TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 181. PUTUSAN PENGADILAN


__ADS_3

Hujan mengguyur ibukota semalaman membuat udara pagi ini terasa dingin. Banyak orang yang enggan keluar dari balik selimut. Didalam kamar dirumah utama, suara berisik dua bibir yang beradu membuat suasana pagi ini menjadi panas.  Sepasang suami istri itu semakin hanyut dalam pusaran hasrat yang didukung oleh udara pagi yang segar, membawa kedua pasangan itu makin terlena. Deandra tersadar dari jeratan gairah liar suaminya, dengan penuh kesadaran wanita itu mendorong dada suami tercintanya perlahan. Namun pria itu justru mengeratkan pelukannya.


“Masih terlalu pagi, sayang. Dingin...sini pelukan lagi.” ujar pria itu tanpa membuka matanya.


“Sayang, sudah waktunya bangun ini sudah jam tujuh pagi. Bukankah kau harus siap-siap untuk berangkat ke pengadilan?” ucap wanita yang dengan rambut berantakan itu.


Tak terima karena tidurnya terganggu, Verrel mendengkus kesal namun Deandra langsung mengecup bibirnya berkali-kali karena tahu jika suaminya sedang kesal.


“Ya sudah kau tidur lagi. Aku mau melihat anak-anak.” Deandra turun dari ranjang dan keluar dari kamar menuju kamar anaknya. Pagi itu Ayu dan Yuna sedang mengganti baju si kembar saat Deandra masuk.


“Selamat pagi, sayang. Yaa…..ampun kau belum mandi ya?” tanya Ayu yang melihat penampakan menantu kesayangannya yang berantakan dan wajah sembab belum mandi.


“Selamat pagi, Ma. Aku baru bangun tidur.  Bagaimana anakku, sudah mandi ya.”


“Sana mandi dulu, masa mamanya belum mandi sih. Mama tunggu kamu di ruang makan.”


“Iya, Ma.” sahutnya malas dan kembali ke kamarnya.


Tak berapa lama semua keluarga sudah berkumpul di meja makan termasuk si kembar yang tak bisa diam bercelotet tak jelas. Acara makan pagi itu riuh dengan tawa karena ulah menggemaskan si kembar. 


“Verrel! Bolehkah aku pergi ke mall hari ini mau ketemu Rosa?”


“Iya, sayang. Jangan lama-lama ya, kasihan anak kita nanti. Ajak saja Rosa kerumah biar nanti dia bareng Frans pulang.”


“Okay, sayangku.”

__ADS_1


“Ehhh….tunggu! Mau pakai baju apa?” tanya Verrel. “Ingat ya jangan terlalu cantik!”


“Iya….iya….udah pergi sana nanti terlambat pergi ke sidang. Nanti aku kirim selfie aku pakai baju apa.”


Verrel sudah duduk di ruang persidangan. Hari ini adalah persidangan terakhir untuk putusan hukuman yang akan dijatuhkan pada Rico dan tiga orang lainnya yang terlibat pada insiden di rumah sakit. Dan juga peristiwa percobaan pembunuhan Verrel yang didalangi oleh Rico. Terlihat Rico yang duduk di kursi pesakitan didampingi oleh pengacara yang dipilihkan oleh pihak pengadilan untuknya karena pengacara sebelumnya undur diri karena Rico sudah tidak punya uang untuk membayar jasanya.


Sidang sudah dimulai, Verrel terlihat duduk santai didampingi pengacaranya. Saat majelis hakim memulai pembacaan perkara disusul dengan mendengarkan keterangan para saksi dan menunjukkan bukti-bukti yang semua jelas sangat memberatkan tersangka utama, Rico semakin tak bisa mengendalikan diri. Dia pasrah pada apapun yang akan terjadi, toh semuanya sudah etrlambat untuk disesali, nasi sudah menjadi bubur. Untuk waktu yang lama ia akan mendekam di penjara dan kehilangan semua kebebasannya.


Saat hakim membacakan putusan hukuman, Verrel tersenyum puas namun berbeda dengan Rico sebagai orang yang melecehkan Deandra dan otak di belakang percobaan pembunuhan Verrel, sedari tadi dia hanya memejamkan mata dan menghela napas dalam-dalam.  Sidang hari ini memakan waktu tiga jam dan prosesnya cepat karena para tersangka sudah mengaku semua perbuatan mereka. Suasana sangat hening saat hakim mulai membacakan hasil sidang. Begitu hakim memukulkan palu dan hukuman sudah ditetapkan, buliran-buliran kristal dan penyesalan memenuhi wajah Rico. Hilang harapannya untuk melihat kelahiran anaknya, hancur sudah hidup dan masa depannya.


Sementara tiga orang yang terbukti membunuh dua pengawal Deandra di rumah sakit, dijatuhi hukuman seumur hidup. Tangisan seorang perempuan muda yang waktu itu berpura-pura menyamar jadi perawat pun tak bisa dielakkan, dia meraung-raung membayangka hidup di penjara seumur hidupnya tanpa pernah akan melihat lagi dunia luar sampai ajal menjemputnya. Cinta memang buta dan sebagian orang kehilangan kewarasan akibat cinta yang terlalu dalam.


Verrel dan pengacaranya meninggalkan pengadilan dengan puas, mereka berjabat tangan sebelum masuk ke mobil masing-masing dan pergi. Duduk dikursi kebesarannya dengan tumpukan dokumen yang menunggu ditanda tangani, Frans memasuki ruangan dengan wajah lesu “Kau kenapa? Dihajar istrimu lagi?”


“Hahahaha….hahaha….ternyata kau isti (ikatan suami takut istri) sekarang ya,” ucap Verrel sambil tertawa terbahak-bahak karena hampir tiap hari asistennya itu pasti curhat minta nasihat padanya bagaimana cara menghadapi perempuan hamil.


“Hmmm….ternyata wanita ngidam itu lebih berbahaya daripada singa, Tuan.” kata Frans yang tadi malam kena amuk Rosa gara-gara dia mengantuk dan tak mau mengambilkan mangga di rumah tetangga. Akibatnya sang istri yang lagi pengen mangga tengah malam pun mengamuk dan tak mengijinkan Frans tidur didalam kamar. Belum lagi paginya Rosa masih merajuk karena Frans harus pergi ke kantor lebih awal tanpa menunggu Rosa yang belum siap-siap.


“Oh begitu ya? Tapi dulu waktu istriku ngidam, biasa-biasa saja,” balas Verrel.


“Apa yang biasa-biasa saja, Tuan. Kalau Nyonya merajuk tiap hari, Tuan sampai seharian merayu. Tuan juga termasuk tuh ikatan suami takut istri tapi sekarang naik status jadi ayah takut anak….hahahah…..hahahaha….” keduanya tertawa terbahak-bahak. Verrel punya tiga big boss sekarang yang harus dia hadapi. Membayangkan kalau anaknya sudah besar nanti, dia menggoyangkan kepala bagaimana repotnya dia nanti menghadapi si kembar.


“Bukankah istrimu akan bertemu istriku hari ini?” tanya Verrel.


“Saya tidak tahu Tuan. Rosa merajuk dari semalam tidak mau bicara sama saya.”

__ADS_1


“Hmm…..tadi istriku yang bilang mau ke mall sama istrimu. Sudah lama tidak jalan-jalan.”


Setelah keduanya selesai dengan semua dokumen dan meeting, jam sudah menunjukkan pukul enam sore dan Deandra sudah dari tadi menelepon Verrel berulang-ulang karena kedua anaknya menangis belum melihat sang ayah seharian. Terpaksa Verrel dan Frans bergegas pulang kerumah utama, karena Rosa pun sedang ada disana menemani Deandra menjaga si kembar.


“Dea, anakmu lucu-lucu ya menggemaskan sekali. Moga nanti anakku juga kembar, langsung keluar dua cukup deh tidak perlu nambah lagi,”ucap Rosa tersenyum mengelus perutnya yang masih rata.


“Berdoa, moga dikasih dua juga.” kata Deandra.


Verrel dan Frans memasuki rumah utama dan setelah bertanya pada pelayan dimana keberadaan istri tercintanya, merekapun pergi ke halaman samping.  Melihat canda tawa Deandra dan Rosa membuat Verrel tersenyum namun tidak dengan Frans.  Rosa yang menyadari kehadiran dua pria itu langsung menatap Frans dengan tatapan tajam menghunjam. Frans mencoba tersenyum manis dan mendekati istrinya “Halo, sayang. Apakah kau merasa baik hari ini?”


“Huh! Tidak usah merayu pake sayang….sayang...”


“Jangan begitu sayang, kita sedang dirumah Tuan Verrel! Tolong jaga sikapmu,” bisik Frans.


“Maaf,”


“Ini aku bawakan sesuatu untukmu.” Frans menyodorkan paperbag berisi makanan kesukaan Rosa yaitu martabak dan nasi jinggo bali yang aromanya langsung membuat Rosa menelan ludahnya, tiba-tiba dia memeluk Frans dan mengecup bibirnya tanpa sadar ada Verrel dan Deandra disana.


“Terimakasih suamiku, ah….kau tahu kalau aku membayangkan makan ini sejak tadi.”


“Berarti kau sudah tidak marah lagi? Aku bisa tidur di kamar?”


“Iya. Aku juga tidak bisa tidur kalau kau tidak ada.”


* Hai.....mohon maaf 🙏🙏lama update ya karna author lg gak fit. Baru bisa update lagi hari ini.

__ADS_1


__ADS_2