TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 162. BERKUNJUNG


__ADS_3

Andini terus menerus merengek pada suaminya untuk ikut kerumah utama. Selama dua puluh lima tahun bersama Amran, tak sekalipun Andini mengunjungi rumah itu untuk bertamu karena memang dia dilarang oleh Yahya untuk menginjakkan kaki dirumah kediaman Ceyhan. 


Hanya sekali saja waktu itu dia pernah kesana, itupun hanya sampai dihalaman depan.  Dia tak pernah tahu seperti apa bentuk didalam rumah mewah itu, sungguh mengenaskan.  Karena itulah, hari ini dia merengek minta ikut karena dia tahu ini kesempatannya untuk bisa masuk dan melihat rumah mewah itu dari dekat.  Dia banyak membaca berita dan mendengar kabar bahwa rumah utama keluarga Ceyhan sangat mewah dan paling mewah dengan desain interior mahal. 


Andini belum pernah melihat yang seperti itu, apalagi saat dia mendengar obrolan seorang teman sosialitanya yang pernah berkunjung kerumah utama itu mengatakan betapa mewahnya rumah itu, bak istana. Desain interior mewah dan isi rumah yang dipenuhi perabotan mewah dan mahal yang hampir semuanya limited edition diimpor langsung dari Eropa.


Memikirkannya saja Andini sudah pusing membayangkan berapa banyak uang yang dimiliki keluarga itu.  Dia pernah melihat Deandra yang juga mengenakan barang-barang limited edition. “Kali ini aku akan masuk kerumah itu dan bisa cerita pada teman-teman sosialitaku. Ah….aku akan curi-curi mengambil foto selfi nanti disana buat barang bukti kalau aku benar pernah masuk kerumah itu.’ gumamnya tersenyum puas, dia sudah menyusun rencana aktingnya hari ini.


Disinilah Amran dan Andini berada, dengan wajah yang sembab karena kemarin Andini menangis seharian. Mereka saling pandang setelah turun dari mobil.  Amran yang sebenarnya ingin datang sendiri karena takut kalau membawa Andini akan jadi bumerang,tapi wanita itu malah merengek minta ikut dan Amran tak bisa menolak.


Andini menggangguk pada Amran sebagai isyarat untuk melangkah.  Sebenarnya ini bukan hal yang ingin dipilih oleh Amran.  Datang kerumah besar keluarga Ceyhan, sama saja merendahkan dirinya mengingat dulu dia bersumpah tak akan pernah menginjakkan kaki dirumah yang membesarkannya itu. Mata Andini terbelalak takjub begitu memasuki rumah mewah itu.


*Visual rumah utama keluarga Ceyhan




“Selamat pagi, Tuan, Silahkan duduk sebentar.” kata seorang pelayan.  Tampak empat orang pelayan yang sedang bersama bayi kembar, Andini melambaikan tangan pada pelayan itu “Boleh saya melihat bayinya?” Amran menyikut lengan istrinya agar menjaga sikap.

__ADS_1


“Maaf nyonya. Kami tidak bisa tanpa ijin dari Tuan dan Nyonya, kami tidak boleh membawa tuan muda dan nona muda dekat dengan orang asing sembarangan.” kata seorang pelayan yang sedang menggendong Naomi.


“Saya ini neneknya loh bukan orang asing.” kata Andini dengan angkuh.


“Maaf, nyonya. Kami tidak mengenal anda. Nyonya Besar Ayu adalah nenek dari tuan muda dan nona muda.” jawab pelayan itu lagi memandang Andini dengan tatapan sinis. ‘Siapa wanita itu mengaku-aku neneknya tuan muda dan nona muda. Tiga tahun bekerja dirumah ini, aku tak pernah melihatnya, jangan-jangan penculik anak pula, gumamnya.


“Huh, dasar sombong. Lihat tuh pa, pelayan saja sombong sekali.” ujar Andini kesal. Matanya mengedar seluruh ruangan ‘Benar juga, rumah ini sangat mewah. Dengan semua kemewahan ini suamiku tak menikmati sepeserpun’ gumamnya dalam hati. Tangannya mengusap sofa mahal yang didudukinya ‘Berapa harga sofa ini, bagus sekali lembut lagi. Aku belum pernah melihat sofa semewah ini. Pasti diimpor dari luar negeri ini.’ Sikap Andini seperti orang yang tak pernah melihat barang mewah ibarat orang utan masuk kota.


 *Visual rumah utama Keluarga Ceyhan



Butiran airmatanya tak mampu lagi ia tahan.  Amran diam tak menjawab.  Pria paruh baya itu hanya mengeratkan genggaman tangannya sebagai respon singkat.  Tak lama menunggu, mereka mendengar suara ketukan sepatu menggema diruangan itu.  Keduanya pun memasang sikap waspada seakan bahaya sudah mendekati mereka.  Wajah Andini pucat, jujur dia memang takut jika berhadapan dengan Yahya. Keduanya terkejut melihat keempat orang yang sudah duduk di sofa bersebrangan dengan mereka. Ada Ayu dan Viktor juga.  Jika Andini takut melihat Yahya, sebaliknya Amran takut melihat Viktor.  Apalagi dia sudah tahu jika Viktor adalah kakek kandung Deandra.  Ini benar-benar  tantangan berat untuk dihadapinya.


Verrel menyeringai tipis kala melihat dengan jelas wajah ayahnya yang khawatir.  Verrel tahu jika Amran sangat ketakutan melihat Viktor ada disana. Dia tak tahu jika Viktor sekarang tinggal dirumah utama juga. Ayu duduk disebelah Verrel, tangannya menggenggam tangan ibunya dengan penuh kasih sayang seakan memberikan kekuatan pada ibunya yang menatap pelakor didepannya.


“Ada apa papa datang kesini pagi-pagi?” tanya Verrel memcah keheningan karena tak satupun yang berniat untuk memulai pembicaraan. Dengan basa-basi yang teramat membosankan Verrel berkata lagi “Aku pikir, pasti papa datang kesini bukan untuk sarapan bersama, iyakan?”


Kalimat sindiran yang tajam itu jelas sangat melukai Amran dengan egonya yang tinggi.  Namun Andini meremas tangan suaminya sebagai isyarat agar tetap tenang dan jangan terpancing.

__ADS_1


“Papa,” ucap Andini lirih karena kini ada lima pasang mata yang menatapnya seolah menghakimi, ya Deandra juga sudah duduk bergabung disana, dia duduk disebelah mama mertuanya seraya merangkul pundak Ayu, sengaja menunjukkan kebahagiaan mertua dan menantu itu. Sengaja Ayu dan Deandra berdandan super mewah untuk meruntuhkan harga diri perempuan pelakor itu agar sadar diri bahwa dia tak pantas berada disana.


Amran menghela napas, matanya membalas tatapan tajam putra pertamanya itu “Aku tahu kau bukan laki-laki yang suka berbasa basi, Verrel.”


“Ya. Benar sekali,” jawab Verrel enteng. “Aku suka semuanya langsung saja to the point dan tak bertele-tele. Aku muak dan tak bernafsu dengan hal seperti itu, apalagi kebohongan dan kelicikan, aku paling tidak suka. Untung aku punya istri yang tak seperti itu.” sindirnya pada Andini yang menundukkan wajah.


Perkataan Verrel membuat emosi Amran memuncak, apalagi dia memang cepat tersulut emosinya. Tapi ada Andini disebelahnya yang selalu memperingatinya dengan suara lirih dan remasan tangan. “Papa, sabar jangan emosi. Ingat tujuan kita kesini agar mereka berbelas kasihan dan mau mengeluarkan Rico dari penjara.”


Suara Andini itu meskipun lirih tapi didengar oleh semua yang berada disana.  Ayu Prastita tersenyum penuh kemenangan ‘Rasakan kau perempuan murahan, kau datang memohon pada keluargaku sekarang.’


Sedangkan Yahya dan Viktor tak menunjukkan ekspresi apapun, mereka hanya menatap Amran tajam dan tak berniat mengeluarkan sepatah kata apapun saat ini.


Pria paruh baya yang memiliki manik hitam pekat serupa Verrel itu mendengus, tanpa meredupkan sorot mata tak sukanya pada putranya itu, Amran berkata dengan suara tegas “Acbut tuntutanmu pada Rico Davion.”


Hening.


Tak ada satu suarapun yang keluar dari bibir Verrel maupun anggota keluarga Ceyhan lainnya. Namun sedetik kemudian tawa pria itu menggema memenuhi seluruh ruangan.  Tawa yang sebenarnya terdengar sangat menakutkan, membuat Andini bergidik ngeri. Tawa menakutkan tapi terdengar bahagia dan tak memiliki beban sama sekali.  Berbeda dengan Amran yang nampak tertekan hingga berbicara tenangpun rasanya sangat sulit. Deandra dan Ayu tersenyum sinis menatap kearah Andini yang tak berani bicara, sejak tadi dia hanya menundukkan wajahnya seolah sedang mengutuk diri sendiri atas kebodohannya yang sudah berani datang kerumah itu.


 

__ADS_1


__ADS_2