TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 199. PENGKHIANAT


__ADS_3

“Benarkah? Baguslah kalau begitu, saya sangat senang. Terimakasih Nyonya.”


“Tidak boleh!” Verrel menolak dengan dingin.  Sikap posesifnya muncul saat melihat pria lain berbicara dengan penuh kasih kepada istrinya akan membuatnya marah.  Merasakan apa yang terjadi, David langsung mengirimkan sinyal peringatan dengan mengedipkan mata kepada manajer itu. ‘Dia adalah Nyonya Besar. Kamu sebaiknya diam sekarang kalau tidak, kamu mungkin akan menyesali apa yang akan terjadi selanjutnya.’  Untungnya manajer itu menerima pesan itu dengan jelas dan segera diam.  Deandra menoleh untuk melihat suaminya, dia tahu betul menagap Verrel memprotes permintaan dari manajer itu meski hal itu demi kebaikan perusahaan sekalipun. Kemudian Deandra tersenyum “Suamiku tida mengijinkanku untuk melakukan itu.”


“Semuanya sudah beres. Ayo kita pergi.” Verrel menarik Deandra dan memluknya saat mereka berjalan, seolah-olah untuk menyatakan betapa romantisnya hubungan mereka kepada semua orang.


“Tunggu!” Deandra menghentikan mereka dan meletakkan tangan didada bidang suaminya. “Apa kau tidak mau tahu siapa pengkhianat yang berada didalam departemen?”


Deandra melirik staf diluar kaca kantor manajer. Pintu ruangan departemen IT tidak tertutup rapat sehingga kata-kata Deandra terdengar oleh mereka.  Sebenarnya Deandra sangat ingin mengetahui siapa yang telah berani mengkhianati Verrel.  Jika suaminya bangkrut karena insiden peretasan ini, Verrel tidak akan mampu menghidupi Deandra dan kelima anaknya nanti, itu akan sangat merepotkan. Jadi Deandra merasa bahwa dia harus memburu pengkhianat yang bersembunyi dibalik departemen IT ini.


“Tentu saja aku ingin tahu siapa pengkhianat itu. Aku ingin melihat siapa yang telah begitu berani melakukan hal semacam ini,” kata Verrel dengan suara lantang melihat sekeliling memandangi semua orang.


Tiba-tiba seluruh pegawai yang berada di departemen terdiam.  Mereka menundukkan kepala untuk menghindari tatapan tajam dari Verrel. Saat itu, amarah Verrel tampak seperti hal yang paling mengerikan bagi mereka. Tiba-tiba seluruh pegawai yang berada di departemen itu terdiam, mereka menundukkan kepala untuk menghindari tatapan tajam Verrel. Saat itu amarah Verrel tampak seperti hal yang paling mengerikan didunia.


“Aku akan memberimu waktu selama tiga puluh detik, kamu lebih baik menyerahkan diri.  Kalau tidak, jangan salahkan aku karena aku tidak akan segan untuk bersikap kasar pada pengkhianat sepertimu,” Suara Verrel yang tegas terdengar menakutkan, ini sebenarnya adalah belas kasihan terbesar yang dimiliki Verrel saat dirinya sedang dilanda amarah seperti saat ini.

__ADS_1


Kerumunan pegawai yang berdiri diam dalam barisan mulai bercucuran keringat. Deandra mondar mandir sambil mengelus perut buncitnya memlototi setiap individu dengan tatapan penuh curiga. Setelah mondar mandir selama beberapa menit, Deandra tiba-tiba berhenti didepan seorang pria gemuk, lalu menoleh untuk menatapnya. Pria gemuk itu ketakutan sehingga dia hampir berlutut dihadapan Deandra. “Nyonya Besar, aku bukan pengkhianat. Aku benar-benar bukan pengkhianat.Tuan Besar, tolonglah percayalah padaku. Aku benar-benar bukan pengkhianat. Aku tidak akan pernah mengkhianati perusahaan ini.”


Reaksi pria gemuk itu terlihat begitu tulus sehingga Deandra sebenarnya mulai memercayainya. Anehnya, seorang pria muda yang berada disamping pria gemuk itu menghela napas lega dan berdiri tegap. Pemuda itu mengira bahwa dia telah lolos dari pengkhianatan yang telah dilakukannya, tetapi dia tidak mengetahui jika Deandra telah memperhatikan setiap gerakannya sejak awal. Insting wanita hamil itu begitu kuat.  Deandra tersenyum kecil dan kembali ke sikap tenangnya, dia mengajukan sebuah pertanyaan pada pria gemuk itu, dengan sedikit usil, “Tidak perlu panik. Aku hanya ingin mengajukan sebuah pertanyaan kepadamu. Berapa penghasilanmu selama sebulan yang kau terima dari perusahaan?”


Semua orang tercengang mendengar pertanyaan itu. Mereka tidak mengharapkan pertanyaa sepele seperti itu akan diajukan kepada mereka.


Pria gemuk itu tertegun dan tidak menjawab, sebaliknya David menjelaskan “Orang-orang dengan posisi yang berbeda mendapatkan gaji yang berbeda pula di perusahaan ini. Misalnya, dia adalah seorang insinyur keamanan untuk meninjau kode, aturan dan celah pengujian.  Gaji yang dibawa pulang setiap bulannya sekitar empat puluh juta.”


“Oh empat puluh juta, itu tidak terlalu banyak.” Sambil menghela napas panjang, Deandra berjalan kearah pemuda yang berada disamping pria gemuk itu dan bertanya dengan ragu “Menurutmu, gaji itu bukankah terlalu kecil?”


“Masih lumayan empat puluh juta sebulan sudah cukup banyak bagiku,” jawab pemuda itu berpura-pura tenang.


Deandra menggangguk “Tapi aku merasa uang empat puluh juta sebulan terlalu sedikit bagimu untuk bisa membeli shampo mewah seperti itu.” Kepanikan dimata pemuda itu menghilang dalam sekejap dan segera digantikan oleh kebingungan “Nyonya Besar, apa maksudmu?”


Deandra mengerutkan kening dan menatap pemuda itu dengan tatapan tajam, “Merek shampo yang kau gunakan saat ini sangat mahal, iyakan? Bahkan jika kau menghemat dengan cara tidak makan atau minum selama sebulan, kau tetap tidak akan mampu membeli shampo itu dengan menggunakan gaji yang kau terima. Kau terlalu fokus pada hal-hal yang berwujud materi, kau lebih memperhatikan karaktermu yang sangat menyedihkan.”

__ADS_1


Saat Deandra mengatakan ada seorang pengkhianat di departemen, dia memperhatikan bahwa ekspresi pemuda itu berubah dan itu cukup aneh. Ketika Deandra berjalan-jalan barusan, dia mencium aroma shampo dirambut pria itu dan aromanya sangat familier.  Karena suaminya menggunakan shampo yang sama persis dengan yang digunakan oleh pemuda ini.


“Nyonya Besar, tolong jangan bersikap konyol.  Bagaimana mungkin aku bisa menjadi pengkhianat di perusahaan ini?” Pemuda itu tersenyum dan terus menolak mengakui perbuatannya, memasang ekspresi polos diwajahnya. “Nyonya harus memiliki bukti untuk membuktikan semua tuduhan itu.”


“Bukti? Baiklah jika kau menginginkan bukti,” Deandra menarik sebuah kursi dan duduk didepan komputer pemuda itu.  Selama Deandra dapat menemukan celah dalam sistem pertahanan, pemuda itu tidak akan bisa menyangkal perbuatannya. ‘Sungguh keterlaluan pemuda ini, kenapa dia tidak akui saja? Jadi aku tak perlu membuang-buang waktu untuk menemukan buktinya,’ pikir Deandra.


Ada kilatan kesombongan dimata pemuda itu saat dia melihat Deandra yang mulai memeriksa komputernya.  Bagaimana mungkin pemuda itu benar-benar akan bertindak ceroboh dengan meninggalkan bukti begitu saja? Jelas pemuda itu pasti sudah membersihkannya.


Deandra sedang mencari, tetapi semuanya telah dibersihkan dengan rapi.  Deandra tidak menemukan jejak dan bukti apapun didalam komputer itu.  Pria itu memang pintar dan licik, tapi Deandra lebih pintar darinya.  Memulihkan data adalah hal yang mudah dilakukan bagi seorang hacker seperti Deandra.  Semenit kemudian, Deandra berkata dengan santai “Aku sudah menemukannya. Inilah celah yang telah kau sembunyikan dalam sistem pertahananmu.  Ini program yang telah kau gunakan.” 


Manajer departemen IT berjalan mendekati layar komputer untuk mengkonfirmasi, seketika raut wajahnya menjadi suram “Ternyata benar-benar kau pelakunya! Kau pengkhianat!”


Pemuda itu ketahuan dan tidak bisa menyangkal lagi.  Sial bagi pemuda itu karena Verrel akan berurusan dengannya secara pribadi, bahkan masa depannya sudah dapat diketahui akan berakhir seperti apa.


Setelah mengantar Deandra kembali ke mansion utama, Verrel pergi ke markas para pengawalnya yang berada di rumah kedua, ruang hukuman yang terletak jauh dihalaman belakang dan berada diruang bawah tanah. Itu adalah sebuah ruangan menakutkan yang digunakan khusus untuk menghukum orang-orang yang telah menyinggung Verrel. Ruangan itu terletak dibawah tanah dengan penerangan temaram, ruang itu kedap suara sehingga teriakan sekeras apapun takkan didengar orang dari luar. Ada tiga kamar didalam ruangan itu karena tidak ada yang bisa menikmati perawatan santai dan nyaman selama lebih dari satu hari di ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2