TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 281. ANTENA NAOMI


__ADS_3

Bug bug bug bug…..


Suara pintu digedor masih terdengar, sepertinya Naomi tidak mau berhenti.


“Papa! Papaaaa………...”


“Naomi, ayo ke kamar! Papa lagi istirahat, jangan diganggu ya?” bujuk Yuna yang berlari keatas begitu babysitter melaporkan padanya kalau Naomi kekeuh tidak mau pergi dari sana dan terus mengetuk pintu kamar menggunakan botol susu.


“He…...” Naomi menggelengkan kepalanya. Saat Yuna ingin menggendongnya, Naomi langsung melotot sambil mengerucutkan bibirnya. Eskpresi wajahnya yang marah bukannya membuat orang takut tapi malah ingin tertawa karena dia terlihat lucu dan menggemaskan. Dengan ekspresi seperti itu, Naomi benar-benar terlihat persis seperti ayahnya.


“Ayo, sayang…...kita makan es krim ya di taman?” babysitter pun ikut membujuk.


Dia malah didorong oleh Naomi agar menjauh, tangan mungil itu mendorong babysitternya meskipun tenaganya tidak kuat.


“Papaaaa……..papaaaaa……...”


Bug bug bug…….


Klik


Semburat wajah Verrel muncul dibalik pintu, dia hanya mengenakan kimono dan wajahnya cemberut tampak tak senang karena diganggu.


“Hihihi….papa!” Naomi tersenyum mendongakkan kepala menatap ayahnya dengan ekspresi polosnya. Siapa yang bisa marah melihat anak kecil lucu itu?


Naomi langsung masuk ke kamar melalui celah kaki Verrel, membuat pria itu terkejut dengan tingkah gesit putrinya yang diluar dugaan.


“Maaf, Tuan! Kami sudah membujuknya tapi dia marah.” ujar Yuna yang tak ingin Verrel menyalahkan babysitetr Naomi karena tidak bisa menjaga Naomi.


“Hem…..tidak apa-apa. Kalian bisa pergi.” lalu Verrel menutup pintu dan berjalan kearah ranjang. Dengan kedua tangan berada dipinggangnya, Verrel menatap Naomi yang berada diatas ranjang menatapnya sambil terkekeh. Seolah-olah anak itu tahu kalau dia sudah mengganggu ayahnya dan membuatnya marah.

__ADS_1


“Dasar monster pengganggu!” gerutu Verrel.


“Ha ha ha ha…..kenapa jadi kesal sama Naomi?” Deandra tertawa melihat raut wajah Verrel yang kesal dan menahan gairah yang tadi sudah siap untuk dilepaskan.


“Bagaimana tidak kesal, anak ini selalu mengganggu kalau kita bersama. Apa dia punya antena ya?”


“Antena? Antena apa?” tanya Deandra sambil memeluk putrinya.


“Ya antena! Coba pikir, dia sepertinya tahu saja setiap kali kita ingin melakukan itu? Antenanya langsung berbunyi kencang…….benarkan?”


Deandra hanya tertawa tapi setelah dia memikirkannya sejenak dia pun menatap putrinya. Sepertinya apa yang dikatakan Verrel itu benar adanya. Naomi selalu datang diwaktu yang tidak tepat! Apakah itu ketidaksengajaan atau alarm anak itu bunyi?


Verrel mendekat ke ranjang lalu duduk bersandar, menghela napas panjang. Ada yang bakalan mandi air dingin kalau begini ceritanya. Saat Verrel hendak mengecup kening Deandra, sebuah tangan kecil menghentikannya dan menjauhkan wajah Verrel dari Deandra.


“Dak boleh papa…...” Naomi membalas menciumi Verrel.


“Kenapa tidak boleh? Papa mau cium mama tidak boleh?” tanya Verrel dengan wajah yang sudah dipenuhi air liur Naomi.


“Ha ha ha ha…..sepertinya ada yang cemburu ini.” ujar Verrel tertawa lalu memangku putrinya.


Tangan mungil Naomi memeluknya, membenamkan kepalanya didada bidang Verrel.


“Eh, pacarnya papa cemburu ya?” goda Deandra menggelitik Naomi. “Wah, mama punya saingan.”


Verrel tersenyum melihat tingkah putrinya yang protektif, menepis tangan Deandra yang ingin menyentuh Verrel.


“Jangan godain dia terus mama!” Verrel menciumi wajah mungil putri sulungnya dengan gemas. “Terus sekarang bagaimana?” tanya Verrel tiba-tiba.


“Bagaimana apanya?” tanya Deandra balik pura-pura tidak mengerti.

__ADS_1


“Tanggung, sayang! Ini anak mau di kemanakan?” kepala Verrel mulai sakit.


**********


Di saat Verrel dan Deandra sedang bercanda penuh tawa kebahagiaan dirumah mewahnya. Sebaliknya, Olivia justru sedang meringkuk disudut ranjang dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya. Tampak ada luka memar ditubuhnya, dia baru saja melayani nafsu liar pria-pria asing dari dunia antah berantah yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.


Postur tubuh mereka besar dan berotot dengan aroma tubuh yang beraroma parfum agak menyengat yang membuat Olivia mual. Andai saja dia tahu kalau dirinya akan dijadikan objek pemuas birahi seperti itu, dia pasti lebih memilih masuk penjara daripada melayani nafsu binatang pria-pria itu. Mereka bukan dari kalangan atas seperti pria-pria yang pernah tidur dengan Olivia dulu.


Mana mungkin ada pria kaya dari kalangan atas yang mau membayar tubuhnya dengan statusnya sebagai buronan. Sekarang dia hanya bisa pasrah menunggu pertolongan Tuhan, itupun jika Tuhan masih berkenan untuk menyelamatkannya dari neraka.


“Kenapa kau meringkuk begitu? Cepat mandi sana, kau masih punya dua tamu lagi yang harus dilayani!” ujar Ezha yang tiba-tiba masuk kedalam kamar.


Olivia tersentak, dengan cepat beringsut untuk meraih tangan Ezha berharap belas kasih dari pria itu.


“Tolong hentikan Ezha! Aku tidak sanggup lagi, pria-pria itu kasar dan menyakitiku. Mereka menampar dan memukulku! Seolah tidak puas mereka memperlakukanku sangat kasar. Aku tidak sanggup lagi Ezha. Tolong hentikaaannnnn…..kenapa kau lakukan ini padaku? Huuuuuu,” Olivia menangis meraung meratapi nasib.


Dia berlutut diatas ranjang sambil menangkup kedua tangannya diatas kepala memohon pada Ezha agar berhenti menjualnya pada pria-pria kasar itu.


“Halah! Jangan sok manja ya. Bukannya kau sudah sering melakukan permainan seperti itu dengan pria-pria sebelum aku, ha?” jawab ezha sambil menepis tangan Olivia dengan tangannya yang kasar.


Di mata Ezha, permohonan Olivia yang diucapkan sambil berurai airmata itu hanyalah sandiwara belaka. Dia tidak percaya Olivia tidak menikmati permainan pria-pria itu karena di telinganya masih tergiang jelas suara ******* dan lenguhannya saat berada dibawah kungkungan lengan mereka.


“Aku memang pernah bercinta dengan banyak pria sebelum kau! Aku akui itu Ezha! Tapi mereka berasal dari kalangan atas yang bersikap lembut dan tidak menyakitiku,”


Olivia masih terisak, “Sedangkan pria-pria tadi sangat ganas! Mereka seperti binatang liar yang beringas dan kejam! Aku tidak mau lagi melayani pria-pria seperti itu! Menjijikkan!” jelas Olivia marah dengan airmata yang mengucur deras.


“Cih!…..aku tidak percaya! Telingaku mendengar jelas suara ******* dan lenguhanmu saat digempur mereka, Olivia! Jadi tidak perlu bersandiwara didepanku! Kau pikir masih ada pria kalangan atas yang mau membayar tubuhmu? Kau tidak punya pilihan lain sekarang! Dan kau tidak bisa menolak klien yang kukirim padamu, Olivia.”


“Tidak! Aku hanya berpura-pura menikmati agar mereka tidak menyiksaku lagi. Tolong percaya padaku Ezha! Aku sudah tidak sanggup lagi jika harus melayani tamu seperti itu. Setidaknya kau carikan yang berasal dari keluarga kaya! Pasti masih ada yang mau,” ujar Olivia berusaha negosiasi.

__ADS_1


“Diam! Jangan banyak bicara. Cepat mandi sana! Waktumu tidak banyak hanya tersisa tiga puluh menit lagi,” jawab Ezha ketus. Lalu dia berbalik dengan cepat lalu keluar dari kamar tanpa mempedulikan teriakan Olivia yang terus memanggil namanya. Ezha berjalan menuju kamar lain yang berada disamping daput. Pintu kamar itu terkunci dari luar, Ezha mengeluarkan satu bundelkunci dari sakunya lalu membuka pintu kamar itu.


__ADS_2