TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 116. VERREL DITEMUKAN


__ADS_3

“Halo. Kenapa kau menghubungiku?”


“Wah...kenapa suaramu terdengar ketus Yahya?”


“Aku tidak ada urusan denganmu,” ucapnya dengan kesal.  Setelah sekian lama kenapa pria itu menghubungiku?


“Ayolah….bersikap baiklah padaku. Karena aku punya kabar baik untukmu dan aku yakin kau akan berterimakasih, Yahya Magani Ceyhan.” ucapnya sambil terkekeh.


Pria itu tak lain adalah Viktor Benazar H.  Pria berusia tujuh puluh tahun, seorang pengusaha yang tinggal di Belanda.  Dulunya dia dan Yahya berteman baik namun karena sesuatu hal hubungan keduanya pun renggang dan mereka saling memusuhi.  Sejak empat bulan yang lalu, Viktor kembali ke Indonesia untuk suatu hal penting, mencari putrinya yang sudah lama dicarinya.


 


“Kalau tak ada hal penting, aku tutup telepon sekarang.” ucap Yahya dengan nada suara datar.


“Begini,” Viktor berusaha mengatur napas dan suaranya. Meskipun dia dan Yahya saling bermusuhan tapi dia masih punya belas kasihan.


“Aku mendengar soal kecelakaan pesawat yang menimpa cucu kesayanganmu.”


“Jangan bilang kalau kau terlibat atas musibah itu.”


“Kenapa kau langsung menuduhku Yahya? Aku belum selesai bicara.”


“Anak buahku menemukan cucumu dihutan.  Dia ada disini bersamaku.”


“Apa? Apa kau bilang? Verrel….bagaimana kondisi cucuku?”


“Dia masih hidup. Tapi kondisinya….”


“Jangan berbelit-belit Viktor atau kuhabisi kau!”


“Kau memang tak tahu berterima kasih. Nasib baik kami menemukan cucumu, kalau tidak entah seperti apa nasibnya.”kata Viktor mulai kesal.


“Katakan dimana cucuku sekarang? Dirumah sakit mana?”

__ADS_1


“Dia tidak ada dirumah sakit.  Dia ada divilla lamaku.  Dokter pribadiku yang merawatnya. Kau datanglah kalau kau masih ingin melihatnya.”


“Baiklah aku datang sekarang.”


“Apakah kau tidak tahu berterimakasih Yahya?” sindir Viktor lagi.  Setelah sekian lama, rasa bencinya sudah sirna.  Dia merindukan kebersamaan mereka dulu, sejak kecil mereka sudah berteman.  Sekarang mereka sudah sama-sama tua kenapa harus masih mendendam, pikirnya.


“Aku akan berterimakasih kalau aku sudah melihat cucuku. Kalau terjadi apa-apa padanya maka kau akan kuhabisi.”


“ck..ck...ck...kau masih tidak berubah Yahya.  Datanglah sekarang.  Apa kau masih ingat alamat villa ku?’


“Ya, ya aku masih ingat.”


“ha...ha….ha…..ternyata kau tidak lupa kawan!”


“Hmmmm...” jawab Yahya lalu meutuskan sambungan telepon.


Matanya berbinar mengetahui cucu kesayangannya ditemukan.  Namun, justru orang yang sudah sekian lama tidak ketemu malah yang menemukan cucunya. Yahya memanggil para pengawalnya untuk ikut bersamanya menuju villa kediaman Viktor. Teringat jika dia harus menghubungi Frans. Dia meraih ponsel dari saku jasnya lalu menghubungi Frans.


“Halo, Tuan.”


“A—apa Tuan? Apakah tuan Verrel selamat? Bagaimana kondisinya?” tanya Frans yang terkejut sekaligus gembira mendengar kabar itu.  Dia tahu bos nya itu pasti selamat dan dia selalu menyakini itu persis seperti pesan sang tuan besar sebelum pergi.


“Dia selamat. Saya akan berangkat sekarang. Dia berada disuatu tempat.”


“Baiklah, Tuan. Apakah Tuan mau saya dampingi?” tanya Frans.


“Tidak usah. Saya bawa pengawalku kesana. Kau pergilah kerumah sakit, temui Deandra dan beritahu padanya.  Saya tidak mau melihatnya menangis lagi. Setelah sambungan telepon putus, Yahya pun berangkat bersama para pengawalnya.


Frans tak sabar untuk mengabarkan berita baik itu pada sang nyonya.  Tak henti-henti dia mengucap syukur pada Tuhan karena tuan verrel selamat.  Namun, dia pun tak ingin lengah, dia takkan memberitahu siapapun tentang itu sampai mengetahui bagaimana kondisi atasannya itu.  Dia menghubungi William dan Arion untuk mengabarkan bahwa Verrel selamat.  Mereka senang mendengarnya.  Frans mengambil kunci mobil lalu melaju menuju rumah sakit.  Rosa juga sedang berada disana menjenguk Deandra. Dua puluh menit kemudian, Frans tiba diparkiran rumah sakit, saking gembiranya dia turun dari mobil dengan cepat dan melangkah memasuki rumah sakit dengan setengah berlari. Memasuki ruang perawatan, melirik Rosa yang berdiri ditepi ranjang.


“Maafkan saya, nyonya.  Seharusnya saya tidak lengah memberikan keamanan disekitar anda.  Kemarin ada yang menjebak anak buah saya dan mereka ditemukan tewas.” Ketiga perempuan itu membelalakkan mata mendengar ucapan Frans.


“Saya siap menerima hukuman setelah ini, tapi ijinkan saya mengatakan sesuatu kepada nyonya.”

__ADS_1


Deandra belum menjawab.  Tangisnya pun belum mereda.  Jejak-jejak keganasan Rico masih membuatnya enggan membuka mulut untuk berbicara.  “Kalau boleh tahu, ada apa Tuan Frans?” tanya Yuna kemudian.  Frans terlihat menunduk.


Perlahan pria itu menegakkan tubuhnya, lalu memandang deandra lalu beralih ke Yuna dan Rosa.


“Ini tentang Tuan Verrel.”


Begitu mendengar nama suaminya disebutkan, Deandra langsung menghentikan tangisannya dan menengadah memandang Frans.


“Ka---kau bilang Verrel? Suamiku?”


Frans pun menggangguk.  “Benar, nyonya. Saya membawa berita tentang Tuan Verrel.”


Wajah deandra langsung berbinar seperti mendapatkan udara segar yang membuatnya menatap Frans dengan penuh harap.  Namun mendadak lidahnya kelu saat ingin menanyakan sesuatu.  Frans yang cukup peka seketika menyunggingkan senyum tipis dibibirnya.  “Tuan Verrel sudah ditemukan.”


“A—apa?” manik mata being itu membelalak diikuti tubuhnya yang melepaskan diri dari pelukan Yuna.  “Tadi kau bilang apa?” tanya Deandra ingin memastikan apa yang baru saja didengarnya.


“Tuan Verrel sudah ditemukan nyonya.  Tuan Besar Yahya sekarang sedang dalam perjalanan untuk melihat tuan verrel.  Beliau mengatakan dia akan mengabari.”


Tak salah lagi, Deandra mendengar dengan seksama sejak tadi seketika dia linglung merasa dia sedang bermimpi.  “Kau dengar Bibi Yuna? Verrel sudah ditemukan.” Tatapannya masih kosong menyimpan sebuah harapan.  Namun, apakah suaminya itu----


Tidak, dia tidak boleh berpikiran buruk.  Dia harus tetap berpikiran positif bahwa suaminya itu baik-baik saja.


“Bagaimana keadaan suamiku? Apakah dia baik-baik saja? Dia ada dimana? Aku ingin melihatnya sekarang. Tolong bawa aku bertemu suamiku." kata Deandra terisak-isak memohon.


“Kita tunggu kabar dari Tuan Yahya, nyonya.” kata Frans. Dia pun sebenarnya tidak tahu dimana keberadaan atasannya itu karena Yahya tidak mengatakan apapun.


“Anda harus sabar nyonya,” ujar Yuna menghibur.


Rosa yang diam dari tadi tak mampu berkata-kata.  Dia bisa merasakan kepedihan sahabatnya.  Tak ada yang menyadari jika Rosa dan Frans berdiri berdampingan sejak tadi dan tangan keduanya saling menggenggam seakan ingin menguatkan. Keduanya menoleh dan saling menatap lalu tersenyum. Ada binar kebahagiaan dimata mereka mengetahui jika Verrel sudah ditemukan dalam keadaan selamat.


Frans mengeratkan genggamannya ditangan Rosa. Namun saat matanya beralih pada sang nyonya, seketika dia melepaskan tangan Rosa. Deandra sedang memandangnya, sang nyonya itu melihat kedua tangan mereka saling bertautan.


...*...

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu setengah jam, Yahya bersama beberapa pengawalnya sampai disebuah villa mewah yang berada didaerah perbukitan.  Yahya turun dari mobilnya, mengedarkan padangan kesekeliling villa itu,  Kenangan masa lalu mengingatkannya bagaimana dulu dia sering datang ke villa ini dan menghabiskan waktu bersama sahabatnya.  Itu sudah lama sekali, bertahun-tahun yang lalu. Dia pun lupa kapan terakhir dia menginjakkan kaki di villa itu.


Dia melihat seorang pria seumuran dengannya sudah menyambutnya dipintu masuk.  Wajah Wajah yang sangat dikenalnya, namun kini pria itu sudah tak seperti dulu, pria itu menatap Yahya dengan tajam. Mendekati Yahya lalu menyodorkan tangannya, Yahya memandang tangan itu sambil menghela napas dalam-dalam lalu menjabat tangan itu.


__ADS_2