TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 247. DUA MINGGU


__ADS_3

Rapat dewan direksi di SG Group berakhir ricuh, Stefanie yang geram dengan sikap para pemegang saham yang sangat egois pun menjadi marah. Kekacauan pun terlihat diruang kerjanya, barang-barang berserakan dilantai, kertas-kertas beterbangan, benar-benar kacau. Dia mengumpat dan memaki adiknya Sandy atas semua yang terjadi. Andai saja adiknya itu lebih bersabar sedikit saja maka semua kekacauan ini tidak akan terjadi.


Dua minggu? Bagaimana bisa mengembalikan keadaan perusahaan menjadi normal dalam dua minggu? Kedua tangan Stefanie mengacak-acak rambutnya, kondisi perusahaan kacau balau, beberapa proyek besar dihentikan tiba-tiba dan mereka sudah mengivestasikan dana yang cukup besar di proyek itu. Yang perlu dia lakukan sekarang adalah mencari investor baru, tapi dengan harga saham yang anjlok tidak akan ada investor yang akan berani mengambil resiko. Stefanie meraih ponselnya dan menghubungi Sandy.


“Halo, kak.”


“Dimana kau?” tanya Stefanie dengan intonasi tinggi.


“Aku masih di persembunyian, belum berani keluar. Bagaimana situasi disana?” tanya Sandy lagi dengan suara tenang seolah tidak ada masalah.


“Masih punya nyali bertanya? Semua kacau gara-gara ulahmu! Tempo hari kekacauannya tidak separah ini, aku masih bisa menanggulangi tapi kali ini benar-benar parah. Dewan direksi dan pemegang saham hanya memberi waktu dua minggu, jika tidak bisa mengembalikan perusahaan mereka akan menuntut kita!”


“Apa? Gila! Dua minggu mana bisa?” Sandy terkejut.


“Ini semua gara-gara ulahmu brengsek! Kenapa kau cari masalah dengan Verrel?”


“Wow! Sekarang menyalahkanku? Bukankah kakak juga sejak dulu sudah membuat masalah dengannya? Apa lupa dengan kejadiaan beberapa tahun lalu?”


“Tidak sama dengan apa yang kau lakukan. Apa yang kulakukan membawa banyak keuntungan.”


“Sudahlah, kak! Aku tidak bisa pergi kemana-mana sekarang. Aku harap kakak bisa membantu mengembalikan perusahaan.” ujar Sandy.


“Kau harus cari investor! Aku beri waktu satu minggu!” ujar Stefanie geram. “Ini ulahmu, bertanggung jawablah! Gara-gara ulahmu aku terpaksa kembali kesini!”


“Tapi---”


“Ingat ya! Satu minggu! Jika satu minggu kau tidak bisa membawa investor, aku sendiri yang akan menghajarmu!” ujar Stefanie memutuskan sambungan telepon.


Stefanie memijit pelipisnya, beberapa proyek besar mereka adalah proyek yang akan menghasilkan keuntungan besar. Setelah berpikir beberapa saat, dia pun akhirnya membuat pilihan untuk melelang beberapa proyek itu agar ada cash flow yang masuk ke perusahaan. SG Group adalah perusahaan besar dengan karyawan berjumlah banyak. Mereka harus menutupi biaya operasional dan saat ini dana yang dimiliki perusahaan itu tidak cukup.

__ADS_1


Stefanie memanggil asistennya, “Kumpulkan semua data tentang proyek-proyek yang sedang berjalan. Pisahkan file proyek yang sudah dibatalkan dengan proyek yang belum berjalan. Aku mau semua data lengkapnya dimejaku secepatnya.”


“Baik, Nona. Apa ada hal lain lagi yang nona inginkan? Supaya bisa segera saya siapkan.”


“Berikan padaku daftar para investor di proyek kita. Maksudku nama-nama investor yang pernah bekerjasama dalam proyek perusahaan selama ini.”


“Segera saya ambilkan filenya. Oh iya...sebelumnya saya minta maaf nona. Ini masalah karyawan yang belum dibayarkan gajinya bulan ini. Seharusnya pembayaran gaji dua hari yang lalu tapi karena ada masalah jadi tertunda karena dana perusahaan tidak cukup untuk.”


“Sialan! Panggil manager keuangan kesini sekarang!” geram Stefanie yang tidak menyangka jika adiknya membuat masalah sebesar ini.


“Baik, Nona. Saya permisi dulu.” si asisten itupun pergi melaksanakan perintah Stefanie.


Sementara itu di apartemen mewah milik Olivia, dia sedang merias wajahnya. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya meskipun kejadian yang menimpanya sangat buruk. Dia masih sangat yakin dengan apa yang ada di pikirannya. Siska berjalan masuk kedalam kamar Olivia. Setelah dia berdiri disampingnya Siska berkata, “Apa yang akan kau lakukan sekarang?”


“Aku akan melakukan sesuatu yang heboh! Aku akan memantapkan posisiku dimana seharusnya aku berada.”


“Apa maksudmu? Kau tidak berniat memeriksa cctv dikelab malam itu untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Siska yang heran dengan sikap Olivia.


“Itu mustahil! Kau sudah melihat sendiri kalau Verrel ada diluar negeri malam itu. Kau mabuk dan berhalusinasi jika pria yang bersamamu adalah Verrel!”


“Aku----aku yakin itu Verrel! Aku juga tidak semabuk itu. Sudahlah, kau urus saja pekerjaanmu. Berhenti menggangguku!” ujar Olivia mengibaskan tangan mengusir Siska dari kamarnya.


“Terserah! Sebagai asisten dan temanmu aku sudah mengingatkanmu, jangan pernah memintaku untuk membereskan masalahmu kelak. Tunggu dulu, bukannya kau bilang kau pergi kesana karena ada janji ingin bertemu seseorang ya? Apa orang itu pria atau wanita? Apa kau bertemu dengannya?” tanya Siska lagi. “Bukankah kejadian ini agak aneh, iyakan?”


“Tidak masalah kalau aku tidak bertemu dengannya, aku malah bertemu Verrel.” senyum Olivia kembali merekah setiap menyebut nama Verrel.


“Dasar gila! Apa kau tidak curiga gitu? Misalnya, ada yang menaruh obat diminumanmu hinga membuatmu berhalusinasi, tidak biasanya kau mabuk sampai begitu parah?”


“Cukup Siska! Kau tidak tahu apa-apa, kaku hanya asistenku dan aku tidak butuh nasihatmu. Pergilah!” usir Olivia yang jengah dengan sikap Siska yang selalu menasehatinya.

__ADS_1


Siska keluar dari kamar Olivia, meraih tas lalu pergi meninggalkan apartemen itu. Karena semua proyek kerjasama sudah dibatalkan oleh Ceyhan Group, secara otomatis sudah tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan Siska. Untuk mengisi waktu, dia memutuskan pergi ke mall. Dia pun memutar mobilnya kearah lain dan melaju kencang.


******


“Halo, Verrel.” Romeo baru saja menjawab panggilan telepon dari Verrel.


“Urus kepulangan istri dan anakku. Aku mau membawa istri dan anakku pulang hari ini.”


“Tapi---”


“Tidak ada penolakan! Deandra merasa bosan dirumah sakit. Anak-anak juga merindukannya. Sekalian kau pilihkan perawat terbaik untuk ikut mengurus istriku sampai luka bekas operasinya sembuh. Sekalian sampaikan pada Anita agar sering kerumah memeriksa kesehatan istriku.”


“Baiklah, baiklah. Aku akan uruskan sekarang. Hem….”


“Apalagi?”


“Aku mau menanyakan sesuatu…..” ujar Romeo tertawa kecil.


“Tanya saja.” suara Verrel terdengar datar.


“Ehem….Ini tentang Anita.” jawab Romeo agak ragu awalnya.


Verrel langsung paham apa yang ingin dibicarakan oleh Romeo. “Kalau kau mau mendekatinya, kau tidak perlu ijin dariku meskipun dia adik tiriku sekarang. Kau itu dekati Liam saja bukan aku. Apa kau benar-benar suka pada Anita?”


“Ya sukalah. He he he...” jawab Romeo terkekeh sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Hem….kejarlah apalagi yang kau tunggu? Usiamu sudah cukup pantas untuk menikah.”


“Begini Verrel…..”

__ADS_1


“Eh jangan minta aku untuk menjodohkanmu dengan Anita. Sudah dulu, aku banyak kerjaan.” ujar Verrel memutuskan sambungan telepon. “Apa-apaan Romeo minta aku jadi comblang. Dia pikir aku tidak punya kerjaan apa. Huh!”


__ADS_2