
“Bagaimana dengan saham? Apakah harga saham perusahaanku menurun?”
“Ya. Sepertinya ada orang yang sengaja melakukan ini untuk menghancurkan perusahaanmu. Kau jangan keluar rumah dan tidak perlu datang ke kantormu untuk menghindari amukan para konsumen dan pemegang saham. Untuk sementara ini tenangkan dirimu.”
“Lalu apa yang akan kau lakukan pada perusahaanku? Tadi asistenku menghubungiku dan mengatakan ada seorang pengusaha asal Indonesia yang ingin menginvestasikan uangnya diperusahaanmu.”
“Iya betul. Asistenmu sedang menyelidiki orang itu. Kita harus waspada dan tidak boleh ceroboh sekarang. Tenanglah dan tunggu kabar dariku, ingat kalau aku masih ada rencana lain.”
“Baiklah aku tunggu kabar berikutnya sebelum aku menjalankan plan B.”
“Satu lagi! Carikan aku beberapa pembunuh bayaran. Aku harus menyingkirkan seseorang.”
“Apa? Siapa yang mau kau singkirkan, ha? Jangan gila kau Olivia.”
“Siapapun yang menghalangiku memiliki pria idamanku akan bernasib buruk. Aku akan menyingkirkan semua orang tidak peduli jika orang itu adalah keluarga ataupun istri serta anaknya.” ucap Olivia penuh penenkanan.
“Kau benar-benar iblis Olivia! Tidak semudah itu kau bisa mendekati keluarganya!” pria itu menyeringai.
“Tidak usah banyak bicara. Rencanamu sudah gagal dan kini giliranku untuk melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Carikan saja pembunuh bayaran untukku dan serahkan padaku! Aku akan melakukan semua dengan baik.” ujar Olivia.
Pria itu mendengus setelah panggilan telepon Olivia terputus. “Kau benar-benar perempuan berhati iblis Olivia! Kau terlalu percaya diri ingin mendapatkan pria itu. Apa kurangnya aku, ha?”
Olivia semakin gila dan tak bisa dikontrol lagi. Bagaimana mungkin dia akan bergerak sendiri tanpa perhitungan? Ah....biar saja dia maubuat apa kalau dia gagal toh dia sendiri yang merasakan akibatnya.
Sementara itu, di salah satu sudut kota Jakarta.
Pukul 20.00 pm disebuah klub malam mewah.
__ADS_1
“Selamat malam Tuan Verrel. Lama tidak berjumpa denganmu,” sapa manajer klub malam yang dulu sering dikunjungi Verrel untuk menghibur diri sebelum dia menikah. Dulu hampir setiap malam dia menghabiskan waktu bersama beberapa wanita bayaran di klub malam itu sebelum dia bertemu Deandra.
Sejak bertemu dengan Deandra semuanya berubah, sejak hari itu dia tidak pernah lagi mengunjungi klub malam mewah itu. Klub malam itu adalah salah satu bisnis hiburan miliknya. Tidak sembarang orang bisa masuk kesana. Untuk bisa masuk kedalam klub malam itu harus menjadi member dengan bayaran iuran mahal. Rata-rata pengunjung klub malam itu adalah para pengusaha dan orang-orang kaya kelas atas.
“Hem….malam ini sepi tidak seperti biasanya.” tanya Verrel seraya memindai suasana klub malam yang biasanya ramai dengan pelanggan kelas atas. Hanya ada beberapa pengunjung yang duduk di kursi bar dan ada tiga meja lainnya yang terisi.
“Dilantai atas sedang ada pesta besar, Tuan. Mereka semuanya berada diatas. Kami kedatangan pelanggan baru yang memborong semua minuman dan memesan wanita sekaligus.” jawab Angga seraya mempersilahkan Verrel menuju ke kamar VVIP miliknya. Setelah berada didalam ruang VVIP seorang pelayan masuk membawa minuman alkohol lalu menungkan ke gelas.
“Siapa orang itu?” tanya Verrel menanyakan orang baru yang datang ke klub makamnya.
“Saya kurang mengenalnya Tuan. Belum pernah melihatnya sebelumnya dan wajahnya benar-benar asing bagiku.” jawab manajer klub malam itu dengan sopan.
“Oh….jangan pedulikan! Pastikan orang itu membayar tagihannya dan membayar perempuan yang dia pesan.”
“Baik Tuan. Orang-orang kaya selalu punya cara sendiri untuk menghabiskan uangnya dan sepertinya orang itu masih baru merasakan kemewahan dunia.” Angga meletakkan beberapa ice cube kedalam gelas berisi minuman alkohol.”Silahkan Tuan.”
Tak berselang lama, seorang pria yang bertubuh jangkung memakai hoodie dan mengenakan celana denim panjang berwarna biru tua masuk kedalam ruang VVIP. Dia berdiri dihadapan Verrel yang masih menikmati alkohol ditangannya dengan mata terpejam.
“Selamat malam, Tuan.” sapa pria itu yang kemudian duduk setelah Verrel menyilakan duduk dengan tangannya lalu mengibaskan tangan menyuruh manajer klub malam keluar dari ruangan itu.
Verrel menatap pria didepannya, pria itu adalah orang kepercayaan Verrel yang sudah lama ditugaskannya menjadi mata-mata di perusahaan SG Grup.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Verrel basa basi.
“Baik, Tuan.” jawab pria itu santai.
“Apakah kau sudah tahu jika pemilik SG Grup menyerang perusahaanku?”
__ADS_1
“Saya sudah tahu, dari pembicaraan yang sudah saya sadap. Saat ini perusahaan itu sedang mengalami masalah finansial akibat kehilangan proyek bernilai triliunan dan komplain dari pelanggan yang tidak puas. Para pemegang saham sedang berusaha menjual saham mereka.” jawab pria itu tenang. “Sejak kejadian itu Tuan Sandi tidak pernah muncul dikantor dan tidak ada yang tahu dimana keberadaannya. Hanya asisten dan Nona Olivia saja yang terlihat datang ke kantor untuk mengurus perusahaan.”
“Lalu apa saja yang sudah kau dapatkan selama beberapa bulan ini?” tanya Verrel.
Pria itu meraih satu kotak kecil dan menyerahkan diam-diam kepada Verrel.
“Apa ini?” tanya Verrel, heran menatap benda kecil itu.
“Ini hasil sadapan yang saya dapat dari ruang informasi. Isinya sangat penting dan rahasia.”
Ucapan pria itu membuat Verrel tersenyum puas. “Bagus! Aku akan memberikan imbalan padamu. Datanglah ke PT Widjaya Property besok dan temui asisten bernama Rosa. Dia akan memberimu sejumlah uang sebagai imbalan.”
“Baiklah, Tuan. Terimakasih.” ucap pria itu. Verrel dan pria itu terlibat obrolan sebelum mereka berpisah. Verrel masuk ke mobil dan pergi dari sana dan si pria misterius masuk ke mobilnya lalu meraih ponsel menghubungi seseorang.
“Besok nonaktifkan semua sistem pengamanan komputer di perusahaan tepat saat jam makan siang.”
“Apakah kau sudah memberikan benda itu pada Tuan Verrel?”
“Sudah aku berikan. Lakukan rencana berikutnya sesuai perintah Tuan Verrel.”
“Baiklah. Semua data yang kau minta sudah kudapatkan dan sudah kukirim ke surel milikmu. Periksa jika masih ada yang kurang sebelum mengirimkannya pada Tuan Verrel. Jangan lupa kirimkan bayaranku.”
“Tenang saja. Besok aku akan menerima imbalan atas kerja kita dari Tuan Verrel. Pastikan semuanya berjalan sesuai rencana dan jangan kecewakan Tuan Verrel.”
“Ok. Senang bekerjasama denganmu!”
“Aku juga.”
__ADS_1
Pria itupun mengecek surel dari telepon pintarnya yang jarang ia gunakan. Kedua sudut bibirnya terangkat saat melihat data yang diterimanya, lalu dia pun mengirimkan data penting itu ke surel milik Verrel dan Frans. Jemarinya mengetuk-ngetuk kemudi mobil lalu melajukan mobilnya. Tanpa dia sadari ada sebuah mobil yang mengikuti dari belakang.