TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 87. BAYI KEMBAR


__ADS_3

“Arhhhh….” Deandra meregangkan kedua tangannya.  Matanya masih tertutup, serasa berat untuk membukanya.  Seluruh tubuhnya terasa lelah, tapi ia ingat jika hari ini dia ada jadwal periksa kandungan ke rumah sakit. “Ya, ampun. Jam berapa ini?”


“Selamat pagi, nyonya,” ucap kedua pelayannya yang sudah berdiri tak jauh dari ranjangnya.  Entah sejak kapan mereka berdiri disana dan menunggu majikannya itu bangun. 


Mereka hanya menerima perintah sang tuan besar untuk tetap disana sampai sang nyonya bangun dan tidak ada seorangpun yang diijinkan untuk membangunkannya “Jangan tinggalkan nyonya sendiri. Biarkan dia tidur sepuasnya.” kata Verrel pagi tadi sebelum pergi ke kantor.


Belum merespon kedua pelayannya, perlahan dia bangun dan duduk ditepi ranjang. “Jam berapa jadwalku ke rumah sakit? Kenapa tidak ada yang membangunkanku?”


“Maaf, nyonya. Tuan besar melarang siapapun untuk membangunkanmu.”


Mendengar itu, segurat senyum diwajahnya, tiba-tiba dia merindukan pria tampan itu. Setelah Tami memberitahukannya jadwal kerumah sakit, perlahan dia melangkah ke kamar mandi. Berendam bukan pilihan tepat karena dia harus buru-buru kerumah sakit.


Tami memasuki kamar membawa nampan berisi bubur untuk majikannya. Verrel memerintahkan Yuna untuk menyuruh pelayan dapur menyiapkan bubur untuk istrinya.


Selesai mandi, dan dibantu kedua pelayan mengeringkan rambut dan merias wajah. Pakaian sudah disiapkan Alya. Baju terusan berwarna biru dongker, sepatu dan tas sudah terletak diatas tempat tidur. Selesai berpakaian, Alya menuntun majikannya untuk duduk dan sarapan.


"Kenapa kau memberiku bubur, alya?"


"Ini atas perintah Tuan Besar sebelum pergi, nyonya." jawab Alya.


"Apakah tidak ada makanan lain? Suamiku cuma memberiku bubur?" ucapnya dengan wajah cemberut.


"Kata Tuan, karena perut nyonya mual jadi lebih baik makan bubur. Kalau nanti nyonya mau malan yang lain, akan saya siapkan." jawab Alya menjelaskan.


"Saya suapi, nyonya?" kata Tami menawarkan.


"Kau pikir aku anak kecil, huh. Aku bisa makan sendiri." ucapnya seraya mulai menyuapkan bubur kemulutnya. Alya dan Tami yang paham jika sang nyonya sedang labil, emosinya berubah-ubah hanya bisa tersenyum melihatnya makan dengan lahap.


...*...


“Selamat pagi, ma.” sapa Deandra saat melihat mama mertuanya sedang duduk membaca majalah diruang tamu.


“Hai, selamat pagi sayang. Kamu sudah siap?” tanya Ayu.


“Iya, ma. Dea mau kerumah sakit. Mama mau kemana, sudah rapi?”


“Mama mau menemani kamu periksa kehamilanmu. Tadi Verrel yang minta mama karena dia ada meeting penting pagi ini, tidak bisa menemanimu,” ucap Ayu menjelaskan, dia melihat wajah menantunya ditekuk. “Udah, jangan sedih. Biasanya suamimu yang menemani, bukan? Hari ini sama mama saja ya, sayang.”

__ADS_1


“Baiklah, Ma. Tapi habis itu, bolehkah kita makan diluar?”


“Boleh. Ayo kita berangkat sekarang,” ujar Ayu menggandeng tangan menantu kesayangannya. Pak Danu, yang akan mengantarkan mereka kerumah sakit.  Jam menunjukkan pukul sembilan pagi, jalanan tidak begitu padat pagi ini.  Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai dirumah sakit Harapan Indah.


“Selamat pagi, nyonya.” kata dua orang perawat yang menyambut mereka didepan pintu. Seorang perawat membawa kursi roda dan mempersilahkan Deandra duduk. Namun ia menolak “Saya bisa jalan sendiri,” jawabnya sedikit ketus.


“Ta-tapi nyonya. Ini perintah Tuan Besar.”


“Duduklah sayang. Biar kamu tidak capek jalan,” kata Ayu pada menantunya itu.


“Baiklah, ma. Maaf kalau Dea merepotkan,”


“Suamimu itu yang suka merepotkan.” balas Ayu tersenyum.


Mereka berjalan menuju lift dan naik ke lantai tiga.  Tepatnya keruang pemeriksaan, didalam ruangan itu sudah ada seseorang yang menunggu.  Duduk diseberang meja dengan Dokter Romeo dan seorang perawat.


“Verrel?” Ayu dan Deandra serempak berteriak kaget melihat pria yang tersenyum melihat kedatangan istri dan mamanya.


“Bukankah kamu ada meeting penting?” tanya Ayu.


“Apa tidurmu pulas? Apa mereka membangunkanmu?” rentetan pertanyaan meluncur sambil mengecup kening istrinya.


“Kenapa kau tidak suruh mereka membangunkanku?” alih-alih menjawab pertanyaan Verrel, dia malah melemparkan pertanyaan.


“Kau sangat lelah, jadi aku tidak mau ada yang menganggumu.”


“Selamat pagi, nyonya cantik.” ucap dokter romeo yang langsung ditanggapi Verrel dengan tatapan tajam menghunjam. Romeo hanya terkekeh melihat wajah sahabatnya itu.


“Pagi juga, dok.” jawab Deandra sambil tersenyum


“Huss…..jangan senyum. Kau hanya boleh senyum untukku!”


“Wah...jangan pelit Tuan. Aku sudah puas melihat istrimu tersenyum dulu.” kata Romeo dengan sengaja mengingatkan Verrel bahwa Deandra pernah menginap di apartemennya waktu itu.


“Sialan! Aku mau dokter wanita yang periksa istriku!” ucapnya kesal.


“Ha...ha….ha...ha….Nyonya kenapa kau sangat betah dengan dia?” canda Romeo dan disambut tawa Ayu dan Deandra serempak.

__ADS_1


“Sudah cepat periksa istriku.” kata Verrel menggandeng tangan deandra menuju ranjang dan membantunya berbaring. “Kau jangan pegang perut istriku!” ucapnya lagi pada Romeo.


“Ya, ampun Verrel! Bagaimana aku mau periksa kandungan istrimu kalau tidak bisa pegang perutnya.” jawab Romeo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Kau suruh saja, perawat atau kau panggil dokter wanita.”


Tanpa mempedulikan perkataan Verrel apalagi Deandra memandang tajam yang membuat Verrel pun terdiam. Perawat mengoleskan krim di perut Deandra. Romeo terlihat memeriksa kandungan deandra dan menjelaskan beberapa hal.


“Sepertinya kau akan punya dua saingan, Tuan.” ucap Romeo tersenyum mengejek pada Verrel.


“Apa maksudmu?”


“Bayimu kembar! Coba lihat itu.” kata Romeo seraya menunjukkan dua janin didalam perut Deandra.  Ayu menutup mulutnya dengan tangan, matanya berbinar mengetahui calon penerus keluarga Ceyhan ada dua.


“Oh, Tuhan. Opa harus tahu kabar baik ini.” ucap Ayu langsung mengeluarkan ponselnya dari tas dan menghubungi papa mertuanya itu. Terlihat Ayu sedang berbicara melalui telepon dengan Tuan Yahya yang terkejut sekaligus bahagia mendengar kabar itu.


“Apa calon anakku laki-laki atau perempuan?” tanya Verrel yang penasaran. Matanya menatap ke layar monitor tanpa berkedip, membayangkan ada dua janin diperut istrinya.


“Belum bisa ketahuan sekarang. Kau harus sabar menunggu beberapa bulan lagi baru bisa melihat jenis kelaminnya.” jawab Romeo mendengus. Dasar Verrel tak bisa sabar.


...*...


Ditempat parkir rumah sakit. Ada mobil yang sedari tadi menunggu disana.  Mobil itu sudah mengikuti mobil yang ditumpangi Deandra sejak dari rumah utama tadi.  Terlihat didalam mobil ada seorang wanita cantik dan dua pria. “Sedang apa perempuan itu disana? Kenapa lama sekali?” ucapnya bertanya pada dua orang pria itu.


“Hari ini jadwalnya untuk periksa kehamilan, bos.” jawab seorang pria yang duduk dibelakang kemudi.


Dari kejauhan terlihat Verrel yang mendorong kursi roda istrinya menuju mobil. Pak Danu langsung membuka pintu mobil dan mempersilahkan sang majikan masuk. “Aku langsung ke kantor, sayang.” kata Verrel mengecup bibir istrinya. Ayu hanya geleng kepala melihat sikap putranya itu.


“Ma, Verrel titip istriku ya.”


“Iya. Jangan takut, mama akan jaga istrimu. Oh iya kami mau ke mall sebentar. Istrimu yang minta pergi ke mall. Mungkin dia bosan dirumah terus,” kata Ayu menjelaskan.


“Baiklah. Tapi jangan sampai dia kelelahan ya, ma.”


“Verrel! Sudah pergi sana. Mama tahu cara menjaga istrimu.”


...*...

__ADS_1


__ADS_2