaskan semua kesalahpahaman ini?”


“Tidak perlu! Dia bukan orang bodoh, sekarang fokus saja untuk menghancurkan William Lee dan Olivia Lee! Jangan bersinggungan dengan pihak Verrel! Paham kalian?”


“Paham, Tuan.” jawab orang-orang itu serempak.


“Tunggu sampai Olivia dinyatakan hamil! Setelah itu permainan akan semakin menarik! Ha ha ha!”

__ADS_1


*******


Stefanie sedang berada dalam perjalanan menuju villa-nya di Indonesia. Sejak tadi malam perasaannya tak enak. Sandy adiknya tak bisa dihubungi dan tak ditemukan keberadaannya sedangkan satu persatu perusahaan cabang mereka kolaps. Meskipun proyek-proyek penting sudah dilelang untuk menutupi kerugian operasional tapi belum bisa menutupi kerugian finansial yang dialami karena semua perusahaan dibawah SG Group kolaps disaat bersamaan.


Perusahaan yang mengandalkan uang dari dunia bawah sebagai perusahaan pencucian uang kini menghadapi banyak masalah besar karena para mafia menuntut uang mereka dikembalikan. Tuntutan dan ancaman datang dari segala arah menghantam keluarga itu. Stefanie harus bertanggung jawab sebagai orang yang berurusan langsung dengan mereka. Kesalahan fatal yang dia lakukan dengan menjadikan perusahaan orangtuanya sebagai tempat pencucian uang.


Mobil yang ditumpangi Stefani tiba di villa-nya yang berada diluar kota, dengan tergesa dia turun dan setengah berlari dia menuju ke villa. “Selamat datang Nona.” sapa pengawal.


“Apa semuanya aman? Ada yang mencurigakan selama saya tidak pergi?”


“Tidak Nona. Semuanya aman-aman.”


Stefanie bergegas masuk kedalam villa dan naik ke kamarnya di lantai dua. “Aku punya sesuatu yang akan membantuku menyelesaikan semua masalah ini. Ah, karena aku terburu-buru waktu itu aku sampai lupa membawa benda itu.”


Dia pun menuju kamar mandi di dalam kamarnya lalu mencari benda yang disembunyikannya. Tapi----begitu membuka tempat dia menyembunyikan benda itu tidak ada disana.


“Ha? Dimana kunci emas itu? Aku menyimpannya disini. Apa aku lupa? Kunci itu tidak ada disini tapi aku ingat terakhir sekali aku memindahkannya kesini.” Stefanie mulai panik dan mencari kunci emas itu. Satu persatu tempat tersembunyi didalam kamarnya digeledah tapi kosong, dia tidak menemukan kunci emas itu disana.


“Arrrriiiiiiiiiiiiii.” teriaknya memanggil kepala penjaga di villa itu.


“Kira-kira ada apa ya. Kok tiba-tiba Nona Stefanie datang dan langsung berteriak begitu.”


“Mana kutau! Pas datang wajahnya juga tegang.”


“Apa gara-gara masalah perusahaannya?”


“Ya mungkin juga. Tuan Sandy memang tidak becus, selalu menyusahkan kakaknya.”


“Sudah….sudah…..lebih baik kembali bekerja. Kalau sampai Nona Stefanie tahu kalian semua disini kumpul dan bergosip, dia bakal lebih marah lagi. Bisa-bisa kita semua di pecat.”


Kumpulan orang-orang itupun bubar dan kembali melakukan pekerjaan mereka.


Didalam kamar Stefanie, setelah kepala penjaga bernama Ari tiba disana tampak situasi kamar yang seperti kapal pecah. “Ada apa nona memanggil saya?”

__ADS_1


“Siapa yang sudah berani masuk ke kamar saya selama saya tidak ada?”


“Hanya pelayan yang biasa membersihkan kamar nona.”


“Panggil dia kesini!”


“Baik Nona!” lalu pria itu memanggil seorang pelayan wanita berusia tiga puluhan yang biasa membersihkan kamar wanita itu.


“Iya nona. Saya disini.” ujar pelayan wanita itu.


“Apa kau ada membersihkan kamar ini selama aku pergi?”


“Ada sekali, nona. Di hari nona pergi, saya langsung membersihkan kamar.”


“Apa kau mencuri barang dikamar ini?” mata Stefanie memicing menatap tajam pelayan wanita itu sehingga membuatnya gemetar ketakutan.


“Ti---tidak ada nona. Saya tidak mengambil apapun dari kamar ini.”


“Periksa cctv!” perintahnya pada Ari. Pria itupun langsung mengambil Ipadnya yang terhubung ke cctv. Setelah menemukan rekaman dihari sebelum Stefanie pergi ke Singapura, dia menunjukkan pada wanita itu. Stefanie melihat rekaman cctv dimulai dari dua hari sebelum dia pergi, dihari itu dia yang memindahkan kunci emas ke brankas yang ada di kamar mandi.


“Apa ada yang masuk kesini selama saya tidak ada?”


“Tidak ada nona. Kami selalu berjaga-jaga dan berpatroli di sekeliling villa seperti biasanya. Tidak ada yang datang kesini, kami juga tidak pernah melihat ada orang yang mendekati villa.” jawab Ari.


Pelayan wanita itu mengeryitkan dahinya mencoba mengingat-ingat. Dia ingat hari itu, lalu dia pun berkata. “Hem….nona.”


“Iya, ada apa. Bicara!”


“Ha-hari itu setelah nona pergi. Saya melewati kamar ini dan mendengar suara-suara dari dalam. Saya pikir nona kembali lalu saya mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban dan suara itu berhenti. Tapi saat saya hendak pergi, saya mendengar lagi ada suara dari dalam kamar ini. Saya memberanikan diri membuka kamar tapi tidak ada siapapun didalam. Ha-hanya….pintu balkon terbuka. Padahal saya ingat setelah membersihkan kamar semua pintu dan jendela sudah saya kunci.”


“Apa? Jangan-jangan kau lupa mengunci he?”


“Ti—tidak nona. Saya selalu mengunci pintu dan jendela. Saya membersihkan kamar sebelum nona pergi. Saat itu nona masih duduk di sofa bawah. Saya ingat nona naik kelantai atas dan masuk kamar sebentar lalu pergi.”

__ADS_1


Stefanie berpikir sejenak dan mengingat kembali hari dimana dia akan berangkat ke Singapura. Dia mencoba kilas balik di hari itu, dia ingat sebelum dia keluar kamar dia memeriksa kembali semua dan memang pintu balkon dan jendela di kamarnya pada hari itu semuanya sudah dikunci.


“Periksa rekaman cctv di hari itu.” perintahnya pada Ari yang langsung melakukannya.


__ADS_2