
Prang! Prang! Prang!
Suara kaca jendela yang pecah dihantam benda keras. Seorang wanita berlari membuka pintu rumahnya untuk melihat siapa yang melempar jendelanya. Saat pintu terbuka segerombolan pria menerobos masuk, wanita itu terpelongo kaget dan ketakutan.
Sepuluh orang pria berbadan kekar dengan tampang sangar masuk kerumah itu membawa kayu besar dan mulai memecahkan barang-barang dirumah itu. Suara benda-benda pecah dan barang-barang yang dilemparkan terdengar dari arah sebuah rumah dikawasan perumahan mewah.
“Siapa kalian?” tanya wanita itu yang tersadar dari keterkejutannya. Matanya nanar menatap barang dirumahnya porak poranda dalam sekejap. Guci mahal miliknya tak luput dari sasaran kemarahan, semua hancur berkeping-keping. Beberapa pria naik kelantai atas, terdengar suara barang pecah dari lantai atas, Andini berusaha naik ke lantai atas namun seorang pria menahan dan mendorongnya jatuh ke lantai. Mendengar suara keributan, dua orang pelayan dirumah itu masuk kedalam kamar dan menguncinya tanpa mempedulikan majikannya.
“Cukup! Hentikan!” teriak seorang perempuan berusia sekitar empat puluh lima tahun. Airmatanya mengalir bak air sungai melihat segerombolan laki-laki bertubuh kekar dengan tampang sangar menghancukan barang-barang didalam rumahnya. Kaca jendela rumah pun ikut menjadi sasaran. Bangunan itu tak layak lagi disebut rumah karena hancur berantakan, semua jendelanya pecah. Entah berapa kerugian yang dialami pemilik rumah tersebut.
Wanita itu berlari kesana kemari berusaha menahan gerombolan pria berbaju hitam itu untuk tidak menghentikan mereka. Justru tubuhnya didorong dengan keras hingga membentur dinding. Dia merasa ada tulangnya yang patah atau keseleo, rasa sakit menderanya.
“Ahhh….sakit!” teriaknya merasakan sakit disekujur tubuhnya yang terbentuk keras didinding.
Berulang kali dia mencoba menghubungi suaminya namun tidak tersambung, karena pria paruh baya itu sedang meeting bersama kliennya.
Gerombolan pria bertampang sangar itu puas setelah melihat seisi rumah hancur. Mereka pun berjalan keluar rumah, namun salah seorang dari mereka yang terlihat seperti pimpinan dari gerombolan itu mendekati Andini yang semakin ketakutan. Plak! Tamparan keraas dipipi Andini membuatnya menjerit kesakitan. “Ingat! Ini peringatan pertama! Jika kalian berani mengganggu Nyonya Besar, maka lain kali kuhabisi kalian!”
Saat pria itu sudah berada didepan pintu, dia membalikkan tubuhnya dan menatap Andini tajam “Orang suruhanmu sudah kuberi pelajaran!” ucapnya melangkah pergi.
Tubuh Andini bergetar, dadanya sesak tak mampu bernapas. Tangannya menekan-nekan dadanya. “Apakah mereka orang suruhan Verrel?”
Dengan tangan gemetar dia berusaha menghubungi ponsel suaminya. Panggilan tersambung “Halo, Ma.”
__ADS_1
“A—a—aku.”
Ada apa, ma? Kenapa mama menangis dan ketakutan,” kata Amran yang cemas mendengar suara tangisan ketakutan istrinya.
“Rumah kita hancur pa,” ucapnya menangis meraung-raung.
“Apa? Apa yang terjadi?” jari tangannya memijit pelipisnya, bingung bagaimana bisa rumahnya hancur.
“I-itu tadi orang suruhan Verrel kesini dan menghancurkan semua,”
“Papa pulang sekarang. Mama tunggu disana.” dengan langkah seribu dia memerintahkan supir pribadinya untuk mengantarnya pulang. Apalagi yang dilakukan anak sialan itu? Kurang ajar! Berani-beraninya dia mengirim pengawalnya lagi kerumahku? Rahangnya mengeras dan kedua tangannya mengepal. Genderang perang antara ayah dan anak yang tak pernah usai selama bertahun-tahun.
...*...
“Paaa….” serunya melihat kedatangan suaminya. Tangisnya pun semakin meraung-raung sambil menmukulkan tangannya ke lantai. Amran merasa sangat iba melihat kondisi istrinya. Matanya beredar memandang kondisi rumah yang porak poranda, emosinya makin memuncak. “Arrgggg.”
“Siapa yang lakukan ini?” tanyanya pada Andini.
“Orang suruhan perempuan itu, pa.” ucapnya memanasi hati suaminya. Sengaja ia menyalahkan Deandra agar suaminya memberi pelajaran pada perempuan itu. Dia sangat membenci Deandra yang berstatus sebagai Nyonya Besar Ceyhan, itu berarti kekuasaan ada ditangan gadis itu. Hal yang sangat diidamkan oleh Andini dari dulu. ‘Status dan kuasa.’
Amran duduk dilantai disebelah istrinya sambil merangkul bahu wanita itu. Dia mendengarkan semua yang diceritakan oleh Andini dan juga kalimat ancaman pria tadi padanya. Andini mengarang cerita versi dirinya lagi.
Amran semakin tersulut emosinya, jadi pengawal perempuan itu sengaja datang kesini dan menghancurkan rumahku? Dasar perempuan murahan! Awas kau perempuan sialan, akan kuhancurkan kau!
__ADS_1
“Bagaimana rumah kita pa? Semua barang-barangku hancur,” rengeknya.
“Aku akan minta ganti rugi pada anak sialan itu! Tindakan istrinya sudah keterlaluan!”
Ucapan suaminya menyunggingkan senyum diwajah wanita itu yang merasa puas. Amran berdiri dan berteriak memanggil pelayan rumahnya yang langsung keluar.
“Kalian bersihkan semua!” bentaknya penuh emosi. Amran tidak sekaya putra pertamanya Verrel yang menguasai seluruh kekayaan keluarga Ceyhan. Keputusannya menikahi wanita selingkuhannya membuatnya didepak dari keluarga dan tidak berhak atas harta kekayaan.
Amran berjalan mondar mandir diruangan yang seperti kapal pecah itu, memikirkan rencana balas dendamnya. Entah berapa besar kerugian yang dialaminya hari ini, rasa iba melihat istri kesayangannya yang menangis tiada henti. Dia meraih ponselnya menghubungi Verrel.
Verrel yang melihat panggilan masuk dari pria yang paling dibencinya, sengaja menerima panggilan itu.
“Hei anak sialan! Berani sekali istrimu mengirim pengawalnya kerumahku! Dasar perempuan barbar sialan! Kau harus ganti rugi semua kerusakan dirumahku!”
“Itu orang suruhanku! Bukan suruhan istriku! Katakan pada wanita jalangmu, berhenti menganggu istriku atau lain kali dia kuhabisi!”
“Kalau kau berani menyakiti istriku, kupastikan perempuan murahan dirumahmu itu akan menanggung akibatnya!” suaranya bergetar, meskipun dia merasa takut namun dia berusaha terdengar tenang, bukan dia tak tahu siapa Verrel tapi demi istri tersayangnya Amran tak peduli seberapa berbahayanya putra pertamanya itu.
“Kau tidak bisa melawanku! Akan kuhancurkan hidupmu dan bisnismu!” sahut Verrel memutuskan sambungan telepon. Diseberang sana, Andini yang mendengar semua pembicaraan suaminya dan Verrel mendadak bergetar ketakutan. Dia meminta Amran untuk memasang speaker agar dia bisa mendengar pembicaraan mereka. Mendengar ancaman Verrel yang akan menghancurkan bisnis suaminya, dia tidak bisa membayangkan hidupnya akan melarat.
“Pa, suruh Rico segera pulang.” rengeknya masih meneteskan airmata. ‘Ya ampun. Bagaimana ini, aku tidak mau hidup melarat seperti dulu. Aku merebut suamiku dari istrinya supaya bisa hidup mewah tapi sampai sekarang tidak bisa menikmati kekayaan keluarga Ceyhan. Malah perempuan sialan itu yang menikmati semua kemewahan, gumamnya pelan. Melirik kearah Amran yang berdiri agak jauh sehingga tidak mendengar ucapannya.
“Nanti kutelepon anak itu. Kalau bisa, besok dia harus pulang.” ujarnya. Pernikahan Verrel dilaksanakan pada hari sabtu, mengingat itu Amran ingin merencanakan sesuatu. Sesaat dia ragu, karena pernikahan itu akan diliput semua media. Jika dia gegabah maka kehancurannya sudah pasti terjadi. Dan itu berdampak pada putra kesayangannya. “Arrrggggg.” dia mengacak-acak rambutnya kesal.
__ADS_1